<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428</id><updated>2012-01-31T20:43:58.866+07:00</updated><category term='Kisah Duasinga'/><category term='Ceritafoto'/><category term='Rasa Singapura'/><category term='Feature'/><category term='Hanyacerita'/><category term='enak berbahasa'/><category term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>batamseksi</title><subtitle type='html'>Batam yang seksi, menggerakkan hati untuk selalu menggagahi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>129</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1904359964354617768</id><published>2012-01-26T21:01:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T21:21:19.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Nenek Barbie</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bev_ixluak0/TyFcNhLlavI/AAAAAAAAAYM/TUhECqVi4gQ/s1600/superstarbarbie.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-bev_ixluak0/TyFcNhLlavI/AAAAAAAAAYM/TUhECqVi4gQ/s640/superstarbarbie.jpg" width="292" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Rambutnya &lt;/b&gt;yang merah, berombak, dan panjang sebahu; basah dan dibiarkan tergerai. Mengenakan kemeja berbahan tipis transparan, lekuk tubuhnya cukup leluasa untuk dilihat dan disimpulkan: ia seorang wanita yang bertubuh indah. Langsing. Tingginya sekitar 160-an senti. Kemeja yang dipadu celana jins cutbray, plus sepatu santai motif batik bersol tipis, mengingatkan saya pada sosok gadis-gadis gypsi bergaya slenge'an namun tahu pakaian apa yang cocok untuk tubuhnya. Tahu bagaimana memadukan kegenitan, sekaligus menjaganya dari keusilan pria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu mengagumi model gadis seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu di Jurong MRT. Saya antri berada di belakang wanita slenge'an itu menunggu kereta yang baru saja datang. Pintu kereta terbuka, dia masuk, saya masuk; dan dia memilih duduk di deretan sebelah kanan kereta. Saya sedikit bergerak lambat untuk mendapatkan kursi yang kosong. Alhasil, saya harus berdiri di koridor, tepat berhadapan dengan wanita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, busyet dah! Wanita berpenampilan slenge'an di depan saya yang tadi saya duga berusia sekitar 20-an ternyata seorang nenek-nenek. Usianya saya taksir sekitar 60-an. Atau sedikit lebih muda mungkin. Tapi yang jelas tak di bawah 50-an tahun. Memang, bodinya masih singset mirip-mirip gadis 20-an. Tapi, kulit wajah dan lehernya sudah lumayan berkeriput. Dia berdandan cukup bersahaja: lipstik tipis tanpa warna, bedak bayi, selain itu tak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Benar-benar tertipu saya! Saya sampai ketawa-ketawa kecil sendiri memikirkan kebodohan saya. Mungkin ketika itu, ketika ada orang yang memperhatikan saya, dia kira mungkin saya sedikit gila. Apalagi orang-orang di Singapura, terkenal "berwajah dingin" dengan orang yang tidak mereka kenal. Tidak gemar melempar senyum kepada orang asing sebagaimana kita yang biasa memberikan senyum kepada orang yang sekalipun baru pertama kali bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu mungkin "hari keberuntungan" saya bertemu banyak wanita aneh. Di tengah perjalanan kereta menuju Stasiun Outrum Park, tepatnya di Stasiun Buona Vista masuk wanita yang tak kalah anehnya. "Nenek Barbie," begitu bathin saya ketika melihat ada satu lagi nenek-nenek tampil mirip boneka barbie. Boneka kegemaran anak-anak gadis yang biasa tampil dengan rok mini mengembang, make-up tebal, plus rambut blonde macam model-model bugil &lt;i&gt;Majalah Playboy. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tubuh nenek yang satu ini tak selangsing nenek slenge'an yang tadi. Tapi, tampilannya betul-betul berani dan luar biasa: rok putih motif kembang-kembang sangat mini, sekitar satu setengah jangka tangan dari lutut. Sepatu hak tinggi, make-up warna berani, plus rambut mekar memerah. Semua itu berani dilakukan, mungkin karena - meski berstatus nenek - ia merasa punya tubuh aduhai. Bisa menjaga tubuhnya dengan baik. Tak elok dong, tampil seperti barbie dengan tubuh gembrot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya senyum-senyum sendiri, namun sangat mengapresiasi dengan baik bagaimana mereka memperhatikan sekaligus menjaga penampilan tubuh mereka. Sekalipun usia mereka tak bisa dibilang muda. Usia, bagi mereka, bukan halangan untuk tampil mengesankan. Orang-orang Singapura yang bisa membeli makanan apa saja dengan gaji standar mereka, tentu akan sangat mudah menjadi gemuk. Menjadi tidak menarik. Yang saya maksud, bukan berarti gemuk itu jelek. Tapi yang tidak baik adalah yang gemuk dan tak sehat. Kelebihan berat badan tentu karena ketidakmampuan kita menjaga nafsu, ketidakmampuan mengontrol apa pun yang masuk ke perut kita, sekaligus mengkombinasikan dengan seharusnya apa yang kita lakukan untuk "membakar" makanan itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tuhan tidak mencetak seseorang ditakdirkan gemuk. Kitalah yang memilih memiliki kondisi ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memang tak sedikit orang Singapura yang mengalami obesitas, kegemukan. Ironisnya, sepandangan mata saya yang saban minggu menjelajah Singapura, naik turun dari bus, mrt, taksi, hingga jalan kaki; yang banyak mengalami kegemukan justru etnis Melayu. Entah itu si wanitanya, lelaki, bahkan anak-anak. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya menduga-duga pola makan yang menyebabkan demikian. Masakan Melayu, seperti halnya masakan Padang, lebih banyak bersantan, berlemak, serta minim sayur-sayuran segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seiring perkembangan jaman dan kesadaran untuk hidup sehat, warga Singapura bisa melakukan apa saja untuk bisa tampil baik dan enak dipandang. Apakah seperti si wanita slenge'an atau nenek barbie yang saya temui tadi. Terus terang, saya juga menikmati, bagaimana wanita-wanita Melayu yang mengalami obesitas, berani tampil percaya diri untuk mempercantik diri. Tidak pasrah dengan kegemukan mereka. Dibanding orang Batam, warga Singapura memang jauh lebih percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hidup sehat memang sangat sulit. Lebih sulit lagi mengubah persepsi seseorang tentang bagaimana seseorang dikatakan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang bilang, saya sangat kurus. Tapi saya lebih suka menyebut langsing. Apalagi dengan potongan rambut saya yang panjang sebahu, kian memberi kesan saya orang sakit-sakitan. Tinggi saya sekitar 167 senti, dan seumur hidup saya berat badan tak pernah melebihi 50 kilogram. Saya rajin tiap minggu timbang badan, juga main futsal, jogging, dan jalan kaki. Perut saya yang rata, kerap membuat iri banyak wanita. Bahkan istri saya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat futsal, ketahanan tubuh saya cukup bagus, bahkan melebih kawan-kawan yang usianya jauh lebih muda dari saya. Saya masih bisa mengalahkan mereka lari sprint rekan kerja yang umurnya belum genap 25 tahun. Apalagi dengan kawan seusia yang kebanyakan sudah obesitas. Lewat lah mereka saya perdaya dengan bola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh saya yang mereka katakan kurus, justru memberi banyak manfaat ketika saya bergerak.Saya mendiskripsikan diri bukan berarti saya ingin menyombongkan diri. Tapi lihatlah apa komentar seorang kenalan saya ketika kami sama-sama menumpang satu lift di Gedung Grahapena. Kenalan itu, tubuhnya cukup gemuk, dengan perut cukup membuncit. Meski belum bisa dikatakan obesitas. Usianya lima tahun lebih muda dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbok ya sekali-kali ini perut seperti saya," kata dia berlogat Jawa sambil mengelus-elus perutnya. "Biar terlihat sehat, makmur." Saya kemudian mengatakan, justru menjaga perut tetap rata seperti perut saya butuh perjuangan keras. Juga butuh lebih banyak biaya ketimbang membiarkan perut membuncit. Saya butuh olahraga teratur, butuh makanan yang baik, dan yang terpenting sekaligus tersulit, harus bisa mengatakan "CUKUP" ketika perut ini sudah kenyang. Padahal tak jarang, mulut ini masih ingin terus mengunyah makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan kenalan saya jelas, perut yang buncit dengan tubuh subur dianggap sebagai status "sehat", dan tentu saja makmur. Cara berpikir yang sudah ketinggalan jaman ini, ironisnya masih terus terpelihara di kepala kita. Ibu saya bahkan sering meminta saya untuk lebih banyak makan agar bisa terlihat gemuk. Saya jelas menolaknya. Saya bisa gemuk, tapi tak ingin memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan kerja saya, bahkan yang usianya di bawah saya: nyaris semuanya menderita kegemukan. Gaya hidup "mapan" yang telah mereka jalani, kerap membuat lupa bahwa ada ancaman besar di balik semua itu. Mereka lebih suka leyeh-leyeh sambil ngopi, ngerokok, dan ngegosip; ketimbang menyempatkan diri main futsal atau sekedar jogging keliling lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita slenge'an dan nenek barbie yang saya temui di MRT Singapura lalu, adalah antitesis dari kebanyakan kawan-kawan saya. Penampakan tubuh mereka adalah hasil nyata dari antitesis itu. Dan sekarang, pilihan terserah Anda. Mau hidup sehat ala nenek barbie, atau tanpa daya dimakan sadisnya obesitas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke MRT, belum lagi ingatan saya lepas dari dua nenek tadi, saat saya berganti MRT dari Outrum Park menuju Hougang, duduk mojok, lagi-lagi seorang nenek berpenampilan aneh tertangkap mata saya: bersepatu boat coklat merek Caterpilar, dengan rok mekar putih yang panjangnya di atas lutut. Mirip-mirip nenek barbie, tapi yang ini versi premannya. Tapi tetap feminim dan enak dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih menjadi kurus..., eh langsing, bagi saya justru menjadi status kemapanan. Kemapanan untuk terus mengeksplorasi tubuh dan gerak sesuai keinginan kita. Tidak justru menyerah dengan timbunan lemak.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5rbW8etumTk/TyFcGaOrWcI/AAAAAAAAAYE/rGAHBA9FV30/s1600/superstarbarbie.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;(sultan yohana)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1904359964354617768?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1904359964354617768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1904359964354617768&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1904359964354617768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1904359964354617768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2012/01/nenek-barbie.html' title='Nenek Barbie'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bev_ixluak0/TyFcNhLlavI/AAAAAAAAAYM/TUhECqVi4gQ/s72-c/superstarbarbie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6531816996687679276</id><published>2012-01-26T15:21:00.001+07:00</published><updated>2012-01-26T15:21:47.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Tanpa Cekikan di Changi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_E-euY3kV_Q/TyEM0jk2WnI/AAAAAAAAAX8/PEAfr1mAtTA/s1600/foto+untuk+artikel+changi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-_E-euY3kV_Q/TyEM0jk2WnI/AAAAAAAAAX8/PEAfr1mAtTA/s320/foto+untuk+artikel+changi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Kami &lt;/b&gt;dipaksa berdiri cukup lama: menunggu ada satu meja yang kosong yang ditinggalkan pembeli yang selesai makan siang. Di foodcourt lantai dasar Bandara Internasional Changi, jarum jam pada hari Sabtu (10/12/2011) belum pas betul di waktu istirahat makan siang. Kami: saya, Joanne dan Ken, baru saja terbebas dari kebosanan 2,5 jam penerbangan Bali-Singapura dengan pesawat budget rendah, Value Air. Telinga ini masih berdenging-denging karena tekanan udara, dan otot-otot masih kaku oleh kursi sempit antarpesawat. Namun perut ini lebih kencang berbunyi, lapar minta diisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, puluhan kursi duduk di foodcourt Bandara Changi sudah penuh. Saya sempat iri ketika melihat seorang pria paruh baya, terlihat asyik menguasai satu kursi sofa seorang diri sembari memainkan telepon pintarnya. Dalam hati, semoga ia melihat ke arah kami, kemudian iba melihat berat bawaan kami plus bocah empat tahun yang sudah mulai mengeluarkan rengekan, hingga kemudian merelakan kursi sofa yang ditempatinya untuk kami. Tapi itu tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pundak ini serasa akan copot karena membawa ransel besar, ketika pada akhirnya, sebuah keluarga meninggalkan meja seusai menyelesaikan makanan. Saya cepat-cepat berdiri di samping meja yang belum sepenuhnya dibersihkan tersebut agar tak keduluan pengunjung lain. Tas berisi pakaian kotor kami dari backpacking empat hari di Bali, langsing saya taruh di kursi. akhirnya, dapat juga tempat duduk untuk makan siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padat pengunjung, tidak hanya mengurapi foodcourd lantai dasar Changi yang memang bisa diakses bebas siapa pun orang. Riuh pun terlihat di resto-resto cepat saji seperti McD, KFC, maupun tempat makanan favorit saya, Ya Kun Kaya Toast yang roti bakar dan kopi O-nya selalu menggoyang lidah saya. Semuanya penuh. Sebagaian kursi tempat makan dipenuhi oleh karyawan-karyawan yang memang bekerja di Changi. Tapi, sebagian lagi disesaki oleh pengunjung domestik yang menjadikan Changi sebagai tujuan wisata akhir pekan. Saya perhatikan, banyak sekeluarga kecil dengan pakaian ala kadarnya, t-shir,celana pendek dan sandal jepit; yang akhir pekan itu berkunjung memadati Changi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ken, yang sedari tadi jengkel karena riuhnya bandara, kemudian mengambil duduk di kursi lainnya. Mengeluarkan mainan dari tas ranselnya, sesaat kemudian dia sudah sibuk dengan mobil-mobilannya. Istri memesan makanan: sup ikan plus nasi seharga 4 dolar (sekitar Rp28 ribu), dan makanan Korea kegemarannya. Sementara otak saya, cuma bisa memaki suasana terlalu krowded yang saya dapati di hampir semua penjuru Changi. Suasana seperti ini, memang kerap membuat saya tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga ini masih saja mendengung-dengung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan tadi, Ken sempat merengek minta main di playground yang ada di tengah bandara. Ia juga ngamuk ketika kami larang masuk toko mainan yang ada di koridor karena perut kami sudah teramat kering. Sebetulnya, saya sempat tergoda melihat t-shirt di toko-toko sandang yang menjual dagangan dengan diskon jor-joran. Harga yang saya perkirakan, lebih murah ketimbang yang ditawarkan di mal-mal lain di Singapura. Tapi renge'an perut ternyata lebih keras terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Changi seperti mal saja. Bahkan nyaris sama dengan mal-mal di daerah paling beken di Singapura, Orchard Road. Perputaran ekonomi di sini, tak hanya sekedar berhubungan dengan lalu-lintas penumpang pesawat atau layanan pesawat itu sendiri. Changi sudah seperti magnet ekonomi yang menawarkan hampir semua kebutuhan warga Singapura. Dari mulai sekedar roti bakar nyam-nyam yang ditawarkan Ya Kun Kaya Toast, hingga tas Hermes yang digemari Nunun Nurbaetie, buronan "lupa ingatan" yang baru ditangkap KPK di Bangkok itu. Belanja di Changi, kita tak terasa "dicekik" oleh harga yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua harga barang dagangan normal. Bahkan beberapa di antaranya lebih murah karena bebas pajak. Saya pernah membeli tas kamera di dalam Bandara Changi, lebih murah sekitar 20 dolar ketimbang harga di luar bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Changi juga sudah seperti ruang publik sekaligus kawasan wisata - yang sebagiannya bisa dinikmati secara gratis - yang bisa dijadikan alternatif warga lokal untuk berakhir pekan. Mengajak keluarga mereka jalan-jalan ke sana. Bahkan pengelola di sana, menyediakan sarana pelajaran gratis seperti arena menggambar bagi anak-anak. Itulah kenapa, Changi menjadi salah satu tujuan darmawista pelajar taman kanak-kanan dan SD di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali mengajak Ken jalan ke sana untuk sekedar membeli mainan atau makan siang. saya memilih di sana, salah satunya karena cukup dekat dengan tempat tinggal kami di Singapura. Dari tempat tinggal kami di Hougang ke Changi, hanya butuh 15 dolar naik taksi, atau sekitar 1 dolar per orang jika naik bus kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang berbeda dengan bandara-bandara di Indonesia. Sebelum kami naik pesawat, di Bandara Ngurah Rai, kami terpaksa membeli satu set pakaian Ken dengan harga dua kali lipat dari harga pasaran. Dalam hati saya menggerutu, kenapa kami bisa lupa membeli pakaian Ken di pasar rakyat. Apalagi kualitas dan bahannya sama. Sepanjang koridor di dalam Ngurah Rai, toko-toko yang berdagang apa saja nyaris sepi dilongok pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandara Hang Nadim sama saja. Saya dulu sering nongkrong di sini, karena saya pernah tinggal di Perumahan Rajawali. Sebuah toko roti dengan pelayannya yang masih muda, kerap menjadi tempat saya nongkrong. Di awal-awal saya ke sana, saya selalu mengeryitkan dahi ketika harus membayar sangat mahal sepotong roti dan secangkir kopi. Mahal banget. Namun harga itu lama-lama kemudian berubah menjadi biasa, ketika ia tahu bahwa saya tinggal di Rajawali dan kerap nongkrong di kedainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga "mencekik" yang dipasang para pedagang di bandara Indonesia, justru memberi trauma tersendiri bagi para calon penumpang pesawat yang ingin membeli. Bahkan orang berduit sekalipun, rasa-rasanya enggan mengeluarkan uang dua kali lipat untuk secangkir kopi yang bisa dibeli dengan harga biasa. Ujung-ujungnya, ekonomi pun berjalan seret, dan pemasukan bandara juga tidak maksimal. Jika sudah demikian, bagaimana ekonomi bisa berjalan baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura, dengan Changi Airportnya, memberi pelajaran bagi pengelola bandara di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sultan yohana)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6531816996687679276?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6531816996687679276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6531816996687679276&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6531816996687679276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6531816996687679276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2012/01/tanpa-cekikan-di-changi.html' title='Tanpa Cekikan di Changi'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_E-euY3kV_Q/TyEM0jk2WnI/AAAAAAAAAX8/PEAfr1mAtTA/s72-c/foto+untuk+artikel+changi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7524918462849997332</id><published>2011-12-02T16:38:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T17:11:28.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>"Menjual" Natal</title><content type='html'>&lt;b&gt;Menjelang &lt;/b&gt;Desember ini, pusat belanja dan jalanan di seantero Singapura gemerlap oleh hiasan-hiasan bertema Natal. Setiap mal seperti berlomba memberi pertunjukan pada pengunjungnya: pohon Natal paling spektakuler yang mereka bisa bangun. Di kawasan Orchird Road misalnya: tahun lalu tidak hanya satu pohon Natal raksasa, tapi puluhan pohon Natal ukuran raksasa dibuat di tiap mal yang ada di sana. Di City Hall, nyaris semua jalanan gemerlap oleh lampu hias bertema Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalau tidak pohon Natal, sepaket istana salju yang juga bertema Natal biasa tersaji di lobi hotel, mal, ataupun jalan-jalan pusat aktivitas masyarakat sana. Pokoknya sangat meriah deh! Semuanya serba Natal, serba Kristiani. Bahkan apartemen, jalan-jalan pemukiman, tempat-tempat publik yang jauh dari keramaian, semuanya berdandan ala Natal.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6kfer9xEMxg/TtidYoP93vI/AAAAAAAAAXo/HYWUcr2ypl8/s1600/Menjual+Natal.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-6kfer9xEMxg/TtidYoP93vI/AAAAAAAAAXo/HYWUcr2ypl8/s400/Menjual+Natal.jpg" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, fenomena Singapura tiap menjelang bulan Desember aneh. Pikir saya, bukankah agama terbesar yang dianut warga Singapura adalah Budha (33 persen). Penganut Nasrani di sana memang cukup besar, berada di posisi kedua dengan jumlah 18 persen dari sekitar 3,5 juta warga negaranya (2 juta penduduk Singapura adalah orang asing yang hanya punya izin tinggal/kerja). Berikutnya, berturut-turut pemeluk Islam (15 persen), Taoisme (11 persen), serta Hindu (5.1 persen). Menariknya, warga yang mengaku tidak punya agama cukup besar, yakni sebesar 17 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa mereka begitu antusias tiap Desember datang untuk menyambut Natal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka merayakan Imlek secara besar-besaran, mungkin masih masuk akal bagi saya. Seperti kita di Kepri ini, yang merayakan Hari Raya Idulfitri dengan masif. Tapi, kenapa Natal di Singapura harus dirayakan sebegini meriah? Selebrasi Hari Raya Idul Fitri bahkan tidak ada apa-apanya jika dibanding Natal. Padahal prosentasi penganut Kristen dengan Islam tidak beda terlalu jauh. Fenomena ini yang lama ada di pikiran saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya yang penganut Kristiani, punya jawaban sederhana kenapa di Singapura Natal dirayakan dengan besar-besaran. "Karena konsumerisme dan komersialisme Natal," jawabnya. Desember adalah momen yang tepat untuk menyedot uang warga, baik warga Singapura maupun pelancong yang datang ke sana. Mengingat Desember, tambah istri saya, adalah saat di mana para pekerja, karyawan, buruh, pns, di Singapura; mendapatkan bonus tahunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya saya bakal kecipratan bonus nih, dari istri saya. &lt;i&gt;Hehehe&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal terbaik yang saya temui di Singapura adalah rasa toleransi beragama yang begitu tinggi. Memeluk dan meyakini satu kepercayaan adalah urusan pribadi masing-masing. Orang lain tidak lah perlu untuk ikut campur urusan agama orang lain. Selama saya berkawan dengan orang Singapura, saya tak pernah ditanya apa agama saya, apa keyakinan istri saya, dan kelak anak saya mau beragama apa. Sementara di Batam atau di Indonesia, salah satu pertanyaan yang selalu ditodongkan pada saya ketika mengetahui istri saya beretnis Tionghoa adalah: apa agama saya? Apakah istri saya seagama? Serta apakah anak saya kelak menjadi Islam atau Kristen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu saya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah "barang dagangan", momen Natal oleh kapitalis di Singapura dijual dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan untung. Memanfaatkan semangat Natal yakni "saling memberi, saling berbagi", pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba menawarkan paket belanja yang menggiurkan. Paket diskon gedhe-gedhean bisa ditemui di mana-mana. Rasa toleransi yang tinggi, memberi keuntungan tersendiri bagi kapital. Mengingat para penduduk Singapura, tidak perlu repot-repot mempertimbangkan mengenai keyakinan mereka untuk bisa memborong barang yang mereka inginkan. Ekonomi pun berputar dengan cepatnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan sekali lagi, warga Indonesia yang dikenal doyan belanja, hanyalah menjadi obyek kakap sekaligus menggiurkan yang "diundang" Singapura untuk menghabiskan uang mereka di sana. Terutama menjelang Natal seperti saat ini. Cobalah sekarang jalan di pusat-pusat belanja di Singapura, obrolan-obrolan dengan bahasa Indonesia begitu mudah kita dengar, sekalipun di butik paling mahal yang ada di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Foto oleh saya, lokasi di City Hall &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7524918462849997332?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7524918462849997332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7524918462849997332&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7524918462849997332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7524918462849997332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/12/menjual-natal.html' title='&quot;Menjual&quot; Natal'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6kfer9xEMxg/TtidYoP93vI/AAAAAAAAAXo/HYWUcr2ypl8/s72-c/Menjual+Natal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1903731860029357452</id><published>2011-11-23T17:49:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T17:08:51.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Ketika Walikota Dahlan "Dicari" Ayu Ting Ting</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-v6Hi0I2nIs4/TszRil281gI/AAAAAAAAAXQ/rSjSjsdTGRM/s1600/IMG_2543.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-v6Hi0I2nIs4/TszRil281gI/AAAAAAAAAXQ/rSjSjsdTGRM/s400/IMG_2543.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Orasi &lt;/b&gt;untuk sesaat berhenti. &lt;i&gt;Tak-tak...., gendang-gendut...&lt;/i&gt; kemudian mengemukalah intro lagu dangdut &lt;i&gt;Alamat Palsu&lt;/i&gt; yang populer dinyanyikan Ayu Ting Ting itu. "...Di mana... di mana ... di mana.." dendang Ayu di pengeras suara. Ribuan mulut buruh yang demo di depan Kantor Walikota Batam, kemudian mengekor irama lagu tadi dengan memplesetkan lirik menjadi " di mana Dahlan... keluar Dahlan..." Yang lain berteriak: "...potong kumisnya... potong kumisnya..." untuk merujuk Walikota yang doyan memelihara kumis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Dhuzur sudah hampir berlalu sekitar satu jam. Keringat ribuan buruh yang Rabu (23/11) siang mengempung Kantor Walikota Batam juga sudah terkuras. Para orator seolah-olah sudah kehabisan suara mereka untuk menyemangati para rekan-rekannya; namun Ahmad Dahlan, satu-satunya orang yang ingin ditemui para pendemo tidak kunjung muncul. Ahmad Dahlan memang tidak bisa menemui para pendemo. Karena ketika pendemo datang ke kantornya, Walikota sedang berada di Hotel Aston Tanjungpinang, menghadiri acara Musyawaran Cabang Partai Demokrat Kepri. Padahal sebelumnya, informasi tentang demonstrasi sudah disiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan menjadi orang paling dicari para pendemo, karena dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas nasib mereka. Dua periode kepemimpinan Dahlan, para buruh mengaku tidak ada perubahan nasib sama sekali. Lima tahun terakhir, upah minimum kota (UMK) selalu di bawah angka kebutuhan hidup layak (KHL). Dan kemarin, Dahlan diminta bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demo di Kantor Walikota adalah kelanjutan demo ribuan buruh di Batamindo, Mukakuning. Demo kali menjadi demo terbesar dalam jumlah sepanjang lima tahun terakhir ini. Mukakuning dibuat lumpuh total oleh para pendemo. Arus lalulintas dari arah Simpang Kabil menuju TanjungPiayu dan Batuaji macet. Aktifitas di hampir seluruh perusahaan di Kawasan Industri Batamindo dan Panbil berhenti total. Nyaris semua karyawannya turun ke jalan dan bergabung dengan ribuan buruh, yang tergabung dalam sejumlah aliansi dan organisasi buruh yang dikomandoi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) untuk menuntut kenaikan upah sesuai dengan KHL sebesar Rp1.760.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2011, UMK Batam ditetapkan Rp1.180.000. Angka tersebut cuma naik Rp70 ribu dari UMK tahun sebelumnya. Padahal berdasarkan perhitungan Dewan Pengupahan Kota Batam, KHL pada tahun 2011 sebesar Rp1.280.960. Jadi, selama 2011 buruh dipaksa tekor. Tahun ini, Dewan Pengupahan menetapkan KHL sebesar Rp1.302.992. Angka ini harusnya dipertanyakan, mengingat hampir semua harga kebutuhan hidup di Batam nyaris setara dengan harga kebutuhan pokok di Singapura yang pekerjanya dibayar nyaris 10 kali lipat ketimbang buruh di Batam. Sepiring nasi Padang lengkap lauk di Singapura, bisa dibeli dengan harga 3 dolar atau sekitar Rp21 ribu (kurs Rp7 ribu) Sementara di Batam, dengan porsi yang sama berkisar sekitar Rp12 ribu.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lkq-ZbrxLDc/TszRq5xU_TI/AAAAAAAAAXY/vxgf9V4gESE/s1600/IMG_2598.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-lkq-ZbrxLDc/TszRq5xU_TI/AAAAAAAAAXY/vxgf9V4gESE/s400/IMG_2598.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JDe6lsaGxG0/TszR1MKFyDI/AAAAAAAAAXg/PO3oUADJxzU/s1600/IMG_2609.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-JDe6lsaGxG0/TszR1MKFyDI/AAAAAAAAAXg/PO3oUADJxzU/s400/IMG_2609.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi buruh dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan menggelar orasi dan berkumpul di sepanjang ruas jalan di pertigaan Mukakuning. Siang sekitar pukul 10.00 WIB, ribuan pendemo melakukan &lt;i&gt;long-march &lt;/i&gt;menuju kantor Walikota Batam. Sejumlah warga masyarakat yang akan melaksanakan aktifitasnya terhambat. Supir angkot, pegawai negeri, anak sekolah, iburumah tangga, dan warga yang memiliki jadwal penerbangan terpaksa harus gigit jari karena kendaraan yang mereka tumpangi tidak bisa bergerak sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu rumah tangga yang baru saja pulang dari pasar dan masih membawa belanjaannya terpaksa harus duduk-duduk di pinggir jalan sambil memgangi belanjaannya. Warga yang pagi itu memiliki jadwal penerbangan ke luar Batam terpaksa harus meninggalkan taxi yang ditumpanginya, dan harus memikul koper bawaannya sejauh sekitar satu kilometer menembus kemacetan dan para demonstran. Sebagian dari calon penumpang pesawat dikabarkan tertinggal pesawat karena terjebak macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sekolah yang angkotnya terjebak juga terpaksa harus jalan kaki. Ada juga yang malah ikut menonton aksi para buruh. Anggota polisi dari Polretsa Barelang sempat kewalahan mencairkan kemacetan dan mengatur para demonstran karena jumlahnya yang tak sebanding. Polisi juga menurunkan satu ekor anjing herder untuk mengamankan situasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susana sedikit ricuh ketika para demonstran melakukan &lt;i&gt;sweeping &lt;/i&gt;terhadap setiap kendaraan terutama angkot yang mengangkut para pekerja perusahaan yang tidak ikut dalam aksi buruh itu. "Turun...turun..woi turun..kalian mau digaji kecil terus? Kalau tidak mau, turun ikut demo," teriak para buruh sambil memaksa sejumlah orang berseragam perusahaan dari angkot-angkot. Selain itu, para demonstran juga menutup jalan bagi para karyawan perusahaan yang hendak pulang. Polisi pun harus bekerja keras untuk membuka jalan dan melindungi para pengendara motor yang diteriaki dan ditarik-tarik oleh para demonstran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus lalulintas dari arah Mukakuning menju simpang Kabil baru sedikit cair sekitar pukul 08.30 WIB ketika satu truck anggota polisi bertameng turun ke lokasi dan membuka jalan untuk dilalui para pengendara dengan penjagaan ketat. Sedangkan kendaraan dari arah simpang Kabil sama sekali tidak bergerak. Pasalnya, tepat sebelum lampu merah, para demonstran melakukan aksi bakar ban sambil meneriakan yel-yel perjuangan mengitari ban yang terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sekupang, ribuan buruh kawasan Industri Sekupang bersatu dengan buruh galangan kapal di sana dan berkumpul di SPBU Sekupang, Rabu pagi. Demo yang mereka gelar otomatis melumpuhkan Sekupang. Mereka kemudian merangsak menuju Kantor Walikota bergabung bersama rekan-rekannya yang berdemo di Kantor Walikota. Begitu juga dengan ribuan pekerja di berbagai kawasan industri di Batamcenter, buruh galangan kapal Tanjunguncang, serta tak ketinggalan pula rekan-rekan buruh dari Batuampar. Kantor Walikota Batam Rabu kemarin, dibanjiri para pendemo yang minta Dahlan bertanggungjawab atas nasib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo buruh!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1903731860029357452?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1903731860029357452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1903731860029357452&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1903731860029357452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1903731860029357452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/11/ketika-walikota-dahlan-dicari-ayu-ting.html' title='Ketika Walikota Dahlan &quot;Dicari&quot; Ayu Ting Ting'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-v6Hi0I2nIs4/TszRil281gI/AAAAAAAAAXQ/rSjSjsdTGRM/s72-c/IMG_2543.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-4109727436873488247</id><published>2011-10-20T12:22:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T16:44:17.632+07:00</updated><title type='text'>Intelektual Publik</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rYcLQFqq1z0/Tp-vtwqYk0I/AAAAAAAAAW4/NaLB7OEHYHM/s1600/Ben+Anderson.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-rYcLQFqq1z0/Tp-vtwqYk0I/AAAAAAAAAW4/NaLB7OEHYHM/s320/Ben+Anderson.jpg" width="218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Benedict_Anderson"&gt;Oleh Ben Anderson&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan oleh Ksatria Tulus Wigati, saya kutipkan dari milis Jurnalisme)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]&lt;br /&gt;Beberapa minggu belakangan ini saya mendapat pengalaman menyenangkan membaca sebagian besar volume-volume yang&amp;nbsp; diterbitkan tahunan oleh Yayasan Nippon. Hampir semua tulisan di situ membuka wawasan, bukan hanya karena memang berkualitas, tapi juga cakupannya yang luas, dan kandungan informasi mengenai orang-orang yang peduli soal kebijakan negara. Meski begitu, tulisan-tulisan tersebut memunculkan kecemasan, mungkin karena saya menghabiskan bertahun-tahun sebagai apa yang disebut sebagai ilmuwan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]&lt;br /&gt;Pada dasawarsa 1998-2008 telah terjadi perubahan cepat, bukan hanya di negara-negara penerima program Yayasan Nippon, tapi juga di seluruh dunia. Perubahan ini ditutup dengan krisis ekonomi yang paling kolosal dan global sejak Resesi Dunia 1930-an, serta krisis finansial regional 1997-1998. Secara politis, dasawarsa ini diawali dengan letupan politik reformis yang mengagumkan, tapi berakhir secara mengecewakan dengan semakin menguatnya oligarki di Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Di negara-negara ini, tingkat ketimpangan ekonomi meningkat tajam, hak-hak asasi manusia dilanggar terus menerus, dan kontrol negara terhadap media massa semakin menggurita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]&lt;br /&gt;Yang mengejutkan saya ketika membaca makalah-makalah dalam volume-volume terbitan Yayasan Nippon ini adalah bahwa semua kekacauan di atas relatif tidak terekspos.Misalnya Thailand, yang sekarang berada dalam krisis politik jangka panjang, negeri di mana gejala-gejala kekacauan sudah terlihat pada awal 2000-an. Tapi makalah-makalah tentang Thailand hampir tidak pernah menyebut Thaksin Shinawatra, problem monarki, atau perlawanan sengit wilayah Selatan Jauh yang Muslim dan berbahasa Melayu. Di dalamnya tidak ada peringatan akan datangnya gerakan Kaos Merah yang kita baca hampir tiap hari di koran. Orang bisa membaca berita di koran tentang Filipina tanpa menyadari bahwa kepemimpinan Gloria Macapagal Arroyo sudah ruwet -- dan sebagainya. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]&lt;br /&gt;Orang dapat menjelaskannya dari kemerosotan jangka panjang kaum intelektual publik tradisional, yakni mereka yang memiliki pembaca atau audiens masyarakat luas. Pada 1960-an dan 1970-an intelektual publik yang paling berpengaruh di Filipina adalah Renato Constantino, yang menulis banyak studi sejarah dengan karakter kiri-nasionalis, dan yang mati-matian memusuhi apa yang dia sebut “mentalitas kaum terjajah” yang masih bercokol di tengah saudara-saudaranya. Dia tidak sendiri. Misalnya, orang Amerika Protestan William Henry Scott juga menulis buku-buku berpengaruh mengenai sejarah awal Filipina, juga mengenai kaum teraniaya minoritas pagan di Luzon Cordelerra. Mereka berdua bukanlah akademisi atau wartawan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]&lt;br /&gt;Hari ini hampir tidak ada orang-orang berwibawa seperti mereka. Tak seorang Indonesiapun yang mampu berkarya sehebat almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang tak pernah lulus SMA, tapi menulis banyak karya luar biasa yang terdiri atas novel dan cerpen, untuk masyarakat umum, meskipun dia bertahun-tahun hidup dipenjara. Hingga kini Pram belum ada penggantinya. Di Thailand, Sulak Sivarak selama berpuluh-puluh tahun adalah kritikus sosial politik yang paling kuat di sana, dan berkali-kali dituduh menghina kerajaan. Dia tidak punya gelar akademik, dan dia bukan wartawan. Tapi saat ini dia sudah masuk usia 70-an, dan belum ada penerus yang terlihat. Malaysia punya satu orang seperti itu, yang masih sangat muda, satiris, editor, sutradara film terkemuka, dan esais: Amir Muhammad. Lagi-lagi, bukan seorang akademisi, wartawan, atau pegawai negeri. Tapi, dia sendirian juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anda pasti paham bahwa saya sedang menekankan tiadanya jabatan akademik. Hal ini membawa saya ke satu dari dua perubahan mendalam yang membuat intelektual publik sulit bertahan: yakni profesionalisasi universitas, mengikuti contoh Amerika, yang meniru Jerman pada abad 19. Profesionalisasi ini pada mulanya dibangun di atas pengkotakan disiplin ilmu; dengan kata lain, fragmentasi ilmu dan bidang studi menurut logika pembagian kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]&lt;br /&gt;Profesionalisasi memang mencegah sejarawan untuk tertarik antropologi dan pakar ekonomi untuk tertarik sosiologi; tapi ini juga berarti bahwa kesuksesan di dunia akademik lebih banyak ditentukan oleh tokoh-tokoh senior di suatu bidang ilmu. Selain itu, profesionalisasi mendorong munculnya jargon-jargon teknis yang hanya dimengerti oleh orang-orang dari disiplin akademik yang sama. Ini artinya, semakin banyak akademisi yang menulis untuk sesama mereka, diterbitkan di “jurnal profesional”, dan di penerbit-penerbit kampus. Masyarakat umum semakin disisihkan oleh kecenderungan ini. Menulis buku untuk masyarakat umum biasanya dianggap dangkal dan tidak ilmiah. Tulisan non-akademik semakin lama semakin direndahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]&lt;br /&gt;Meski demikian, Amerika unik dalam beberapa hal. Pertama, tidak seperti banyak negara, Amerika tidak punya universitas negeri yang bertaraf nasional. Hampir semua universitas bergengsi adalah swasta. Kedua, negeri ini mendirikan universitas untuk merespon permintaan rakyat ketika gelar universitas dianggap sebagai prasyarat untuk pekerjaan-pekerjaan di dalam dan di luar universitas. Ketiga, negeri ini punya tradisi panjang dalam memusuhi para intelektual universitas secara umum, artinya hanya segelintir saja profesor yang punya koneksi bagus dengan elite politik atau media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]&lt;br /&gt;Meski begitu, Amerika menjadi model sejak 1950-an dan seterusnya, mengingat posisi hegemonik globalnya selama dan setelah Perang Dingin. Puluhan ribu anak muda dari negara-negara yang disebut Dunia Bebas diundang ke Amerika untuk memperoleh gelar pasca sarjana, dan didanai besar-besaran oleh yayasan-yayasan swasta dan lembaga negara. Ketika kembali ke negerinya, mereka harus mengikuti contoh guru-guru mereka dan menemukan kembali kehidupan universitas, seringkali dengan bantuan finansial dan politis yang besar dari Amerika. Tapi tugas ini hanya dijalankan separuh, mengingat karakter masyarakat asal para pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]&lt;br /&gt;Di Asia Tenggara, misalnya, universitas-universitas terbaik biasanya dimiliki oleh negara, dan para stafnya adalah pegawai negeri. Ada tradisi tua menghormati pembelajaran, berdasarkan tata sosial pra-kolonial dan masa kolonial. Penghormatan terhadap pembelajaran ini dibentengi oleh afiliasi kepada negara. Para profesor punya akses ke elite politik dan media massa dengan cara yang hampir tak terpikirkan di AS. Di sisi lain, status sosial mereka tidak diimbangi dengan dukungan finansial yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]&lt;br /&gt;Di AS, para profesor digaji sangat tinggi, kebanyakan profesor senior berpenghasilan $100.000 plus setahun. Di Asia Tenggara, sebaliknya, professor digaji dengan buruk, sehingga mereka terpaksa mengerjakan proyek-proyek riset sia-sia milik pemerintah, bekerja sampingan di universitas lain, jadi makelar real estate, dan pelbagai peluang media massa, seperti menjadi kolumnis koran, selebriti TV dan sebagainya. Mahasiswanya seringkali ditelantarkan atau diabaikan, atau diperlakukan secara birokratis. Banyak sekali akademisi berkualitas yang memilih untuk tidak mengajar sama sekali, tapi menetap di institut riset yang biasanya tidak produktif. Itulah kenapa banyak sekali di antara mahasiswa cemerlang adalah para otodidak dan memandang rendah para guru formal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]&lt;br /&gt;Dengan keadaan seperti itu, banyak akademisi secara pragmatis menggabungkan diri dengan elite politik. Alternatifnya, mereka bersaing habis-habisan untuk memperoleh grant penelitian yang disediakan oleh lembaga-lembaga dari negara-negara makmur yang memiliki agenda tersendiri. Kecenderungan ini memiliki kelemahan. Saya masih teringat seorang perempuan yang luar biasa berdedikasi yang mengurusi grant Toyota Foundation untuk para akademisi di Asia Tenggara. Dia bilang dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa para akademisi Filipina yang menghadir konferensi-konferensi yang disponsori Toyota Foundation, bukan hanya menuntut agar biaya mereka diganti, tapi bahkan minta bayaran tunai atas keikutsertaan mereka. Pembayaran tunai ini biasanya dipakai untuk berbelanja gila-gilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]&lt;br /&gt;Bekerja sampingan untuk media massa memiliki problemnya sendiri. Acara TV memberi bayaran tinggi, tapi tak ada yang diberi waktu lebih dari lima menit, yang tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu yang penting. Menulis kolom setidaknya mendorong akademisi untuk menulis bagi masyarakat umum, tapi cendekiawan yang serius tidak akan membuat kolom mingguan tanpa mengulang-ulang apa yang sudah ditulisnya, membicarakan dirinya sendiri, dan mematuhi instruksi editor dan pemilik koran. Mereka menjadi karyawan -- dari negara, lembaga asing, atau pengusaha koran, dan manajer TV. Tidak heran jika mereka punya waktu sedikit untuk riset, menulis buku berbobot, atau secara serius mengritik sesuatu. Mereka juga terisolasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]&lt;br /&gt;Perkenankan saya memberi contoh ekstrem. Beberapa tahun yang lalu, saya memberi kuliah di sebuah universitas bergengsi di Bangkok di depan 300-an profesor dan mahasiswa. Pada ceramah ini, saya berbicara panjang lebar mengenai seorang jenius tulen yang pernah dilahirkan Thailand sejak 1960-an -- sutradara film terkemuka Apichatpong Weerasethakul, yang memenangkan dua piala di Cannes dalam waktu 3 tahun, dan memenangkan banyak penghargaan di dunia perfilman. Akhirnya, saya minta mereka yang pernah dengar nama Apichatpong untuk unjuk tangan. Sekitar 10 orang angkat tangan, semuanya mahasiswa. Berapa banyak yang sudah menonton filmnya? Sekitar enam, lagi-lagi semuanya mahasiswa. Saya tiba-tiba menyadari kebodohan sunyi para profesor di situ, yang hanya menonton film Hollywood, dan arogansi mereka: sutradara tidak punya gelar universitas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15]&lt;br /&gt;Hampir tidak ada jembatan antara para profesor dan sutradara, novelis, dan pelukis, dan lain-lain. Tak heran jika sutradara dan novelis merendahkan para profesor. Hanya mahasiswa yang tidak profesional saja yang terhubung dengan dua dunia ini. Semua ini mengungkap sebagian alasan kenapa sulit menemukan intelektual publik di universitas, meskipun selalu ada pengecualian. Profesionalisasi, status pegawai negeri, kedekatan dengan elite yang berkuasa, pendapatan rendah, cinta duniawi, kebencian kepada mahasiswa, semua itu punya peran (dalam meniadakan intelektual publik, -Wigati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16]&lt;br /&gt;Tapi orang tidak bisa menyalahkan universitas tanpa mempertimbangkan lingkungannya. Sekarang saya tiba pada perubahan besar kedua yang mempengaruhi keberadaan intelektual publik. Yakni, perubahan budaya kaum elite nasional dan bagaimana mereka menggunakan kekuasaan negara. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah menguatnya tren di kalangan elite ini untuk mengirim anak-anak mereka ke apa yang disebut sekolah internasional di dalam negeri, kemudian selanjutnya mengirim anak mereka ke perguruan tinggi luar negeri, terutama ke US dan UK, juga ke Jepang, Perancis, Australia, Singapura, dan lain-lain. Pemandangan seperti ini jelas-jelas mencerminkan ketidakpedulian, kalau bukan hinaan, kepada lembaga pendidikan dalam negeri sendiri. Maka, kaum elite mencemaskan intervensi politik dalam kehidupan kampus. Pada gilirannya, hanya gelar dari universitas luar negeri yang punya gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17]&lt;br /&gt;Situasi ini kebalikan dari apa yang terjadi pada hari-hari awal kemerdekaan ketika semua orang bangga dengan sekolahnya, dan guru pada umumnya masih dihormati. Apa yang dipelajari anak-anak elite ini, kalaupun mereka memang belajar? Pastinya gelar mereka banyak yang bersifat profesional komersial: manajemen bisnis, marketing, ekonomi, teknik, IT, dst, bukan sejarah, sastra, antropologi, atau psikologi. Disiplin-disiplin terakhir ini sering dilihat “percuma”, dan tidak relevan untuk “anak kita”, yang nanti akan mengganti posisi orangtua mereka dalam sistem politik di mana nepotisme dikembangbiakkan tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18]&lt;br /&gt;Anekdot: Ketika terakhir kali berbicara dengan Amir Muhammad, dia bilang ke saya bahwa perusahan penerbitan kecil miliknya baru saja mencetak kumpulan&amp;nbsp; cerpen karangan para penulis gay dan lesbian. Karena tahu hukuman berat bagi hubungan seksual ‘abnormal’ di Malaysia, saya bertanya apa dia takut ditindas. “Tidak sama sekali,” katanya, tertawa, “Para penguasa di sini tidak membaca buku, hanya dokumen rekomendasi setebal 2 halaman dan koran harian. Lagi pula, bukunya dalam bahasa Inggris yang tidak begitu mereka kuasai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19]&lt;br /&gt;Hal serupa terjadi pada masa kediktatoran Suharto. Pada 1978 ada protes mahasiswa di seluruh Indonesia menentang rejim ini, yang kemudian cepat dipadamkan. Para pemimpin intelektualnya umumnya para pemuda yang belajar di Institut Teknologi Bandung yang prestisius. Tapi selama demonstrasi 1998 melawan Suharto, dua puluh tahun kemudian, institut ini impoten, dan diam saja. Kenapa? Alasannya sederhana. Suharto, yang menginginkan pembangunan tanpa gangguan, mempekerjakan sejumlah besar alumni ITB, yang biasanya juga dikirim ke luar negeri untuk studi pasca-sarjana, untuk mengisi departemen-departemen bidang teknologi, yang kemudian terkenal karena nepotis dan korupnya. Diktator Suharto tahu bahwa orang-orang ini bukanlah ancaman bagi dia. Orang-orang ini tidak lagi punya basis politik atau basis moral pada masyarakat Indonesia. Mahasiswa yang menggantikan peran mereka datang dari universitas-universitas ‘kelas dua’ yang seringkali berorientasi relijius, dan swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20]&lt;br /&gt;Lain ceritanya dengan negara. Ketika aplikasi untuk visa riset tahun 1961, saya harus menunggu 9 bulan sebelum visa keluar. Alasan utamanya adalah kemalasan birokrasi, tapi juga ada ketakutan wajar bahwa peneliti asing, apalagi dari AS, bisa jadi agen rahasia CIA. Di bawah Suharto, yang merupakan kesayangan AS, ada perubahan-perubahan yang memperburuk situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21]&lt;br /&gt;Ambisi rejim Suharto adalah memiliki kendali penuh atas mahasiswa asing, dengan melarang mereka mempelajari apa pun yang dianggap ‘sensitif’. Kontrol ini dipegang oleh intelijen negara dengan memperalat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tangan birokratis negara yang diisi para peneliti unggul yang jarang mengajar dan jarang berhubungan dengan mahasiswa. Teknik manajemen seperti ini menyebar ke Malaysia dan Thailand, dan kurang lebih ke Filipina juga. Hak veto aparat intelijen di negara-negara ini sedemikian dominan sehingga mahasiswa asing yang mengajukan visa riset terpaksa melakukan penelitian yang tidak menyinggung pemerintah atau belajar berbohong dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22]&lt;br /&gt;Kebanyakan mahasiswa asing ini dibiayai oleh yayasan swasta atau oleh pemerintah asing. Lembaga-lembaga ini - dari Amerika, Jepang, Belanda, Inggris, Perancis, Kanada, dll - memiliki tujuan jangka panjang tersembunyi, dan lusinan atau bahkan ratusan mahasiswa mengandalkan dukungan finansial mereka. Pemerintah asing, dengan multi kepentingan di Indonesia dan Malaysia misalnya, harus memikirkan cara supaya tidak membuat marah negara tuan rumah. Lembaga-lembaga swasta menghadapi problem yang sama, bagaimana memunculkan riset yang bagus tanpa menyinggung aparat negara. Jika mereka terlalu berani, mereka bisa dilarang, proyek mereka ditutup, hubungan mereka dengan departemen luar negeri, departemen pendidikan, dan terutama dengan aparat intelijen, menjadi rumit. Di bawah tekanan seperti ini, bisa dimengerti jika lembaga-lembaga ini terpaksa jadi hati-hati dan konservatif. Jadi Anda bisa memahami kenapa program-program bagus mereka jarang yang memihak intelektual publik, melainkan terfokus pada proyek-proyek teknokratis dan berskala kecil yang tidak menimbulkan masalah - bukan hanya untuk mereka sendiri tapi juga untuk para pemuda yang mereka sponsori dan biayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23]&lt;br /&gt;Ada kelompok-kelompok veto yang kuat di dalam - atau berafiliasi dengan - negara, yang mesti diperhatikan. Saya akan beri satu contoh dari tiap negara Asia Tenggara yang terlibat dalam program gallant Yayasan Nippon. Di Indonesia, kelompok veto terpenting adalah militer dan politisi Muslim. Saya tidak menemukan satupun buku bagus mengenai militer Indonesia (pada level nasional) yang diterbitkan setidaknya 30 tahun terakhir oleh ilmuwan Indonesia maupun asing. Buku-buku terbaik diterbitkan oleh NGO -- Amnesty International, Indonesia Watch, dan NGO-NGO kecil lokal, tapi buku-buku ini tidak sistematis dan biasanya terfokus pada pelanggaran HAM pada berbagai level dan di berbagai tempat. Tapi, mustahil melakukan penelitian tentang kerajaan besar bisnis militer, yang resmi maupun bawah tanah. Mungkin Anda berpikir bahwa menarik sekali jika meneliti situasi aneh di mana 90% warganya secara resmi Muslim, tapi perolehan suara gabungan partai-partai Islam selama 10 tahun terakhir tidak pernah mencapai separuh angka ini. Atau: pada saat pengaruh Islam jelas-jelas meningkat selama dekade terakhir, kenapa reputasi politisi Muslim berada di titik rendah? Sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24]&lt;br /&gt;Di Filipina kelompok-veto terkuat adalah Gereja Katolik, yang selalu berhasil menghalangi undang-undang perceraian yang lebih adil, dan menimbulkan kasus pisah ranjang tak terhingga jumlahnya, mengorbankan wanita dan anak-anak. Kelompok ini juga menghalangi pemasyarakatan distribusi alat kontrasepsi, yang tidak hanya menimbulkan ledakan penduduk di negeri yang sudah miskin dan mengalami emigrasi, tapi juga mengganggu perang melawan AIDS. Total asset dan anggaran internal Gereja Katolik selalu dirahasiakan. Saya belum menemukan buku yang secara sistematis menelusuri kepentingan dan kebijakan Gereja beserta konsekuensi sosial dan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25]&lt;br /&gt;Di Malaysia, kelompok-veto yang terpenting adalah oligarki dari dalam UMNO, yang memegang tampuk kekuasaan tanpa henti selama setengah abad. Selama bertahun-tahun mereka menggunakan undang-undang kejam ISA, warisan pemerintah kolonial Inggris yang kemudian dikembangkan untuk membungkam pemberontak, kritikus, dan pembangkang. Semuanya ditujukan untuk melanggengkan kedamaian sosial, kesatuan nasional, dan hubungan hangat antar-etnis. Benar bahwa UMNO hari ini mengalami kemunduran akibat perubahan sosial mendalam dan meluas, kepemimpinan medioker, dan korup, dan kejenuhan semata. Benar juga bahwa ada NGO-NGO enerjik yang mengurusi lingkungan dan melawan diskriminasi rasial, terutama terhadap mayoritas India yang menderita -- dan seterusnya. Tapi, belum ada serangan frontal terhadap korupsi, inkompetensi, kemunafikan, dan perilaku diskriminatif para elite UMNO itu sendiri, meskipun para cendekiawan perlahan-lahan mulai berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26]&lt;br /&gt;Akhirnya, Thailand. Satu-satunya buku tentang monarki adalah yang ditulis Paul Handley “The King Who Never Smiles”. Handley mantan wartawan yang bertugas di Bangkok, yang sekarang dilarang masuk negeri itu. Ketika kabar tersiar bahwa Yale University Press akan menerbitkan buku ini, pengadilan berdaya upaya menghentikan penerbitan ini -- dan sia-sia. Tentu saja, buku ini diterjemahkan diam-diam ke bahasa Thai dan beredar di Internet, melampaui lembaga sensor elektronik negara itu. Tapi efek lebih dalam terlihat jelas di dunia akademik intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[27]&lt;br /&gt;Satu contoh kecil tapi penting adalah narasi sejarah yang panjang dan terbingkai rapi di Museum Nasional Thailand dari asal muasal 800 tahun yang lalu hingga sekarang. Yang benar-benar aneh adalah bahwa pameran permanen ini hanya menyebut empat orang, dan semuanya bangsawan yang dikagumi. Tidak ada satupun yang penulis, jenderal, dokter, penyair, ilmuwan, rahib, hakim, filsuf, filantropis atau pelukis, apalagi wanita. Pameran seperti itu tak terbayangkan ada di Indonesia, Filipina, atau bahkan Malaysia. Hal serupa dapat ditemui, meskipun dalam bentuk lebih canggih, di bidang-bidang akademik seperti sejarah seni rupa, sejarah, sastra nasional, ilmu politik, etnologi, dan sebagainya. Tentu saja ada beberapa “pemberontak”, termasuk beberapa profesor yang terlalu tua untuk pensiun. Tapi gambaran umumnya jauh dari menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28]&lt;br /&gt;Setelah mengajukan argumen saya - yang tentunya dimaksudkan sebagai provokasi - bahwa akibat profesionalisasi dan komersialisasi universitas, meningkatnya kekuasaan birokrasi negara dan lembaga sensor, serta kecenderungan oligarkis dalam kepemimpinan nation-state, maka ruang bagi intelektual publik sangat terbatas, setidaknya saat ini. Tapi perkenankan saya menyimpulkan dengan beberapa patah kata mengenai buku dan kenapa buku tetap sangat penting bagi intelektual publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29]&lt;br /&gt;Koran dengan kolomnya adalah sangat fana, hilang oleh berita esok hari. Televisi bisa memiliki momen yang hidup, tapi tak seorangpun menonton program-program tahun lalu. Film bisa jadi media yang bagus, tapi biasanya hanya ditonton sekali atau dua kali, kecuali oleh spesialis. Internet memiliki momentum emansipatoris, tapi traffic-nya sangat ramai, dan pesan-pesan di blogosphere, Facebook, dan lain-lain berumur pendek - dimaksudkan untuk saat itu juga. Buku yang bagus bisa dibaca berkali-kali dan bisa bertahan, dihidupkan kembali, selama periode yang panjang. Orang masih bisa membaca Lady Murasaki sebagai hiburan dan pelajaran, seperti karya Jose Rizal, Milton, Hafiz, Voltaire, dan sebagainya. Buku-buku itu menampung semua yang rumit dan kompleks. Buku-buku itu dibaca sendirian di dalam pikiran manusia. Dan buku-buku itu tidak punya pembaca - yang-ditentukan sejak awal, setiap orang bisa belajar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30]&lt;br /&gt;Di sinilah saya ingin mengatakan bahwa pengembangan jaringan, yang dipromosikan oleh Yayasan Nippon, meskipun sangat bagus dan bernilai, tetap bermakna kelompok-kelompok yang mengerti satu sama lain dan memikirkan persoalan yang serupa. Tapi ini tidak sama dengan, setidaknya menurut saya, kontribusi intelektual publik yang pada dasarnya berbicara kepada siapapun dan semua orang. Intelektual publik, semoga, memiliki pembaca yang bukan hanya kenalan dekat. Tapi tiap masyarakat membutuhkan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Versi bahasa Inggris artikel ini dapat dilihat di http://indonesiabuku.com/?p=6520&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-4109727436873488247?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/4109727436873488247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=4109727436873488247&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4109727436873488247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4109727436873488247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/10/intelektual-publik.html' title='Intelektual Publik'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-rYcLQFqq1z0/Tp-vtwqYk0I/AAAAAAAAAW4/NaLB7OEHYHM/s72-c/Ben+Anderson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5547849105171614161</id><published>2011-10-17T14:25:00.000+07:00</published><updated>2011-10-17T14:30:00.730+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Wajah Anda Penjilat atau Tukang Telat?</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sebulan &lt;/b&gt;terakhir ini, saya punya kegemaran baru: memperhatikan wajah siapa pun orang di depan saya. Entah memperhatikan wajah orang-orang yang saya kenal dan saya ajak bicara, atau sekedar melototi wajah-wajah orang yang sekilas lewat di depan saya. Ketika di kantor, diam-diam saya kerap menghitung berapa kerutan di wajah kawan-kawan, di mana saja ada codetnya, atau seberapa besar lubang hidungnya. Dengan sejumlah tanda itu, kemudian saya mengkonfirmasi kebenaran analisa dari buku yang saat ini tengah getol saya pelajari, berjudul &lt;i&gt;Membaca Wajah Ala China&lt;/i&gt; karya Jean Haner, orientalis Barat yang tergila-gila budaya Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UQjFh8RLUnQ/TpvZXVliaSI/AAAAAAAAAWw/aDT_q2HfDNY/s1600/wajah+ilustrasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="278" src="http://2.bp.blogspot.com/-UQjFh8RLUnQ/TpvZXVliaSI/AAAAAAAAAWw/aDT_q2HfDNY/s400/wajah+ilustrasi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saat membaca wajah kawan-kawan kantor, analisa memang langsung menemukan konfirmasi. Sebagai kawan kantor yang sudah bertahun-tahun bersama, sedikit banyak saya sudah mengenal sifat dan karakter mereka. Misalnya ketika Harner mendeskripsikan tanda-tanda apa yang biasa ada pada wajah orang yang pelit, saya bisa langsung menemukan tanda-tanda itu di wajah teman-teman yang terkenal pelit di kantor. Atau wajah seperti apa yang pada masa remaja mereka memperoleh perlakuan buruk atau tidak bahagia! Hasilnya luar biasa! Nyaris semua tanda yang dikemukakan Harner menemui kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula Harner memberi peringatan - tentunya lewat tanda di wajah - harus hati-hati dengan wajah penjilat. Orang seperti ini, bagi orang yang dijilat dan ini biasanya bos, justru berpotensi merusak kariernya. Para penjilat biasanya tipikal orang-orang yang bermulut manis, suka menyenangkan si bos, bahkan tak segan-segan memberi hadiah bagi orang yang dijilatnya. Namun tipikal orang seperti ini, biasanya tak mau kerja keras, tidak kreatif, serta energinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis untuk mengamankan posisinya. Omzet perusahaan tentu bakal turun karena si penjilat tak becus bekerja. Pada akhirnya, - selain jabatan si penjilat sendiri - tentu si bos yang ikut mempertanggungjawabkan ketidakberkembangan perusahaannya pada pemilik perusahaan atau pemegang saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kerja keras, jabatan yang diberikan si bos pada si penjilat tentu tak bermanfaat apa-apa pada perusahaan. Jika sudah demikian, si bos lah yang justru kena masalah. Si bos rapor-nya jelek, si bos pula yang kemudian gajinya tak naik, bahkan mungkin tak naik jabatan atau ditendang keluar. Jadi, bagi Anda yang jadi bos, bergaul dengan penjilat mungkin akan mendapat sesuatu "manis" di awal, tapi akan tersengat racun mematikan di belakang nanti. Bos yang pintar dan peduli dengan kariernya, tentu saja bos yang tak bisa dijilat!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan mengulik-ulik wajah orang terus saya lakukan juga ketika di Singapura. Ketika harus bertemu dengan kawan-kawan sesama penghobi fotografi di sana, atau sekedar tukar-menukar informasi soal kamera dengan mereka. Di MRT atau bus, saya kerap menebak-nebak sifat orang di depan saya. Pria di depan ini, yang wajahnya punya elemen logam, sepertinya peduli betul dengan detil: hingga meski pakainnya terkesan urakan, tapi serasi dalam paduan warna dan potongannya. Atau si wanita itu, yang wajahnya punya elemen air, kerjanya pasti pelan dan senang memanjakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kok jadi seperti paranormal?! Tapi sungguh, permainan otak yang ini sangat menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Harner, dalam bukunya, tak lantas memvonis seorang yang dianugerahi wajah model A, terus punya sifat A juga! Ilmu membaca wajah yang diperkenalkan para tabib jaman Dinasti China ini justru memberi sisi positif, bahwa seorang yang punya wajah model A dengan sejumlah sifat negatifnya, bisa mengubah kebiasaan jelek mereka jika menyadari sifat negatifnya. Saya beberapa kali membuktikan hal ini ketika harus berhubungan dengan orang Singapura. Salah satunya, jangan pernah membuat janji tiba-tiba atau terlambat jika berjanji dengan orang-orang Singapura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah salah satu hal terpenting bagi warga negara semaju Singapura. Apa pun bentuk dan elemen di wajah mereka. Satu lagi pelajaran berharga dari mereka, bahwa orang-orang Singapura sudah merencanakan kegiatan mereka jauh-jauh hari sebelum mereka melakukannya. Libur tahun depan dihabiskan di mana, pulang kerja nanti makan apa, baju apa yang dipakai hari Rabu; semua sudah mereka rencanakan. Dan ketika Anda tiba-tiba mengganggu rencana mereka, meski itu menguntungkan, jangan kira mereka akan tiba-tiba bersedia mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup aktif di bursa jual-beli &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;di Singapura sebagai salah satu cara mudah berbelanja. Negeri dengan pemakaian internet hingga 90 persen seperti Singapura, toko &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;atau jual-beli di dunia maya memang sangat umum. Tiap rumahtangga bahkan tak jarang kerap menjual atau membeli barang milik mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menjual dan membeli apa pun dari rumah tanpa harus repot ke mal. Kebiasaan jual-beli online seperti ini, menempatkan Singapura sebagai negara cukup terpercaya di dunia maya. Beda dengan Indonesia yang masuk kategori "peringatan". Di situs jual-beli beken semacam &lt;i&gt;E-bay&lt;/i&gt; misalnya, sering kali kita melihat pembeli menulis peringatan di dagangannya yang berbunyi, "penawar terbuka untuk semua negara kecuali Indonesia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu kenapa, tapi yang saya dengar, banyak penipu &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;yang berbasis di Indonesia. Entah mereka memang orang Indonesia, atau sekedar memakai Indonesia sebagai sarang mereka menipu. Hingga kemudian nama Indonesia jadi cemar di dunia jual-beli maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Rasa Singapura. Dengan orang Singapura, Anda tidak bisa menelepon langsung, dan minta ketemu. Meski Anda membawa segepok uang untuk membeli dagangan mereka. Ada negosiasi berbelit: apakah mereka punya waktu? Apakah mereka tidak punya rencana lain? Terutama ketika Anda bernegosiasi dengan orang yang memang kerjaan utamanya bukan sebagai pedagang &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;. Dan jika mereka sudah bersedia ketemu, jangan pernah Anda terlambat atau tidak datang. Mereka akan sulit memaafkan untuk kemudian mempercayai Anda kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya berhubungan langsung - jual beli - dengan ratusan orang Singapura, ada karakter serupa yang rata-rata dimiliki warga Singapura. Entah itu mereka yang punya elemen wajah air, besi, api, tanah, maupun logam, mereka rata-rata disiplin, tepat waktu, dan peduli janji. Stigma orang Melayu yang kerja nyante dan pemalas, tidak berlaku di Singapura. Mereka juga harus sama kerja kerasnya dengan etnis lainnya. Mereka juga harus bisa disiplin untuk bisa hidup sesuai standar Singapura. Memang, sistem yang dibangun di negeri kota itu, mau tak mau membuat setiap warganya bekerja dengan disiplin dan tepat waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem itu, kemudian membenarkan analisa Jean Haner bahwa Anda yang punya wajah dengan karakter tertentu, bisa berubah asalkan Anda punya kekuatan untuk mengubahnya. Tuhan tidak menciptakan takdir seseorang menjadi baik, jahat, buruk, penjilat, atau tukang telat! Tapi kitalah yang punya pilihan mau jadi seperti apa kita nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa bentuk wajah Anda? Ah, jangan terlalu diambil hati. Karena tanda itu tidak akan berarti apa-apa jika Anda ingin mengubah diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Diterbitkan di DIA, Minggu, 16 Oktober 2011.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5547849105171614161?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5547849105171614161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5547849105171614161&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5547849105171614161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5547849105171614161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/10/wajah-anda-penjilat-atau-tukang-telat.html' title='Wajah Anda Penjilat atau Tukang Telat?'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-UQjFh8RLUnQ/TpvZXVliaSI/AAAAAAAAAWw/aDT_q2HfDNY/s72-c/wajah+ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8903968497042075539</id><published>2011-10-09T15:09:00.000+07:00</published><updated>2011-10-10T15:31:02.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Siapa Bilang Spore Asyik?</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sebagai&lt;/b&gt; kota megapolitan yang gemerlap dan nyaris tak pernah mati sepajangn 24 jam, Singapura seperti monster raksasa penyedot energi yang gila. Nyaman dan Aman! Itulah dua kata yang harus ada di setiap sudut di Singapura, yang coba diberikan pemerintah mereka. Lift-lift dan eskalator yang nyaris tak pernah mati. Lampu jalan gemerlap, ruang-ruang publik berpendingin udara atau berkipas angin, bahkan sebuah di Taman Fort Canning sempat dibuatkan di eskalator untuk para penikmatnya. Yang terakhir ini, sempat menuai kecaman dan jadi bahan lelucon para pemerhati green living atau pecinta alam. Mengingat energi listrik yang terpakai dianggap mubadzir dan memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan &lt;i&gt;Lonely Planet,&lt;/i&gt; buku panduan wajib yang nyaris selalu ada di tas para turis atau petualang dunia mengolok-olok eskalator di Fort Canning sebagai sebuah "fenomena Singapura": Singapura sebagai kota para lanjut usia (lansia). Bukankah hanya seorang lansia, yang butuh kenyamanan yang sedemikian mengada-ada?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan di Singapura - bahkan yang terpencil sekalipun - selalu diterangi listrik. Pejalan kaki dimanjakan dengan kemudahan menyeberang jalan yang kadang membikin jengkel pengguna kendaraan umum seperti saya. Bayangkan Pembaca, betapa tidak nyamannya ketika bus umum yang kita tumpangi berhenti dua kali dalam radius cuma puluhan meter hanya gara-gara lampu hijau pejalan kaki menyala. Betapa tidak efisiennya, betapa banyak energi yang dikeluarkan oleh bus dan kendaraan lain yang harus berhenti hanya untuk menunggu seorang pejalan kaki jalan lenggang kangkung sembari asyik memainkan HP-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seperti ini: puluhan &lt;i&gt;traffick light &lt;/i&gt;yang jaraknya berdekatan, banyak sekali dijumpai di jalan-jalan Singapura. Bagi pejalan kaki memang nyaman, tapi bagi pengguna kendaraan bermotor ini merupakan pemborosan energi. Berapa besar bensin atau solar yang terbuang ketika kendaraan harus berhenti setiap beberapa meter sekali. Saya kadang berpikir, pemerintah Singapura terlalu ekstrem memanjakan warganya. Hingga membuat kota ini sebagai salah satu kota yang membosankan untuk ditinggali. Saya tidak pernah mampu bertahan tinggal di Singapura lebih dari dua minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang Singapura kota yang menyenangkan? Mengasyikkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Enegry Information Administration, Singapura menjadi negara pengkonsumsi tertinggi energi listrik per kapita, bahkan mengalahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Rekor ini tentu sangat masuk akal, jika melihat kenyamanan yang mereka dapatkan. Kalau boleh saya berhiperbola, pemerintah Singapura sepertinya tidak ingin rakyatnya kepercik setetes air hujan sekalipun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada harga mahal yang ditawarkan untuk semua kenyamanan itu. Yakni konsumsi listrik yang gila-gilaan. Fenomena pemanasan global yang kian mengkhawatirkan sekarang ini, jelas menjadi paradok bagi negeri yang ingin warganya nyaman seperti Singapura. Ironisnya, sebagian besar konsumsi energi Singapura, dibeli dari Indonesia. Kita sendiri, sebagai pemilik sumber energinya, justru harus menikmati byar-pyet listrik yang sering datang pada waktu menjengkelkan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, sudah byar-pyet, aneka layanan publik yang membutuhkan listrik terkadang mubadzir sekali. Cobalah tengok jalan raya antara Batamcenter dengan Simpang Kabil ketika malam. Meski lampu hidup, tetapi tetap gelap dan membahayakan jika ada lubang jalan. Itu karena hal konyol memasang lampu jalan di rerimbunan pohon. Bahkan saat setelah pohon di jalan terlalu rimbun dan menutupi cahaya lampu, pemerintah selalu terlambat memangkasnya. Belum lagi lampu-lampu itu kian boros energi karena baru dimatikan terlampau siang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi tulisan saya kali ini tak membicarakan soal membosankannya Singapura. Melainkan ingin berbagi cara hidup "lebih hijau" agar Bumi ini bisa lebih lama dinikmati anak-cucu kita. Batam dengan sumber daya alam yang sangat terbatas, dibutuhkan cara hidup "hijau" agar bisa eksis sebagai daerah yang enak ditempati. Jangan boros seperti Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara hidup hijau bisa dilakukan secara sederhana. Bagaimana misalnya, membiasakan diri untuk mengendalikan diri mempergunakan selembar tisu setelah makan, atau memakai kaus hingga empat hari tanpa bau. Tentu saja tak semua orang bisa melakukan penghematan yang terlihat konyol namun efektif ini. Kegilaan penggunaan energi - terutama energi elektrik - di Singapura, menyadarkan saya untuk tidak berlaku seperti kebanyakan warga negeri tetangga kita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali saya membaca satu artikel: betapa banyaknya energi yang dipakai untuk membuat selembar tisu. Juga betapa banyaknya pohon yang harus ditebang untuk membuat tusuk gigi agar setelah makan slilit makanan di sela-sela gigi kita hilang. Anda mungkin sebelumnya tak pernah berpikir hingga detil seperti ini. Tapi sekarang marilah kita mencoba melakukannya. Kadang, kita bisa mengambil tisu secukupnya saat di rumah sendiri, namun seringkali kita tidak melakukan hal yang sama ketika makan di warung-warung makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cuma-cuma, nafsu gratis kita seringkali membuat tangan kita mengambil tisu lebih dari yang seharusnya kita perlukan. Saya biasa memungut satu tisu untuk membersihkan piring atau sendiri, untuk kemudian menggunakan tisu itu kembali - di lipatan bagian dalamnya - untuk mengelap mulut atau tangan.&lt;br /&gt;Sejak remaja, saya juga punya kebiasaan memakai kaus/baju hingga empat atau lima hari. Celana jins bahkan bisa bertahan hingga sebulan tidak tercuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan yang kerap menimbulkan protes istri saya yang memang mengagungkan kebersihan. Beruntung kegemaran saya memakan sayur serta minum banyak air putih membuat tubuh ini sedikit menghasilkan keringat bau. Jadi, empat hari memakai kaus yang sama, tidak atau sedikit menghasilkan bau menyengat. Saya pun anti menyetrika pakain, kecuali pakaian-pakaian tertentu yang butuh disetrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada akhirnya, istri justru harus berterimakasih ketika melihat tagihan listrik yang tak banyak. Tetangga sebelah rumah, dengan anggota keluarga empat orang nyaris tiap bulan mengeluarkan tagihan listrik mencapai Rp600 ribu. Kami yang bertiga, tak pernah lebih dari 200 ribu tagihan listriknya. Belum lagi tagihan air dan belanja sabun serta lainnya yang dibutuhkan. Belum lagi waktu yang terbuang hanya untuk mencuci baju dan jemur pakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara hidup saya yang dianggap sebagian orang "brutal", terbukti lebih hemat energi dan menyenangkan. Mau coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Diterbitkan di DIA, Minggu, 9 Oktober 2011.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8903968497042075539?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8903968497042075539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8903968497042075539&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8903968497042075539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8903968497042075539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/10/siapa-bilang-spore-asyik.html' title='Siapa Bilang Spore Asyik?'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1817056773265090163</id><published>2011-10-02T15:13:00.001+07:00</published><updated>2011-10-02T15:14:05.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Spore: Resep Jitu Stop Merokok</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ini &lt;/b&gt;pertanyaan yang tak bosan-bosannya saya dengar, dan mungkin juga cukup bosan untuk saya bicarakan di sini. Tapi, selalu saja pertanyaan tentang "merokok" di Singapura selalu mewarnai pembicaraan lawan obrolan ketika tahu saya selalu berakhir pekan di Singapura. "Ndak enak ya di Singapura, ndak bisa bebas merokok?" Itulah kira-kira kalimat yang sering saya dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak tidak enak, kan tergantung si perokoknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-f9aGw12SOfg/Togc1waLRLI/AAAAAAAAAWs/kvz-f8-QWA8/s1600/Nikmatnya+merokok.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://4.bp.blogspot.com/-f9aGw12SOfg/Togc1waLRLI/AAAAAAAAAWs/kvz-f8-QWA8/s400/Nikmatnya+merokok.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tapi yang jelas, apa yang dibayangkan kawan-kawan tentang merokok di Singapura - bahkan yang sudah beberapa kali ke sana - tidak seekstrim bayangan mereka. Merokok tetap mengasyikkan, bagi yang menggemarinya. Dan bisa dilakukan di mana-mana. Asal bukan tempat yang berupa sarana publik maupun di dalam gedung-gedung ber-AC, setiap tempat atau gedung, pujasera, biasanya selalu menyediakan tempat bagi perokok. Anda pun bebas merokok sambil lenggang-kangkung jalan-jalan cuci mata. Tempat-tempat seperti halte bus, stadion sepakbola, ataupun gedung sekolah, biasanya ada larangan merokok. Jika Anda berani merokok di dalam bus atau kereta api, siap-siaplah kena denda 1000 dolar Singapura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya perokok berat. Sehari bisa menghabiskan dua bungkus, bahkan lebih. Selain dompet, kantong celana selalu tidak lupa berisi rokok dan koreknya. Tapi, "tidak nyamannya" merokok di Singapura pelan-pelan memberi manfaat pada saya. Kini, saya berhasil mengurangi isapan rokok tiap hari. Bahkan rekor terhebat yang pernah saya torehkan sepanjang saya menjadi perokok aktif adalah tidak merokok sama sekali dalam 22 hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini merokok lagi, meski tidak sedahsyat dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memanfaatkan waktu selama di Singapura untuk sekuat mungkin tidak menyentuh rokok. Banyaknya tempat-tempat yang tidak diperbolehkan merokok, mendatangkan manfaat tersendiri bagi saya. Ketika sehabis makan di pujasera, dan keinginan merokok datang, sering kali saya enggan beranjak dari tempat duduk hanya karena hendak merokok. Tidak elok betul - juga tidak nikmat - menurut saya, berdiri seorang diri di pinggir jalan raya hanya untuk menghabiskan rokok. Kenikmatan justru tak terasakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mengharamkan diri merokok di dalam rumah jika ada Ken, anak semata wayang kami yang masih bawah lima tahun. Banyaknya kegiatan yang bisa saya lakukan saat pulang ke Singapura juga membantu saya untuk melupakan rokok. Fasilitas publik yang baik dan kebanyakan gratis, tempat olahraga yang memadai, serta sarana-sarana wisata yang menyenangkan&amp;nbsp; - saya sering &lt;i&gt;tracking &lt;/i&gt;menjelajah hutan - membuat saya untuk sejenak, lupa dengan rokok. &lt;i&gt;Jogging &lt;/i&gt;yang menjadi kegemaran saya yang lain, juga bisa untuk sementara melupakan pikiran dari asap-asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya kerap bertanya-tanya, kenapa saya bisa melupakan rokok ketika di Singapura, sementara begitu kembali ke Batam, di benak ini selalu ada satu keinginan: merokok! Bahkan sesaat ketika tubuh masih keringatan setelah bermain futsal tiap Rabu sore di Ikan Daun, Batamcenter, di sela-sela tenggakan air mineral asap rokok juga tetap harus ada. Apakah karena melihat kawan-kawan lain yang merokok, keinginan ngudut ini kian bertambah berlipat-lipat? Bukankah rokok adalah salah satu "bahasa gaul", bahasa keakraban? Mungkin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, praktis selain keluarga inti - dan tak jarang rekan penghobi fotografi - saya tak berkomunikasi dengan orang lain. Itu mungkin yang mengurangi dengan drastis rasa kenikmatan merokok. Merokok seorang diri, bagi saya sama sekali tidak enak jika dibandingkan merokok bersama kawan perokok. Apalagi jika disesali cecapan Carlsberg dingin, nikmatnya kian bertambah-tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi menduga-duga, jika mungkin saya di Singapura selama tiga bulan penuh, mungkin saya akan berhenti merokok untuk selamanya. Ketika di Singapura, di benak ini tak ada lagi tempat untuk memikirkan merokok karena sejumlah aktifitas mengasyikkan yang bisa saya jalani di sana. Lalu saya berpikir, mungkin pemerintah di Batam bisa membuat banyak sarana publik yang bisa dipakai warganya untuk beraktifitas fisik secara gratis dan nyaman agar masyarakatnya tidak lagi berpikir soal rokok. Tidak perlu menaikkan harga rokok, karena pecandu rokok pun tetap akan berusaha membelinya. Berapa pun mahalnya harga rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal tahun 2010, pemerintah Singapura memperketat pemakaian rokok di Singapura. Selain ada larangan membawa rokok masuk ke sana, penikmat rokok di Singapura juga dibuat ketar-ketir dengan adanya razia rokok ilegal. Setiap batang rokok harus ada cap &lt;a href="http://www.customs.gov.sg/topNav/new/SDPC+Cigarette+Marking+Regulation.htm"&gt;SDPC&lt;/a&gt;. Jika tidak, Anda yang terpergok merokok rokok ilegal bakal didenda 200 dolar per batang. Denda yang bisa bikin bangkrut Anda jika di kantong ada sebungkus penuh rokok ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, peredaran rokok ilegal di Singapura, terutama rokok asal Indonesia, memang begitu marak. Anda bisa mendapatkan rokok Sampoerna Mild, Gudang Garam, Djarum Super, atau Malboro, di pusat-pusat keramaian seperti Geylang Serai, Little India, dan Bugis. Cara menjualnya biasa sembunyi-sembunyi. Pedagang biasanya menghampiri Anda dan membisiki apakah Anda butuh rokok? Jika iya, mereka kemudian mengeluarkan dagangannya. Harganya pun separuh harga rokok legal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebungkus Sampoerna Mild isi 16 batang kita bisa menebusnya dengan harga 11 dolar di toko-toko resmi, di pedagang ilegal kita bisa mendapat harga cuma 5 dolar Singapura. Sekitar Rp35 ribu. Jauh lebih mahal ketimbang di Indonesia, tapi sangat murah ketika dibeli di Singapura. Tapi sejak 2010, pedagang ilegal semacam ini kian sulit ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jangan khawatir bagi Anda yang menggemari rokok kretek Indonesia. Larangan membawa rokok ke sana tidak mutlak aturannya. Anda tetap bisa membawa rokok apa pun kegemaran Anda, asalkan membayar cukai yang sudah ditentukan. Di pelabuhan atau bandara tempat-tempat pemeriksaan barang bawaan, selalu ada konter bertulis "Custom" yang akan dengan senang hati melayani Anda menerima bayaran cukai rokok yang Anda bawa. Cukainya memang cukup mahal, tapi jangan pernah coba-coba untuk mengelabuhi para petugas itu untuk bisa meloloskan sejumlah rokok yang Anda bawa, atau sekedar menyogok sejumlah uang ketika Anda ketahuan membawa rokok di luar jumlah ketentuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat, ketika suatu kali memberanikan diri membawa satu slop rokok kretek oleh-oleh untuk adik lelaki saya. Harga satu slop rokok kretek yang saya beli di Batamcenter ketika itu sekitar Rp150 ribu. Ketika tertangkap tangan petugas Custom Singapura dan diminta membayar cukai, saya diwajibkan membayar cukai sebesar 68 dolar! Saya hitung-hitung, kok lebih mahal cukainya daripada harga rokoknya. Lalu, meluncurlah kata pada petugas Custom, "Sudah deh Pak, untuk Anda saja semua rokoknya. Nanti saya bisa beli lagi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang Petugas Custom - kebetulan Melayu - keluarkan cukup mencengangkan. Dengan tegas ia mengatakan, "Mau bayar cukai 68 dolar atau denda 500 dolar (untuk pelanggaran saya membawa rokok)!" Saya pun akhirnya memilih alternatif pertama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di Spore, mungkin menjadi resep jitu untuk berhenti merokok! Setidaknya bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan di DIA, Minggu, 2 Oktober 2011.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Foto "nikmatnya merokok" oleh saya. Model Mbah Satiman.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1817056773265090163?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1817056773265090163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1817056773265090163&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1817056773265090163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1817056773265090163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/10/spore-resep-jitu-stop-merokok.html' title='Spore: Resep Jitu Stop Merokok'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-f9aGw12SOfg/Togc1waLRLI/AAAAAAAAAWs/kvz-f8-QWA8/s72-c/Nikmatnya+merokok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1539928639407562994</id><published>2011-10-02T13:09:00.000+07:00</published><updated>2011-10-02T15:19:06.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='enak berbahasa'/><title type='text'>Bang a/ Mas, Kakak Saja lah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dia &lt;/b&gt;sepertinya tak nyaman ketika dipanggil "Bang", oleh dua perempuan yang menawar gelang manik-manik sekend dagangannya. "Masak mahal begini Bang?" kata seorang calon pembeli, ketika mendengar si pedagang menyebut harga Rp25 ribu. Wajah si pedangang tidak senyum. Bibirnya yang penuh oleh suntik silikon, tampak merekah merah sedikit manyun. Begitu juga dengan pipi dan hidungnya yang juga disuntik silikon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bahan mutiara Mbak! Mahal..." kata si pedagang ketus. Suaranya berat, dan tentu saja suara lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang ya Mas, lensanya ada jamurnya...," kata calon pembeli yang lain. Seorang pria yang sedari tadi mengutak-atik kamera SLR merek Yashica. Lagi-lagi saya perhatikan tidak ada senyum atau kegembiraan di wajah penuh suntikan silikon si pedagang. Dengan keketusan yang masih terpelihara, si pedagang kemudian menjawab, "...kan bisa dibersihkan jamurnya!"&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GRdoseH65rk/TogAns6KLaI/AAAAAAAAAWo/CQ8-mRmTw0o/s1600/ilustrasi+bencong.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://1.bp.blogspot.com/-GRdoseH65rk/TogAns6KLaI/AAAAAAAAAWo/CQ8-mRmTw0o/s400/ilustrasi+bencong.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketus banget pedagang ini? Jangan-jangan, pikir saya, keketusan Dia karena enggan dipanggil "Bang" atau "Mas"? Saya yang ketika itu tengah mengutak-atik satu biji kamera lama dagangannya yang lain, jadi sedikit bingung untuk mengeluarkan kata, sekedar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia - pedagang itu - memang seorang pria. Tapi, dengan ikhtiar yang sebisa Ia lakukan, Ia ingin mengubah takdir menjadi sedekat mungkin dengan wanita. Hidungnya dibuat bangir dengan silikon, kedua pipi dan janggutnya juga dipermak silikon. Yang paling kentara tentu saja kedua bibirnya yang merah merekah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, harga sebuah kecantikan mungkin terlalu mahal untuk ukuran pedagang sekend kecil di Pasar Jodoh, Batam. Di usianya yang saya tebak sekitar 40an tahun, Dia gagal tampil cantik meski sudah berikhtiar sedemikian rupa. Rambutnya yang lumayan panjang dan disemir pirang, sedikit awut-awutan dan tampak kusut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga &lt;i&gt;t-shirt&lt;/i&gt; dan celana seperempat warna gelap yang Ia kenakan. Tampaknya mengusut oleh kotornya aneka dagangan sekend yang ia jual. Cutek cokelat gelap di kuku tangan dan kakinya, malah mengesankan ia kian tak terawat. Tinggi tubuhnya yang sekitar 160 sentimeter, kian terlihat pendek karena timbunan lemak di perut dan sekujur tubuhnya. Di titik kegagalan ini, ketika penampilannya setengah pria setengah wanita, siapa pun pasti bingung apakah akan menyebut "Bang" atau "Mbak" pada Dia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat umum kerap menjuluki orang-orang seperti Dia sebagai "waria" atau "bencong". Tapi waria atau bencong dengan kepercayaan diri berusaha tampil sangat wanita. Baik itu siang ataupun malam. Dia - pedagang sekend itu - tidak! Dulu, dia mungkin ingin tampil sangat wanita. Tapi gagal dan akhirnya menyerah dengan keadaan. Membiarkan seluruh ikhtiarnya berantakan. Sekali lagi, saya kembali bingung ketika hendak menawar salah satu kamera sekend dagangannya. Apakah akan memanggilnya "Mbak" atau "Mas"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bodoh sekali saya. Kenapa tidak memilih diksi "Kakak" untuk sebuah penyebutan yang aman. Akhirnya, saya kata memakai ganti orang orang kedua "Kakak" dalam tawaran yang saya kemukakan. Tampaknya berhasil. Dia terlihat gembira dan memperlakukan saya dengan baik. Kami ngobrol sedikit panjang, tentu saja membicarakan kamera yang dijualnya, yang tengah saya taksir. "Mas... mas, bersihkan lensanya kira-kira berapa ya? Kalau di Batam di mana ada orang bisa bersihkan?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menyebut di mana, siapa, dan berapa ongkos membersihkan lensa kamera yang jamuran. Kami juga berdiskusi soal dagangan-dagangan Dia yang lainnya. Tak lupa pula, saya berpesan, jika ada kamera bagus, simpankan untuk saya. Dia mengangguk. Gembira. Dan akhirnya, meskipun kamera tak jadi saya beli, dia tak cemberut karena - mungkin - tak disapa sebagai "Bang" atau "Mas".&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Foto kaki-kaki oleh saya, di Singapore River.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1539928639407562994?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1539928639407562994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1539928639407562994&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1539928639407562994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1539928639407562994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/10/bang-atau-mas-kakak-saja-deh.html' title='Bang a/ Mas, Kakak Saja lah'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GRdoseH65rk/TogAns6KLaI/AAAAAAAAAWo/CQ8-mRmTw0o/s72-c/ilustrasi+bencong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5324246214812237073</id><published>2011-09-27T13:17:00.001+07:00</published><updated>2011-09-27T13:22:20.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>I Say 'i' Papa, Not 'ai'!*</title><content type='html'>&lt;b&gt;Salah &lt;/b&gt;satu hal paling berat ketika punya keluarga yang tidak sekota adalah ketidakmampuan kita untuk tiap hari memantau perkembangan anak. Setiap kali pulang ke Singapura, sepekan sekali - kadang malah dua pekan sekali - saya selalu merasa berdosa ketika anak kami yang kini berusia empat tahun, Ken, sudah bisa melakukan hal yang tak saya deteksi sebelumnya. Ketika tiba-tiba ia bisa menyebut huruf "a" pada satu tulisan kalimat saat ia berusia tiga tahun, saya kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, siapa yang mengajari dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xourbagl2YQ/ToFqH7OhQeI/AAAAAAAAAWk/lym8o2uMOIU/s1600/ken+dan+alfabeth.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-xourbagl2YQ/ToFqH7OhQeI/AAAAAAAAAWk/lym8o2uMOIU/s320/ken+dan+alfabeth.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Keterkejutan itu kian menjadi-jadi ketika beberapa saat kemudian ia bisa menunjuk dengan betul seluruh huruf alfabet. Ia juga bisa menghitung angka demi angka, dan hafal nyaris semua nama kendaraan alat berat yang ada di buku perpustakaan yang kami pinjamkan untuknya. Padahal sejauh ini kami tak pernah mengajarinya. Istri saya tidak, saya apalagi. Istri saya adalah guru anak-anak, yang percaya bahwa usia di bawah tujuh tahun, anak sebaiknya tak perlu dipaksakan untuk belajar membaca atau menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang, kami selalu membelikan berpuluh-puluh VCD yang berisi aktifitas bermain sekaligus belajar. Bahkan kami sampai harus memesan ke Amerika Serikat dan Inggris agar mendapatkan VCD sesuai harapan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan keburu berprasangka buruk bahwa saya pamer soal pendidikan anak kami. Pembaca mungkin mengira, kami harus menghabiskan banyak uang untuk membeli VCD hingga Amerika Serikat! Tidak. Bahkan VCD-VCD yang kami pesan dari Internet itu, tak jarang jauh lebih murah ketimbang sekali kami membawa si Ken ke Timezone di Megamall. Mendidik anak tak selamanya mahal! Bahkan saya kerap berburu mainan-mainan berkualitas bagus di Pasar Sekend Aviari, Batuaji. Sekantong plastik besar mainan di Aviari, jika beruntung saya bisa menebusnya seharga dua bungkus Lucky Strike, rokok kesukaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kejutan-kejutan yang diberikan Ken, keluarga beda negara seperti saya seringkali kebiasaan-kebiasaan kecil menjadi masalah namun mengasyikkan. Satu di antaranya kerap terjadi saat saya menemani ia bermain. Menyusun huruf untuk menjadi kata-kata dengan huruf-huruf plastik bermagnet adalah salah satu permainan yang dia suka. Selain tentunya memainkan koleksi mobil dan Thomas and Friend miliknya.&lt;br /&gt;Mengingat kami tumbuh dan terbiasa dengan bahasa yang berbeda, kami sering beda persepsi soal huruf. Ketika dia minta saya dicarikan huruf "E" misalnya, saya justru memberikan huruf "I".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dia protes. "I say 'i' Papa, not 'ai'!" Seringkali dia protes demikian. Di benak saya ketika itu, bukankah huruf "i" yang dia minta tadi memang huruf "i"? Oh, sialan, saya lupa bahwa dia menyebut dan mengeja dengan aksen Inggris. Sementara saya mengartikannya dalam pelafalan Indonesia. Huruf E dalam sebutan Inggris memang dilafalkan "i". Sementara otak kampungan saya menangkap perkataan anak saya sebagai huruf I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, justru dia yang bukan belajar dari saya. Melainkan sayalah yang seringkali mencuri pelajaran dari Ken. Bahasa Inggris saya yang amburadul, kini sedikit demi sedikit berkembang setelah Ken sudah mulai bisa saya ajak ngobrol. Dia kerap mengucapkan kosakata-kosakata baru yang sebelumnya jarang saya cermati. Tentu saja saya harus cermati betul, agar saya bisa berkomunikasi dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajari dia bahasa Indonesia. Terkadang juga saya menyisipkan satu-dua kata bahasa Jawa dalam obrolan kami. Seringkali dia tak mengerti. Tapi dia punya cara sendiri untuk mengartikan satu-dua kata Indonesia - atau Jawa - itu. Yakni ketika dia menangkap keseluruhan kalimat yang saya ucapkan, serta bahasa tubuh yang saya tunjukkan. Alhamdulillah, beberapa kata umum Indonesia kini sudah sering mewarnai percakapan-percakapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak ibunya, selain bahasa Inggris yang menjadi bahasa sehari-hari, Ken juga mendapat pengaruh bahasa China. Sama seperti ia belajar bahasa Indonesia, ibu atau neneknya sering menyisipkan satu-dua kata dalam percakapan mereka. Pernah saya terkejut ketika tiba-tiba dia bernyanyi dalam bahasa China. Saya tanya pada istri saya, apa yang dia nyanyikan? Istri saya menjawab, itu kan lagu China yang biasa dinyanyikan di &lt;i&gt;nursery&lt;/i&gt; tempat dia belajar tiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;So, ketika tiap pekan pulang ke Singapura, saya kerap harus siap-siap kejutan apa lagi yang diberikan si Ken?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti keterkejutan yang pekan lalu saya dapatkan. Ketika Minggu lalu saya harus menghadiri satu acara puncak The Joy of Reading, di Perpustakaan Nasional Singapura di daerah Bugis. Saya terkejut ketika SMS istri saya yang bertanya apakah jadi datang ke acara hari Minggu itu? Ah, saya yang lupa dan pekan itu tidak berencana pulang ke Singapura segera mengemas paspor, berangkat dengan feri paling awal yang bisa saya kejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya salah satu dari 10 ribu bapak yang beruntung mendapat &lt;i&gt;door-prize &lt;/i&gt;karena aktif membacakan anak buku cerita. Di panggung, saya dan Ken disambut jabatan tangan hangat oleh Menteri Negara Informasi, Komunikasi, dan Kesenian Singapura, Grace Fu Hai Yien. Saya sepertinya menjadi satu-satunya orang asing yang naik ke panggung ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joy of Reading adalah program pemerintah Singapura yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta anak-anak usia 4 sampai 10 tahun terhadap buku bacaan. Di tengah maraknya acara televisi, dan gampangnya mengakses internet, mereka takut, kebiasaan baik yang terbukti telah membuat satu negara lebih maju, yakni gemar membaca, akan menghilang. Singapura adalah salah satu negeri dengan akses Internet terbaik di dunia. Di rumah-rumah penduduknya, sudah terpasang internet berbasis serat optik. 95 persen pemakain HP di sana juga tercatat sebagai pemakai smartphone yang bisa mengakses Internet dengan mudah. Kira-kira inilah yang kemungkinan menjadi kekhawatiran pemerintah Singapura, bahwa kelak rakyatnya tak lagi gemar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, lewat Internet kita juga bisa membaca buku! Tapi, unsur hedonis yang ditawarkan Internet terbukti jauh lebih menggiurkan ketimbang nilai edukasinya. Dan saya setuju, Internet tak membuat seseorang bisa gemar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup gemar membaca. Saya juga ingin anak saya melakukan hal demikian. Untuk itu, di tengah singkatnya waktu kepulangan saya ke Singapura tiap pekan, saya berusaha sebisa mungkin membacakan buku cerita di setiap kali Ken akan tidur. Meskipun kadang dia protes karena pelafalan yang saya ucapkan tidak sama dengan yang diucapkan ibunya. Jika sudah demikian, terpaksalah istri saya yang mengambil alih tugas membacakan buku untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Untuk Tabloid Dia terbitan 25 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Ken dan alfabet-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5324246214812237073?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5324246214812237073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5324246214812237073&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5324246214812237073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5324246214812237073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/09/i-say-i-papa-not-ai.html' title='I Say &apos;i&apos; Papa, Not &apos;ai&apos;!*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xourbagl2YQ/ToFqH7OhQeI/AAAAAAAAAWk/lym8o2uMOIU/s72-c/ken+dan+alfabeth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7252845192281447966</id><published>2011-09-20T20:30:00.001+07:00</published><updated>2011-09-20T20:37:48.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>Sepotong Dialog Ayah-anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-plsBENaNhbk/TniV9NXHtBI/AAAAAAAAAWg/GGs6KXH2Zag/s1600/pirateradio-3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-plsBENaNhbk/TniV9NXHtBI/AAAAAAAAAWg/GGs6KXH2Zag/s320/pirateradio-3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;..... &lt;br /&gt;Tom&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;	: ....Secara teknis... kamu adalah ayahku. Orang yang selama ini saya cari. saya rindukan...&lt;br /&gt;Mark&amp;nbsp;	: &lt;i&gt;Hmmm...&lt;/i&gt;, keren.&lt;br /&gt;Tom&amp;nbsp;&amp;nbsp;	: Cuma itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, keduanya, Tom dan Mark, hanya bisa terdiam. Cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark mengambil &lt;i&gt;microphone&lt;/i&gt;. Meneruskan acara yang ia bawakan. Di depannya, Tom duduk memperhatikan dengan kedamaian. Sedamai orang yang baru saja berhasil berak setelah seminggu dihajar sembelit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong dialog di film &lt;i&gt;Pirates Radio (2009).&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7252845192281447966?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7252845192281447966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7252845192281447966&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7252845192281447966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7252845192281447966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/09/sepotong-dialog-ayah-anak.html' title='Sepotong Dialog Ayah-anak'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-plsBENaNhbk/TniV9NXHtBI/AAAAAAAAAWg/GGs6KXH2Zag/s72-c/pirateradio-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3565420635195611811</id><published>2011-09-19T16:12:00.000+07:00</published><updated>2011-09-19T16:22:56.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Gila, Sampah Kian Gila!</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;   &lt;m:dispdef&gt;   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="ISI" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="color: black; text-transform: uppercase;"&gt;(B&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;agian II, dan semoga menjadi tulisan terakhirtentang sampah) &lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; text-transform: uppercase;"&gt;Sepekan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;setelahtulisan pertama di rubrik ini berjudul &lt;i&gt;Sumpah, Gila! Sampah-sampah Itu &lt;/i&gt;terbit,tumpukan sampah yang menggunung di depan rumah tak juga kunjung terangkut.Sampah yang nyaris tiga minggu tak diangkut itu, telah menimbulkan teror yangtak mengenakkan bagi kami: bau busuk menyengat hingga rumah, ribuan belatungyang bersumber dari sampah juga bermigrasi, mencari tempat persembunyian hinggamasuk-masuk ke dalam rumah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DPczAqFlNAg/TncHQwOzrnI/AAAAAAAAAWY/mVG8G4bVtHY/s1600/dustbin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-DPczAqFlNAg/TncHQwOzrnI/AAAAAAAAAWY/mVG8G4bVtHY/s320/dustbin.jpg" width="270" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di depan rumah saya memang tak adatong sampah, mengingat saya yang tinggal seorang diri ha­nya memproduksisedikit sampah. Saya tidak masak, sampah-sampah yang dihasilkan pun seringkalisampah kering. Itupun baru mulai ba­nyak setelah seminggu menumpuk. Seringkalijustru pemulung yang lewat di depan rumah yang saya panggil untuk mengambilsampah saya yang memang kebanyakan masih bisa dimanfaatkan. Meski pembayaranretribusi sampah sama dengan tetangga kiri-kanan yang memproduksi berkali-kalilipat sampah dari saya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bau busuk dan belatung yang telahmeneror saya, bersumber dari gunungan sampah tetangga yang memang belumterangkut. Pak E, tetangga saya, akhirnya harus turun tangan sendirimengangkuti sampahnya untuk dibuang di pinggir jalan. Dia beli tas plastikbesar (belinya tentu pakai uang, Pak Walikota) untuk mengangkut sampahnya, diamenyisihkan waktunya, dia juga bermain dengan resiko kena sejumlah penyakityang bisa ditimbulkan sampah yang sudah tiga minggu tidak diangkut! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pengorbanan yang luarbiasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ironisnya, beberapa hari yang lalupada sejumlah media, Walikota Ahmad Dahlan meminta maaf sembari entengmenyebut: masalah sampah yang tak terangkut adalah soal kecil. Ia beranalogi:seperti gunung berapi yang akan meletus, masalah sampah di Batam baru sekedarasapnya saja. Masih tidak berbahaya, tidak perlu dikhawatirkan. Statemen khaspolitikus Indonesia yang kerap meremehkan masalah yang berhubungan langsungdengan kepentingan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia berkata demikian, mungkin karenatak pernah mencium bau sampah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bau bacin, serangan belatung, pluskebingungan tiap ibu rumahtangga hendak membuang ke mana sampah mereka karenatong sampah di depan rumah bukan masalah kecil, Pak Walikota! Terlebih Batamyang mayoritas warganya adalah pasangan usia muda, yang memiliki anak balita,yang tak lagi punya tempat bagus bermain selain bermain di jalan depan rumahmereka. Bermain bersama sampah-sampah yang telah membusuk membelatung. Andamung­kin tak pernah membayangkan, bagaimana mengerikannya &lt;i&gt;pempers &lt;/i&gt;yangisinya tinja bayi yang sudah tiga minggu teronggok di dalam tong sampah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sangat MENGERIKAN!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Persoalan mendasar tentang sampahmemang tak sepenuhnya tanggungjawab pemerintah. Rakyat sebetulnya pu­nya andilpenting untuk membuat sampah-sampah di lingkungan mereka tidak terlalumenggunung. Dan pemulung adalah aktor penting lainnya yang seharusnya diberikeleluasaan. Saya selalu tidak gembira ketika membaca “PEMULUNG DILARANG MASUK”di satu komplek perumahan. Saya belajar dari warga Singapura, bagaimana mereka“menghormati” sampah mereka agar tidak mengganggu mereka sendiri. Menghormatipemulung dengan mempermudah kerja mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di rumah yang kami tinggali, baikdi Singapura maupun di Batam, selalu ada dua tempat sampah dalam rumah. Istrisaya selalu mengingatkan, ada hak para pemulung di sampah-sampah yang kitabuang. Sampah-sampah plastik, kertas, pakaian, atau yang masih bisa didaurulang, adalah rejeki bagi para pemulung. Sedikit ribet memang, dan juga takjarang membuat tak nyaman ada dua sampah. Tapi, jika kita mencintai Bumi, kitaharus melakukannya. Agar Bumi tidak memurkai kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di Singapura, selain cara efektifpembuangan sampah yang saya jelaskan pekan lalu dalam tulisan di rubrik ini,mereka juga selalu menyediakan tempat sampah yang khusus untuk membuangbarang-barang yang masih bisa dipakai. Televisi, komputer, sofa, dan anekamacam barang-barang yang sekira bisa dipakai yang dibuang warga, biasaditempatkan di bawah apartemen agar bisa diambil pemulung dengan baik. Tidakdicampur dengan sampah basah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anda mungkin tak percaya, televisi,sofa, atau alat-alat rumahtangga yang masih baik yang banyak dijual diloakan-loakan Batam adalah “sampah” yang betul-betul dibuang oleh rumahtanggaSingapura. Terkadang, ketika lihat seonggok televisi yang masih baik di bawahflat tempat tinggal kami di Singapura, saya berkhayal untuk bisa membawanya keBatam. Tapi apa daya, tangan ini tak cukup kuat untuk menenteng barang-barangtersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Memulung, di Singapura sudahmenjadi bisnis bagus. Tidak jalan kaki apalagi membawa gerobak motor, merekaterkadang membawa lori untuk membawa barang-barang yang dibuang warga. Saya taktahu kemudian dibawa ke mana barang-barang itu. Saya pikir barang-barang yangmasih bisa terpakai itu mereka packing dan untuk selanjutnya dikirim ke Batamatau daerah-daerah lain yang menginginkan. India dan Bangladesh menjadi negaralain yang menerima ekspor barang bekas asal Singapura.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kembali ke soal sampah. Yang jelasada tanggungjawab sosial yang tertanam pada warga Singapura, bahwa sebagiansampah-sampah mereka bisa bermanfaat bagi orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di Batam sebetulnya juga sudahdikampanyekan peme­rintah untuk memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengansampah basah yang bisa langsung ditelan Bumi tanpa menimbulkan masalah. Tapisekali lagi, kampanye itu tak ada artinya jika tak ada fasilitas untukmelaksanakannya. Akan sangat berguna jika misalnya di setiap kom­plek dibuattempat sampah yang dikhususkan bagi sampah basah maupun sampah kering. Pemulungpun akan dengan mudah membawa sampah kering itu untuk penghidupan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tapi kadang, kita suka tak rela,melihat orang lain (baca pemulung) bekerja dengan lebih ringan untukmendapatkan uang. Saya selalu tak bahagia ketika membaca “PEMULUNG DILARANGMASUK” di satu komplek perumahan. Sama tidak bahagianya dengan membacapernyataan Pak Walikota yang menihilkan masalah sampah, juga mencium &lt;i&gt;pempers&lt;/i&gt;berisi kotoran bayi yang sudah tiga minggu tak diangkut!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;br /&gt;Gila, Sampah Kian Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Diterbitkan di DIA, Minggu, 18September 2011.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3565420635195611811?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3565420635195611811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3565420635195611811&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3565420635195611811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3565420635195611811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/09/sumpah-gila-sampah-sampah-itu_19.html' title='Gila, Sampah Kian Gila!'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DPczAqFlNAg/TncHQwOzrnI/AAAAAAAAAWY/mVG8G4bVtHY/s72-c/dustbin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7251011517612646114</id><published>2011-09-15T18:25:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T11:33:40.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hanyacerita'/><title type='text'>Perselingkuhan Tanjunguma</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-b6LRyTmUm5M/TnHgNsvPpqI/AAAAAAAAAWQ/gUmYr6znN40/s1600/Tanjunguma.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/-b6LRyTmUm5M/TnHgNsvPpqI/AAAAAAAAAWQ/gUmYr6znN40/s320/Tanjunguma.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tiba-tiba saja saya ingin membekukan pemandangan di depan kami: segaris lanskap salah satu kampung tertua di Batam: Tanjunguma. Dari Harbour Bay tempat kami malam itu berusaha menghabiskan tiga botol Carlsberg dan sepiring besar supit laut yang pedasnya &lt;i&gt;naudzubillah&lt;/i&gt;, mata kami berdua - saya dan Iwank,satu-satunya teman yang masih ikhlas nongkrong dengan saya - tertuju pada gemerlap lampu dalam pekat malam di depan kami: salah satu kampung tertua di Batam. Kampung yang tidak akrab dengan saya, namun punya kedekatan emosi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat, lagu melayu-layu dari band ST-12 merusak keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebelum ST-12 memberi kerusakan lebih masif, buru-buru saya keluarkan G-10, kamera pocket saya. Kamera yang mungkin akan lama menemani saya, menyayangi saya. Kamera yang mungkin tidak bernasib seperti kamera-kamera dagangan saya yang lain yang cepat saya lepas. Sekali dua mencoba membekukan pemandangan di depan, hasilnya tak terlalu mengecewakan. Kecepatan 15 detik dari batas kemampuan si pocket, terbantu oleh batang pagar besi yang bisa dimanfaatkan sekedarnya untuk tripod. Beberapa foto berhasil saya dapatkan. Tapi tiba-tiba, lirik lagu &lt;i&gt;The End&lt;/i&gt; milik &lt;a href="http://www.thedoors.com/"&gt;The Doors&lt;/a&gt; yang baru setengah main saya dengarkan di tape mobil Iwank yang sebelumnya membawa kami ke Harbour Bay, kembali terngiang-ngiang. Sudah lama saya tidak mendengarkan salah satu lagu yang masih bisa membuat emosi saya membuncah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;This is the end&lt;br /&gt;Beautiful friend&lt;br /&gt;This is the end&lt;br /&gt;My only friend, the end &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ride the snake, ride the snake&lt;br /&gt;To the lake, the ancient lake, baby&lt;br /&gt;The snake is long, seven miles&lt;br /&gt;Ride the snake... he's old, and his skin is cold&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Father, yes son, I want to kill you ....&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-d4jVVTp2xCk/TnLRfJU8vxI/AAAAAAAAAWU/_TeC0_0LL4s/s1600/untuk+perselingkuhan+tanjunguma.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://4.bp.blogspot.com/-d4jVVTp2xCk/TnLRfJU8vxI/AAAAAAAAAWU/_TeC0_0LL4s/s320/untuk+perselingkuhan+tanjunguma.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkenalan saya dengan Tanjunguma seperti kecintaan saya dengan The Doors. Datang dengan tiba-tiba. Datang dengan sendirinya. Seperti takdir yang menuntun saya untuk ke sana. Pertama kali saya mengenal Tanjunguma, ketika tanpa sengaja saya dan Sokrates tersesat menjumputi foto berbagai aktifitas warga sana di pagi buta di pertengahan tahun 2006. Menjumputi foto para nelayan perkasa, otot-otot keras lengan pengayuh sampan, atau anak-anak yang tetap ceria bercanda di atas plantar meski di bawah mereka segunung busuk sampah menyeruak menyakiti hidung-hidung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, saya tiba-tiba jatuh cinta dengan kampung ini. Seringkali, bersama teman atau seorang diri saya menyusuri kampung ini. Menjepret sana-sini, berusaha menekuni keistimewaan kampung ini. Kampung yang di dalamnya, Anda akan menemukan betapa sebuah identitas etnis dan agama tak berlaku dengan mutlak. Kampung sederhana dengan penduduknya yang berwajah keras namun mengasikkan. Keindahan yang bercampur bau bacin kagagalan penatalaksanaan pemukiman akibat kebrutalan penguasa yang gagal mengurus rakyatnya. Kampung yang, seperti lagu-lagunya The Doors: mampu membuat emosi saya membuncah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali merekonstruksi khayalan tentang bagaimana Tanjunguma terbentuk hingga menjadi kampung indah nan busuk, setiap kali pula khayalan saya tersambung pada keperkasaan dan keculasan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Arok"&gt;Ken Arok&lt;/a&gt; ketika mengawali pembangunan Kerajaan Singhasari. Pria dari kelas paria yang kemudian menjelma menjadi raja dan kemudian, kerajaannya berhasil menyatukan Nusantara. Rakyat Tanjunguma saya pikir punya karakter seperti Ken Arok. Para prianya kokoh ditempa ombak dan angin laut. Yang perempuan bak pualam, juga kokoh dan tanpa keputusasaan. Namun mereka terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksi-rekonstruksi khayalan yang kemudian menuntun saya menuliskannya dalam sebuah rangkaian kisah. Tujuh bab dengan cepat tertulis, hingga kemudian semua bubrah. Rusak oleh kebencian yang tiba-tiba timbul pada prosa, novel, apalagi puisi. Kebencian yang saya tak tahu kenapa muncul dan mengemuka. Cerpen terakhir yang berhasil saya tuliskan adalah cerpen &lt;i&gt;Malam yang Nyaris Sempurna &lt;/i&gt;yang &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt; bisa terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik &lt;a href="http://wismasastra.wordpress.com/2009/06/02/pengumuman-lomba-menulis-cerpen-jilfest-2008/"&gt;Jakarta International Literary Festival 2008&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harbour Bay kian kelam. Tanjunguma di depan sana, kian pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Waitress&lt;/i&gt; seksi namun berwajah maskulin yang melayani kami sudah beberapa kali mengisi ulang gelas kami berdua. Sebiji siput yang ternyata sudah membusuk, terseruput dalam mulut dan terpaksa harus saya muntahkan kembali. Iwank kemudian berceloteh soal kegemaran barunya, mengoleksi bonsai. Saya tertawa. Saya gembira. Kawan saya satu ini ternyata masih punya penyaluran hasrat akan estetika yang ia miliki. Beberapa waktu lalu beberapa kali dia mengajak saya berburu batu bahan akik. Juga berburu motor lama yang bobrok, dan paling parah: mengoleksi mobil lama yang untuk kemudian dibiarkan begitu saja. Ia memang punya logika yang tak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mengajak saya berburu bakal bonsai. "Di mana ada pantai karang yang ada Setigi lanang-nya?" pertanyaan Iwank ini, tentu tak bisa saya jawab karena saya tak hobi mengoleksi bonsai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau tambah lagi Ton?" tanya Iwan lagi. Saya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carlsberg di depan kami memang sudah tandas. Hujan tiba-tiba turun menderas. Tapi, malam ini saya tidak ingin tidur terlalu cepat, mengingat saya membutuhkan tayangan &lt;i&gt;live &lt;/i&gt;sepakbola Liga Champions untuk menyeimbangkan akal sehat yang sudah lama tak sehat ini. Saya, juga entah kenapa, tiba-tiba ingin menuliskan semua yang ada dalam pikirkan saya di malam itu. Sebagai ikhtiar untuk tetap menjaga kemampuan berprosa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah menyelingkuhi Tanjunguma. Tepatnya ketidakmampuan untuk meneruskan menuliskan khayalan tentang kampung yang mengesankan itu. Ketidakmampuan terus mencintai sastra, menulis prosa, atau sekedar membaca buku-buku bertekanan tinggi yang dulu selalu terselip di tas saya. Saya bahkan tak lagi berani membeli buku-buku itu. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwank kemudian berkisah tentang puisi pertama dia yang berhasil ditempel di majalah dinding SMP-nya berjudul &lt;i&gt;Rafflesia&lt;/i&gt;. Puisi tentang seorang wanita yang cantik, indah, namun berbau busuk dan mengerikan. "Saya membuatnya waktu SMP lho," tegas dia. Saya berdecak. Ketika SMA saya baru berani mencuri buku-bukunya Pramodya Ananta Toer dan Romo Mangunwijayan dari perpustakaan sekolah. Saya tak tahu nasib buku curian saya itu sekarang. Mungkin sudah membusuk di rumah orangtua di Malang. Jikapun ada, saya berjanji kelak akan mengembalikannya. atau setidaknya menyumbang buku lain untuk perpus mantan sekolah saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, saya sangat merindukan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ST-12 berganti cepat. &lt;i&gt;Still Loving You-&lt;/i&gt;nya Scorpion kemudian terdengar dari &lt;i&gt;speaker &lt;/i&gt;yang dipasang di dekat bartender. Beradu keras dengan suara seorang pria berbadan tegap yang tengah bekerja keras menyamakan vokalnya dengan vokal almarhum Pance F Pondang saat menyanyikan &lt;i&gt;Kau dan Si Buah Hati &lt;/i&gt;di atas panggung di depan kami. Tapi ingatan saya tetap tak bisa lepas dari &lt;i&gt;The End-&lt;/i&gt;nya The Doors yang tadi baru setengah bagian bisa saya nikmati. Di akhir lagu &lt;i&gt;Hotel California&lt;/i&gt;-nya Eagles, saya memaksa Iwank untuk mengakhiri hari. Saya ingin cepat-cepat pulang, untuk menyetel dan menikmati &lt;i&gt;The End &lt;/i&gt;di album &lt;i&gt;The Very Best of The Doors,&lt;/i&gt; hadiah dari Joanne untuk ulangtahun ke-31 saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;This is the end&lt;br /&gt;Beautiful friend&lt;br /&gt;This is the end&lt;br /&gt;My only friend, the end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It hurts to set you free&lt;br /&gt;But you'll never follow me&lt;br /&gt;The end of laughter and soft lies&lt;br /&gt;The end of nights we tried to die&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the end&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ketika telinga menyimak "puisi-puisi" Jim Morrison ini, mata tengah tegang menyaksikan beberapa peluang gol Manchester City yang bisa dibendung kiper Napoli, Morgan De Sanctis. Malam itu, di rumah kontrakan saya, riuh oleh adu kuat para personil The Doors dengan 22 pemain yang tengah beradu bola. Saya tertidur setelah babak pertama. Tepat ketika Kamis tanggal 15 September 2011 berada di jam 02.50 WIB.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7251011517612646114?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7251011517612646114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7251011517612646114&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7251011517612646114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7251011517612646114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/09/perselingkuhan-tanjunguma.html' title='Perselingkuhan Tanjunguma'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-b6LRyTmUm5M/TnHgNsvPpqI/AAAAAAAAAWQ/gUmYr6znN40/s72-c/Tanjunguma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7036823234718678514</id><published>2011-09-12T14:44:00.002+07:00</published><updated>2011-09-15T17:45:24.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Sumpah, Gila! Sampah-sampah itu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-A3K1VXDbXYM/Tm25bUVxevI/AAAAAAAAAWM/1j2md05DkUU/s1600/sampahgila.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-A3K1VXDbXYM/Tm25bUVxevI/AAAAAAAAAWM/1j2md05DkUU/s320/sampahgila.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sumpah, Gila! Sampah-sampah itu! Belum pernah dalam sepengamatan saya ada begitu banyak sampah berserakan di lingkungan tempat tinggal saya di Batamcenter. Sampah di mana-mana, mulai dari perumahan elit seperti Dutamas hingga perumahan biasa selayak Taman Anugerah Ideal, semuanya bertumpuk sampah. Tiba-tiba saja, bergunung-gunung sampah terserak di jalan-jalan kompleks di seantero Batam. Ini muncul mengingat warga sudah tak tahu lagi mau diapakan sampah yang menggunung di depan rumah mereka masing-masing. Jalan satu-satunya, membuang sampah mereka di pinggir-pinggir jalan dengan sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada hal lucu di tengah masalah banjir sampah yang terjadi saat ini. Di dekat kompleks Perumahan Hang Tuah, Batamcenter, pemilik lahan di sana tak cukup dengan memasang tulisan "dilarang membuang sampah" di lahan miliknya. Tapi ia juga terpaksa memagari sebagian lahan di pinggir jalan dengan balok-balok kayu agar warga tidak membuang sampah di tempatnya. Sialnya, warga pun tak kehabisan akal. Mereka tidak membuang sampah di pagar dan di tulisan si pemilik lahan. Melainkan membuang sampah di samping tulisan "dilarang membuang sampah." Ironis sekaligus menggelikan. Istri saya bilang, "yang buang sampah tidak salah. Kan buangnya di samping tulisan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah, benar-benar masalah yang sepertinya sangat sulit dihadapai untuk kota seelit Batam yang mobil sekelas Jaguar banyak berseliweran di jalan-jalan. Untuk Batam yang notabene sebagian pejabatnya menghabiskan tiap pekan dengan melancong Singapura - negara kota yang begitu bersih dari sampah itu - sudah tidak ada kata lagi yang bisa saya pakai untuk menyebut seberapa serius mereka menyelesaikan persoalan sampah ini. Ketika para pejabat Dinas Kebersihan Batam terus saja bertekak dengan DPRD Batam soal pengangkutan sampah, apakah mereka tak sadar, di samping rumah mereka sampah sudah menggunung dan mengeluarkan aroma busuk. Pak Wakil Ketua DPRD Aris Hardy Halim yang rumahnya di Perumahan Hang Tuah, tentu tahu di sebelah kompleks rumahnya sampah sudah mengulat-busuk menyakiti warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Dinas Kebersihan mengklaim ketidakcukupan armada dan dana untuk mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir di Punggur. Hitung-hitungan kasar saya, dengan 40 armada truck dan metode pengangkutan konvensional yang seperti dilakukan di Batam selama ini, setiap truk harus 17 kali mondar-mandir TPA-kompleks perumahan untuk bisa membersihkan 700 ton sampah yang dihasilkan Batam. Apalagi ketika saya melihat truk-truk bongsor itu yang keluar masuk jalan kompleks perumahan yang sempat, sungguh menjadi sesuatu yang mubadzir. Baik minyak maupun besarnya tenaga kerja yang dipakai. Sangat tidak efisien. Dana Rp4,5 miliar yang diajukan Dinas Kebersihan untuk tiga bulan ke depan, akan habis untuk ongkos bensin dan gaji karyawan saja.&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Okelah, mungkin tulisan saya ini bisa menjadi inspirasi bagaimana mengelola sampah secara efektik seperti di Singapura. Tulisan yang bersumber dari pengamatan saya yang tiap tiga hari tinggal di Singapura, dan empat hari tinggal di Batam dalam sepekan. Kami tinggal di flat lantai 11 di daerah tenggara Singapura bernama Hougang. Saya tidak bisa membayangkan jika di Batam saat ini warga tinggal di flat-flat tinggi seperti Singapura, namun dengan penanganan sampah yang begitu mengerikan. Bisa-bisa penghuni lantai bawah marah-marah terus karena penghuni lantai di atasnya enak saja lempar sampah ke bawah karena jengkel sampah-sampah mereka tak diambil petugas kebersihan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Singapura, setiap rumah di dapur mereka, diberi satu lubang yang cukup untuk membuang sampah basah sisa aktivitas mereka. Jadi, baik yang tinggalnya di lantai 20, maupun yang di lantai 1 (lantai dasar selalu berisi ruang terbuka), bisa langsung membuang sampah dari rumah tanpa perlu keluar rumah. Tinggal buka lubang sampah, lalu lempar saja sampah itu ke dalam lubang. Sampah itu kemudian turun dengan sendirinya. Di bagian dasar, dibuatkan kotak penampung sampah yang dengan mudah bisa ditarik oleh petugas pengangkut sampah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampah-sampah yang sudah tertumpuk di tempat penampungan di bawah flat-flat, tiap beberapa waktu diambil oleh petugas sampah dengan gerobak modifikasi seperti gerobak motor milik pemulung-pemulung di Batam. Sampah-sampah itu kemudian diangkut ke tempat pembuangan sementara di kompleks-kompleks pemukiman. Dari TPS itulah truk-truk besar pengangkut sampah segera membawa pergi sampah ke tempat pembakaran sampah. Dengan empat alat pembakaran senilai 1,83 triliun dolar Singapura, untuk membakar 8,200 ton sampah tiap hari yang dihasilkan Singapura, pemerintah di sana justru bisa memanen listrik sebesar 2 persen kebutuhan mereka. Rantai kerja yang efisien dan hemat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan untuk semua kenyamanan itu, setiap keluarga seperti kami hanya dibebani uang retribusi sebesar 5 dolar per bulan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Abu dari bekas pembakaran itu kemudian dikirim ke Pulau Semangkau. Di pulau inilah kemudian sampah-sampah itu "ditidurkan". Yang menarik, saking bersihnya pulau sampah ini, Semangkau justru jadi salah satu pulau atraktif untuk wisatawan. Menarik bukan?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bayangkan dengan rantai kerja pengambilan sampah di Batam. Tiap truk besar terpaksa harus masuk ke jalan-jalan kompleks perumahan untuk mengambil satu per satu sampah warga. Ini jelas memakan biaya (solar), plus tenaga manusia yang tidak sedikit. Di Singapura, hanya perlu tak lebih dari empat orang untuk memberesi satu kompleks besar pemukiman penduduk. Dua untuk pengambil sampah dari rumah-rumah, dan dua lagi untuk sopir truk dan asistennya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersama kawan-kawan kantor kemarin saya coba berhitung soal biaya pengangkutan sampah di Batam. Dari hitung-hitungan kasar kami, 40 armada yang dipakai Dinas Kebersihan yang tiap truknya harus 17 kali mondar-mandir mengambil sampah (untuk bisa mengangkut 700 ton sampah tiap hari) dibutuhkan hampir 170 liter solar tiap hari tiap truk. Jika satu liter solar seharga Rp4.500, 40 armada itu butuh Rp918.000.000 per bulan hanya untuk solarnya saja. Pengajuan anggaran Rp4,5 miliar yang baru disetujui DPRD Batam, praktis akan habis untuk solar dan gaji karyawan. Lalu bagaimana dengan biaya perawatan truk? Biaya pembuangan sampah di TPA? dan biaya-biaya lainnya yang muncul?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hitung-hitungan di atas tentu saja bukan untuk menunjukkan betapa minimnya dana pengangkutan sampah di Batam. Melainkan bagaimana tidak efisiennya Dinas Kebersihan memanajemen penangkutan sampah hingga harus mengeluarkan biaya sebesar itu (hanya untuk solar). Ironisnya, sampah masih terus tetap menggunung!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumpah, Gila! Sampah-sampah itu!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(sultan yohana)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Foto sampah di Batuaji oleh Arrazi Aditya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7036823234718678514?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7036823234718678514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7036823234718678514&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7036823234718678514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7036823234718678514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/09/sumpah-gila-sampah-sampah-itu.html' title='Sumpah, Gila! Sampah-sampah itu'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-A3K1VXDbXYM/Tm25bUVxevI/AAAAAAAAAWM/1j2md05DkUU/s72-c/sampahgila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6770389719674247853</id><published>2011-08-27T14:02:00.002+07:00</published><updated>2011-08-28T23:58:46.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Mudik Lewat Singapura Saja</title><content type='html'>Lebaran tahun ini saya merayakan "di sini" saja. Jika tak di Batam, mungkin menyebrang sejenak untuk berlebaran di rumah mertua di Singapura sana. Jarak Batam dan Singapura cuma sejengkalan langkah: 22 mil, kira-kira 1 jam naik feri. Baik di Batam maupun di Singapura, berlebaran selalu sepi karena harus merayakan nyaris seorang diri. Jika di Singapura, keluarga inti saya tidak merayakan karena beda keyakinan. Jika berlebaran di Batam, rata-rata kawan-kawan dekat sudah mudik Lebaran. Jadi nyaris luntang-luntung seorang diri. Berlebaran di Batam, selesai maaf-maafan dengan tetangga kiri-kanan, seringkali tak tahu lagi harus berbuat apa. Batam kota yang sudah terjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, beginilah nasib perantau di negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okelah,&lt;/span&gt; selamat mudik bagi yang menjalani dan juga selamat Lebaran bagi yang merayakan. Dan, jika Anda membaca tulisan ini sebelum Lebaran dan kebetulan punya rencana mudik tapi kehabisan tiket atau uang mepet, mungkin bisa pertimbangkan usul saya ini. Pengalaman yang terjadi pada saya ketika mudik Lebaran tahun lalu ke Malang, kampung halaman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, jadwal libur yang berjarak dua hari dari Hari Raya memaksa saya tidak bisa pulang jauh-jauh hari sebelum hari H. Tentu saja kian dekat hari H, kian melangit harga tiket pesawat. Anda yang pernah mudik tahulah fenomena seperti ini. Dari biasanya harga tiket pesawat Batam-Surabaya sekitar Rp700an ribu untuk sekali jalan, saat itu saya harus menemui kenyataan tiket ke Surabaya saja seharga Rp1,9 juta. Gila benar, bathin saya ketika itu. Tuslah maksimal 10 persen yang sudah ditetapkan pemerintah tak lagi ditaati. Lagi pula, belum pernah dalam ingatan saya tiket menjelang Lebaran naik sebesar tuslah yang sudah ditetapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika itu, hitung-hitungan saya, jika harus mudik lewat Batam, saya harus keluarkan uang sebesar Rp3,8 juta hanya untuk tiket pulang-pergi. Bagi saya, itu angka yang luar biasa jika hanya sekedar untuk beli tiket. Untungnya istri saya menemukan solusi yang lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Search&lt;/span&gt; sana-sini, hitung sana-sini, lha kok ternyata tiket dari Singapura ke Surabaya jauh lebih murah. Bedanya gila-gilaan pula. Pulang-pergi dari Singapura ke Surabaya dan sebaliknya, total hanya kena Rp1,9 juta tanpa dipungut biaya apa-apa lagi. Sudah termasuk pajak masuk bandara dan lain-lain. Lalu saya putuskanlah membeli tiket di Singapura. Meminjam kartu kredit istri, pembelian tiket beres dalam hitungan menit hanya dari rumah. Beli lewat internet. Akhirnya, pesawat udara dari maskapai Jetstar dengan selamat, nyaman, dan tanpa menjebol kantong celana, bisa memulangkan saya untuk Berlebaran di kampung halaman saa, tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo hitung berapa ongkos yang bisa saya hemat saat saya mudik dari Singapura? Memang saya harus mengeluarkan ongkos kapal feri Batam-Singapura (48 dolar pulang-pergi), juga ongkos taksi ke Bandara Changi (sekitar 20 dolar Singapura). Jika dijumlahkan, saya kira-kira mengeluarkan uang sebesar Rp500 ribu (dengan kurs saat ini yang Rp7000).  Tapi, tetap saja jika saya hitung uang yang bisa saya hemat lumayan menggiurkan: hemat sekitar Rp1,5 juta. Bayangkan berapa besar penghematan jika dalam satu keluarga yang akan mudik terdiri dari empat anggota keluarga. Penghematan yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura dan Indonesia memang punya waktu berbeda dalam hal kenaikan tiket pesawat. Karena penduduk muslim di sana hanya berkisar 15 persen, jadi Hari Raya tidak dirayakan secara besar-besaran. Di sana juga dikenal waktu-waktu di mana harga tiket naik, seperti masa liburan sekolah atau Imlek. Tapi, kenaikannya pun tak segila ketika tiket naik seperti saat-saat mudik seperti sekarang ini. Penduduk Singapura punya tradisi merencanakan suatu perjalanan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Mereka pula tak punya tradisi beli tiket lewat jasa perusahaan penjual tiket. Dengan kesaktian internet, tiket pesawat bisa langsung dipesan dan dibayar dari rumah. Inilah yang kemudian saya duga kenaikan tiket bisa terkendali. Karena tidak lagi melalui jasa calo yang selalu ingin memanfaatkan momen peak season untuk merengkuh untung sebesar gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lazim di sini, jauh-jauh hari tiket diberitakan sudah ludes dibeli. Anda percaya? Seharusnya jangan percaya lah. Kebiasaan kita yang kerap mengurus sesuatu di menit terakhir tak mendukung pemberitaan bahwa tiket ludes. Tiket-tiket itu sejatinya diborong calo maupun perusahaan-perusahaan penjual tiket. Di situlah kemudian harga dilambungkan, untung ditinggikan. Masyarakat yang sudah kadung butuh tiket untuk mudik, mau tak mau, suka tak suka, terpaksa beli dengan harga yang begitu mahal. Kalau sudah begini yang rugi siapa? Ah, lagi-lagi masyarakat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjamurnya perusahaan penjual tiket di Batam - bahkan di rumah pun bisa jualan tiket pesawat - menjadi indikasi betapa menggiurkannya bisnis menaik-turunkan harga tiket itu. Menjadi indikasi kuat bahwa tiket-tiket itu bisa dipermainkan sedemikian rupa tanpa mengindahkan tuslah yang sudah ditetapkan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, setahu saya, Anda akan sulit mencari travel agensi yang menjual tiket saja. Menjamur memang travel-travel agensi di sana, tapi kebanyakan menjual paket-paket wisata. Bukan menjual tiket doang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi bagaimana lagi. Lagi-lagi kita yang harus bisa lebih bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mudik, juga Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin, dan sekali lagi, hati-hati dengan segala macam kejahatan yang bertebaran di jalanan. Di perjalanan mudik nanti, jangan pernah percaya orang asing yang tiba-tiba sangat baik kepada kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabloid DIA edisi 28 Mei 2011&lt;br /&gt;(sultan yohana)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6770389719674247853?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6770389719674247853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6770389719674247853&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6770389719674247853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6770389719674247853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/08/mudik-lewat-singapura-saja.html' title='Mudik Lewat Singapura Saja'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7391724871671966730</id><published>2011-08-22T15:32:00.003+07:00</published><updated>2011-08-22T15:40:07.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Memerdekakan Penyandang Cacad*</title><content type='html'>Belum lagi pantat saya duduk enak di bangku MRT, kereta sudah berhenti lagi di Stasion Outrum Park. Satu pemberhentian dari Stasiun Harbour Front, tempat kami pertama naik. Riuh selalu Stasion Outrum ini oleh penumpang keluar-masuk kereta, karena memang lokasinya yang di pusat kota dan menjadi salah satu stasion utama kalau kita ingin berpindah kereta jurusan lain. Kalau kita dari Pelabuhan Harbour front hendak ke Bugis, Jurong, ataupun ke Marina, kita harus berhenti di Outrum Park untuk kemudian naik ke MRT yang akan melewati tujuan kita. Murah, mudah, dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal mata kita selalu membaca banyak rambu penunjuk jalan, atau telinga mendengar instruksi dari pengeras suara di kereta; dijamin tidak akan tersesat meski baru pertama ke Singapura. Tapi kadang kita, orang Indonesia, jarang memperhatikan rambu - makanya banyak yang suka menerobos lampu merah - dan lebih suka bertanya. Sialnya, karena bahasa berbeda, kita pun malu bertanya. Ujung-ujungnya, memilih naik taksi yang harganya bisa sepuluh kali lipat dari harga MRT. Bayangkan berapa duit yang harus kita keluarkan hanya untuk taksi, jika kita di Singapura selama dua hari berkeliling sana-sini. Yang bawa uang pas-pasan, dijamin pulang tak bisa belikan oleh-oleh keluarga ataupun rekan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okelah&lt;/span&gt;, lupakan soal kereta MRT; begitu pintu kereta terbuka di Stasiun Outrum Park, empat orang masuk dan berdiri tepat di depan kami. Ketika itu kursi memang sudah hampir terisi penuh. Dua etnis Tionghoa perempuan, satu lelaki, dan satunya pria etnis India. "Hey Teacher Joanne," tiba-tiba satu cewek tadi, yang berbadan subur menyapa istri saya, Joanne. Istri saya membalas sapaan. Satu rekannya, yang punya potongan rambut pendek juga menyapa dengan kalimat sama. Si India juga. Sementara si pria Tionghoa, sedikit beruntung karena berhasil mendapat tempat duduk di ujung jauh kami duduk. Tidak sempat berbasa-basi dengan istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkenalkan ini suami saya, dan ini anak kami. Namanya Ken," kata istri saya ketika si India bertanya siapa bocah yang duduk di sebelah istri saya. Saya halo-halo, Ken halo-halo, mereka membalas halo-halo kami. Lalu, mengobrollah kedua perempuan dengan istri saya dalam bahasa China. Sayang, saya tak mengerti apa yang diobrolkan mereka. Sesekali, istri saya mengeluarkan HPnya, mencatat nomor yang diberikan seorang wanita, kemudian menyodorkan kepada mereka apakah nomor yang dicatat betul. Keduanya pun melakukan hal yang sama.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bukan karena keempat orang tadi penyandang sindrom down (down syndrome), mungkin saya tak tertarik untuk menuliskannya di sini. Ketika itu hari  - Sabtu, 13 Agustus - sudah mendekati pukul tujuh, waktunya para pekerja pulang ke rumah masing-masing. Sama seperti kebanyakan penumpang lainnya, keempat bekas murid istri saya itu juga baru pulang dari kerja. Penyandang sindrom down bisa bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tidak? Istri saya bercerita, "Mereka kerja di pencucian mobil. Gajinya lebih besar dari gajimu lho!" katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu saja tidak ikut tertawa. Ya, terima saja, sabar saja, memang itu kenyataannya. Siapa tahu tahun 2014 mendatang, negeri kita dipimpin presiden bijaksana yang bisa menaikkan kesejahteraan saya. Biar kerja profesional saya tak digaji lebih rendah dari pencuci mobil yang penyandang sindrom down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindrom down, menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wikipedia&lt;/span&gt;, suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya perkembangan kromosom yang tak normal. Kita kadang lebih suka menganggapnya sebagai orang kurang waras, setengah gila! Padahal pengertian gila dengan sindrom down sangat berbeda. Kadang juga kita mengartikan orang sindrom down sebagai anak autis (mungkin juga karena malu), padahal ini juga sangat berbeda. Seorang teman polisi saya di Batam yang punya anak penderita sindrom down, pernah salah kaprah menganggap anaknya menderita autis dan harus keluar begitu banyak uang untuk melatihnya di sekolah autis. Ketika istri saya ke rumahnya, ia tetap ngotot anaknya autis, meski sudah dijelaskan dia penderita sindrom down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya adalah guru autis, tapi sebelum menjadi sukarelawan di Malang, Jawa Timur sepuluh tahun silam, dia adalah pengajar untuk sekolah penyandang keterbelakangan mental seperti sindrom down. Keempat orang di depan kami Sabtu itu adalah bekas muridnya, dan hebatnya, mereka masih mengingat istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang normal lainnya, kepada istri saya mereka bercerita tentang pekerjaannya, tentang aktivitasnya mereka, tentang apa pun yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kadang kala cerita mereka sedikit tidak nyambung. Tapi yang jelas, seorang penderita sindrom dow bisa bepergian seorang diri dengan MRT (juga bus kota), bekerja, dan mungkin juga ke kantin makan, adalah satu hal yang menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka ngobrol, mereka tak peduli - begitu juga istri saya - ketika puluhan mata penumpang lainnya memperhatikan mereka lekat-lekat. Itu karena mereka berbicara lebih keras dan penampilan mereka yang beda dengan kebanyakan orang lain. Sindrom down memangpunya ciri khusus di tubuhnya. Kepala biasa lebih kecil dan tidak proporsional. Perkembangan tubuhnya yang lain juga berbeda dengan orang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka, saya jadi teringat kakak kawan saya di Malang dulu yang juga penyandang sindrom down. Mungkin karena malu atau apa, teman saya kerap bercerita bahwa kakaknya terkena sindrom down karena sesuatu yang tidak masuk akal. "Waktu ibu hamil, bapak ngejek orang gila," ini cerita kawan saya tentang kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kisah yang mungkin ingin mengelabuhi rasa malu, bahwa penderita sindrom down karena kedua orangtua bersenggama saat si ibu menstruasi. Lho, bukankah wanita menstruasi tak bisa dibuahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita masih memandang penyandang kelainan mental seperti sindrom down sebagai penyakit "kutukan Tuhan" yang memalukan keluarga. Harus ditutupi.  Ketika saya dan istri saya kerap berkunjung ke panti-panti penyandang cacad di Malang dulu, cerita yang sama dengan cerita kawan saya juga kerap kami dengar. saya tidak punya pengalaman apa-apa soal masalah ini, tapi istri saya sedih kenapa mereka tak diberi pendidikan dan dilatih agar bisa mandiri? Bukan justru disembunyikan di kamar pengap seperti buronan kelas teri. Seumur hidup sepertinya ia akan menjadi beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, pemerintah mereka juga memberi peluang penderita sindrom down, cacad, dan juga lanjut usia, bekerja dengan baik. Tentu saja tak banyak bidang usaha yang mau mempekerjakan mereka. Untuk itu, pemerintah memberi insentif yang menggiurkan bagi perusahaan yang mau mempekerjakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pembaca akan jauh lebih tercengang jika satu saat membaca kisah rekan saya, Sie Gek, seorang penyandang tuna netra yang kerap bepergian seorang diri ke London, Australia, Malaysia, Tanjungpinang; dengan enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan kita, negeri ini, bisa memerdekakan para penyandang cacad? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Untuk DIA edisi 21 Agustus 2011 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7391724871671966730?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7391724871671966730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7391724871671966730&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7391724871671966730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7391724871671966730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/08/memerdekakan-penyandang-cacad.html' title='Memerdekakan Penyandang Cacad*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6092372306219401190</id><published>2011-08-17T17:19:00.008+07:00</published><updated>2011-08-17T17:31:10.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Pak DPD, Semenit Kau Buat Bahagia</title><content type='html'>Di menit itu, saya merasa sangat bahagia sekali. Hari Senin (8/8/2011) ketika tengah antri di Imigrasi Singapura, di depan saya antri seorang pria yang sering nongol di koran-koran di Batam ngomongin soal pendidikan. Dia terkenal karena memang dia wakil kita di Jakarta. Dia satu di antara anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Provinsi Kepri. Berbaju koko dengan kopyah di kepala, serta mau tertib antri pula, menjadi pemandangan yang indah setelah seharian sesak oleh pemandangan-pemandangan orang-orang yang membuka aurat di MRT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama istrinya yang mengenakan kerudung rindang, wakil DPD kita itu terlihat serasi sekali. Apalagi menguntit di belakang mereka, beberapa remaja wanita yang semuanya berkerudung yang tak lain adalah anak-anak mereka. Sebuah keluarga yang menyenangkan. Pemandangan yang seolah seperti guyuran air mineral di tenggorokan orang yang tengah puasa Ramadan. Menyejukkan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat mereka tertib antri dengan kesopanan mengesankan, seolah-olah tak sia-sia pajak yang saya bayarkan selama ini untuk membayar gaji mereka. Pajak-pajak yang secara tidak sadar telah kita bayarkan saat membeli sebungkus rokok, beli kolor di mall, atau makan di warung kakilima. Tidak sia-sia pajak itu jika untuk menggaji seorang anggota DPD tertib dan santri yang mau antri setara dengan rakyatnya. Bukankah memang wakil rakyat harus setara - atau bahkan lebih rendah - dengan rakyatnya! Karena mereka wakil kita, kita yang menafkahi mereka, kita yang membayar uang bensin mereka! Meski kadang secara tidak sadar, kita kerap minder dan menganggap mereka manusia setengah dewa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wakil DPD, sungguh, saya benar-benar bahagia melihat Anda dan keluarga Anda. Di menit itu!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kapal feri Penguin yang membawa kami dari Singapura ke Batamcenter, kebahagiaan itupun belum hilang. Saya bersama keluarga, duduk beberapa baris di samping keluarga Pak Wakil DPD itu. Saya perhatikan gerak-gerik mereka. Sepertinya dugaan saya benar, mereka benar-benar keluarga bahagia yang serasi mandraguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan Anda dengan keluarga Anda, Pak Wakil DPD, tentu sangat penting buat kami. Bukankah sebuah keluarga bahagia akan membuat Anda bisa bekerja dengan bahagia untuk rakyatnya? Itu teori yang selama ini saya yakini. Bahagia di keluarga, akan menular di lingkungan kerja, di lingkungan rekan-rekan, dan di manapun ia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feri Senin itu cukup sesak dengan sebagian besar penumpangnya warga Singapura. Seperti biasa, begitu kapal merapat di plantar, kami berusaha secepat mungkin masuk Imigrasi untuk mendapatkan antrian terdepan pemeriksaan paspor. Di Batam tak seperti di Singapura yang memberi kemudahan warganya sendiri saat antrian cek paspor. Di Batam, meski setahun terakhir sudah diklasifikasikan jalur mana untuk paspor Indonesia, dan mana paspor asing, tapi pada praktiknya tetap amburadul. So, kami yang memegang paspor hijau sama perlakuannya dengan pemegang paspor warna lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setengah berlari. Ken, anak semata wayang kami, menguntit lari di belakang saya. Dia tak mau tangannya dipegang saya maupun ibunya. "I can do my self," teriaknya ketika saya minta pospornya biar lebih gampang dalam pengecekan. Dia mau dia sendiri yang menyerahkan paspornya ke petugas Imigrasi. Dasar anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tak melihat Pak Wakil DPD di tengah hiruk-pikuk perjuangan para penumpang untuk berada di antrian terdepan. Pikir saya ketika itu, mungkin ia terlalu lemah karena puasa dan memilih antri saja dengan sabar di belakang kami. Sebagaimana yang ia perlihatkan ketika antri di Imigrasi Singapura. Bukankah hakikat puasa adalah bersabar, bersabar dari apa pun, termasuk bersabar untuk tidak menyakiti mata rakyatnya dari segala macam pemandangan kontras yang kerap diperlihatkan anggota-anggota DPRD busuk pada rakyatnya. Bersabar untuk tidak naik mobil mewah di tengah kian banyaknya pengemis-pengemis di lampu merah. Di detik itu, saya tentu percaya dong Pak Wakil DPD tidak berbuat senonoh menyakiti mata rakyatnya! Lihat baju koko dan kopyahnya, sungguh indah dan menyejukkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangkrik!&lt;/span&gt; Di tengah kami, para penumpang, berlarian mengejar antri di depan, Pak Wakil DPD itu enak saja melenggang melewati ruang jalan di belakang petugas pemeriksa paspor. Sebelumnya, dengan menghamba, seorang pegawai Imigrasi datang menyambut dia bak seorang raja. Tanpa antri, tanpa menyodorkan paspor, berbondong-bondong ia bersama keluarganya melenggang begitu saja menyakiti mata kami. Saya lihat seorang wanita setengah baya di samping saya melongo melihat rombongan itu begitu saja masuk tanpa harus diperiksa apa-apa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangkrik&lt;/span&gt;, seketika kebahagiaan saya menguap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang berbuat itu presiden, menteri, atau walikota yang punya alasan masuk akal demi kepentingan keselamatan saya mungkin memaklumi. Tapi Pak Wakil DPD itu adalah wakil saya, wakil rakyat, yang seharusnya setara dengan orang yang diwakili. Tiba-tiba saja saya teringat berita ketika seorang wakil rakyat Jepang yang minta maaf dan memilih mengundurkan diri setelah dikomplain karena tak mau antri ketika membayar di minimarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah saya lupa, ini kan bukan Jepang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wakil DPD, jika Anda membaca, tulisan ini tentu bukan semata soal antrian. Melainkan mengapa Anda bisa tertib di negeri orang, sementara di negeri sendiri seperti raja? Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis untuk Tabloid DIA.&lt;br /&gt;(sultan yohana)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6092372306219401190?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6092372306219401190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6092372306219401190&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6092372306219401190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6092372306219401190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/08/pak-dpd-semenit-kau-buat-bahagia.html' title='Pak DPD, Semenit Kau Buat Bahagia'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7260611338557580930</id><published>2011-08-01T14:20:00.001+07:00</published><updated>2011-08-01T14:24:17.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Marhaban Sembako Mahal</title><content type='html'>"Jangan bercanda lah, masak apel di Batam lebih mahal ketimbang apel Singapur (a). Ndak lucu lah kalau kami yang penghasilannya sepuluh kali lebih rendah dakalian harus bayar apel lebih mahal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat kalimat saya itu ketika mendebat pernyataan istri saat mengecek struk belanja dari Hypermarket, beberapa waktu lalu. Ketika itu kami baru saja belanja mingguan, dan istri baru beberapa pekan cuti untuk tinggal sementara dengan saya di Batam. "Tiga biji apel sama, kami cuma beli dengan harga satu dolar tigapulu sen (sekitar Rp9 ribu). Di sini duabelas ribu," kata istri saya lagi. Di titik itu saya belum percaya. Tentu saja saya tidak terima, jika istri saya yang gaji sebulannya lebih besar dari gaji saya setahun di negaranya bisa membeli apel lebih murah. Apa-apaan negeri ini memperlakukan rakyatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betul. Beberapa saat kemudian ketika saya diajak belanja di Singapura, apa yang dikatakan istri betul. Kami membel apel dengan kualitas dan jenis yang sama dengan harga jauh lebih murah ketimbang beli di Batam. Saya jadi kebingungan, rumus matematika seperti apa yang dipakai untuk menjelaskan fenomena ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para PEJABAT Asosiasi Pengusaha Indonesia Batam (Kepri) yang gemarnya ngancam-ngancam pemerintah soal upah minimum regional (UMR) beralasan saya tak bisa menyodorkan njomplangnya harga apel sebagai indikasi buruknya pendapatan yang diterima buruh di Batam. Tapi bagaimana kalau saya menyodorkan harga sepiring nasi Pak Pengusaha? Anda-anda Pak Pengusaha yang saya yakin gemar berkeliling Singapura tiap minggu pasti tahu, sepiring nasi ayam lezat di Singapura, bisa didapat dengan harga yang sama dengan sepiring nasi ayam di Pasar Mitra Mall. Atau seporsi nyam-nyam sup ikan kegemaran saya, di Singapura bisa saya dapat dengan harga yang sama dengan seporsi bebek goreng plus minuman jeruk hangat di Kedai Babe langganan saya di Mega Legenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi pada para pengusaha, juga pemerintah yang merumuskan UMR, dan perwakilan para serikat buruh yang selalu ngotot berkoar-koar minta upah naik (tapi kemudian diam membisu), rumus apa yang Anda pakai untuk menentukan upah karyawan jika kami harus membayar lebih mahal makanan yang kami makan ketimbang yang dibayar rakyat Singapura?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadan, selamat datang tambahan kesengsaraan. Beberapa hari lalu rekan sebelah meja berkeluh kesah pada saya. "Gendeng Cak, bojoku kaget temen ndelok rego beras naik posoan iki. Guendeng..." begitu keluh kesah rekan saya dalam bahasa Jawa. Kalau saya terjemahkan kira-kira demikian, "Gila Mas, istri saya terkaget-kaget melihat kenaikan harga beras awal Puasa ini. Betul-betul edan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi nanti menjelang Lebaran, kata kawan saya, masih harus beli ini-itu. Baju baru untuk keluarga, kirim uang untuk orangtua dan saudara di kampung, atau sekedar membeli kembang api untuk menghibur si anak. "Mana cukup THR sebulan? Malah tekor," tambahnya sambil terkekeh.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun saya merasakan puasa (juga Hari Raya Idul Fitri) dengan status sebagai suami warga Singapura, saya belum pernah melihat lonjakan harga menjelang hari-hari besar di Singapura. Harga beras stabil, harga celana kolor stabil, harga tiket pesawat juga stabil. Bahkan tahun lalu, saya terpaksa pulang kampung lewat Singapura, mengingat harga tiket PP di sana sama dengan harga sekali jalan tiket Batam-Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila betul negeri tercinta ini dikelola?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, keluhan teman saya dan juga pengalaman saya di atas tentu menjadi obrolan biasa sehari-hari ketika memasuki bulan Ramadan seperti sekarang ini. Tapi gimana lagi, kita tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi seperti ini. Hanya bisa nggerundel di hati sembari bersumpah serapah, memaki keadaan tanpa tahu siapa yang sesungguhnya harus dimaki. Tapi percayalah pembaca, setiap tindakan pasti ada ganjarannya. Tentu kalau kita percaya Tuhan itu Adil.&lt;br /&gt;Pengusaha yang tamak dan ogah membayar gaji layak karyawannya, mungkin satu saat akan dirampok oleh karyawannya yang lapar. Pejabat yang gemar menerima sogokan dari pengusaha agar UMR tidak naik tinggi-tinggi, mungkin akan diperiksa KPK dan masuk penjara. Atau toke-toke sembako yang cari untung gede dan tak masuk akal saat Ramadan seperti ini, disatroni maling kedai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadan, mohon maaf lahir bathin. Semoga kita semua dihindari dari kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sultan yohana)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7260611338557580930?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7260611338557580930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7260611338557580930&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7260611338557580930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7260611338557580930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/08/marhaban-sembako-mahal.html' title='Marhaban Sembako Mahal'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3199041649419862561</id><published>2011-05-17T15:36:00.004+07:00</published><updated>2011-05-17T15:57:49.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Sisi Lain Hot Dancer Ai Ling</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NFxJi1XXggQ/TdI1Ge_e5yI/AAAAAAAAAUg/mhZVB4JChv8/s1600/Ellinda%2Balias%2BAi%2BLing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NFxJi1XXggQ/TdI1Ge_e5yI/AAAAAAAAAUg/mhZVB4JChv8/s320/Ellinda%2Balias%2BAi%2BLing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607602871544506146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;SEPIRING mie goreng berlauk telor bulat itu dibiarkan dingin di rak paling pojok bersama segelas teh dan kopi yang sudah dingin. Satu rak dengan kaus kaki bekas pakai, jam weker model &lt;span style="font-style: italic;"&gt;love&lt;/span&gt; yang kedua jarumnya mati di pukul 11.30, serta hair driyer yang kabelnya melingkar ke mana-mana. Tepat di bawah sepiring mie goreng yang sudah dingin itu, empat pasang sepatu Ellinda teronggok begitu saja. Sekasur tipis yang busanya sudah kempis nyaris tak bisa menahan tubuh sekurus apa pun orang, teronggok di sudut lain. Seprei aneka warna yang membungkus kasur, sama lusuhnya dengan kover bantal dan guling yang tiap malam menemani Ellinda tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaleng cucian, panci, piring-piring kotor, koran-koran bekas, cakram-cakram CD aneka lagu, termos elektrik untuk memasak air; teronggok menjadi satu menambah ruwet ruang sebesar kira-kira 3X3 meter yang disewa Ellinda Rp400 ribu per bulan. Aneka kostum dan gaun yang kerap dipakai wanita kelahiran 7 Desember 1979 itu tersampir di seantero ruang. Panas yang nyaris mencapai 35 derajat celsius pada Selasa (10/5) malam itu, kian menambah sumpek ruang pribadi Ellinda. "Mohon maaf, kipas anginnya baru kecurian," kata wanita yang punya nama panggung Ai Ling itu, sembari mengipas-ngipaskan potongan kardus sebesar buku tulis ke wajahnya. Mencoba mengusir udara sumuk Selasa malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pembaca &lt;/span&gt;mungkin tak akan membayangkan, kehidupan sebenarnya Ellinda yang "memprihatinkan" itu, sangat berbeda ketika ia ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hot dancer&lt;/span&gt; di atas panggung. Sejak awal Mei bulan ini, nyaris tiap hari kemolekan wanita kelahiran Surabaya itu bisa dinikmati di Pacific Diskotik, Jodoh. "Saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelance&lt;/span&gt; di sana, sambil menunggu ada tawaran pekerjaan. Lagian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngedance&lt;/span&gt; itu kan hobi saja. Tak dibayar. Hanya mengandalkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tips-tips&lt;/span&gt; yang saya terima dari tamu," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dari keluarga besar keturunan Tionghoa, Ai Ling adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Mengaku sudah "metal" sejak remaja, siapa menyangka Ai Ling remaja doyan kebut-kebutan motor di jalan raya. Hobi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trek-trekan&lt;/span&gt; inilah yang ia akui mengubah sebagian garis hidupnya. "Saat trek-trekan, saya sempat kecelakaan, gegar otak, hilang ingatan selama dua tahun," imbuhnya. Ketika itu, ia masih duduk di bangku SMA kelas dua.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi "hilang ingatan" itulah yang kemudian membawa Ai Ling pada lingkungan permisif keluarganya. Kedua orangtua dan saudara-saudaranya seolah "memanjakan" dirinya dengan membiarkan apa pun yang dilakukan Ai Ling. Kondisi bebas ini kemudian diakui Ai Ling mendorongnya pada kehidupan diskotik di Surabaya. Begitu kesehatannya pulih, Ai Ling pun mengaku kian "metal". "Saudara-saudara dan orangtua pikir saya ini gila. Jadi dibiarkan saja apa yang saya lakukan. Tak ada yang mau menasihati atau apa. Semua membolehkan. Padahal setelah hilang ingatan itu, saya merasa tambah pintar. Pelajaran sekolah memang tak bagus, tapi otak bisnis saya mulai jalan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi Sales Emas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu tahun 1993. Ai Ling akhirnya memutuskan keluar dari sekolah, untuk kemudian menerjunkan diri sebagai sales emas. Dari seorang kenalannya yang juga sales emas, Ai Ling kemudian diterima di sebuah perusahaan produsen perhiasan emas yang pemasarannya terbentang seantero Jawa. "Sampai kini, saya paham betul mengenai emas. Berapa karatnya, sepuhan atau tidak, saya tahu semuanya," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sales yang kerap pergi keluar kota hingga berhari-hari, Ai Ling mengaku "penyakitnya" bertandang ke diskotik kembali kambuh. Di setiap kali selesai nyales emas, ia manfaatkan waktu kosong untuk bertandang ke diskotik di kota-kota yang ia singgahi. Tapi, tak hanya mencari "heppy" Ai Ling ke sana, melainkan juga untuk menyalurkan hobi nari dan nyanyi, serta menjalin relasi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;disk jockey &lt;/span&gt;(DJ) di mana ia menyinggahi diskotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejak remaja, Ai Ling sudah sangat serius menekuni dunia tari. Bahkan ia menguasai betul kabaret, tarian asal Eropa yang dalam pementasannya biasa dipadukan dengan seni lainnya seperti musik dan komedi. "Kabaret lebih sulit daripada balet," tegas Ai Ling. Ai Ling juga menguasai alat musik orgen dan pandai tarik suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paduan keahlian sebagai penari, pemusik, dan penyanyi itulah yang kemudian membawanya menjadi penghibur. Memulia dunia entertainment saat coba-coba manggung sukarela di Diskotik Lucky Star di Surabaya, Ai Ling kemudian dianggap punya daya tarik bagus untuk kemudian dikontrak pihak diskotik. Sejak saat itu, dunia sales emas ditinggalkannya. Ia pyur terjun di dunia entertainment sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hot dancer, &lt;/span&gt;dan sekali-kali nimbrung sebagai DJ. "Kata kawan-kawan, tamu-tamu suka tarianku, jadi aku mulai suka naik panggung," Ai Ling mengingat-ngingat awal dia mulai berani tampil sebagai penari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menikah dan Pisah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dunia malam dikenal sebagai dunia penuh perangkap. Aktifitas Ai Ling di lingkungan malam, membawa dia pada pergaulan seks bebas yang pada akhirnya membuat ia hamil. Ai Ling menyerahkan cintanya pada seorang pria yang kerap datang ke diskotik menyaksikan tarian-tariannya. Tahun 1999, Ai Ling terpaksa harus meninggalkan dunia hiburan karena perutnya sudah tumbuh janin buah hatinya dengan sang kekasih. "Saya hamil delapan bulan, sebulan nikah sudah melahirkan," bebernya tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Ai Ling - ia tak mau menyebutkan namanya - adalah pria dari keluarga kaya yang diharapkan Ai Ling bisa mencukupi kebutuhannya. Untuk itulah, setelah memutuskan menikah dan kemudian dikaruniai seorang putra, Ai Ling bermaksud menjadi ibu rumahtangga saja. Tapi, harapan itu tak terwujud. Suami Ai Ling begitu tergantung kepada kedua orangtuanya. Keadaan yang tidak disuka orang sebebas dia. "Lelaki itu kan, meski penghasilannya kecil harus kerja. Tapi suami saya tidak, mengandalkan bantuan orangtuanya saja. Saya nganggur, dia nganggur. Tiap hari dua-duanya cuma bengong. Bangun, ngopi, urus anak, duduk-duduk bengong. Begitu saja tiap hari," ungkap Ai Ling dengan nada sedikit tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan itu pun akhirnya kandas. Tahun 2001 keduanya berpisah namun tidak bercerai. Keyakinan keduanya, yakni Katolik, meralang dua orang yang sudah terikat dalam pernikahan bercerai. "Pisah begitu saja, sampai sekarang. Anak saya saya titipkan pada ibu," tambah Ai Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpisah dengan suaminya, Ai Ling kembali menerjuni dunia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;entertainment&lt;/span&gt;. Kali ini lebih serius lagi. Wanita bertubuh semampai dengan rambut lurus ini kemudian bergabung dengan manajemen artis yang memungkinkan ia menghibur masyarakat keliling Nusantara. Ai Ling dikontrak untuk menyanyi sekaligus menari ke tempat-tempat hiburan di kota-kota besar di Indonesia. Dari situlah petualangannya dimulai. Kota-kota di pulau Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku, bahkan Papua ia kunjungi. Aneka kisah senang dan sedih kerap mendatanginya. Bahkan kisah tragis pun sempat ia temui. Ketika ia menghibur kota Tual, Maluku Tenggara, Ai Ling sempat dikejar-kejar pria mabuk hendak diparang. "Cuma masalah salah paham saja," jawabnya ketika ditanya penyebab ia hendak dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan berkeliling Nusantara sebagai penyanyi dan penari, tahun 2005 Ai Ling mencoba peruntungannya dengan merantau ke Jakarta. Di Ibukota, ia mengawali kerjanya di tempat permainan biliar sebagai score girl. "Saya ke Jakarta karena ada tawaran akan dikirim ke Hongkong sebagai penghibur. Kerja di biliar itu untuk mengisi waktu saja," tambah Ai Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tujuan utama untuk berangkat ke Hongkong justru tak kesampaian. Setelah dua bulan tak ada kejelasan, Ai Ling kemudian memutuskan lari dari penampungan. Dan, dengan modal keahliannya sebagai penghibur, Ai Ling kemudian dikenalkan pada dunia akting. Ai Ling ditawari sebagai figuran di sinetro &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta Fitri &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mas-Mas Kesepian&lt;/span&gt;. "Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta Fitri &lt;/span&gt;saya main delapan episode. Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mas-Mas Kesepian&lt;/span&gt; saya berperan sebagai anak kuliahan," bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia akting dan sinetron ternyata tak seindah yang dibayangkan banyak orang, termasuk Ai Ling. Kerjanya sebagai seorang figuran yang harus datang saat shooting mulai dari jam 9 pagi hingga jam 4 dinihari, tak sepadan dengan bayaran yang ia terima. Sehari, Ai Ling hanya digaji sebesar Rp75 ribu. "Memang, kerjanya tak terus akting. Banyak nunggunya. Nunggunya itu yang membikin bosan," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memperoleh apa-apa di Jakarta, pada tahun 2006 Ai Ling pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Di sini, dunia tari dan tarik suara mulai diakrabi kembali. Diskotik-diskotik pun kembali menjadi tempat ia mencari nafkah. Hingga perkenalannya pada seorang pria yang kemudian menjadi kekasihnya, berakhir pada tragedi. Ai Ling dianiaya hingga wajah mungil dan mulusnya luka parah. Perkara yang sempat membawa ia berurusan dengan polisi itu, memberi bekas selain sakit hati juga rusak di wajahnya. "Saya operasi wajah saya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai tragedi itu, Ai Ling kemudian memutuskan kembali ke Surabaya. Pada November 2010 lalu, ia kemudian tertarik mencoba peruntungannya ke Batam dan Tanjungpinang. Tiap malam sekitar pukul 10.00 WIB, dengan segenap dandanannya yang seksi, Ai Ling mewarnai malam-malam di Batam dengan tarian panasnya. "Saya bukan penari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;streaptease &lt;/span&gt;(penari telanjang). Saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hot dancer&lt;/span&gt;. Ada perbedaan di sini. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hot dancer&lt;/span&gt; harus ada busana khusus. Itu yang membedakannya," tegas Ai Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa malam itu, Ai Ling mengaku punya waktu yang cukup panjang karena tidak ada show. Sebagai freelance, ia bebas menentukan sendiri apakah mau menari atau tidak. Di sela-sela waktu luangnya, ia juga menyempatkan diri berdagang jamu-jamu tradisional khusus wanita, serta mencoba menciptakan lagu-lagu yang mungkin kelak akan melambungkan namanya. "Obsesi saya memang ingin menjadi artis terkenal. Saat ini saya sudah punya tiga lagu ciptaan sendiri," tambahnya.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto oleh Khafi Ansyari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;Tulisan ini Diterbitkan di Tabloid DIA edisi 16 Mei 2011.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3199041649419862561?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3199041649419862561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3199041649419862561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3199041649419862561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3199041649419862561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/05/sisi-lain-hot-dancer-ai-ling.html' title='Sisi Lain Hot Dancer Ai Ling'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NFxJi1XXggQ/TdI1Ge_e5yI/AAAAAAAAAUg/mhZVB4JChv8/s72-c/Ellinda%2Balias%2BAi%2BLing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3020871038619900937</id><published>2011-05-12T14:01:00.001+07:00</published><updated>2011-05-17T15:58:29.852+07:00</updated><title type='text'>Nessa, TKI yang Penulis Buku*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-LQBC1BUnTE0/TcuHUOJVOqI/AAAAAAAAAUI/l2lWvCHSRZU/s1600/untuk%2Bbatamseksi.jpg"&gt; &lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-LQBC1BUnTE0/TcuHUOJVOqI/AAAAAAAAAUI/l2lWvCHSRZU/s320/untuk%2Bbatamseksi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605722942657084066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HARI MINGGU, bagi sebagian pembantu wanita di Singapura adalah hari kebebasan. Pergilah ke tempat-tempat kongkow seperti Marina, Orchird Park, City Hall, atau Bugis, di sana ribuan buruh migran, terutama dari Indonesia, menghibur diri, bercengkrama bersama rekan-rekan sedaerah sembari berekreasi. Tapi tidak bagi Nessa Kartika. SMS saya untuk mengajaknya bertemu dalam sebuah wawancara, awalnya dibalas dengan sebuah penolakan kecil. "Saya hanya punya waktu satu jam kalau hari ini (Minggu, 17 April). Saya baru libur tanggal 24 minggu depan," tulis Nessa dalam pesan singkatnya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, satu jam, bagi saya sudah cukup untuk sebuah wawancara awal kepada pembantu rumahtangga asal Wonosobo, Jawa Tengah tersebut. Saya berpikir, pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab dalam pertemuan nanti, bisa dilanjutkan lewat pesan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-mail&lt;/span&gt;. Nessa pun kemudian setuju. Janji bertemu pada Minggu (17/4) siang di Tech Whye Avenue Blok 8, Choa Chu Kang, tempat tinggal majikan Nessa, berlangsung dengan sangat tergesa. "Kita bertemu di blok antara 10-12 ya, di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;playground&lt;/span&gt;," jawab Nessa membalas pesan saya. 'Bukankah tempat tinggal dia di blok 8?' pikir saya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu baru bisa saya jawab sendiri - tentunya dengan sejumlah kira-kira - ketika saya harus menunggu sekitar 15 menit dari perjanjian awal. Ia datang, ber&lt;span style="font-style: italic;"&gt;t-shirt&lt;/span&gt; warna &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pink &lt;/span&gt;yang sudah pudar plus span berbahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jeans &lt;/span&gt;yang tak bermerek. Sendal jepitnya tipis sedikit kusam, tapi kuku-kuku kakinya bersih terawat dengan cat kuku sewarna dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;t-shirt&lt;/span&gt; yang ia kenakan siang itu. Mendorong kereta bayi yang ada balita berusia dua tahun di atasnya, Nessa sepertinya belum bisa melepaskan "statusnya" sebagai pembantu rumahtangga: tidak percaya diri menghadapi orang baru dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Nessa adalah pembantu yang spesial. 22 Februari lalu, pertama kali informasi tentag spesialnya Nessa saya baca lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feature&lt;/span&gt; yang diterbitkan hampir setengah halaman oleh&lt;span style="font-style: italic;"&gt; The Strait Times&lt;/span&gt;, suratkabar terbesar terbitan Singapura.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Maid Pens Stories with Drama, Spice, and Real Life",&lt;/span&gt; begitulah Straits &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Times &lt;/span&gt;memberi judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feature &lt;/span&gt;yang mengisahkan kehidupan wanita kelahiran 27 Mei 1983 itu. Nessa seorang pembantu rumahtangga. Namun dari tangannya, sudah berbuah kisah-kisah yang kini telah dibukukan dan diedarkan. Tulisan-tulisannya menghadir dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Luka Tanah Priok, 30 hari Dalam Cinta-Nya, Karenina Singa Bauhinia, Tiga Biru Segi, Lamunan Bidadari, Bicaralah Perempuan, Be Strong Indonesia, Ibuku Adalah..., Kisah Kasih di Masa Lampau,&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kisah Pelangi.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Karenina Singa Bauhinia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilaunching &lt;/span&gt;pada 20 Februari lalu di Chinese Garden, Singapura. Peluncuran berlangsung meriah, atas prakarsa Indonesia Family Network (IFN) dan Buruh Migran Indonesia (BMI) di Singapura. "Launching itu sekaligus dibarengi dengan ulangtahun IFN kelima," tambah Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadiri oleh rekan-rekan sesama pembantu rumahtangga di Singapura, Nessa mengaku, sebagian besar cerita-cerita yang dibukukan adalah persoalan para buruh migran. "Kadang-kadang datang dari curhat teman-teman, Kalau ndak ada, saya justru minta pada teman-teman ide, 'ayo ceritakan apa idenya," jawab Nessa ketika saya tanya dari mana ide menulis datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dengan nama Anisa Hanifa, Nessa remaja menyelesaikan sekolah terakhirnya di SMK Negeri 1 Wonosobo pada tahun 2002. Kesulitan ekonomi karena kedua orangtuanya, Siti Maria dan Moch Hatru bercerai, memaksa Nessa untuk memilih menjadi buruh pabrik di Bandung seusai lulus sekolah. Maklum, ia adalah putri sulung dari sembilan bersaudara (lima sekandung). Jadi, tanggungjawab besar untuk membantu perekonomian keluarga ada di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun bekerja di Bandung, pada Mei 2003 Nessa memutuskan untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Di Desa Lipursari, Wonosobo, tempat di mana Nessa lahir dan besar, profesi TKW memang menjadi pilihan utama warganya selain bertani. Ibu Nessa sendiri, Siti Maria, adalah TKI. "Di desa saya banyak yang jadi TKI. Laki-lakinya banyak juga yang jadi TKI di Taiwan," imbuh Nessa. "Sekarang banyak (TKI) yang sudah pulang sukses ngajar di SD, jadi PNS, buka rumah makan. Ibuku buka Rumah Baca."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan pertama Nessa sebagai TKW di Hongkong adalah menjaga anak balita. Tapi ketika itu, belum terbersit sedikitpun di benak Nessa keinginan untuk menulis. Genap 15 bulan bekerja di Hongkong, ibu satu anak ini kemudian memutuskan pulang kampung. Di tahun itu juga, Nessa menikah dengan pria sekampung pilihannya, Wahidin. Setahun kemudian, ia dikarunia seorang putra yang diberi nama Axl Satriaji yang kini berusia 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahidin, menurut Nessa, adalah petani seumumnya lelaki di desanya. Selama menikah mereka menumpang di rumah orangtua mereka. Hingga akhirnya, keinginan untuk membuat rumah sendiri datang namun kondisi ekonomi kembali tak memungkinkan untuk membuat rumah. Nessa kemudian berunding dengan suaminya, dan memutuskan untuk kembali menjadi tenaga kerja wanita. Kali ini, negeri Singapura menjadi tujuan berikutnya. "Ini (bekerja di Singapura) adalah pilihan saya sendiri. Saya pingin membikin rumah," tegas Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007, Nessa berangkat ke Singapura. Di sana, tepatnya di majikannya yang tinggal di daerah Sengkang, Nessa dibebani tugas menjaga orangtua lanjut usia. Di sela-sela waktu kosong menjaga orang lansia itulah Nessa gemar berselancar di internet, terutama membuka situs-situs penulisan. Lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mailing list&lt;/span&gt; (milis) "Kosokata" di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yahoo.com&lt;/span&gt;, Nessa kemudian mengenal dunia tulis menulis. "Di milis itu, ada penyair-penyair Jawa Timur seperti Pak Bonari," ungkap Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis Kosokata itu juga, Nessa kerap memamerkan tulisan-tulisannya, terutama puisi yang ketika itu dibuat sebagai bentuk dari curahan hatinya sendiri bekerja di negeri orang. Respon kemudian muncul. Ada diskusi menarik antaranggota milis untuk membahas satu per satu tulisan yang dipamerkan. Di situlah Nessa mengaku belajar bagiamana menulis yang baik. "Saya juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;publish &lt;/span&gt;di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;. Datang banyak kritik untuk tulisan saya, 'eh ini salah, ini harusnya begitu'. Saya jadi mulai tertarik dan tahu bagaimana menulis yang betul," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perkenalannya dengan milis Kosokata, karya-karya Nessa bak air bah yang deras mengucur kapan saja. Dari semula menulis hanya untuk mencurahkan emosinya saja, sejak saat itu menulis sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi wanita berambut lurus tersebut. "Beruntung majikan saya mengizinkan aktivitas menulis. Mereka mengizinkan saya pakai komputer mereka. Tapi mereka berpesan, 'menulis boleh, asal anaku harus diperhatikan ya'," kata Nessa sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majikan yang sekarang, menurut Nessa adalah majikan keduanya di Singapura. Kontrak pertama ia ditugaskan menjaga lansia. Setelah dua tahun kontrak selesai, Nessa pulang namun kembali ke Singapura pada 2009 untuk menjaga balita hingga sekarang. "Majikan lama dengan majikan yang sekarang sebetulnya bersaudara. Target saya pulang setelah bisa buat rumah dan beli motor," ungkap Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Proyek Buku I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketrampilan menulis Nessa kian lama kian terasah. Hingga kemudian, kesempatan membuat buku muncul saat diajak proyek membuat buku puisi oleh seorang rekan sesama TKW yang dikenalnya di Hongkong, Mega Vristian. Mereka kemudian sama-sama menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Luka Tanah Priok&lt;/span&gt; (2010). Kelar dengan buku pertama, bersama rekan-rekannya sesama TKI di Singapura, Nessa kemudian membuat buku tentang pengalaman mereka berpuasa Ramadan di Singapura. Buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;30 hari Dalam Cinta-Nya&lt;/span&gt;, serta menerbitkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karenina Singa Bauhinia &lt;/span&gt;yang Februari lalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilauncing&lt;/span&gt;. "Sebetulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karenina Singa Bauhinia&lt;/span&gt; sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilaunching &lt;/span&gt;tahun lalu (2010) di Hongkong. Di Singapura adalah launching ulang buku versi Indonesia," ungkap Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya, Nessa mengaku tengah berusaha merampungkan novel karyanya sendiri yang ia rahasiakan judulnya. Wanita yang membentuk Komunitas Buruh Migran Indonesia di Singapura ini, mengaku belum bisa "tidur" sebelum menyelesaikan buku karyanya sendiri. "Saya belum punya buku sendiri. Semua rombongan," tegasnya sembari mengambil HP dari saku spannya yang bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nessa kemudian lekat-lekat mengamati HP tersebut, dan raut mukanya tiba-tiba berubah setelah memastikan nomor siapa yang menghubunginya. "Majikan saya sudah minta saya pulang," katanya sembari meletakkan Kelwin, balita yang diasuhnya ke atas kereta bayi. Secepat yang ia bisa, Nessa kemudian buru-buru meninggalkan saya untuk kemudian tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung tinggi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flat &lt;/span&gt;di daerah Tech Whye Avenue Blok 8. Berikutnya, lewat pesan di SMS dia pesan untuk dibawakan novel-novel religius karya Habiburrahman El Shirazy, Helvy Tiana Rosa, atau Asma Nadia. "Saya ingin menulis novel-novel religi," begitu isi pesan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari melepas pandang ke sosok Nessa yang kemudian menghilang, saya kemudian membathin, wanita-wanita seperti Nessa, yang perkasa dengan segenap kekurangan dan situasi yang tidak bersahabat, adalah Kartini-kartini Indonesia masa kini yang mampu memberi kontribusi besar pada Indonesia, terutama kaumnya. SELAMAT HARI KARTINI!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;400 Dolar yang Begitu Berharga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi buruh migran tentu saja bukan pilihan yang bagus bagi Annisa Hanifa setelah lulus dari SMKN 1 Wonosobo, Jawa Tengah. Keadaan ekonomi lah yang kemudian memaksa wanita yang punya nama beken Nessa Kartika ini bekerja sebagai pembantu rumahtangga di Hongkong pada 2003. Begitu juga ketika ia terpaksa harus kembali menjadi TKW pada 2007, meski statusnya ketika itu adalah istri dan ibu satu anak. "Suami saya petani. Mas tahulah keadaan petani kecil di desa. Jika saya tak seperti ini (jadi TKI) saya tak bisa buat rumah," bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nessa mengaku, dari pekerjaannya sebagai pengasuh anak balita, sebulan ia memperoleh penghasilan sebesar 400 dolar Singapura. Atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp7 ribu, kira-kira Nessa mengantongi uang sekitar Rp2,8 juta. Dari jumlah itu, 300 dolar langsung dikirimkannya ke kampung halaman. Pembaca pasti tahu, uang dari keringat pembantu seperti Nessa ini adalah devisa atau penerimaan terbesar Indonesia. Tahun 2010 lalu, Bank Dunia menaksir, para buruh migran seperti Nessa, telah menyumbang devisa negara sekitar 7,1 miliar dolar Amerika Serikat. Jumlah yang hanya bisa dikalahkan oleh pendapatan dari sektor minyak dan gas alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nessa menambahkan, sisa penghasilan 100 dolar sebulan ia anggap cukup untuk hidup di Singapura. Itu mengingat segala kebutuhan akan makan, tempat tinggal, dll, sudah dipenuhi oleh majikannya. "Saya jarang libur, jadi tak sering keluarkan uang untuk belanja," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nessa memang mengaku tidak punya waktu libur yang pasti. Kadang sebulan bisa sekali, atau bahkan tidak ada sama sekali. Jika ia memaksa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;off&lt;/span&gt;, Nessa harus rela gajinya dipotong 20 dolar setiap kali libur. Ini berbeda dengan pembantu-pembantu rumahtangga dari negara lain seperti Filipina maupun Thailand. Di Filipina misalnya, pemerintah mereka berani "memaksakan" aturan kepada pemerintah Singapura, agar pembantu mereka diberi hak libur minimal satu hari dalam seminggu. Pemerintah Indonesia sebetulnya sudah menerapkan demikian. Tapi dalam kenyataannya, praktiknya tidak jalan. Agen penyalur TKW lebih berkuasa, hingga kemudian si pembantu dibebani aturan yang berat, seperti ketiadaan hak libur setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Nessa mengaku tidak mempermasalahkan soal libur tersebut. Justru dengan beban berat yang membelit para TKW, mereka bisa jauh lebih perkasa. "Saya berpendapat, di sini mereka semua hebat-hebat. Perkasa semua. Kalau mereka punya masalah dengan majikan, mereka bisa sabar. Mereka bahkan biasa menasihati aku. Padahal nasib mereka tak lebih baik dari aku. 'Jangan menyerah jadi TKI, jangan malu-maluin,'" tegas Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian menjadi ironis adalah dukungan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terhadap wanita-wanita kreatif seperti Nessa. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;launching &lt;/span&gt;buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karenina Singa Bauhinia&lt;/span&gt; misalnya, bantuan yang diharapkan KBRI tak kunjung datang hingga akhirnya rekan-rekan Nessa di Indonesia Family Network dan Migran Voice yang membantu melaunching buku tersebut. "Sekali saya pernah berurusan dengan KBRI, waktu pemilu kemarin. Sudah datang ke sana, tapi nama saya justru tak ada. Akhirnya tak jadi milih. Sekarang kalau ke sana cuma untuk urusan paspor saja," ungkap Nessa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(sultan yohana)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;Tulisan ini Diterbitkan di Tabloid DIA edisi 25 Maret 2011 untuk Hari Kartini.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3020871038619900937?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3020871038619900937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3020871038619900937&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3020871038619900937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3020871038619900937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/05/nessa-tki-yang-mencintai-buku.html' title='Nessa, TKI yang Penulis Buku*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-LQBC1BUnTE0/TcuHUOJVOqI/AAAAAAAAAUI/l2lWvCHSRZU/s72-c/untuk%2Bbatamseksi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7037430625644850053</id><published>2011-05-09T15:45:00.003+07:00</published><updated>2011-05-17T15:59:34.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='enak berbahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Rally</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rally &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA pekan lalu, di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tabloid DIA&lt;/span&gt;, saya mengakhiri tulisan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rasa Singapura&lt;/span&gt; dengan ucapan selamat kepada rakyat Singapura, "Selamat Berkampanye!" Memang, sepanjang sebulan terakhir ini tujuh partai peserta pemilu Singapura sibuk mencari muka dari rakyat mereka. Menggelar rapat di mana-mana, calon legeslatifnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blusukan &lt;/span&gt;ke pasar-pasar. Tak jauh beda dengan kampanye di sini. Tapi ada sedikit ganjalan yang menggelanyut di benak saya hingga Kamis pekan kemarin saat tulisan ini mulai saya ketik. Kenapa Singapura menyebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt; untuk kampanye di sana? Kenapa tidak memakai kalimat umum, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;, yang dalam bahasa Indonesia berarti kampanye. Saya segera membuka kamus besar Bahasa Indonesia edisi keempat keluaran Pusat Bahasa. Menyasar huruf K untuk mencari pengertian kampanye. Dan salah satu artinya, saya kutipkan di sini:&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-T6rSsvVSst8/TcetjiL83AI/AAAAAAAAAUA/GjKZ7krSfe4/s1600/rally%2Buntuk%2Bbatamseksi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-T6rSsvVSst8/TcetjiL83AI/AAAAAAAAAUA/GjKZ7krSfe4/s320/rally%2Buntuk%2Bbatamseksi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604639087269829634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye = gerakan serentak untuk melawan atau mengadakan aksi! Terjemahan dari kalimat asli berbshasa Inggris, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;, lebih "ngeri" lagi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign &lt;/span&gt;bisa berarti "mengadakan operasi militer". Operasi militer yang mana? Di titik ini saya kian bingung. Apalagi ketika menemukan arti di kamus bahasa Inggris bahwa salah satu pengertian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally &lt;/span&gt;adalah "rapat umum". Operasi militer tentu tidak cocok untuk merujuk sebuah kampanye politik; sementara rapat umum tentu tidak bisa disematkan pada frasa kampanye politik karena tidak ada interaksi dua belah pihak yang seimbang. Bukankah sebuah acara bisa disebut rapat jika ada interaksi dari kedua kubu, kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dua hari di akhir pekan kemarin, ketika saya hadir di tiga kampanye (baca: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;) di Singapura, sedikit memberi gambaran kenapa kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;" lebih dipilih ketimbang "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;". Kampanye pertama yang saya saksikan adalah ketika saya dan istri saya terpaksa menuruti keinginan si kecil Ken, pulang jalan kaki dari stasiun ke rumah kami. Tidak jauh memang, cuma sekitar 10 menit jalan kaki melewati lahan terbuka seluas sekitar tiga hektar berumput aduhai yang tiap minggu saya dan adik ipar pergunakan untuk bermain bola. Entah kenapa, malam itu si kecil ogah naik bus, sesuatu yang menjadi hobinya selama ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally &lt;/span&gt;partai berkuasa Singapura, People Action Party (PAP), di lapangan terbuka yang kami lewati ketika hendak pulang. Ini pengalaman pertama saya melihat kampanye di Singapura setelah empat tahun lebih menikah wanita Singapura. Jadi, spontan saja saya membelokkan langkah ke kerumunan ribuan warga yang tengah mengelilingi panggung berukuran sedang dengan cahaya penerang yang menyilaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye di sana memang lebih banyak digelar malam hari, dan ini sangat masuk akal mengingat kesibukan kerja sebagian besar warga Singapura. Di belakang kerumunan sembari memperhatikan Ken yang lari ke sana-sini, saya mencoba mencerna isi kampanye. Untungnya, di Singapura, etiap orasi dalam sebuah kampanye harus diucap dengan tiga bahasa, Inggris, China, dan Melayu. Jika si caleg tidak menguasai tiga bahasa, ada penterjemah yang akan membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk negeri yang nyaris politiknya senyap seperti Singapura, datangnya ribuan warga di kampanye malam itu merupakan hal yang mengejutkan bagi saya. Padahal tidak ada artis mahal yang didatangkan, tidak ada bagi-bagi kaos gratis, apalagi bagi-bagi ongkos bensin dan nasi bungkus yang seperti kampanye kita. Saya hanya kebagian brosur tentang profil calon legeslatif yang tengah berorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu disebutkan lah siapa caleg yang ketika itu mendapat giliran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;. Tapi kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;" memang lebih masuk akal dipakai ketimbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;. Karena tidak ada aksi-aksi "fantastis" menyulut perseteruan dengan lawan-lawan politiknya. Tidak ada orasi menggebu-nggebu hingga mulut berbusa-busa untuk menjanjikan ini-itu. Tidak ada hujatan, tidak ada kalimat-kalimat memanaskan telinga. Yang ada hanya menawarkan program partai. Kampanye Indonesia jauh lebih mengasikkan dan mengeluarkan lebih banyak adrenalin. Pengertian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign &lt;/span&gt;berupa "gerakan serentak untuk MELAWAN atau mengadakan aksi!" tentu tidak cocok untuk acara di lapangan Hougang yang saya saksikan Sabtu malam itu. Belum setengah jam, saya sudah mengajak istri pulang. "Membosankan," kata saya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, seusai hari yang panjang kami menuruti kemauan Ken berkeliling Singapura naik bus, kami kembali melewati sekerumunan acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;. Kali ini di daerah Yio Chu Kang, setengah jam perjalanan naik bus dari tempat tinggal kami di Hougang. Kali itu partai oposisi yang mendapat bagian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;: Workers Party, partai berlogo palu warna kuning yang menjadi partai terbesar kedua di Singapura. Kali ini suasana lebih riuh ketimbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally &lt;/span&gt;PAP yang saya saksikan sehari sebelumnya. Tribun dan sebagaian lapangan di Stadion Yio Chu Kang, tempat digelarnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally &lt;/span&gt;Worker Party, bejibun warga yang menonton. Saya bertanya pada istri, kenapa partai yang berkuasa lebih sedikit penontonnya ketimbang partai oposisi? Dia bilang, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ah..&lt;/span&gt;. paling cuma menonton saja. Asyik dengar omongan mereka. Pun tak akan menang mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari brosur yang saya terima, ada dua nama caleg yang saya pikir masih terlalu hijau untuk mengurusi negera secepat Singapura. Dua caleg pria, masing-masing berusia 23 dan 24 tahun. Pemuda seusai ini di Singapura, kata istri saya, sebagaian besar masih "netek" orangtua dan asyik dengan masa muda mereka. "Apa saya mau diurus anak muda yang tak bisa apa-apa?" istri saya balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ganjalan saya soal pemilihan kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally&lt;/span&gt;" seolah terjawab begitu mendengar orasi wakil-wakil Partai Pekerja. Orang Jawa bilang, babarblas tidak ada gerakan atau aksi "perlawanan" dalam oras-orasi mereka. Setidaknya jika saya bandingkan dengan orasi-orasi partai oposisi di Indonesia. Mereka hanya berandai-andai, seandainya partai mereka terpilih, rakyat akan diberikan ini, dikasih itu.... Yang ini mirip partai-partai Indonesia yang gemar umbar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rasa hambar di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally-rally&lt;/span&gt; mereka, jalanan di Singapura juga tak semarak jalan-jalan di Kepri ketika kampanye digelar. Tidak ada stiker tertempel sana-sini yang setelah kemudian jadi sampah setelah pemilu selesai. Tidak ada pawai-pawai kendaraan bermotor yang memacetkan jalan. Sebagai ganti, hanya ada sebuah lori keliling yang menyiarkan kaimat kampanye dari corong pengeras suara. Mirip-mirip pengumuman dari mobil bioskop di kota asal saya di Malang, yang mengumumkan film apa yang bakal diputar di gedung bioskop mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster-poster dan bendera memang ada. Tapi tertata rapi di pinggir jalan atau terikat dengan baik di tiang-tiang lampu. Saya bayangkan, jika pemilu selesai, sekali gasruk bersih tak tersisa lah bekas-bekas alat kampanye enam partai politik Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rally &lt;/span&gt;Singapura? Ah, bukankah ketika tulisan ini terbit mereka sudah mencoblos! Sudah tak perlu lagi mempersoalkan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rally &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campaign&lt;/span&gt;. Rapat besar atau aksi massa. Sekali lagi - meski terlambat - selamat berpesta, Singapura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;Tulisan ini Diterbitkan di Tabloid DIA edisi 2 Mei 2011 &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/tabloid.dia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7037430625644850053?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7037430625644850053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7037430625644850053&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7037430625644850053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7037430625644850053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/05/rally.html' title='Rally'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-T6rSsvVSst8/TcetjiL83AI/AAAAAAAAAUA/GjKZ7krSfe4/s72-c/rally%2Buntuk%2Bbatamseksi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-2648723526861193248</id><published>2011-03-29T15:40:00.004+07:00</published><updated>2011-05-17T16:00:40.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>$6.6 Billion Bonanza</title><content type='html'>SUARA presenter berita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Channel News Asia&lt;/span&gt;, Sabtu akhir pekan kemarin, yang menyiarkan soal demonstrasi di Libya, begitu semangatnya. Gambar yang kabur karena berasal dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You-tube&lt;/span&gt;, sesekali disensor karena mengandung insiden kekerasan. Di lantai depan televisi, Ken Danish tanpa peduli suara bising televisi, asyik menyusun puluhan mobil-mobilannya di seantero lantai. Saya sibuk mengutak-atik kamera yang baru saya dapatkan, sementara istri yang duduk di samping saya, mulutnya senyam-senyum sembari menggerak-gerakkan koran di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanya saya, sedikit tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bangkit dari sofa yang didudukinya. Tertawa. Menyodorkan suratkabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Strait Times&lt;/span&gt; edisi hari itu sembari tertawa lagi. "Kami dapat bonus..." katanya. Mata saya kemudian tercekat pada halaman pertama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Strait Times&lt;/span&gt; yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;full &lt;/span&gt;grafis. Di tengah-tengah halaman, hal yang paling mencuri perhatian, segambar kado terbuka dengan tulisan "$6.6 Billion Bonanza", tulisan yang menyatakan besarnya bonus yang dimaksud istri saya tadi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Busyet! &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Lee Kuan Yew dulu diizinkan menyewa Batam selama 90 tahun. Saya kini pasti akan tertawa seperti istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca "$6.6 Billion Bonanza" ini, saya sedikit berdebat dengan rekan editor saya, Nur Syahrullah, berapa kalau dirupiahkan uang sebesar itu? Rp46,2 miliar atau Rp46,2 triliun? "Billion itu miliar, million baru juta," Syahrullah menjelaskan. Saya manggut-manggut, masih sedikit kebingungan. Untuk urusan hitung-hitungan uang - apalagi uang orang lain- saya memang sangat payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi okelah. Saya percaya penjelasan Syahrullah. Jadi mari kita bersama-sama hitung bonus dari pemerintah Singapura yang bakal dinikmati 4.987.600 penduduknya (data dari sensus 2009). Jika hitung-hitungan saya tak meleset, pada akhir bulan Mei mendatang, rekening setiap orang yang punya status WN Singapura, bakal bertambah 927 dolar. Atau jika dirupiahkan sebesar Rp6.489.000 (kurs Rp7.000). Wah, berarti Mei mendatang, saya bisa pinjam anak semata wayang saya, Ken Danish, bonusnya untuk beli lensa Nikon saya. Boleh Ken?&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hehe...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Lee Kuan Yew dulu diizinkan menyewa Batam selama 90 tahun. Saya mungkin tak perlu punya niat untuk pinjam bonus Ken hanya untuk membeli lensa. Tapi, ya sudahlah. Syukur-syukur saya masih bisa beli sebungkus rokok tiap hari, serta sesekali memanjakan diri dengan menikmati kepiting lada hitam kegemaran saya di kelong. Syukur pula anak dan istri saya yang warga negara Singapura kebagian bonus, meski saya hanya dapat cerita gembiranya saja. Syukur-syukur pula Batam tak bubrah sebagaimana Libya yang kini tengah dilanda kerusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap tahun, Singapura memang "memanjakan" warganya dengan memberi bonus uang tunai. Tahun ini, tiap WN Singapura, berhak mendapatkan bonus antara 100 hingga 800 dolar Singapura, tergantung usia dan tingkat kesejahteraan mereka. Kian kaya, kian sedikit bonus yang diterima (di Batam terbalik ya? Yang kaya kian kaya, yang miskin makin miskin). Mereka yang berusia di atas 45 tahun, mendapat top-up biaya asuransi kesehatan antara 200 hingga 700 dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, Pemerintah Singapura juga memberikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fee &lt;/span&gt;gratis untuk pemasangan televisi dan radio berbayar. Mengembalikan 20 persen dari tiap pajak yang dibayarkan tiap orang, serta kian memberi keringanan subsidi rumah. Tiap anak Singapura berusia enam ke bawah - termasuk anak saya si Ken yang masih tiga tahun - dapat bantuan biaya jika dimasukkan playgroup atau taman kanak-kanak. Tiap anak yang sekolah di SD dan SMP, juga mendapat bagian 130 dolar dalam bentuk tabungan pendidikan. Tiap keluarga yang punya anak lebih dari lima, tiap anak bakal dapat tambahan 400 dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Busyet!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Lee Kuan Yew dulu diizinkan menyewa Batam selama 90 tahun. Ya, dulu ketika Mr Lee tengah akrab-akrabnya dengan Mr Soeharto, Lee sempat melontarkan keinginannya untuk menyewa Batam yang rencananya akan dikembangkan seperti Singapura. Lee tahu potensi yang dipunya Batam sama besarnya dengan potensi yang sudah digali di Singapura. Mr Lee ketika menawar Batam itu mungkin sudah berhitung, Singapura yang luasnya cuma seupil, punya batas maksimal untuk tumbuh. Ibarat manusia, tak mungkin toh usia 40 tahun tinggi tubuhnya bertambah. Dan Batam, adalah saudara kembar Singapura yang bisa menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto ketika itu menolak dan menyerahkan sepenuhnya pembangunan Batam ke orang-orang kepercayaannya sendiri. Menumbuh hingga sekarang, Batam bahkan masih berkutat urusan jalan berlubang, alih-alih memberi bonus uang tunai rakyatnya. Boro-boro memberi bonus, kita bahkan kerap mendengar para pejabat kita yang kebingungan menghabiskan anggaran untuk hal-hal yang tak ada urusannya dengan kesejahteraan rakyat. Yang dalih studi banding lah, yang ini lah, yang itulah... Saudara kembar yang salah asuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti perusahaan, Singapura memang dikelola dengan profesional. Keuntungannya, setelah kelar dipakai untuk pembangunan, sisanya dibagi-bagikan langsung ke rakyatnya. Para pemimpin Singapura tahu, rakyat adalah aset paling berharga yang harus dijaga dan disejahterakan. Aset yang harus dipintarkan dan disehatkan agar terus bisa mengembangkan Singapura. Tapi di sini? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah...,&lt;/span&gt; jika saja Mr. Lee jadi menyewa Batam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Tabloid-DIA/198465420180158"&gt;Diterbitkan di Tabloid DIA edisi 27 Februari 2011.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-2648723526861193248?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/2648723526861193248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=2648723526861193248&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2648723526861193248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2648723526861193248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/03/66-billion-bonanza.html' title='$6.6 Billion Bonanza'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1213333304069734429</id><published>2011-03-29T15:27:00.006+07:00</published><updated>2011-05-17T16:02:08.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Welcome to Our Kampong!</title><content type='html'>BOCAH lelaki itu menggaco kelereng dengan melenceng. Segepok umpan kelereng yang diletakkan pada bulatan depannya, gagal kena oleh gacoannya. Berkali-kali ia mencoba, gagal lagi. Maklum, cara menggaconya saja salah. Kelereng gacoan tidak diletakkan antara ibu jari dan jari telunjuk. Melainkan dikempit oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Ya pasti tak bisa dikendalikan itu arah kelereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bocah pertama gagal, beberapa bocah lainnya mencoba. Sebagian besar gagal, hingga akhirnya seorang pria pemandu acara main kelereng itu memberi contoh. Menggaco dengan benar untuk kemudian mengenai segepok umpan  di bulatan di tengah arena main. Semua bocah yang gagal bersorak, kegirangan. Acara "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Welcome to Our Kampong"&lt;/span&gt; yang digelar di tengah publik area di daerah Hougang, sekitar sebulan lalu, kian menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main kelereng, itu permainan kegemaran saya sewaktu kecil. Di Singapura, permainan seperti ini sudah sangat langka, terbukti dari banyaknya anak yang tak bisa menggaco kelereng dengan benar. Saya dulu tak jago-jago amat, tapi setidaknya tidak pernah membeli kelereng baru karena kerap pulang dengan mengantongi kelereng kemenangan. Di Singapore, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;portable&lt;/span&gt; PlaySation, internet, dan aneka jenis permaian canggih lainnya, telah merampas salah satu permaian tertua di dunia ini. Tapi ketika acara main kelereng "disajikan" dalam sebuah kampanye pemanasan partai berkuasa di Singapura saat ini, People Action Party (PAP), ini baru kisah yang mengasikkan untuk saya sajikan kepada Pembaca.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Welcome to Our Kampong!&lt;/span&gt; Selamat Datang di Kampung Kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan seluas setengah lapangan bola di tengah-tengah pusat belanja Hougang, sebulan lalu disulap menjadi "kampung". Ada sederet foto-foto kawasan Hougang mulai dari tahun 1900-an hingga foto terkini, ada arena permainan kelereng, ada pameran alat-alat rumahtangga jadul, ada setrika arang, mesin jahit tangan, hingga lampu minyak templek dan petromax. Saya membayangkan ibu mertua dan nenek mertua saya memakai alat-alat di atas saat mereka masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ibu mertua saya, yang kini sudah berusia 60 tahun, bahkan menjahit tangan bajunya yang robek saja tak bisa. Ia mengaku sudah lupa bagaimana memakai jarum jahit, apalagi menyalakan lampu minyak. Kerap kali ketika bajunya robek kecil (ini jarang terjadi), baju itu kemudian berakhir di tong sampah. Meski sudah lansia, dia memang bekerja dan berpenghasilan bagus. Karena itu masalah baju robek sudah tak jadi persoalan lagi baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan fenomena seperti yang terjadi pada mertua saya inilah yang kemudian ditangkap PAP untuk sajian kampanye mereka. Sekitar bulan Juni mendatang, Singapura memang akan menggelar pemilihan umum. Acara "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Welcome to Our Kampong&lt;/span&gt;" seolah menyadarkan pada masyarakat pemilih, keberhasilan PAP - yang memang menguasai pemerintahan sepanjang Singapura merdeka - untuk memakmurkan Singapura. Tak ada janji apa-apa di kampanye ketika itu sebagaimana kampanye pemilukada di Batam atau Kepri beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ganti "janji" PAP, di bagian lain dari lokasi pameran, digelarkan tenda raksasa berpendingin udara yang berisi aneka maket pembangunan Hougang lima tahun ke depan. Di dalam tenda yang bisa dimasuki siapa pun itu, setiap calon pemilih bakal tahu apa yang dilakukan pemerintah ke depannya. Tanpa tebar janji-janji, tanpa orasi omong kosong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk melihat-lihat maket dan pameran "jadul", tiba-tiba sesuatu yang meriah muncul. Dari luar, seorang pria, berpolo-shirt kuning dengan celana kain kecoklatan. Tanpa iring-iringan mobil patroli apalagi para ajudan atau anggota Satpol PP yang biasa melindungi pejabat di sini, pria itu masuk, beramahtamah sebentar lewat sepatah dua pidato, dan ikut berbaur dengan para warga. Memang sih, ia sempat diberi kalungan bunga oleh panitia. Tapi untuk ukuran - istri saya membisikkan dia seorang menteri Singapura dari Partai PAP-, sambutan atau penampilan si pria itu sungguh sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa jas, tanpa sepatu kulit mengkilat. Tanpa janji-janji, apalagi omong kosong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah secuil gambaran kampanye di Singapura. Dalam pandangan politik, rakyat di sana dengan di Batam saya kira hampir sama: cukup melek politik. Yang membedakan adalah isi kepala para politikusnya. Di sini, kata "akan mensejahterahkan rakyat" yang kerap keluar dari mulut politikus saat kampanye, masihlah berupa janji absurd yang tak dimengerti banyak orang. Janji yang kemudian membuat merek abisa berkelit dari rasa berdosa jika enggan menepatinya. Di Singapura, janji "menyejahterahkan rakyat" sudah terwujud dengan jelas dalam sebuah rencana matang pembangunan hingga detil sekecil-kecilnya. Itulah kenapa, setiap politikus di sini berjanji, masyarakat akan menertawainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politikus di sini mungkin tak sadar, mereka seperti badut di mata kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lucuuuu banget....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Tabloid-DIA/198465420180158"&gt;Diterbitkan di Tabloid Dia edisi 4 Maret 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1213333304069734429?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1213333304069734429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1213333304069734429&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1213333304069734429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1213333304069734429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2011/03/welcome-to-our-kampong.html' title='Welcome to Our Kampong!'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1487599247941121365</id><published>2010-09-22T16:17:00.005+07:00</published><updated>2011-05-17T16:05:56.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Mbah Satiman, Kearifan Indonesia</title><content type='html'>PRIA TUA itu sibuk mengayun-ayunkan sepotong bambu sepanjang kira-kira setengah meter yang mengeluarkan bunyi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prok.. prok..prokkk...&lt;/span&gt; Keprokan, begitu biasa petani Singosari, Kabupaten Malang, menyebut bambu sebesar lengan tangan orang dewasa yang tengahnya dibelah dan belahan satu-sama lainnya saling beradu ketika diayun. Seketika, ketika keprokan diayunkan, ratusan burung emprit yang berusaha mencuri padi, berterbangan meninggalkan areal sawah. ''Kalau ndak dijaga begini, bisa ndak panen saya,'' kata pria itu dengan logat kental Jawa Timur-an, ketika saya menghampirinya.&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7NLikAI/AAAAAAAAATc/2ZyEFRPEvUI/s1600/Mbah+Satiman+%283%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7NLikAI/AAAAAAAAATc/2ZyEFRPEvUI/s320/Mbah+Satiman+%283%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519665936818409474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Satiman, pria tua itu memperkenalkan diri ketika saya menyapanya, awal September lalu. Kulitnya legam, rambut putihnya tertutup topi. Kemeja batik bermotif Korpri dan celana pendek selutut, di sana-sini robek dan belepotan lumpur. Sebagai pria yang usianya di atas 80 tahun, keriput di sekujur tubuhnya justru terlihat liat jauh dari kesan ringkih. Keriput yang menjadi penanda betapa keras hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK6ohmE8I/AAAAAAAAATU/O7vH31v6nIY/s1600/Mbah+Satiman+%282%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK6ohmE8I/AAAAAAAAATU/O7vH31v6nIY/s320/Mbah+Satiman+%282%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519665926978802626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;''Saya foto ya Mbah,'' saya mencoba bertanya. Ia kemudian mengijinkan dan mengikuti instruksi yang saya berikan. Dengan kamera poket yang saya bawa, saya jepret beberapa gambar Mbah Satiman. Berikutnya, sebuah gubuk yang hanya dilengkapi atap di ujung galengan, menjadi tempat kami duduk ngobrol. Mbah Satiman saya biarkan menjadi pembicara, yang mendominasi obrolan. Sesekali saya menimpali omongannya dengan pertanyaan jika penjelasannya kurang jelas.&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK6Qw6c6I/AAAAAAAAATM/IcZsY7a9cqI/s1600/Mbah+Satiman+%281%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK6Qw6c6I/AAAAAAAAATM/IcZsY7a9cqI/s320/Mbah+Satiman+%281%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519665920600601506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dari subuh selepas sahur tadi saya di sini,'' ia melanjutkan kata-katanya. "Di sini" yang dimaksud Mbah Satiman adalah hamparan sawah yang ditanami padi seluas seperempat hektar. Di sekujur padi yang mulai menguning tersebut, terbentang tali-tali yang di sana-sini diikatkan plastik yang menjulur di antara tonggak-tonggak kayu. Jalinan tali tersebut bermuara ke satu titik di gubuk tempat kami mengobrol. Jika ada burung menyerang tanaman padi sawah Mbah Satiman, ia tinggal menggoyang-ngoyangkan tali, mengusir si burung emprit. Jika masih membandel juga, keprokan menjadi alat pengusir berikutnya. Selain burung, tikus dan wereng adalah musuh utama petani kecil seperti Mbah Satiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperempat hektar sawah adalah luas yang sangat minim untuk sebuah keluarga dengan enam anak seperti Mbah Satiman. Warga Dusun Ngatik, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Malang tersebut, dalam sekali panen hanya mampu meraup lima hingga tujuh kuintal gabah dari seperempat hektar sawah yang ia miliki. Bahkan tak jarang; burung, tikus, dan wereng, lebih dulu "memanen" padi Mbah Satiman ketimbang ia sendiri. Jika sudah demikian, bersiap-siaplah Mbah Satiman mencari utangan selama empat bulan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7gI8RdI/AAAAAAAAATk/OBR92CllQ4Q/s1600/Mbah+Satiman.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 197px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7gI8RdI/AAAAAAAAATk/OBR92CllQ4Q/s320/Mbah+Satiman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519665941907785170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mbah Satiman adalah satu dari jutaan petani Indonesia yang punya lahan di bawah satu hektar. Kian minim luas tanah yang dimiliki seorang petani, makin minim pula pendapatan mereka sebagai petani. Catatan dari Badan Pusat Statistik, jumlah panen gabah kering giling selama 2010 ini sebesar 64,9 juta ton. Ini produksi bersama 28,5 juta keluarga petani, termasuk orang seperti Mbah Satiman.  Jika satu keluarga terdiri atas empat orang, tiap kepala kebagian 579 kg per tahun. Jika dikalikan harga gabah Rp3.300 per kilo, pendapatan petani per tahun hanya Rp 1,9 juta atau Rp5.307 per per hari. Angka yang bahkan untuk membeli sebungkus rokok Djie Sam Soe saja masih tekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatan itu masih belum dipotong biaya pupuk dan ongkos membajak. ''Kalau lahan sebesar ini, minimal pupuk yang dibutuhkan sekintar. Belum obat-obatannya (pestisida). Ongkos mbrujul (membajak) pakai kebo Rp150 ribu,'' beber Mbah Satiman. Pria yang mengaku mencari tambahan biaya hidup dengan menarik becak itu mengaku lebih memilih menyewa pemilik kerbau ketimbang menyewa traktor. ''Biar bagi-bagi rejeki. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sakno seng duwe kebo&lt;/span&gt;,'' ia menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung orang seperti Mbah Satiman hidup di desa seperti Desa Klampok yang warnya masih punya hubungan sosial erat. Terkecuali membajak yang membutuhkan biaya, kebutuhan lainnya seperti saat panen, bertanam; dilakukan secara gotong-royong. Panen misalnya, tak butuh buruh bayaran, warga desa dengan senang hati berbondong-bondong membantu memanen dengan upah jerami sampah panenan yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan sapi. ''Namanya sayan, kita juga harus siap bantu jika ada petani lain yang butuh tenaga kita,'' ungkap Mbah Satiman.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7_YOCVI/AAAAAAAAATs/iqlxRJVf6zQ/s1600/Mbah+Satiman+%285%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7_YOCVI/AAAAAAAAATs/iqlxRJVf6zQ/s320/Mbah+Satiman+%285%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519665950293363026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mbah Satiman mengaku, seluruh sawah hasil panenannya tak pernah ia jual. Begitu panen, gabah-gabah dibawa ke tempat penggilingan padi. Setelah berupa beras, Mbah Satiman kemudian menyimpannya untuk kebutuhan makan sehari-hari. ''Beberapa juga diberikan tetangga kiri-kanan, dan anak-anak juga,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena faktor usia, sekarang di usia 80-an tahun, Mbah Satiman memang sudah pensiun membecak. Selain sawah yang tidak bisa diharapkan bisa menghasilkan, Mbah Satiman hanya mengandalkan uang pemberian anak-anaknya, serta penghasilan tambahan dari bekerja sebagai buruh petani lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya, yang juga buruh tani, ikut menyumbang penghasilan pasangan keluarga tua tersebut. Mbah Satiman memang tidak mengeluh soal kerasnya ia punya kehidupan. Ia juga tidak pernah bisa protes jika pupuk melambung atau harga gabah menukik turun. Alam, menurutnya, telah memberi banyak hal padanya. ''Kalau butuh sayur dan lauk, tinggal ambil di sawah banyak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manceng iwak ndik kali, metik kangkung ndik galengan yo wes iso mangan&lt;/span&gt;,'' katanya sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Satiman, potret kearifan khas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto-foto by Sultan Yohana&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1487599247941121365?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1487599247941121365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1487599247941121365&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1487599247941121365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1487599247941121365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2010/09/mbah-satiman-potret-kearifan-indonesia.html' title='Mbah Satiman, Kearifan Indonesia'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/TJnK7NLikAI/AAAAAAAAATc/2ZyEFRPEvUI/s72-c/Mbah+Satiman+%283%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5218148858303101900</id><published>2010-02-04T22:54:00.005+07:00</published><updated>2011-05-17T16:06:58.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Tapis yang tak Lagi Gratis</title><content type='html'>ACARA piknik kami sepekan lalu di Pantai Changi "diganggu" oleh kemunculan pendekar bakau. Si pendekar itu, dengan keperkasaannya yang sulit dimiliki kebanyakan orang Singapura - bahkan yang rutin fitnes sekalipun - memanggul sejala besar tapis. Saya taksir mungkin beratnya mencapai 50-an kilo. Tapi, seolah tak ada sedikitpun rasa berat meraut di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit pria paruh baya itu benar-benar legam karena seringnya terbakar matahari. Topi warna kuning yang menutup kepalanya tak mampu menyembunyikan sebagian kecil ujung-ujung merah rambut ikalnya yang juga terlalu sering dibakar matahari. Bahkan dua betisnya yang kurus namun liat, masih belepotan lumpur bakau ketika lewat di depan kami duduk nyante di pasir berwarna coklat yang kami alasi tikar pandan.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2ruOmiymdI/AAAAAAAAAS8/mTkxbVF8TWY/s1600-h/tapis.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 169px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2ruOmiymdI/AAAAAAAAAS8/mTkxbVF8TWY/s320/tapis.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434417835007973842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan dengan ringan seolah tak ada beban di pundaknya. Begitu sampai di paviliun peristirahatan yang berada sekitar sepuluh meter dari kami duduk, sejala besar tapis itu kemudian dilemparkan begitu saja. Seorang wanita Melayu - saya kira istrinya - kemudian mengeluarkan tapis yang sudah steril dari lumpur, kemudian membagi-bagikannya ke dalam beberapa kantong plastik, dan meletakkan begitu saja di lantai paviliun. Si pendekar bakau kemudian melepas baju, duduk nyante di kursi plastik, dan kemudian mengeluarkan rokok. Asap yang dibakarnya segera lenyap disambar angin laut yang siang itu berhembus cukup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapis adalah sejenis kerang bercangkang lunak yang gampang ditemukan di lelumpuran hutan bakau di pinggir pantai. Mirip seperti kerang namun dagingnya lebih lembut, teman yang paling nikmat melahap tapis rebus adalah dengan dicocolkan begitu saja pada sambaljeruk. Sekali cocol, segarnya bisa bikin kita ndak mau berhenti.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan si pendekar bakau yang saya maksudkan tadi adalah pencari tapis yang mumpuni. Terbukti sejala besar tapis berhasil dipanen di siang yang terik itu. Dari beberapa belas plastik berisi tapis yang telah dibagi-bagi tadi, si wanita yang membagi itu kemudian mengangkatnya satu per satu ke pinggir pedestrian. Menunggu siapa pun pengunjung Pantai Changi yang ingin membeli tapis segar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menghampiri. Oleh seorang pria yang ketika itu tengah ngobrol dengan si wanita penjaja, saya berusaha diyakinkan bahwa tapis yang dijual kawannya sungguhlah segar dan nikmat jika dimasak. ''Ayo..., ayo..., enam dolar saja! Lima dolar pun jadilah kalau kau beli dua,'' ia menggoda saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat tergoda, namun istri saya meyakinkan bahwa tapis itu akan sia-sia sesampainya di rumah karena tidak ada yang bisa masak. Tapi godaan saya yang lebih besar muncul ketika tiba-tiba saya menangkap ketakutan yang tergambar di raut wajah si penjual, juga si pendekar bakau, ketika seorang rekannya yang lain - ibu paruh baya bertubuh besar, datang dan menyodorkan koran Berita Harian edisi hari itu. Tapi, rasa ingin tahu saya ketika itu sirna ketika Ken, anak saya, datang dan menarik saya untuk diajak bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran saya akan perubahan raut muka para pedangang tapis terobati ketika pulang dari piknik, saya masuk ke toko serba ada. Saat menunggu si kecil pilih-pilih makanan saya sempat melirik headline Berita Harian. Dan ternyata hari itu, headline yang diangkat koran berbahasa Melayu itu adalah larangan pemerintah Singapura atas penangkapan tapis. Melindungi ekosistem adalah alasan utama pelarangan itu. Dendanya jika melanggar? Berkisar antara 5.00 hingga 2.000 dolar Singapura. Dan tiba-tiba saja saya merasa begitu benci dengan negeri istri dan anak saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja saya membayangkan tapis yang menjadi wabah, sebagaimana halnya burung-burung jalak dan burung dara yang kehadirannya di Singapura bahkan lebih banyak membawa masalah ketimbang keindahan. Sebanyak apa pun tapis yang bisa diambil si pendekar bakau itu, tak akan sehebat kepunahan yang ditimbulkan oleh pembangunan. Oleh reklamasi besar-besaran. Sebagaimana kerusakan yang sudah terjadi di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapis kini, sudah tak bisa didapat gratis oleh si pendekar bakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sultanyohe@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto tapis, by my&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5218148858303101900?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5218148858303101900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5218148858303101900&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5218148858303101900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5218148858303101900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2010/02/tapis-yang-tak-lagi-gratis.html' title='Tapis yang tak Lagi Gratis'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2ruOmiymdI/AAAAAAAAAS8/mTkxbVF8TWY/s72-c/tapis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8586177412069003820</id><published>2010-01-27T18:06:00.009+07:00</published><updated>2011-05-17T16:09:06.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Bukit Timah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;: Indonesia (baca pejabat) yang kian brengsek!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA membayangkan Bukit Timah seberharga namanya. Seonggok bukit tertinggi di Singapura, yang kemudian menjadi salah satu lokasi wisata-olahraga atraktif di sana. Sepekan lalu bersama istri dan si kecil, Ken, yang Januari ini genap berusia 2,5 tahun, kami mendaki bukit setinggi 163,63 meter tersebut. Bahkan anak saya mampu menaiki bukit itu dengan tanpa bantuan gendong sama sekali.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ''Let's go! Eghe... let's...,&lt;/span&gt;'' begitu istri saya menyemangati si kecil yang biasa kami panggil Eghe. Dan si kecil pun kian kencang berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rumah tua atau tepatnya kantor bertingkat tiga yang teduh, menyapa kami ketika hendak masuk kawasan Bukit Timah. Di gedung tua yang difungsikan sebagai pusat informasi itu, Anda bisa mendapatkan apa pun informasi yang anda inginkan tentang Bukit Timah. Selapangan parkir yang luas juga tersedia. Sebuah toko sepatu/sandal siap menyediakan kebutuhan akan alas kaki yang cocok untuk mendaki. Butuh air minum? Isi saja botol Anda dengan air toilet untuk mengirit pengeluaran.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2AfiitpAcI/AAAAAAAAAS0/UtFmMppLpoc/s1600-h/Bukit+Timah+foto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2AfiitpAcI/AAAAAAAAAS0/UtFmMppLpoc/s320/Bukit+Timah+foto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431375828903068098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang dasar bukit hingga puncaknya, jalan beraspal selebar tiga meter mengular. Rapi dan menyenangkan, kanan-kiri jalan beraspal itu, full hutan belantara yang sebagian dibiarkan perawan seperawan-perawannya. Sebagian lagi sudah disulap menjadi trek-trek pendakian dan trek sepeda yang bisa membuat keringat kita membanjir. Tidak ada rumah liar, apalagi villa pejabat. Sebagai orang yang besar di kaki Gunung Arjuno dan Semeru, Jawa Timur, tantangan mendaki Bukit Timah jauh dari luar biasa. Bahkan sangat biasa!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika capek, ada beberapa tempat peristirahatan berupa pondokan. Kecuali Anda yang tak doyan jalan, saya yakin Anda tak butuh terlalu banyak tenaga untuk bisa mencapai puncak bukit. Kicauan burung aneka macam dan semilir udara yang dipenuhi oksigen, tentu akan bisa mendinginkan tubuh, terutama kepala. Dan ketika tiba di puncak, Anda hanya akan menemui ruangan kosong dengan pondokan dan sebongkah batu bertuliskan tinggi dan titik koordinat di mana Anda berdiri ketika itu. Dua buah menara pemancar, sedikit merusak aroma alamiah puncak Bukit Timah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan Bukit Timah seberharga namanya. Dan sebenarnya di seantero kawasan bukit itu, memang harga tanahnya sugguh-sungguh luar biasa mahal. Di kawasan yang dikenal sebagai Distrik 11 inilah berkumpul orang-orang kaya Singapura yang sepertiganya merupakan orang kaya Indonesia (sebagian lagi koruptor). Di sanalah berdiri rumah-rumah pribadi berharga puluhan miliar rupiah, apartemen-apartemen mewah yang harga sewanya mencapai belasan ribu dolar Singapura per bulan, serta rumah-rumah pejabat tinggi Singapura. Sejengkal tanah di Bukit Timah, mungkin bisa membeli berhektar lahan hutan dan seisinya di Batam. Tapi Pemerintah Singapura masih menyisakan sebagian besar lahan Bukit Timah yang berharga itu sebagai area publik yang bisa dinikmati rakyatnya yang paling melarat sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam, sebelum digunduli hingga tampilannya seperti rambut anak-anak punk, saya biasa mendaki seorang diri di Bukit Clara. Seonggok bukit mungil di belakang Masjid Raya. Sembari mencari flora, fauna, dan benda-benda yang bisa dijadikan obyek foto, Bukit Clara bisa sedikit menghadirkan penawar rindu akan kegemaran pendakian tempoe doeleo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa waktu lalu bukit itu disakiti begitu rupa. Pohon-pohon besar ditebangi, dan sekeliling lahan di bukit berubah menjadi perumahan dan lahan perumahan. Elang-elang yang dulu banyak berkeliaran di atas bukit kini lari entah ke mana. Flora-fauna Bukit Clara, menjadi korban sebuah kawasan yang dianggap mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bukit lainnya di Batam, Bukit Mata Kucing, areal hutan malah diacak-acak untuk dijadikan kawasan wisata yang mirip arena bermain anak-anak taman-kanak-kanak. Di Bukit Sei Ladi, seonggok Hotel Vista di atasnya, tentu hanya bisa dinikmati orang kaya saja; dan rawan menghadirkan bencana longsor. Di bukit-bukit cantik di Sekupang, rumah-rumah pejabat tinggi bertebaran. Di Bukitsenyum, malah dijadikan lokasi prostitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bersyukur Bukit Timah tidak berlokasi di Batam. Saya bersyukur bukit yang teridentifikasi sejak tahun 1828 tidak memuncaki Batam. Andai saja Bukit Timah di Batam, mungkin rerimbunan perawan hutannya akan dibabat, lahannya diserahkan ke developer, dan kemudian dibangun villa/perumahan yang bisa membikin banjir dan longsor pemukiman di bawahnya. Saya bersyukur Bukit Timah dirawat dengan baik, dan bisa kami nikmati sekeluarga. Meski bukit itu ada di negeri tetangga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sultanyohe@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Foto: by my&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8586177412069003820?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8586177412069003820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8586177412069003820&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8586177412069003820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8586177412069003820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2010/01/bukit-timah.html' title='Bukit Timah'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S2AfiitpAcI/AAAAAAAAAS0/UtFmMppLpoc/s72-c/Bukit+Timah+foto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1586274557818034724</id><published>2010-01-21T19:29:00.006+07:00</published><updated>2010-01-21T19:49:44.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Dilarang Pintar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;Sepuluh dari sepuluh kawan di Batam mengaku tidak pernah masuk ke perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapit dua buah toko pakaian, pintu kaca model kupu-kupu itu selalu ramai oleh lalu-lalang orang keluar masuk. Tidak lebar amat pintu itu, sekitar tiga meter saja. Dua biji alat detektor dipasang masing-masing di sisi kiri-kanan pintu tersebut. Pintu itu, sekilas mirip pintu toko-toko lain di kanan-kirinya. Yang membedakan hanya beberapa pot bunga yang diletakkan di depan pintu, aneka brosur yang tertempel di samping pintu, serta seuplik bagian mirip loket karcis bioskop jaman dulu dengan dua lubang tangan di samping kanan pintu. Dan yang paling membeda, tentu saja lalu-lalang orang yang nyaris tak pernah putus, serta isi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang jualan apa toko itu?" Mungkin Anda yang baru melihatnya akan bertanya demikian. Di Hougang Mall lantai tiga, di antara deretan toko busana, toko elektronik, salon perawatan kuku, dan pujasera, pintu itu adalah pintu masuk dari "jualan" ilmu pengetahuan. Ya, itu adalah Perpus&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S1hKJKUlomI/AAAAAAAAASs/Utx2amNl43o/s1600-h/stack_of_books2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 188px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S1hKJKUlomI/AAAAAAAAASs/Utx2amNl43o/s320/stack_of_books2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429170872045118050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;takaan Umum Hougang! Perpustakaan umum yang Anda akan bisa dapatkan ribuan koleksi buku, dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Senja di Jakarta&lt;/span&gt;-nya Muchtar Lubis hingga bigrafi tentang mantan bintang Manchester United, George Best! Beberapa waktu lalu saya sempat meminjam satu dari empat tetralogi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bumi Manusia&lt;/span&gt;-nya almarhum Pramodya Ananta Toer. Buku yang ketika saya kuliah sastra di Malang dulu, bahkan tidak ada di perpustakaan universitas. Di situ pula, saya mendapatkan buku pesanan penyair Batam, Hasan Aspahani, yang tergila-gila dengan puisi penyair Chile, Pablo Neruda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak belakang dengan pintu kaca sederhana yang lebarnya tak lebih dari tiga meter itu; di dalamnya, ruangan sebesar hampir tiga kali lapangan bola voli, Anda akan mendapat kenyamanan luar biasa. Udara sejuk berpendingin, dengan lantai yang seluruhnya dilapisi karpet tebal hangat. Anda boleh baca sambil tidur-tiduran di lantai, atau duduk mojok di kursi-kursi yang disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi paling kanan ujung, berderet belasan komputer bersambung internet yang bisa Anda nikmati sesuka hati, gratis. Ruangan utama yang memakan hampir sepertiga luas ruangan berisi ribuan buku, tersusun rapi dan dengan sangat mudahnya kita berburu koleksi buku yang kita butuhkan. Kalau kesulitan, ada mesin komputer pencari yang bisa Anda operasikan dalam berbagai bahasa, termasuk Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah ujung kiri yang disekat dengan kaca, adalah ruang buku khusus untuk anak-anak. Di dalamnya, selalu riuh oleh pemandangan orangtua yang mengejakan cerita pada anaknya, atau pembantu rumahtangga (kebanyakan asal Indonesia) yang berusaha mencegah anak majikannya agar tidak lari atau membikin gaduh. Menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk loket dengan dua lubang yang terletak di samping kanan pintu masuk, fungsinya adalah sebagai tempat pengembalian buku. Anda tinggal memasukkan buku yang akan dikembalikan ke dalam lubang, setelah bunyi "tiittt", Anda pun bebas dari buku pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan ruangan buku anak-anak, semeja panjang yang di atasnya berderet tujuh komputer yang disulap menjadi "petugas pinjam", siap melayani pinjam-meminjam buku yang Anda perlukan. Anda hanya butuh menempel kartu perpustakaan Anda di alat scan komputer itu, menscan kode buku yang Anda pinjam, berikutnya buku sudah bisa Anda bawa pulang. Dan semua Anda nikmati dengan gratis-tis, tanpa dipungut biaya. Menjadi anggota pun tak dipungut biaya, tak diminta menunjukkan batas usia. Bahkan Ken, anak saya yang saat ini berusia 2,5 tahun, sudah menjadi anggota perpustakaan pada usia pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Umum Hougang adalah satu dari sekian puluh perpustakaan di Singapura yang mungkin masuk golongan perpustakaan kecil dengan koleksi yang tak seberapa. Itu jika dibandingkan dengan koleksi Perpustakaan Nasional Singapura. Saya mungkin akan kehabisan kata-kata jika harus menggambarkan betapa dahsyatnya Perpustakaan Nasional Singapura. Tapi diskripsi itu mungkin tak terlalu penting jika melihat dari dahsyatnya manfaat yang diperoleh warganya. Menjadi orang pandai di Singapura, ternyata sangat mudah dan tak banyak memakan biaya. Di Batam, Anda hanya bisa ke Gramedia - dan tentu saja harus keluar banyak uang - untuk bisa mendapatkan buku-buku yang Anda inginkan. Sungguh kapitalis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Perpustakaan Hougang yang "kecil" itu, yang dibangun di tengah-tengah mal, tiap pekan saya mendapatkan buku kebutuhan saya. Si Ken, bisa meminjam maksimal delapan buku anak-anak yang di toko khusus anak, Edukits, satu buku mungkin harganya bisa Rp100-an ribu. Istri saya bisa meminjam belasan buku cara mengasuh anak, dan menemukan informasi bahwa menggedong erat-erat seorang bayi yang sedang demam adalah sangat berbahaya. Nenek-kakek warga Hougang bisa mendapat informasi daerah asal mereka dari koran-koran internasional. Bahkan pembantu asal Indonesia bisa mendapatkan novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; yang dianggap fenomenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam, sepuluh rekan berpendidikan lumayan yang saya tanya apakah pernah datang ke perpustakaan Batam, semuanya menjawab tidak pernah. Bahkan di mana lokasi perpustakaannya pun mereka tak tahu. Ironis! Sama ironisnya dengan "kehebatan" pemerintah kita memberikan lahan strategis untul mal ketimbang sarana-sarana yang bisa memintarkan rakyatnya. Sama ironisnya ketika muncul kebijakan untuk memakai Dana Abadi Umat (DAU) yang triliunan rupiah itu untuk mengongkosi pejabat-pejabat naik haji ketimbang mencetak tafsir Alquran yang bisa disebarkan dan memintarkan masyarakat Indonesia. Sama ironisnya ketika mengkavling-kavling pantai yang indah hanya untuk diberikan pada pengusaha hotel-hotel berbintang. Dan rakyatnya, dipaksa untuk menjadi bagian dari kapital untuk kemudian hanya kebagian sampahnya saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benak saya, kadang menyembul lamunan yang isinya begini: Singapura yang katanya negara kapital, kok justru sangat sosial (is) memperlakukan rakyatnya. Di Batam dan Indonesia, orang miskin dilarang jadi pintar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Foto pinjaman Google!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1586274557818034724?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1586274557818034724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1586274557818034724&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1586274557818034724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1586274557818034724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2010/01/dilarang-pintar.html' title='Dilarang Pintar'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S1hKJKUlomI/AAAAAAAAASs/Utx2amNl43o/s72-c/stack_of_books2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-2666587653419670347</id><published>2010-01-13T19:04:00.002+07:00</published><updated>2010-01-13T19:11:24.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Andai Gus Dur di Samping Saya</title><content type='html'>Saya membayangkan Gus Dur ada di samping saya ketika melihat pemandangan ini: menyaksikan seorang pria muda etnis India yang kulit legamnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;naudzubillah &lt;/span&gt;sedang jalan mesra dengan seorang gadis Tionghoa bertank-top krem yang sebagaian pundaknya terbuka gila. Kulit putih si gadis itu seperti pualam, mulus tanpa&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S024PepQdTI/AAAAAAAAASk/8Hlcwl9P-TM/s1600-h/gusdurbatamseksi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 227px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S024PepQdTI/AAAAAAAAASk/8Hlcwl9P-TM/s320/gusdurbatamseksi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426195702114972978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; noda. Sesekali, tengan legam si India meraih pinggul si gadis: keduanya kemudian jalan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lenggang kangkung&lt;/span&gt; bak macan lapar, memamerkan kemesraan, menunjukkan bahwa perbedaan bisa dipersatukan. Di Stasiun MRT Harbour Front akhir pekan lalu, sayangnya saya menyaksikan adegan itu seorang diri. Dengan segala sedih yang hingga kini masih tersisa, saya yakin Gus Dur kini tenang beristirahat di Jombang sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencintai Gus Dur bukan karena bapak-ibu saya anggota fanatik Nahdlatul Ulama. Atau karena sejak kelas 4 madrasah saya dijejali pelajaran aswaja (ahlusunawaljamaah: ke-NU-an). Saya mencintainya karena penghargaannya yang luar biasa atas keanekaragaman. Bahwa manusia diciptakan tidak hanya berkulit legam seperti pria muda India yang saya saksikan itu, atau si cewek Tionghoa yang kulit mulusnya bak pualam itu. Dengan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Gus Dur mengusahakan keragaman itu menyatu di Indonesia. Sekian lama berjuang, justru saya menyaksikan sebuah praktik keanekaragaman yang begitu harmonis di Singapura. Negeri yang hanya berjarak 22 mil laut dari Batam. Saya yakin jika Gus Dur ada di samping saya ketika menyaksikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lenggang-kangkung&lt;/span&gt; sepasang sejoli di Harbour Front MRT tadi, dia akan menangis lirih. Sembari mendongengkan sebuah harapan tentang Indonesia yang benar-benar berbhineka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wara-wiri&lt;/span&gt; di S'pore, terkadang saya bosan menyaksikan kesempurnaan negeri seluas 700-an kilometer persegi itu. Saya bosan menuliskan kesempurnaan di sana lewat rubrik "Rasa Singapura" di koran saya bekerja. Tapi bagaimanapun juga kita harus mengakui, sebuah negara makmur dengan nasionalisme yang begitu menggelora, dibangung di atas keragaman. Di Spore: jika Anda orang India yang berdaya upaya, Anda akan berkesempatan menjadi orang luar biasa. Jika Anda Melayu yang mumpuni, Anda akan tampil memimpin. Jika Anda Tionghoa yang berdedikasi tinggi, Anda akan meraih kesuksesan. Dengan diskriminasi, negara hanya akan terjerumus pada permusuhan tak berkesudahan. Di Batam - Kepri - ini: me-Melayukan pegawai pemerintahan tentu bukan solusi, me-Tionghokan bidang usaha akan sangat berbahaya, membabukan Jawa tentu sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, bibit kebencian etnis sekecil apa pun berusaha dienyahkan pemerintah. Tentara, polisi, pegawai pemerintah adalah siapa Anda yang warga negara Singapura, apa pun etnisnya. Di tempat-tempat umum, penanda ketertiban umum ditulis dengan aneka bahasa: Melayu-Inggris-India-Tionghoa. Iklan-iklan layanan masyarakat berusaha menampilkan dan mengikutsertakan semua lapisan etnis dan agama. Pemerintah selalu merangkul semua etnis rakyatnya dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ada televisi dan koran khusus Tionghoa, tapi ada juga yang spesial untuk Melayu dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan mudah menemukan wanita India lengkap dengan busana sarinya dan aneka ragam noda tanda ibadah di wajahnya. Di Bulan Hantu-nya Tionghoa, pemerintah tak akan berani mendenda orang-orang yang membakar aneka rupa barang sesembahan di jalan-jalan yang selalu menciptakan segunung sampah. Para Muslim/ah bebas mengenakan busana tertutup, bebas melaksanakan ibadah salat tanpa takut dianggap menkorupsi waktu. Dari semua itu, maka lahirlah generasi-generasi yang tak mempedulikan etnis dan hanya menghargai kemanusiaan. Keanekaragaman tentu tak bisa diseragamkan, keanekaragaman harus dilestarikan. Sebagaimana si pria India yang berpacaran dengan gadis Tionghoa yang saya temui di Stasion MRT Harbour Front akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak sebiji sejoli itu saja yang kebetulan saya temui yang kemudian mendasari saya menyusunan artikel ini. Di mana-mana saya kerap menyaksikan orang Tionghoa - etnis yang dianggap paling tertutup di antara tiga etnis besar di Singapura - bisa bermesraan bahkan bercinta-cintaan dengan pasangan dari etnis-etnis yang lain. Kedai-kedai yang menjual masakan babi bisa berjualan berdampingan dengan warung masakan Muslim. Menyaksikan seorang Melayu yang menyodorkan uang sekedarnya bagi pengamen Tionghoa. Atau menyaksikan pesta-pesta yang dijejali tawa dan canda aneka bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Gus Dur ada di samping saya. Mungkin dia akan sangat berduka, usahanya yang sedemikian keras untuk menyatukan keanekaragaman (bukan menyeragamkan), justru dengan sempurna bisa dilaksanakan di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultanyohe@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto pinjam JPNN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-2666587653419670347?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/2666587653419670347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=2666587653419670347&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2666587653419670347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2666587653419670347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2010/01/andai-gus-dur-di-samping-saya.html' title='Andai Gus Dur di Samping Saya'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/S024PepQdTI/AAAAAAAAASk/8Hlcwl9P-TM/s72-c/gusdurbatamseksi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-80484178816814300</id><published>2009-12-01T17:33:00.005+07:00</published><updated>2009-12-01T18:02:50.092+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Pembunuh!</title><content type='html'>Saya berdoa, semoga arwah para penumpang Kapal Ferry Dumai Express 10 menghantui para pendosa yang "membunuh" mereka. Membayangi di tiap tidur para "pembunuh" itu hingga tak bisa tidur nyaman seumur hidup mereka. Membayangi para "pembunuh" agar malam-malam tak berani ke kamar mandi untuk kencing, biar batu ginjal mereka meradang, dan pada akhirnya mati, menyusul para arwah tanpa dosa itu.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SxTy4Ya6iEI/AAAAAAAAASc/-qas7Gw4yKg/s1600/DSC_2192.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SxTy4Ya6iEI/AAAAAAAAASc/-qas7Gw4yKg/s320/DSC_2192.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410216102820743234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar! Bukankah puluhan nyawa itu melayang karena ferry yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Karimun, Minggu lalu? Tentu mereka bukan korban pembunuhan! Mereka tewas karena dimakan laut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emangnya &lt;/span&gt;di Indonesia ini ada yang sanggup membunuh puluhan orang dengan sekali tebas? Bukankah pelajaran sosial dan Pancasila dulu mengajarkan kita untuk saling mengasihi? Sumanto yang tega makan mayat mungkin dianggap kurang waras. Tapi tragedi tenggelamnya Dumai Express 10 itu bukan pembunuhan! &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudut pandang dari musibah itu adalah takdir, memang musibah tenggelamnya Dumai Express bukan sebuah pembunuhan. Tapi lihatlah bagaimana ferry-ferry Batam- Singapura dengan gagahnya membawa ribuan penumpang. Seingat saya, selama selama hampir enam tahun saya kerap bolak-balik Batam-Spore-Batam, tanpa ada angka kecelakaan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zero risk, zero accident! &lt;/span&gt;Melayar malam gak masalah, ombak besar pun diterjang. Tapi, enam tahun tanpa angka kecelakaan berarti! Dan Anda yang tiap hari melanggani koran di Kepri, pasti sudah terbiasa dengan banyaknya catatan kecelakaan ferry Batam-Tanjungpinang. Kandasnya kapal jurusan Karimun, bahkan kapal pengangkut Gubernur Ismeth Abdullah pun sempat hendak karam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut Kepri seperti "malaikat pencabut nyawa". Berita temuan mayat yang mengapung di lautan karena menjadi korban keganasan laut seperti halnya berita basi yang tiap hari bisa dengan mudah kita temui. Tapi, kenapa "malaikat pencabut nyawa" itu tidak mempan untuk kapal jurusan Batam-Singapura? Jika sudah demikian, saya tak ingin menggiring &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pembaca&lt;/span&gt; untuk tidak percaya takdir! Karena, ternyata "malaikat pencabut nyawa" yang saya maksud, takut dengan segenap aturan ketat pelayaran yang diterapkan otoritas laut Pemerintah Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal komersial yang berlayar masuk dan keluar Singapura memang tidak boleh kapal sembarangan. Apalagi di dalam kapal itu membawa warga negara Singapura! Tanpa perlu mengutip seabrek pasal peraturan yang bikin pusing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pembaca&lt;/span&gt;, secara kasat mata kita sudah tahu selayak apa kapal yang boleh ditumpangi orang. Bagaimana kelengkapan pengamanannya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;life jacket &lt;/span&gt;ditempatkan di tempat yang sangat mudah dijangkau, pelampung memadai, dan setiap akan berangkat berlayar, televisi pasti akan menayangkan bagaimana cara menyelamatkan diri seandainya ada masalah dengan kapal. Tanpa bosan-bosan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat sebelum kapal berlayar dari Pelabuhan Harbour Front, saya kerap memperhatikan beberapa petugas pelabuhan memasuki kapal. Mengecek apa saja seisi kapal, terutama perlengkapan keamanan. Hal yang sama sekali tidak pernah saya temui di pelabuhan-pelabuhan di Batam. Dan jangan harap, ada kapal yang berani mengangkut penumpang secara berlebih! Enam tahun saya bolak-balik Batam-Spore, tidak pernah saya mendapati hal itu. Bahkan pagi kemarin saat ribuan orang Spore, ber-Hari Raya Haji di Batam, tak satupun yang tak kebagian tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pekan silam saya berlayar ke Tanjungpinang. Dari Pelabuhan Punggur, siapa pun yang beli pass masuk seharga Rp7.500, dengan leluasa bisa keluar masuk kapal ferry. Tiket boleh beli di atas kapal. Alhasil, siapa pun yang ingin berlayar dan selama kapal sanggup memasukkan tubuhnya, bisalah dia berlayar. Petugas KPLP pura-pura tak tahu, petugas syahbandar doyannya nongkrong nenggak kopi. Oknum-oknum aparat yang seenaknya menitipkan teman dan kerabat. Orang kapal? Tentu saja lebih suka muat banyak penumpang agar dapat keuntungan lebih besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah tentu tahu! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha wong&lt;/span&gt; para pembesar-pembesar Kepri ini tiap hari pulang-pergi Batam-Pinang. Dengan mata kepala mereka sendiri, tentu saja mereka sering menyaksikan manusia-manusia yang digiring mendekati maut. Dan puncaknya adalah hari Minggu lalu. Ketika Kapal Dumai Express 10 yang tak diketahui pasti berapa jumlah penumpangnya, tenggelam di perairan Karimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, tentu boleh dianggap bahwa puluhan korban Dumai Express yang tewas tenggelam sebagai korban "pembunuhan". Pembunuhan oleh pura-pura ketidaktahuan petugas akan keselamatan penumpang. Pembunuhan atas nama keuntungan. Pembunuhan oleh pemerintah kita yang kurang beradab!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Lawan pembunuh!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?view=article&amp;amp;catid=24%3Arasa-singapura&amp;amp;id=742%3Apembunuhan&amp;amp;option=com_content&amp;amp;Itemid=89"&gt;http://posmetrobatam.com/index.php?view=article&amp;amp;catid=24%3Arasa-singapura&amp;amp;id=742%3Apembunuhan&amp;amp;option=com_content&amp;amp;Itemid=89&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rage Against The Bad PNS (pegawai negeri santaei-sadis)!!!&lt;br /&gt;*Foto oleh saya, lokasi di Tanjung Sebauk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-80484178816814300?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/80484178816814300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=80484178816814300&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/80484178816814300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/80484178816814300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/12/pembunuh.html' title='Pembunuh!'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SxTy4Ya6iEI/AAAAAAAAASc/-qas7Gw4yKg/s72-c/DSC_2192.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5817896880736788006</id><published>2009-11-25T17:27:00.004+07:00</published><updated>2009-11-25T17:35:37.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Toilet</title><content type='html'>Jika ingin menyelami sifat, kebiasaan, serta kebusukan rekan atau kenalan Anda, bertandanglah ke rumah mereka dan longoklah toiletnya! Perhatikan apakah bulu sikat gigi si pemilik rumah sudah aus banget tapi tak diganti-ganti; atau tempat sabun yang belepotan busa. Mungkin juga dinding kamar mandi rekan Anda sudah menghijau oleh lumut tak terjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah sebaliknya, lantai bersih, jambang licin mengkilap, dan semua peralatan pembersih diri tertata rapi. Anda akan bisa meraba-raba sifat dan prilaku asli seseorang dari toilet rumah mereka. Karena, seseorang yang memperlakukan dirinya dengan baik, orang yang bertanggungjawab pada diri sendiri - juga kepada orang lain - tentu tak akan membiarkan toiletnya seperti kapal pecah. Dan di Singapura, nyaris semua toilet umum yang pernah saya nikmati semuanya bersih, mengkilap, dan wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali satu: toilet di ruang (dalam) tunggu penumpang Pelabuhan Harbour Front!!!&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sw0IGxHyoiI/AAAAAAAAASU/eW__XCzwsDY/s1600/j0422503-main_Full.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 191px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sw0IGxHyoiI/AAAAAAAAASU/eW__XCzwsDY/s320/j0422503-main_Full.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407987639900086818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, toilet yang saya sebut terakhir ini memang luar biasa jorok jika dibanding lima toilet di seantero bangunan Harbour Front. Toilet terbaik di empat lantai Harbour Front menurut saya ada di lantai tiga, dekat konter pembelian tiket kapal Feri Batam-Singapura. Toilet yang didesain tanpa pintu itu benar-benar dibuat dengan pertimbangan kesehatan. Membuang daun pintu dan menggantinya dengan desain lorong masuk yang membelok, pengguna toilet tak perlu takut diintip, dan terpenting tak lagi harus mencemarkan tangan dari bakteri-bakteri yang biasa menempel saat kita mengongkek pegangan pintu. Dilengkapi toilet khusus penderita cacat, Anda yang terbiasa membersihkan pantat dengan cebok pun disediakan toilet khusus dengan air cebokan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai di toilet tingkat tiga itu selalu dijaga agar tetap bersih dan bebas genangan air. Tentu saja tak ada retak atau benda-benda membahayakan selayaknya toilet umum di Batam yang tak jarang dana pembangunannya dikorupsi hingga menghasilkan toilet berkualitas buruk yang penuh jebakan bahaya. Tisu selalu tersedia, begitu juga mesin pengering tangan yang selalu berfungsi dengan sempurna. Empat toilet lainnya, kondisinya nyaris serupa: bersih, terawat, dan sangat memanusiakan penggunanya. Kecuali satu: toilet di ruang (dalam) tunggu penumpang Pelabuhan Harbour Front!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, toilet terburuk di Harbour Front sebagian besar dipergunakan oleh orang Indonesia. Ya, karena letaknya di ruang tunggu pemberangkatan yang hanya bisa diakses pemegang tiket feri, toilet itu nyaris dipergunakan orang Indonesia. Anda yang sempat ke Singapura, cobalah membandingkan toilet lain di Harbour Front dengan toilet satu ini. Di toilet ruang tunggu ini, aroma "Indonesia"  terasa sekali: tisu berserakan, jambang tidak dibilas dengan sempurna, air kencing lari ke mana-mana, air ludah terserak, lantai tergenang, gulungan tisu tersobek tak karuan, bahkan (maaf) saya kerap melihat sisa tinja yang masih mengambang di jambangan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hii.., jijay bajay...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tidak ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cleaning servis&lt;/span&gt; yang membersihkan jika kondisi toilet tersebut sangat jorok. Setiap kali saya menunggu feri yang akan membawa saya pulang ke Batam, saya memperhatikan, beberapa puluh menit sekali selalu ada petugas pembersih yang datang ke sana. Begitu bersih, sesaat kemudian toilet yang malang itu kembali kotor. Pemakainya lah yang terlalu egois dan tak bertanggungjawab saat menggunakan toilet hingga menyisakan kotoran yang kemudian harus "dinikmati" orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah fakta ini membuktikan bahwa orang kita kurang bertanggungjawab? Jawabannya tentu ada di kepala masing-masing Pembaca. Anda yang terbiasa seenaknya menggunakan toilet, mungkin bisa segera mengubah kebiasaan itu jika tidak ingin sifat asli Anda terbongkar. Anda yang kerap menyunat sebagian dana pembangunan toilet tentu bisa berkaca, bahwa perbuatan itu sama joroknya dengan pemandangan tinja mengambang di jambangan. Toilet bisa menjadi tempat belajar yang menarik sekaligus "ruang pribadi" yang bisa dipakai merenung mencari inspirasi. Toilet bisa menelanjangi kebaikan sekaligus keburukan Anda. Dan di Singapura? Saya bertanya-tanya, kenapa masih ada sebuah toilet yang begitu menjijikkan? Sialnya, itu banyak dipakai "orang kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan lain "Rasa Singapura" bisa dibaca di &lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=category&amp;amp;id=24&amp;amp;Itemid=89"&gt;http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=category&amp;amp;id=24&amp;amp;Itemid=89&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Foto ilustrasi dari Google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5817896880736788006?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5817896880736788006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5817896880736788006&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5817896880736788006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5817896880736788006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/11/toilet.html' title='Toilet'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sw0IGxHyoiI/AAAAAAAAASU/eW__XCzwsDY/s72-c/j0422503-main_Full.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6365568345069839681</id><published>2009-11-11T18:32:00.003+07:00</published><updated>2009-11-11T18:49:55.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasa Singapura'/><title type='text'>Hadiah Langka di Pagi Cerah*</title><content type='html'>Di Kovan, salah satu distrik pemukiman kelas menengah-bawah warga Singapura, laki-laki itu bersiul-siul gembira. Tubuhnya sedang semampai, kulit Tionghoanya memerah oleh sinar matahari pagi, di awal hari 23 Oktober silam. Otot-ototnya indah menjalari sekujur tubuh. Topi coklat yang lusuh, dengan sekenanya menutup rambut di kepala yang sudah mulai memanjang. Jari-jemari di tangan kanannya lincah memainkan rokok lintingan sendiri. Terpenting, mulutnya menyungging senyum pada saya, ketika tubuh saya sudah setengah masuk bus kota yang akan membawa saya ke Hougang, salah satu distrik pemukiman lain di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di anak-tangga di bawah petirisan sebuah bangunan toko yang belum buka, siulan laki-laki itu panjang dan membentuk irama gembira. Saya seperti akrab dengan irama siulan itu, tapi hingga tulisan ini saya buat, saya gagal menebak-nebak apa judul lagu gembira itu. Mungkin penggalan siulan yang tertangkap telinga saya terlalu pendek, atau otak ini terlalu bodoh untuk mengingat sesuatu. Tapi, sudahlah! Yang penting pagi itu, saya mendapat "hadiah" yang cukup langka: sebuah senyum dan nyanyian gembira dari orang Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, senyum adalah "hadiah" langka di negeri seuplik tetangga kita tersebut. Nyaris lima tahun menyetubuhi Negeri Singa, bahkan saya tak tahu nama tetangga yang tinggal tepat di depan apartemen kami tinggal. Jika kebetulan ketemu di lift dengan mereka, hanya anggukan tanpa kesan yang kami lakukan. Jika kita bersenggolan dengan sesama penumpang bus atau MRT, hanya maaf yang terucap dari mereka. Tanpa senyuman akrab. Tanpa keintiman! Bahkan ketika kebiasaan saya senyum dengan semua orang yang saya temui masih saya lanjutkan di negeri ini, saya kerap khawatir senyum saya diartikan sebagai sebuah ketidak-sopanan. Karenanya, senyuman saya tak pernah terbalas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keintiman! Mungkin inilah yang membuat para koruptor yang kini bermukim di Singapura berusaha sedaya upaya untuk bisa kembali pulang ke Tanah Air. Melobi sana-sini untuk mencari celah hukum agar kasusnya bisa diselesaikan. Saya membayangkan bagaimana tersiksanya Anggoro Widjojo yang statusnya dinyatakan buron oleh KPK, sepanjang hari hanya bisa duduk diam di apartemen mewahnya di - mungkin - di Kawasan Bukit Timah (Stttt! Ini kawasan elit favorit koruptor Indonesia lho). Tanpa bisa nongkrong ngopi sambil kongkow-kongkow lagi di warung-warung favoritnya di Jakarta dan Surabaya, tempat asal Anggoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga kerap membayangkan buronan lainnya, Maria Pauline, pembobol Bank BNI, hanya bisa menghabiskan hari-harinya di depan televisi. Tanpa dikelilingi banyak sanak saudara dan rekan dekat yang menemani. Mau keluar rumah pun enggan karena tak kenal tetangga kiri-kanan. Ingin jalan di Orchird Road takut dimata-matai teliksandi. Lalu, apa enaknya uang segudang jika keintiman tak terpenuhi? Seperti penyair dengan puisi-puisi "lapar" mereka, padahal yang ia tahu cuma buku-buku teori dan seuplik ruang di kamar kerjanya saja. Omong kosong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke "hadiah" langka yang saya dapat di pagi 23 Oktober lalu itu. Ketika itu jarum jam kira-kira di angka delapan pagi. Langka, karena memang saya baru pertama kali melihat seorang Singapura sebahagia di hari sepagi itu. Jika saja bus yang saya tumpangi tidak segera berangkat, saya mungkin akan sekedar menyamperi dia. Sekedar berbagi rokok Indonesia dengan dia sembari mengobrol apa adanya. Oh..., nikmat benar! Berkepul-kepul dengan asap rokok di pagi yang cerah, sembari mengobrol dengan lelaki yang terlihat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski segalanya serba tertib, teratur, aman-tentram, sejahtera, penjabatnya tak korup, serta polisinya yang tak pernah "menakut-nakuti" warganya, kata "bahagia" sungguh sangat-sangat sulit ditemui di jalan-jalan di Singapura. Di Asia, Singapura menempati urutan ke-49 negara terbahagia. Untuk urusan ini, Indonesia patut berbangga. Meski rakyatnya kerap dikibuli pejabat-pejabat pamong praja dan bapak-ibu wakil rakyat yang katanya terhormat, tapi Indonesia berhak menduduki posisi ke-16. Jauh lebih bahagia dibanding Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu tidak bisa menjelaskan secara detil kenapa mereka tak bisa sebahagia kita. Tapi, sepengamatan saya, keintiman adalah hal utama yang hilang dari negeri yang pejabat tingginya tercatat bergaji tertinggi di dunia itu. Antar-tetangga tidak saling kenal, antar-keluarga sudah putus silaturahi. Antar-teman kerja hanya ada hubungan profesional. Setiap orang sepertinya selalu diburu waktu untuk menghasilkan uang, untuk menjamin kelayakan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri sehebat Singapura ini, saya justru menemukan bahagia pada lelaki bertubuh semampai yang hanya sanggup menghisap rokok lintingan. Saya juga asyik mendengar canda saru dan nakal pedagang-pedagang pasar loak di Thief Market, Singapura. Uang, sekali lagi terbukti tak mampu membeli sebuah kebahagiaan. Lebih-lebih jika uang yang didapat dari hasil mengkibuli rakyat miskin seperti di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, dukung KPK!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sultanyohe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Tulisan Rasa Singapura yang lain, bisa disimak di &lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=category&amp;amp;id=24&amp;amp;Itemid=89"&gt;http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=category&amp;amp;id=24&amp;amp;Itemid=89&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6365568345069839681?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6365568345069839681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6365568345069839681&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6365568345069839681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6365568345069839681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/11/hadiah-langka-di-pagi-yang-cerah.html' title='Hadiah Langka di Pagi Cerah*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5712270916643122050</id><published>2009-04-20T15:28:00.009+07:00</published><updated>2009-04-20T15:57:37.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Bocah di Beratus Pulau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew4oE-1RXI/AAAAAAAAAR0/2matUTgFRYE/s1600-h/Foto-1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew4oE-1RXI/AAAAAAAAAR0/2matUTgFRYE/s320/Foto-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326694720455656818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratus pulau, beratus pula kisah tentang bocah penghuninya. Dari kisah gembira dengan kapal mainan kayu buatan sendiri, hingga cerita sedih kehilangan sebagian waktu masa kecil karena harus membantu orangtua mencari nafkah. Inilah yang tersimpulkan dari beberapa pekan saya mengunjungi beberapa kampung pesisir tua di Kepulauan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah saya awali dari Kampung Kertang, di dekat Jembatan III Barelang. Kamera seolah tak tahan untuk segera mengabadikan bocah bernama Tedi Syahputra yang tengah asyik bersama seorang rekannya main kapal kayu buatan mereka sendiri (foto 1). "Om... foto om, foto!" mereka berteriak-teriak minta saya memfotonya. Sangat menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan di Kertang tersambung ketika dua bocah lainnya meminta saya memfotonya (foto 2). Berpose sekenanya, perut saya mengeras oleh tawa yang tak tertahan manakala melihat hasil foto bersama dua bocah ini. "Mana gigi kalian?" tanya saya pada mereka. Tapi, tanpa menjawab keduanya segera kabur berlari sambil tertawa-tawa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kegembiraan itu sedikit menguap ketika di kejauhan, seorang bocah menyembulkan kepala dengan malu-malu di jendela (foto 3) rumah papan milik orangtuanya. Ketika pandangan kami bertemu dan saya memberi isyarat untuk memfoto dia, kepalanya berangsur diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tanjung Sebauk di Pulau Bintan, saya ditemani bocah bernama Heikal ketika menjelajah pantai yang dipenuhi tanaman laut tersebut (foto 4). Dengan membawa sebuah keranjang tampar, setiap beberapa meter dia menghentikan langkahnya. Meraba-rabakan tangannya di dasar pantai, untuk kemudian memungut sesuatu. ''Gonggong," katanya. ''Seratus biji dijual 30 ribu. Sehari saya bisa dapat duaratus biji,'' rinci Heikal ketika saya tanya berapa penghasilannya sehari. Untuk ukuran saya, penghasilan Heikal lebih dari lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Belakangpadang lain lagi kisah yang saya dapatkan. Di bagian pulau eksotis yang bernama Dapur Arang, saya temui beberapa bocah yang asyik bermain di pemakaman Tionghoa. Seorang bocah bertampang sangar menghampiri saya dan memohon berbagi rokok yang tengah saya hisap. ''saya sudah nggak sekolah Om. Jadi sudah biasa merokok," kata bocah itu. Saya beri sebatang dan dia minta saya untuk memfotonya ketika tengah asyik menghisap rokok (foto 5). Sesudahnya, rekan-rekannya yang lain segera mengerubutinya, minta jatah menghisap rokok. Jadilah pemandangan yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di Belakangpadang, saya sempat berpapasan dengan tiga bocah dengan gembira bermain kompang (foto 7) usai sekolah, dan "Popeye" junior yang dengan sangat berani duduk di atas perahu yang akan membawanya pulang sekolah (foto 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kampung Agas, Tanjunguma, rasa bersalah saya terus meronta-ronta ketika memfoto sejumlah bocah yang tengah belajar di rumah milik seorang warga, Sitepu (foto 8 dan 9). Sitepu yang juga bertindak sebagai guru menjelaskan, semua anak didiknya adalah anak tetangga-tetangganya sendiri. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tidak bisa belajar di sekolah resmi. Begitu ironis, jika mengingat sepelemparan batu dari rumah Sitepu, berdiri megah Pasar Induk Jodoh senilai puluhan miliar yang mangkrak, Pacific Diskotique, serta DC Mall yang wangi itu&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31u9mXnI/AAAAAAAAARs/9tbK_HSnOrU/s1600-h/Foto-2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 202px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31u9mXnI/AAAAAAAAARs/9tbK_HSnOrU/s320/Foto-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326693855551446642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31s53YtI/AAAAAAAAARk/UXW0NNfl31M/s1600-h/Foto-3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31s53YtI/AAAAAAAAARk/UXW0NNfl31M/s320/Foto-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326693854998913746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31QauL5I/AAAAAAAAARc/C9EwQAsjC4M/s1600-h/Foto-4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew31QauL5I/AAAAAAAAARc/C9EwQAsjC4M/s320/Foto-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326693847352094610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2ieO1ntI/AAAAAAAAARU/d4RNp8rwkqc/s1600-h/Foto-5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2ieO1ntI/AAAAAAAAARU/d4RNp8rwkqc/s320/Foto-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326692425131204306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2iTJSn6I/AAAAAAAAARM/H80V5-pZmr0/s1600-h/Foto-6.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2iTJSn6I/AAAAAAAAARM/H80V5-pZmr0/s320/Foto-6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326692422155149218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2iIyvxwI/AAAAAAAAARE/X59yG8yWRaE/s1600-h/Foto-7..jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2iIyvxwI/AAAAAAAAARE/X59yG8yWRaE/s320/Foto-7..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326692419376236290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2hwj3WmI/AAAAAAAAAQ8/nmAEyNsD_IM/s1600-h/Foto-8..jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 218px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2hwj3WmI/AAAAAAAAAQ8/nmAEyNsD_IM/s320/Foto-8..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326692412871367266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2hxDb5xI/AAAAAAAAAQ0/WRcGr8Z239Y/s1600-h/Foto-9.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew2hxDb5xI/AAAAAAAAAQ0/WRcGr8Z239Y/s320/Foto-9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326692413003786002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5712270916643122050?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5712270916643122050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5712270916643122050&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5712270916643122050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5712270916643122050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/04/bocah-di-beratus-pulau.html' title='Bocah di Beratus Pulau'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/Sew4oE-1RXI/AAAAAAAAAR0/2matUTgFRYE/s72-c/Foto-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-2794895075942696195</id><published>2009-04-02T18:57:00.006+07:00</published><updated>2009-04-02T19:32:39.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>Seperti Artis, Menggunjing Aris</title><content type='html'>Beberapa pertanyaan, baik langsung maupun lewat SMS, Kamis, 2 April kemarin banyak menghampiri saya. Inti semua itu mempertanyakan pemilihan judul saya di halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coverstory&lt;/span&gt; POSMETRO edisi hari yang sama. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seperti Artis, Menggunjing Aris,"&lt;/span&gt; kalimat inilah yang saya pilih sebagai judul, dan kemudian menjadi penyebab SMS dan pertanyaan itu bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berita ini diturunkan pun redaktur pelaksana saya bertanya apakah judul itu tidak terlalu "melebar-memanas". Tapi saya kadung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kesengse&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;m&lt;/span&gt; dengan judul itu. Butuh energi sebesar dua piring nasi plus secangkir kopi kental untuk menemukan judul yang pas - menurut saya -  seperti itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, cum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a bercanda, haha...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya artikel berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seperti Artis, Menggunjing Aris"&lt;/span&gt; adalah berita biasa. Bahkan sangat biasa menurut saya. &lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=402&amp;amp;Itemid=9"&gt;Isinya tentang Aris (Aris Hardy&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SdSwOfjMGyI/AAAAAAAAAPk/uy8yD3m9Nhk/s1600-h/ilustrasi-seperti-aris.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 356px; height: 374px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SdSwOfjMGyI/AAAAAAAAAPk/uy8yD3m9Nhk/s320/ilustrasi-seperti-aris.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320070822865148706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=402&amp;amp;Itemid=9"&gt; Halim, Wakil Ketua DPRD Batam) yang ditengarai menggunakan mobil milik Pemerintah Kota Batam sebagai alat kampanye dia mencalonkan diri kembali. &lt;/a&gt;Pelanggaran-pelanggaran seperti ini sudah sangat sering terjadi. Beberapa tulisan serupa juga sudah sering diturunkan POSMETRO menjelang Pemilihan Umum 2009 ini. Bahkan POSMETRO menjadi satu-satunya koran di Batam yang pernah menurunkan berita dugaan politik uang yang menyangkakan Raja Mustakim, caleg Partai Golkar untuk DPRD Kepri. Tak tahu kenapa koran lain di Batam ogah menulis berita semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi &lt;a href="http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=477&amp;amp;Itemid=9"&gt;berita lanjutan&lt;/a&gt; tentang Aris yang terbit pada Kamis, 2 April itu, berita lanjutan di halaman yang sama: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coverst&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ory&lt;/span&gt;. Halaman yang sejak lahir 1 September 2008 silam hingga sekarang, saya yang menggawangi (kecuali untuk terbitan Minggu, karena Sabtu saya libur dan harus menjenguk anak-istri di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Singhapur&lt;/span&gt;). Isi berita itu sangat bisa. Melanjutkan kasus dugaan pelanggaran Aris yang isinya cuma konfirmasi dari pihak sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula ketika diusulkan sebagai artikel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coverstory&lt;/span&gt;, saya menolak. Pikir saya, artikel ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; mutu dan sangat-sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klise&lt;/span&gt;. Apalagi tiga wartawan yang menulis artikel itu hanya mengulang-ulang (baca: mempertegas) pernyataan di berita lama tanpa memberikan hal baru. Sebelum kemudian Nur Syahrullah, wartawan yang ngepos di DPRD dan Kantor Pemko, bercerita bagaimana hebohnya gedung DPRD dan Kantor Walikota atas berita pertama Aris. ''&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kabeh podo ngomongin Aris, Cak&lt;/span&gt;,'' kata Nur kepada saya dalam bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: 'Semua pada membicarakan Aris, Bang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap di otak saya membayang, betapa populernya Aris saat ini. Seperti artis yang tengah naik daun, Aris digunjingkan di sana-sini oleh rekan sejawatnya di DPRD. Digunjingkan pejabat-pejabat birokrasi di Pemko Batam. Kemudian, saya dudukkan si Nur di depan komputer saya. Saya suruh dia mengetik sedikit diskripsi seperti apa gunjingan-gunjingan tentang Aris berlangsung di DPRD dan Pemko. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan cerita dari Nur beres. Berikutnya giliran saya mempercantik dan membuat artikel enak dibaca. Satu jam kemudian artikel pun selesai, dan judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seperti Artis, Menggunjing Aris"&lt;/span&gt; telah terlayout dengan rapih lewat tangan &lt;a href="http://dobbyart.blogspot.com/"&gt;Dobby Fahrizal&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa saya tempelkan foto Aris yang benar-benar berpose seperti artis untuk bisa memperkuat artikel. Untuk yang terakhir ini, saya sampai harus minta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;file&lt;/span&gt; foto dari fotografer &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;, Iman Wahyudi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;File-file&lt;/span&gt; foto Aris yang dimiliki POSMETRO, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndilalah... &lt;/span&gt;nyaris semuanya menampilkan Aris yang sebenar-benarnya politikus. Tidak ada Aris yang "artis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, inilah bibit kekhawatiran dan pertanyaan rekan-rekan atas judul saya di atas. Kenapa Aris ditampilkan semirip artis? Saya seperti melecehkan anggota dewan yang terhormat. Wakil Ketua, lagi. Dari Partai Keadilan Sejahtera, pula. Partai yang mengklaim sebagai partai anti-tipu-tipu, anti-bohong, anti-korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pertanyaan saya jawab sekenanya: "Suka-suka saya memilih judul itu, hehehe...". Tapi jika menyimak proses lahirnya artikel di atas, sudah terjawab dengan jelas kenapa saya memilih judul "Seperti Artis, Menggunjing Aris." Dalam tatanan jurnalistik dan etika berbahas, judul itu tak masalah. Tapi benarkah saya melecehkan anggota dewan yang katanya terhormat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, terserah siapa yang menilai. Sebagai penanggungjawab halaman, saya berkewajiban memastikan artikel yang disetor ke saya sesuai kaidah jurnalistik dan enak dibaca. Titik. Apakah nanti artikel itu menjadi "melebar-memanas", itulah efek sebuah berita. Ada aksi ada reaksi. Ada orang melanggar, tentu akan ada proses penegakan hukum. Makanan yang kita makan malam sebelumnya, sudah pasti besoknya akan keluar menjadi taik. Ini demokrasi, bung! Selama semua sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan, semuanya akan aman-aman saja. Dan jika ada yang tersinggung, saya malah mempertanyakan tingkat kedewasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Presiden SBY, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;big-big-big bos&lt;/span&gt; (maksudnya saking tingginya jabatan) saya Dahlan Iskan beberapa waktu lalu menyindir, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah dewasa; dunia usaha cukup dewasa; pers sudah belajar cepat dan kini tumbuh menjadi lebih dewasa; sialnya, politikus dan birokrat kok masih saja seperti anak-anak remaja. Suka ngambek dan semaunya. Masih suka ngemplang uang rakyat dan mempersulit urusan. Duh, padahal di bagian yang belum dewasa inilah dipertaruhkan nasib negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri demokrasi seperti Indonesia, hal pertama yang harus diketahui seseorang yang mencalonkan diri menjadi politikus (atau birokrat aka PNS), bahwa mereka digaji oleh rakyat! Melayani rakyat! Bersedia dikritik, dihujat, bahkan diturunkan rakyat! Bukan sebaliknya, menipu-nipu rakyat atau minta dilayani rakyat. Di Amerika Serikat, Rush Libaugh, pengasuh sekaligus penyiar radio pada acara &lt;a href="http://www.rushlimbaugh.com/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Rush Limbaugh Show&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;yang disiarkan sekitar 650 radio di Amerika, berani mengeluarkan makian binal bahkan doa kematian untuk presiden mereka, (Mu) Barrack Hussein Obama. Tapi, Obama nyante-nyante saja atas olok-olok Rush yang didengar 30 juta warga Amerika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam, pers memang belum mempunyai posisi yang diidam-idamkan seperti di negeri Amerika atau Eropa. Ada beberapa orang (politikus, pengusaha nakal, tokoh masyarakat) yang bahkan tidak bisa disentuh. Ada pejabat yang gemar mengeluarkan uang puluhan juta agar kegiatannya yang baik-baik diliput, dan membungkam berita-berita miring. Saya menyadari ketidakmampuan ini. Media bukan takut dengan politikus atau pejabat yang tak tersentuh itu. Tapi media takut pada cara politikus itu yang gemar menipu simpatisannya untuk main hakim meluruk kantor media. Ada banyak politikus dan media yang belum dewasa. Dan inilah yang sangat menakutkan. Berbekal isu SARA, kantor media bisa diratakan dengan tanah (tentu saja ini analogi yg berlebihan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Aris saya ibaratkan sebagai artis, seharusnya dia tidak marah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sttt&lt;/span&gt;, dia tak kenal saya! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hehehe&lt;/span&gt;). Karena dari keringat sekian ratus ribu orang seperti sayalah Aris dan semua rekan-rekan wakil rakyat serta birokrat bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lenggangkangkung &lt;/span&gt;memakai mobil dinas dengan bensin yang selalu penuh. Iseng-iseng saya pernah menghitung berapa besar pengeluaran saya untuk - salah satunya tentu - membayar gaji pejabat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika satu hari saya menghabiskan sebungkus rokok Lucky Strike seharga Rp8.500, saya harus menyetor uang pajak ke negara sebesar Rp3.590. Karena istri jauh, setiap makan saya harus beli. Jika sekali makan saya mengeluarkan Rp10.000; dan sehari dua kali makan, setoran saya untuk negara sebesar Rp2.000 per hari (setiap makan dipajaki 10 persen). Untuk rokok dan makan saja, sehari saya harus setor 3.590 + 2.000 = 5.590. Sebulan? Saya harus menyisihkan Rp167.700 untuk negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, pajak rumah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;port tax&lt;/span&gt; tiap kali nyebrang ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Singhapur&lt;/span&gt;, dan lain-lain pajak beraneka nama. Jika Rp167.700 dikalikan sekian ratus ribu warga Batam, berapa miliar yang bisa dikumpulkan? Dan uang yang terkumpul itu, sebagian untuk menggaji para "terhormat-terhormat" itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pengeluaran-pengeluaran itu akan terasa lebih ikhlas jika Aris dan rekan-rekan di DPRD, serta birokrat bekerja dengan baik. Setidaknya tidak melanggar aturan. Tapi jika ada pelanggaran, para "artis-artis" itu juga harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;legowo&lt;/span&gt; dicaci-maki rakyat yang telah susah payah berkeringat untuk mengongkosi mobil mewah dan gaya hidup wah mereka. Jika tidak, entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyitir lirik lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Panggung Sandiwara-&lt;/span&gt; nya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;God Bless ciptaan Taufik Ismali, ...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dunia ini memang panggung sandiwara&lt;/span&gt;.... Dan sang artis, boleh dong kita pecundangi dengan kritik dan makian, jika tampil sangat mengecewakan. Lebih-lebih kalau sudah menipu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya! Jangan lupa tanggal sembilan pemilihan umum digelar! Ayo, datang ke TPS-TPS dan pelototi mana caleg yang berkemungkinan tidak menipu kita! Saya punya sedikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tips&lt;/span&gt; untuk memilih caleg yang berkemungkinan tidak menipu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian ratus gambar yang tersenyum manis ke kita, tentu sangat sulit menentukan mana yang benar dan mana yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ora penet&lt;/span&gt; (nenek saya memakai frasa Jawa ini sebagai orang yang berkelakuan amburadul). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tips&lt;/span&gt; saya itu sederhana: masuk TPS, lihat gambar dengan seksama; dan ndak usah dicoblos semua! Sederhana, bukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-2794895075942696195?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/2794895075942696195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=2794895075942696195&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2794895075942696195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2794895075942696195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/04/seperti-artis-menggunjing-aris.html' title='Seperti Artis, Menggunjing Aris'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SdSwOfjMGyI/AAAAAAAAAPk/uy8yD3m9Nhk/s72-c/ilustrasi-seperti-aris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-4385925762118433879</id><published>2009-03-02T11:52:00.004+07:00</published><updated>2009-03-02T11:58:34.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (12)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SatnHH1yZrI/AAAAAAAAAPE/RZ6C_zDegvI/s1600-h/Bola-Kulit-Ken.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 241px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SatnHH1yZrI/AAAAAAAAAPE/RZ6C_zDegvI/s320/Bola-Kulit-Ken.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308449957847656114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;: Bola Karet Bapak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah hal yang lebih menyenangkan yang bisa dilakukan seorang bocah kampung ketimbang membikin sebuah gol dalam permainan bola? Ketika membocah, bapak adalah satu di antara lima jago bola di kampung bapak: Desa Pagentan, Singosari. Jagoan pertama adalah rekan senior bapak, Agus Fajri. Jagoan kedua dan ketiga, Ath'o Afianto dan sepupunya, Aris Munandar; keempat Khoiron, dan terakhir bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kelima orang ini main bersama, terlebih dahulu kami harus membagi diri, mendistribusikan kekuatan yang seimbang pada dua tim. Jika Agus dan Ath'o di satu tim yang sama, bapak dan Aris atau Khoiron harus berada di tim lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kami mewarnai tiap sore dari masa bocah dan remaja kami: berasyik masyuk lewat permainan bola di Lapangan Sepakbola Tumapel. Orang-orang yang usianya lebih tua lebih suka menyebut "lapangan Tumapel" sebagai "lapangan Pagentan", nama yang sesuai dengan nama kelurahan di mana  pusat kedigjayaan kecamatan Singosari kini berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus terkenal dengan gocekan, dan larinya yang cepat dan lincah. Juga kelicikannya menjegal lawan tanpa kentara. Dia bisa menjatuhkan dengan keras lawan dari belakang, dengan sejumput trik licik: kaki lawan ia jegal, sementara kedua tangannya mendorong tubuh lawan dengan sekelebat. Dan Agus, selalu gembira ditempatkan sebagai penyerang atau sayap kanan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath'o, si bongsor yang selalu mengalah. Tapi tendangannya luar biasa keras dan terarah. Sulit untuk melewati Ath'o jika ia berposisi sebagai bek tengah. Aris, permainannya mirip-mirip dengan Agus. Hanya saja dia terlalu emosional. Dialah kawan kecil bapak yang paling sering terlibat perkelahian. Tercegal sedikit saja, dia bisa marah dan memukul rekannya. Tapi harus diakui, talenta bolanya luar biasa. Fisiknya mengesankan. Semengesankan nasibnya yang selalu sial hingga ia membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aris, lelaki cerdas yang juga kawan satu kelas bapak ketika kami sama sekolah di Sekolah Dasar Islam Almaarif 02, Singosari. Sayang, kami sekelas hanya empat tahun. Kelas lima dan enam, dia harus pindah ke kota lain, mengikuti bapaknya yang menikah dengan perempuan lain. Aris senasib dengan bapak, dan Tuhan menciptakan kami dengan karakter yang nyaris serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aris, seolah-olah berteman dengan bayang-bayang kesialan yang mengekorinya sepanjang ia ada. Sewaktu kami sekelas, ia selalu mendapat ranking bagus meskipun tabiatnya brutal dan tak pernah belajar. Dalam satu hal ini, bapak tak pernah bisa mengalahkannya. Dia selalu membuat guru menangis dan rekan-rekannya lari tunggang langgang oleh kenakalannya; namun tetap kehadirannya dirindukan. Tuhan seolah memberikan semua kelebihan pada diri bocah Aris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ketika pada usia SMA dia kembali ke Singosari, sebuah kesalahan fatal ia buat. Selingkar kecil tato yang ia buat di lehernya, pada kelanjutan hidupnya telah menjadi penyebab rusaknya seluruh hari-hari yang ia jalani. Sekolahnya berantakan, keluarganya ogah menerima. Kawan-kawannya menjauh; dan kemudian ia akrab dengan dunia kriminal. Kesalahan tentu saja bukan semata pada Aris dengan tatonya. Melainkan persepsi teman-guru sekolah, serta lingkungan di sekitar Aris yang memandang tato itu buruk. Tato itu neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, bapak dengar kabar dari sahabat dekat kami berdua, Andika, ia masuk penjara Jakarta gara-gara pencurian motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aris yang selalu melindungi bapak di kala kami membocah, selalu ada di hati bapak. Entah kenapa, kebrutalannya saat bocah dan remaja, tak pernah mempan di hadapan bapak. Bapak tahu, dia membenci kelemahan atas ketidakberdayaan pada bapak. Setiap kali kami berantem, dia tak pernah bisa memuncaki emosinya. Dia lunglai oleh ketidakberdayaan itu. Dia tak bisa berbuat apa-apa atas semua kelemahan dia sendiri. Dia tak pernah bisa menyentuh bapak. Bapak tak tahu sebabnya. Mungkin karena bapak dan Aris adalah bocah senasib: dua bocah yang besar tanpa kehadiran seorang ayah. Aris ketika itu mungkin tahu, bocah-bocah yang membesar hanya oleh kasih sayang seorang ibu, tak pernah bisa digertak oleh kenakalan sebentuk apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Khoiron, kemampuan bolanya sebetulnya biasa saja. Tapi fisik dan postur tubuhnya oke. Larinya bisa diandalkan. Tapi sayang, masa remajanya tak terlalu panjang dihabiskan bersama kami di lapangan bola. Semenjak bocah, Khoiron harus membantu kakaknya jualan pangsit mie di pinggir lapangan. Jika petang hadir, ia hanya bisa memandangi kami yang tengah main bola dari jauh sembari mendirikan tenda pangsitnya. Sejak saat itu, Khoiron yang juga sepupu bapak, tak pernah bisa lagi dengan leluasa menendang bola seperti kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan bapak sendiri? Jauh masa setelah bapak dewasa, saat bapak bermain bola untuk menjaga kebugaran di Batam, mantan pemain nasional Indonesia yang melatih kami mengatakan, bapak sebenarnya punya dasar permainan bola yang mencukupi. Dasar yang dibentuk dari masa bocah. Persoalannya, tubuh bapak yang tak pernah beranjak dari bobot 45 kilo, terlalu ringkih untuk bisa bermain bola. Nafas bapak terlalu pendek. Dan bermain sepakbola, fisik adalah hal utama yang harus diperhatikan. Dan kelemahan ini, ada sejak bapak kanak-kanak. Tubuh bapak tak pernah bisa tegap berwibawa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Duh... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tubuh bocah bapak yang rapuh, tak pernah menjadi persoalan saat kami asyik bermain bola. Kawan-kawan main bapak seolah menyadari, meski bertubuh rapuh, tapi ada sesuatu hal yang tak pernah bisa membuat bapak menyerah. Mereka tak pernah berani mengesampingkan faktor rapuh itu, jika ingin memenangkan pertandingan. Kelicikan Agus bapak balas dengan kelicikan yang sama. Kemampuan bertahan Ath'o bapak rekayasa sedemikian rupa hingga ia hanya bisa berlari mengekori bapak. Khoiron terlalu enggan berpikir jika melawan bapak. Hanya Aris yang seolah-olah tahu segala macam trik dan kelicikan bapak dan tak pernah bisa bapak taklukkan. Bocah ini memang luar biasa pintar, sekaligus brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak ketika kami sama-sama remaja, di antara malam-malam penuh alkohol dan dentingan gitar tanpa nada, bapak dan Aris kerap membicarakan masa kecil ini.  Jika sudah demikian, kami bisa tertawa dan bernostalgia semalam-malaman. Sembari mengelus tato di lehernya yang selalu ia sesali, Aris mencoba mengulik sedikit demi sedikit kehebatan masa silamnya. Masa yang penuh canda dan talenta luar biasa. Masa yang ia sia-siakan gara-gara sebuah kesalahan kecil. Kesalahan yang pada akhirnya membuat ia tak bisa menjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola selalu ada di hati bapak. Begitu juga dengan Agus, Ath'o, Khoiron, dan terutama si bengal Aris. Masa itu tentu saja tak akan pernah datang lagi. Masa di mana bapak merengek-rengek pada nenekmu Zumronah untuk dibelikan bola karet. Permintaan yang ketika itu terasa begitu mahal dan hanya bisa bapak dapatkan setelah hari raya Idul Fitri. Bola karet impian bapak yang sanggup terbeli dari mengumpulkan angpau-angpau dari saudara-saudara di Hari Raya. Masa di mana sebuah kemewahan adalah menendang bola kulit milik sekolah di mana bapak belajar. Bola kulit yang tak pernah bapak bisa miliki hingga bapak mendewasa. Masa penuh keprihatinan sekaligus kegembiraan. Masa yang jelas tidak pernah terjadi padamu, Kenny!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kau, Ken Danish, kelak ketika sudah berani bepergian sendiri, datanglah di waktu petang ke lapangan Tumapel! Ceritakan apa-apa yang kau lihat ketika itu kepada bapak; apakah masih ada bocah-bocah yang bertahan bermain bola di antara debu dan rumput liar lapangan itu? Apakah masih ada generasi Aris-Aris lainnya di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting bagi bapak Nak! Bagi kamu juga! Bahwa bakat yang diberikan Tuhan, tak pernah selamanya menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang. Seperti halnya Aris yang tak pernah bisa berbuat apa-apa dan selalu menyesali kecerobohannya. Aris yang penuh talenta itu, mungkin jika membaca tulisan ini akan sepakat dengan bapak: hal terpenting dalam hidup adalah waspada! Waspada! Seperti sebuah iklan layanan masyarakat di televisi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wasladalah... waspadalah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-4385925762118433879?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/4385925762118433879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=4385925762118433879&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4385925762118433879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4385925762118433879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/03/kisah-cinta-dua-singa-12.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (12)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SatnHH1yZrI/AAAAAAAAAPE/RZ6C_zDegvI/s72-c/Bola-Kulit-Ken.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1788833845486543527</id><published>2009-02-18T16:24:00.003+07:00</published><updated>2009-02-18T16:47:19.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Foto yang (pernah) Ditolak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SZvXhxa8RAI/AAAAAAAAAOs/aF7azPlm-KU/s1600-h/Tomat-Organik...jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SZvXhxa8RAI/AAAAAAAAAOs/aF7azPlm-KU/s320/Tomat-Organik...jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304069961360884738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto ini saya hasilkan di awal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;euforia &lt;/span&gt;saya memiliki kamera digital, sekitar tahun 2006. Foto makro dengan obyek sepasang tangan petani tomat organik yang memamerkan tomat yang dipanennya. Saya menyukai foto ini, karena kuatnya kontras foto dan tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomat yang bersih dengan tangan yang penuh lumuran tanah. Warna tomat yang dominan merah berada pada satu wadah kekar tangan milik si petani. Foto yang bagi saya, sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali di tahun 2007, foto ini saya sertakan dalam pameran Pewarta Foto Indonesia Batam di Megamall. Tapi kurator menolak foto itu. "Tidak kuat, sangat tidak jurnalis...," begitulah alasan yang saya terima atas penolakan tersebut. Kurator juga beralasan, gambar (hanya) tangan tak cukup mencirikan foto jurnalistik yang hidup. Foto jurnalistik, menurut mereka, harus ada (aktivitas) orang, dan itu (kalau bisa) benar-benar utuh. Ketika itu, saya kontan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya kadung mencintai foto ini. Saya simpan baik-baik, dan kerap saya pandangi ketika mata ini sudah capek melototi gambar-gambar seronok di Internet. Hingga, datanglah warta lomba foto yang diadakan &lt;a href="http://www.ranchmarket.co.id/index.php/news/3/15/Health-Pleasure-Ranch-Photo-Competition-2008"&gt;Ranch Market: Health &amp;amp; Pleasure Ranch Photo Competition 2008: 1 - 27 Dec 2008.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikutkan foto itu, dengan persiapan mental atas penolakan. Saya cukup sering ikut lomba foto. Dan nyaris semuanya berbuah penolakan. Sempat menjadi juara III lomba foto PLN Batam (2007), dua foto saya hanya masuk sebagai foto pilihan Rida Award (2007 dan 2008). Satu foto saya yang menjadi finalis lomba foto bikinan Yayasan Peduli Hutan Lestari akhir 2008 silam, berakhir dengan kekalahan. Dan foto tomat itu, semula saya yakin akan bernasib sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah &lt;/span&gt;perkiaran saya salah. Tiga juri (dua menjadi fotografer favorit saya: Arbain Rambe dan Jerry Aurum) sepakat memilih saya sebagai &lt;a href="http://www.photopointindonesia.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=76&amp;amp;Itemid=97"&gt;pemenang kedua&lt;/a&gt;. Foto yang pernah ditolak itu, akhirnya mendapatkan tempat yang layak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1788833845486543527?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1788833845486543527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1788833845486543527&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1788833845486543527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1788833845486543527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/02/kisah-foto-yang-pernah-ditolak.html' title='Foto yang (pernah) Ditolak'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SZvXhxa8RAI/AAAAAAAAAOs/aF7azPlm-KU/s72-c/Tomat-Organik...jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3917126719931297879</id><published>2009-02-09T15:29:00.005+07:00</published><updated>2009-02-10T18:34:00.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>Kian Meng-Golput</title><content type='html'>Sebuah pertanyaan dari seorang rekan menyodok kegolputan saya. Tidak memilih memang sebuah pilihan, tapi apakah kita akan membiarkan proses demokrasi dikuasai caleg-caleg culas yang menjadi penyebab golput itu sendiri? Jawaban sementara saya kira-kira begini, "Pemilu 2009, saya masih tetap golput sembari menunggu caleg yang membumi. Entah sampai kapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam begadang Minggu malam di pekan kedua Februari yang disertai secangkir kental kopi cap Tangker, kami membicarakan demokrasi. Sangat Melayu! Namun itu sudah cukup membasuh dahaga dari rutinitas kerja yang itu-itu saja. Sejauh ini, kerja saya menyenangkan. Tapi, rutinitas tak jarang membuat semua berangsur runyam. Harus ada secangkir kopi kental (atau sekaleng bir) di antara obrolan panjang agar hidup kembali bergairah. Minggu malam itu, secangkir kental kopi cap Tangker, mie rebus, rokok, serta gorengan, sudah sangat membantu mengembalikan kegairahan. Dan obrolan tentang demokrasi, tidak ada salahnya untuk kita kemukakan di musim partai tebar pesona seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegolputan saya sejak 1998 dipicu oleh ketidakpercayaan saya pada para politikus, bukan demokrasi itu sendiri. Ini memang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klise&lt;/span&gt;, dan (seharusnya) tidak perlu saya banggakan. Tapi ketika seorang rekan bertanya tentang pilihan menjadi golput, jawaban &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klise &lt;/span&gt;itu kembali mengemuka. Meng-golput bukan saya takut dosa karena khawatir memilih politikus culas. Meng-golput adalah pilihan itu sendiri. Demokrasi. Dan dosa bagi saya, adalah melakukan apa pun tanpa kita menyadari apa yang tengah kita lakukan itu. Dalam hal apa pun. Sholat bagi saya berdosa ketika kita tidak punya cukup kedigjayaan untuk mengetahui untuk apa kita melakukan sholat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi sebelum malam begadang itu, bersama rekan-rekan wartawan Batam kami beradu otot di lapangan futsal melawan pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Skor imbang 5-5, dan Tifatul Sembiring memborong dua gol PKS. Jika bukan karena tubuh tinggi besar Ria Saptarika yang berada di bawah mistar PKS, mungkin gawang mereka sudah kami berondong belasan gol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mencetak sebiji pun gol. Posisi saya di pertahanan. Tapi sudah cukup puas menjengkangkan dua kali kaki Tifatul, presiden PKS itu. Membuat dia melontarkan peringatan keras pada saya. "Hey... jangan (tendang) kaki lah,'' begitu katanya sembari mengacungkan dua jarinya. Entah sebagai penanda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;peace&lt;/span&gt; atau peringatan dia bahwa saya telah melanggarnya dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya membiarkan tubuh ringkih saya dihujani emosi Tifatul yang meledak lewat bebatan kakinya pada saya, gaprakan bola, serta aneka jenis kekasaran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu biasa di permainan futsal. Saya salut dengan reaksi berani Tifatul. Dalam bahasa daerah saya di Malang, ''Arema banget!" Dia saya kasari, dan dia membalas dengan tanpa belas kasih. Saya gembira dengan hal ini. Saya beranggapan dia cukup punya nyali untuk mempertahankan kepentingannya. Ideologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi Tifatul dan praktisi partai lainnya, futsal hanyalah sebuah permainan. Melawan para wartawan di musim kampanye seperti ini adalah trik untuk mengakrabi kami, untuk selanjutnya merengkuh untung lewat pemberitaan. Bagi saya, futsal - juga sepakbola - adalah bagian dari permainan emosi. Sepakbola adalah cara yang tepat untuk mempelajari karakter lawan. Menelisik sejauh mana tingkat intelektual lawan. Untuk selanjutnya berdialektika, mengira-ngira lingkungan hidup seperti apa membesarkan mereka; apa saja yang sudah mereka pelajari; buku apa saja yang sudah mereka baca; bagaimana kehidupan religi mereka; bahkan kita bisa bisa sedikit mengintip apakah kehidupan seksual lawan main sehat adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa demikian? Karena bola itu permainan cerdas. Kapten AS Roma, Fransesco Totti, mungkin hanya seorang pemain bola tamatan sekolah dasar. Bahkan membaca surat perjanjian kontrak bernilai jutaan dolar pun pun harus dibantu istrinya. Tapi untuk urusan mempelajari lawan untuk kemudian menarik untung lewat sebuah permainan bola, Totti adalah salah satu ahlinya. Wayne Rooney bisa jadi dianggap mantan pelatihnya di timnas Inggris, Sven-Goran Ericsson, sebagai pemain hebat tak berotak. Karena sejarah kehidupan masa kecilnya yang melarat dengan keluarga kacau. Tapi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;striker&lt;/span&gt; Manchester United itu tak akan membiarkan dikasari lawan, dan akan membalas dengan lebih jika ada lawan yang mencoba memprovokasinya. Rooney tidak pintar, tapi jelas ia tidak mau dilecehkan seenak lawan bisa. Tapi sayangnya, Tifatul bukan pemain bola. Dia presiden PKS dan bisa jadi nanti menjadi presiden Indonesia. Dan politik, tentu saja jauh lebih jahat ketimbang permainan bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungan demokrasi, kegolputan saya, dan futsal di Minggu pagi itu? Begini: Di antara sederet partai yang saya pelajari, PKS sempat mencuri perhatian saya. Ketika pertama kali membaca dan melihat sepakterjang Hidayat Nur Wachid &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dkk &lt;/span&gt;di media-media, saya jatuh hati dengan partai ini. PKS bagi saya sebuah partai modern, santun, dan menawarkan tradisi religius yang berintelektual. Karena golput, saya memang belum sempat mencoblos PKS. Tapi dalam perkenalan awal itu, hati saya berbungah, ternyata masih ada partai yang mungkin masih bisa saya andalkan. Saya yang masih menggemari bir, ternyata bisa jatuh hati dengan PKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking berharapnya dengan partai yang satu ini, menjelang pemilu 2004 silam saya harus menelepon ibu di Malang. Berdiskusi kecil tentang partai apa yang akan kami (ibu) coblos. Saya menyarankan ibu untuk memilih PKS, meskipun secara tradisional kami adalah pendukung Gus Dur. Kepada beberapa karib, saya juga merekomendasikan PKS sebagai partai pilihan, partai yang bisa diharapkan. Meskipun ketika itu, saya teguh tidak mencoblos. Demokrasi, memberikan ruang pada saya untuk tidak memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya kemudian, PKS di mata saya tumbuh menggurita dengan idealis awal yang tidak terpertahankan. Dari partai itu, lolos politikus-politikus abu-abu yang merusak kepercayaan saya pada PKS. Di Batam, siapa yang tidak jengah dengan wakil-wakil PKS yang "begitu-begitu" saja. Ria Saptarika, wakil walikota Batam itu, tidak cukup hebat membela kepentingan rakyat. Setali tiga uang Aris Hardi Halim, ketua DPRD dari PKS. Sepakterjangnya di Gedung DPRD sama lambannya ketika ia menendang bola atau dengan mudah dilewati oleh pemain bola kami. "Nafasnya" tak cukup panjang untuk membela kepentingan rakyat, menolak kenaikan tarif listrik, ATB, atau mengusahakan kenaikan upah minumum kota yang layak. Aris tak punya "nafas" untuk bisa bermain futsal selama 2x20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tifatul, si presiden PKS itu, tak cukup menyadari saat kakinya terbebat oleh kaki saya sebanyak dua kali, karena kelambanannya bergerak menghindar. Dia emosi karena menganggap saya bermain kasar. Dia tak menyadari bahwa dirinya tak cukup cepat menarik dan menyelamatkan kakinya, saat saya menerjang bola yang ia pegang. Kemudian dia bermain membabi-buta, mencoba membalas saya. Dan alasan ini, sudah cukup untuk semakin mengentalkan kegolputan saya. Setidaknya untuk pemilu 2009 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini dibuat dalam kapasitas sebagai rakyat jelata, pecinta futsal, dan pemegang kartu NPWP. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3917126719931297879?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3917126719931297879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3917126719931297879&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3917126719931297879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3917126719931297879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/02/golputan-yang-mengental.html' title='Kian Meng-Golput'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-831094384490623405</id><published>2009-01-07T16:33:00.002+07:00</published><updated>2009-01-07T16:45:39.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (11)</title><content type='html'>: Presiden Layangan dan belut buruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kepulangan tak biasa kemarin, Nak, telah melemparkan bapak pada sebuah kenangan akan masa kanak-kanak. Beberapa waktu lalu bapak sudah pernah bercerita bagaimana bapak dengan susah payah dilahirkan oleh nenekmu Zumronah. Kini, bapak akan menguliti sedikit demi sedikit kisah tentang rekahan kulit betis mungil bapak yang merompal panjang karena daki yang begitu tebal. Ketika bapak membocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa menyebut daki sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot&lt;/span&gt;, satu kotoran yang tentu saja tak pernah kau peroleh karena tempatmu bermain kini tak cukup kotor. Ataupun kalau kau bermain lumpur, atau apalah yang bisa menciptakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot&lt;/span&gt;, cepat-cepat ibumu pasti segera membasuhnya dengan sabun berbusa wangi non-bakteri. Bapak dulu, harus mengumpulkan daun lamtoro sebagai pengganti sabun. Mandi di gerojok mata air yang paling menyegarkan. Di antara canda dan tawa bocah desa. Setelah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot&lt;/span&gt; kami gasak dengan remasan daun lamtoro, kami masih harus menggosoknya lagi dengan sebongkah batu gosok yang kami buru di pinggir-pinggir kali. Kadang kami menggosok terlalu keras hingga menghasilkan luka berdarah. Tapi tidak mengapa, asal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot&lt;/span&gt; dapat terangkat, dan mulut nenekmu Zumronah merekah senyum melihat kaki bapak ini yang sedikit bersih ketika pada petang hari bapak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daki atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot &lt;/span&gt;yang biasa memenuhi betis, lengan, bahkan ceruk-ceruk di leher; bapak biasa peroleh dari seharian menendang bola di lapangan berdebu. Atau becek ketika hujan. Bapak juga kerap memanen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bolot&lt;/span&gt; setelah sesiangan berada di bawah terik matahari, menunggu layang-layang yang putus. Berkejaran dengan kawan, berlomba mendapatkan layangan meski kami harus menerjang lumpur sawah setinggi paha. Nikmat sekali, ketika itu Kenny! Bapak yang ketika itu bertubuh kurus, kecil, dan hitam, selalu kalah berebutan dengan rekan-rekan yang lain yang lebih perkasa. Terutama dengan Mukhsin, si presiden layang-layang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukhsin? Bagaimana kini kabar kawan satu ini? Masih setia kah bermain layang-layang? Terakhir bapak ketemu dia sesaat sebelum bapak merantau ke Batam, 2002 silam. Dia yang ketika itu adalah pemuda ganteng berhidung mancung dengan jambang bulu bambu di seputar mulutnya, masih tetap mencintai layang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada secuil cerita kenapa Mukhsin kami juluki sebagai "presiden layang-layang". Tentu saja karena keahliannya beradu sambit layangan aduan. Juga kepiawaiannya mengejar layang-layang yang putus. Tidak seperti bapak yang harus menunggu di tengah pematang dengan berteman matahari di atas kepala, Mukhsin hanya duduk mematung memperhatikan dua layang-layang yang beradu sambit. Memperhitungkan arah angin dengan seksama. Dan segera berlari manakala ada sebuah layang-layang yang putus. Matanya yang tajam dan seolah tanpa pernah berkedip, memilih menelusuri sisa benang layang-layang yang putus ketimbang layang-layang itu sendiri. Ketika kami dengan perasaan gegap gempita berebut layang-layang yang sudah berada beberapa meter dari atas kepala kami, tiba-tiba layang-layang itu mengudara kembali. Di belakang kami, dengan gembiranya Mukhsin berteriak telah mendapatkannya. Ia tangkap itu benang, dan sirnalah mimpi kami membawa pulang layang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu sangat menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, Mukhsin adalah yang terbaik untuk semua urusan tentang layang-layang. Bapak harus mengakuinya. Terakhir, beberapa kejuaraan layang-layang tingkat kabupaten Mukhsin menangi. Julukan "presiden layang-layang" semakin menemukan pembenaran. Ia juga kemudian menjadi pengrajin layang-layang. Merek layangannya bahkan, cukup diakui sebagai layang-layang yang paling perkasa untuk aduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Mukhsin, orang yang menjengkelkan kami adalah Wak Senan. Dia pemilik beberapa petak sawah. Kejamnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;naudzubillah &lt;/span&gt;- semoga amal ibadahnya diterima - Tapi kesan kejam itu kami tancapkan ketika kami belum bisa berpikir, bahwa Wak Senan melakukan semua hal yang menjengkelkan kami karena dia melindungi kepentingannya. Kenakalan bapak dan kawan-kawan, memang kerap membuat rusak padi milik Wak Senan yang baru disemai. Atau, kaki-kaki brangasan kami yang tanpa kompromi merangsak kuningnya padi saat mengejar layang-layang yang jatuh di tengah sawah, membuat rontok ribuan butir padi yang siap dipanen. Itu tak kami perhitungkan. Ketika itu, yang kami tahu, Wak Senan dengan ketepel dan celurit di tangannya, sanggup membuat kami lari tunggang langgang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakannya untuk mengusir kami, bagai suara harimau yang tiba-tiba muncul dari rerimbunan semak, untuk menerkam kelengahan kami. Wak Senan, dengan benjol sebesar bola pingpong di dahinya - yang kabarnya didapat dari sebuah peluru ketepel lawan ketika muda - terasa begitu menakutkan bagi bapak dan kawan-kawan bapak ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi musim layang-layang tidaklah datang sepanjang tahun. Setahun, bapak hanya bisa menikmati serunya berburu layang-layang putus antara bulan April hingga September. Ketika hujan jarang datang; ketika angin mengencang; dan musim panen diteruskan menanam padi tiba. Di saat itulah daki-daki di betis bapak semakin tebal. Tiap berangkat ke sekolah, bapak terpaksa harus membasuhkan minyak goreng di kaki bapak yang berdaki, agar rekahan-rekahan yang memalukan itu tersamar. Kaos kaki bapak tidak cukup panjang untuk menutupi rekahan itu. Dan setelah musim penghujan datang, giliran belut yang kami sasar. Perburuan belut sama mengasikkan dengan mengejar layang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belut adalah makanan penuh gizi yang orang Jepang gemari. Bapak tidak terlalu menggemari, sebenarnya. Tapi, asyiknya berburu belut adalah kelezatan lain yang jauh lebih ingin bapak cari ketimbang menikmati potongan-potongan daging-daging belut yang gurih itu. Setiap kali menyantap daging belut hasil tangkapan, setiap kali pula ingatan bapak tercerabut saat bersitegang dengan belut, menarik mereka keluar. Membanting cepat-cepat tubuh belut di pematang kering hingga sekarat. Untuk kemudian mengumpulkannya dalam satu ikat temali dari jerami muda yang kuat. Setiap kali bapak mengingat adegan per adegan itu, setiap kali pula hilang selera bapak memakan gurihnya daging belut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berburu belut menciptakan daki yang lebih tebal di kaki-kaki kami. Tapi apalah arti sebuah daki ketimbang kenikmatan yang kami peroleh di waktu bocah. Sangat nikmat. Dan bapak minta maaf, belum bisa mengajari kamu untuk mengejar layang-layang atau berburu belut. Maafkan bapak, Kenny!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-831094384490623405?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/831094384490623405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=831094384490623405&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/831094384490623405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/831094384490623405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2009/01/kisah-cinta-dua-singa-11.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (11)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3359200818708063697</id><published>2008-12-22T13:16:00.004+07:00</published><updated>2009-01-01T18:58:21.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hanyacerita'/><title type='text'>Episode Tentang Pelacur Yuli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SU8xX8VMf4I/AAAAAAAAANY/lsQjKNhQ8mc/s1600-h/Yuli.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SU8xX8VMf4I/AAAAAAAAANY/lsQjKNhQ8mc/s320/Yuli.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282495175330660226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kesedihan menerkam saya, sepagi ini. Sehabis menyelesaikan membaca kalimat terakhir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan Pinggir&lt;/span&gt; Goenawan Mohamad pada lembar terakhir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo &lt;/span&gt;edisi 15-21 Desember,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berjudul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pelacur&lt;/span&gt;, kesedihan itu berseri. Tentang pelacur: episode pertama emosi saya terbabit-babit ketika pada Minggu (21/12/2008), saat saya mengedit berita seorang pelacur hamil yang masih memperdagangkan kelaminnya untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posmetro Batam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuli, dengan janin berusia empat bulan di perutnya tidak tahu siapa lelaki yang nantinya akan dipanggil "bapak" oleh calon anak. Puluhan lelaki silih berganti datang ke warung kumuh yang berdiri di sudut galangan kapal Tanjunguncang, untuk meniduri Yuli. Puluhan lelaki itu, salah satunya tentu saja bapak biologis sang jabang bayi di rahim Yuli. Dan pada Minggu dinihari yang berangin kencang itu, para polisi Batuaji menangkapi Yuli dan wanita-wanita senasib dengan alasan yang nyaris masuk akal: mengupayakan pemberantasan penjualan manusia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan lihatlah! Gambar Ken, anak semata wayang saya dengan pipi gemuk merekah merah, menyembul dari layar monitor tempat saya menulis artikel ini. Semakin menggarami kegeraman yang tercipta dari dua episode sebelumnya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pelacur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;GM, dan kisah seorang Yuli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita dibombardir berita sejenis semacam Yuli, kisah janda 27 tahun asal Bandung ini seolah menjadi hal yang sangat biasa. Televisi-televisi lebih gemar berita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainmen&lt;/span&gt;; koran-koran lebih mengingini berita korupsi; otak para pedagang lebih memperhatikan nilai tukar rupiah; para politikus lebih memikir harus merangkai kata terbaik untuk iklan kampanye mereka; pemuka agama sibuk mencari bahan ceramah paling menggugah; dan wartawan (di Batam) berebut kursi untuk kepengurusan organisasi. Sementara Yuli, dengan perut yang kian membesar, selalu mencari jawaban, menduga-duga; siapa lelaki yang pantas menjadi bapak janin di rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum menerima berita dan mengedit berita tentang Yuli, saya tersesat dalam belantara keramaian Orchard Road Singapura. Gentayangan di antara aroma-aroma parfum kelas kapital, mencari kado Natal untuk anak semata wayang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirullahhaladzim&lt;/span&gt;, saya mendapati pembantu-pembantu Indonesia di sudut-sudut jalanan Orchard, bersama segerombolan lelaki India yang nyaris semuanya memasang wajah birahi: mencari celah lengah untuk meniduri sang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kisah berikutnya yang terjadi: muncullah kisah-kisah tentang kepulangan pembantu dengan perut membuncit. Menghindari malu, dan memilih berlabuh di Batam. Banyak di antara mereka kemudian memilih menjual kelamin. Memperdagangkan satu-satunya yang bisa mereka jual. Untuk menyambung hidup, menyerah dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun silam, masih teringat lekat ketika saya berada di sebuah kamar kumuh Lokalisasi Pelita bersama seorang PSK. Berteman seuplik penerangan bohlam, kipas angin yang berderik-derik, serta tilam lusuh yang penuh ceceran sperma, tiga tahun silam saya menggelar wawancara dengan seorang PSK yang hamil delapan bulan. Tiga tahun berikutnya, kisah itu terulang lagi pada Yuli. Bahkan ketika Lokalisasi Pelita sudah meng-arang oleh sebuah kebakaran hebat pada pertengahan 2008 silam. Seperti sebuah lingkaran setan tak berujung-pangkal; emosi itu kian hari kian redup. Oleh tipu-tipu yang mengatasnamakan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan Yuli, Nur Hidayah (tokoh di tulisan GM), juga Ken di antara lingkaran setan itu. Saya membayangkan wajah pembantu-pembantu Indonesia di Singapura yang terkibuli oleh kalimat-kalimat indah dari mulut lelaki yang mereka bayangkan sebagai Shahrur Khan di film-film India. Saya membayangkan suara nyinyir kritikus-kritikus media yang menganggap kisah Yuli (yang prostitusi) tak layak dimediamassakan; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;koran-koran kuning tak layak diperhatikan&lt;/span&gt;. Saya membayangkan tawa para politikus yang berhasil menemukan kata paling mutakhir untuk iklan kampanye mereka. Saya membayangkan wajah-wajah berseri para wartawan yang gembira menuliskan dalam berita mereka, kata mutakhir milik politikus itu. Dan saya akan selalu menunggu, tiga tahun dari sekarang - atau lebih cepat - akan kembali muncul kisah-kisah semisal Yuli, juga kisah Nur Hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat! Untuk semua yang telah membinasakan kisah seperti Yuli, untuk kemudian memasukkan dalam tong sampah kelumrahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto Yuli diambil oleh Arrazi Aditya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3359200818708063697?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3359200818708063697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3359200818708063697&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3359200818708063697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3359200818708063697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/12/episode-tentang-pelacur-yuli.html' title='Episode Tentang Pelacur Yuli'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SU8xX8VMf4I/AAAAAAAAANY/lsQjKNhQ8mc/s72-c/Yuli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1900715248246357902</id><published>2008-08-06T17:03:00.001+07:00</published><updated>2008-08-17T12:27:14.623+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (10)</title><content type='html'>: Keluarga &amp;amp; Kawan-Kawan Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepulangan yang tak biasa. Tiga tahun tak pulang ke Malang, 2 Juli 2008, bersama Ken dan Joanne, saya menjenguk cinta yang selalu terpendam di hati kami. Cinta akan sebuah kota yang mengawali seluruh bagian dari kehidupan keluarga kecil kami. Kota yang mempertemukan saya dengan Joanne. Kota di mana untuk pertama kali saya menghirup udara hidup, menangis sembari menjejak-jejakkan kaki kedinginan. Sebuah kepulangan yang tak biasa, karena kami membawa Ken, hasil cinta dua singa yang tak terkira berharga. Perjalanan ini, menjadi perjalanan pertama Ken menggunakan pesawat terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandala yang membawa kami dari Batam ke Surabaya terlambat 10 menit dari jadwal seharusnya. Pukul 15.40 WIB, untuk pertama dalam tiga tahun, saya kembali menginjakkan kaki di Surabaya. Kota ini, yang selama hampir setahun silam saya gerayangi, kini telah banyak berubah. Bandara Juanda semakin mewah. Tapi, hidung yang selalu terasa panas saat bernafas, mengindikasikan polusi di kota ini semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti perjalanan-perjalanan kami di tahun-tahun sebelumnya, selalu tidak ada yang mengejutkan. Selain ongkos taksi Surabaya-Malang yang kini naik hingga 100 persen, hanya efek lumpur Lapindo yang mengejutkan saya, membuat mulut ini mengeluarkan maki-makian. Rp50 ribu ongkos tambahan untuk kemacetan yang diakibatkan lumpur Lapindo, adalah biaya yang harus saya bayar selain ongkos taksi yang naik 100 persen tadi. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Go to hell&lt;/span&gt; Aburizal Bakrie," Joanne hanya melongo memandangi kemacetan, tak mengerti atas makian saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk kota Sidoarjo, hanya kemacetan yang kami dapat. Luar biasa. Rumah-rumah, toko, perkantoran, di pinggir jalan yang kami lalui, masihlah seperti dulu: berdebu dan kelam. Pepohonan di sepanjang lokasi Lapindo meranggas, berguguran daunnya. Sebagian sudah mati. Sebagian sekarat. Bau busuk lumpur menyelinap masuk ke dalam taksi. "Macetnya masih belum parah seperti biasanya. Masih untung mobil masih bisa jalan, kadang kita harus putar lewat Mojokerto," kata si sopir, lelaki gemuk yang mengaku asli Surabaya. "Sampeyan untung mas. Nggak terlalu macet," si sopir kembali menegaskan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan namun pasti, taksi merangsak ke depan. Meninggalkan Lapindo yang menyengsarakan. Kota selanjutnya yang kami lewati: Pandaan-Purwosari-Lawang-Singosari, masihlah sederet kota kecil yang tidak berubah banyak. Kecuali gedung-gedungnya yang semakin suram. Pohon-pohon yang tumbuh meliar. Hanya pucuk Gunung Arjuna dan udara dingin ketika kami memasuki Kota Lawang yang membangkitkan senyum kami. Kepada Ken kami bercerita, "lima tahun lalu bapak-ibumu berada di puncak gunung sana, Nak! Berdua saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam yang melelahkan ketika menumpang taksi yang untungnya cukup nyaman, terobati ketika senyum ibu Zumronah merekah ketika menyambut kedatangan kami. Saat kami sudah tiba di Singosari. Wanita itu, kini terlihat begitu tua. Gurat-gurat di wajahnya, menampak sekali penderitaan yang ditanggungnya seumur hidup. Tubuhnya mengkurus. Rambutnya yang dulu begitu kupuja karena legam tanpa sebiji uban -meski sudah berusia 40 tahun- kini berubah: penuh dengan uban-uban kelabu. Pancaran matanya tak seperkasa dulu. Namun, garis-garis kecantikan di wajahnya tetaplah menjadi milik wanita itu. Wanita yang melahirkan dan membesarkan saya. Dipeluk, dicium, dan dicucuri saya air mata, ketika saya menyapanya. "Ini Kenny, nakal dia," kata saya sembari menyodorkan Ken ke kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digendongnya Ken dengan sepenuh emosi. Saya tak tahu, emosi apa yang melanda wanita yang kini berusia 50 tahun tersebut. Apakah gembira, atau sedih, atau sebaliknya: marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joanne tersenyum melihat semua adegan ini. Kakakku Zuraidah ikut terbahak. Ipar saya Iwan seperti biasa, menyambut tanpa ekspresi berlebihan. Adik lelaki saya, Iik, kini sudah meremaja: ganteng sekali. Ponakan saya, Astina, di usia tiga tahun sudah menampakkan kecantikannya. Ada garis kecantikan yang diwariskan ibu dan neneknya. Juga nakal seperti saya waktu kecil. Nenek Rafiah yang datang belakangan, sudah semakin rapuh. Saya menahan tangis ketika melihat keadaannya: ringkih, berjalan tertatih, dan pucat sakit-sakitan. Tiga tahun lalu, wanita tua ini, masihlah sanggup seharian mencangkuli tanah kebun belakang rumah. Masih sanggup jalan kaki, pergi ke pasar dua kali sehari. Masih perkasa memindahkan almari berat rumah. Kini, saya ragu apakah semua kemampuannya masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepulangan yang tak biasa. Kepulangan yang mempertemukan semua cinta yang saya miliki. Cinta saya yang lain, kawan-kawan dan sastra, sebentar lagi pasti akan terjumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ipong dan Jacky, dua karib saya, malamnya datang ke rumah. Menyuguhkan kisah-kisah yang ingin saya dengar. Ipong, guru kesenian itu, bercerita kehebatan anak didiknya yang kerap menang di kontes-kontes menggambar. "Aku juga mengajar drumband di TK. Punya sanggar kecil di rumah. (Serta) kawan-kawan yang tak pernah berubah. Aku senang melihat kau berubah. Gembira sekali kau sudah beranak-istri," Si Rano Karno kecil itu menghujani saya dengan kata-kata. Jacky, sepert biasa, tak banyak bicara. Hanya kepulan asap dari mulut dan hidungnya yang menandakan, ada keinginan yang sebetulnya ingin ia sampaikan. Sesekali, rambut gimbalnya tergerai menutupi wajahnya. "Masih tetap sama pemuda ini," bathin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada titipan dari teman wanitamu di Batam," kata saya pada Jacky. Saya tahu, inilah keresahan yang melandanya. Beberapa bulan sebelumnya, saya menghubungkan Melanie -seorang kawan wanita dari Batam yang ingin berlibur ke Malang- dengan Jacky. Keduanya kemudian sama mendaki ke Gunung Arjuna. Berkendara motor, berkeliling kota Malang. Menikmati Pecel Kawi yang beken itu. Memborong buku-buku bekas di Jalan Wilis. Keduanya akhirnya terlibat cinta. Dan, saya gembira melihat perkembangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga berbagi kisah. Kepada mereka, Saya tanya keadaan sahabat-sahabat lainnya. Kepada saya, mereka tanya keadaan saya dan kota Batam. Kami tertawa. Melepas gembira. Mengenang kisah-kisah remaja kami. Menggunjingkan sahabat-sahabat yang lain. Dan juga, memperbaharui cita-cita bersama: sebuah keinginan untuk mewarnai Singosari dengan kekampungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kawan yang lain, juga saya kunjungi. Sebagian tak banyak berubah. Sebagian lagi semakin memburuk. Budi, sarjana elektronik yang dulu suka merakit radio sendiri kini sudah beranak-istri. Menjadi pengojek dia. Ulum, toko kelontongnya yang pernah jaya kini ambruk oleh invasi Indomaret yang masuk hingga ke lingkungan RT. Ali masihlah guru bahasa Inggris yang dibayar dengan ketela. Sugeng sudah meninggal dunia. Andika, setelah keluar penjara, menikah, dan tak jelas apa yang kerjakannya. Aris, juga sudah bebas setelah dua tahun dipenjara karena mencuri motor. Lutfi, masihlah pecandu alkohol yang selalu resah ketika malam menjelang. Udik kini mengajar ngaji, privat ke rumah-rumah. Jerry menikah, jualan pulsa, dan masih bermain bola. Bobby, tetap nganggur dengan dua anak. Jayus, Imam, Mas Dani, tiap malam tetap saja mabuk. Mas Bambang Prijanto kini hidup makmur. Tapi bukan dari lukisan-lukisan dan suara merdunya ketika membaca Qur'an. Melainkan dari kiriman anak perempuannya yang disunting bule Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Athok, sarjana biologi, kini jadi penjaga koperasi SMP Islam. Arif, guru bahasa Indonesia yang idealis itu, sudah lama meninggalkan kenangan itu. Dia mengaku terpaksa menaguk untung dari buku-buku pelajaran yang wajib dibeli anak didiknya, untuk kelangsungan gaya hidupnya. Ocop, yang tak lulus SD, kini menjelma menjadi juragan daging tenar. Rumah tiga lantai yang megah, adalah bukti kesuksesan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitroh, Mat, Munir, Udin, Yudi, masih setia bekerja di pabrik. Yus, kakak sepupu dan teman band saya, menjadi guru STM. Arifin, membuka kios rokok di pinggir jalan setelah di-PHK dari perusahaan Karoseri Adiputro. Karor, masihlah pegawai notaris bermulut besar dengan cita-cita besar. Farid semakin gemuk saja. Nur, Khoiron, Yani, mengandalkan mertua untuk melangsungkan kemewahannya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia terus menua. Dan kita tua bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum kembali ke Batam, saya mengunjungi kawan lama yang lain. Tepatnya bukan kawan, melainkan mentor menulis saya. Mbak Ratna Indraswari. Rumah gaya kolonial yang asri dan tak pernah sepi itu, lengang ketika saya, Joanne, dan Ken datang, di satu sore. Dia asyik membaca Kompas, di depan paviliun samping rumahnya yang kini beralih fungsi menjadi toko buku diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya peluk wanita itu. Saya perkenalkan Ken. Joanne? Sudah lama Mbak Ratna mengenal istri saya dengan baik. "Hello, ini grandma...grandma..." sapa Mbak Ratna ketika melihat Kenny ada di gendongan saya. Saya sodorkan dia padanya. "Gak ono miripe ambek awakmu," sambungnya seraya memperhatikan dengan seksama wajah Kenny. Ya, tampilan fisik Kenny cenderung mengikuti ibunya: putih dan bermata sipit. Saya yang legam, hanya mewariskan sifat tidak bisa diam kepadanya. Tidurpun, dia seolah selalu resah seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bertemu dengan kawan lainnya, kamipun berbagi cerita. Mbak Ratna masihlah seperti dulu. Selalu mengurung pertanyaan kepada kami, kepada setiap orang yang mengunjunginya. Bertanya ini-itu, bercanda ini-itu. Terutama pada Joanne, istri saya. Dia juga bercerita tentang Rini, pembantunya yang juga seorang TKW, yang kini telah menghasilkan sebuah buku. "Awakmu kudu tuku bukene!" katanya, tegas. Membeli buku Rini agar bisa membantu Rini, itu yang dimaksud Mbak Ratna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepulangan yang tak biasa. Dulu, saya selalu seorang diri ke sana ke mari. Atau setidaknya bersama Joanne. Kini, ada cinta lain yang mengikuti kami. Ken Danish Yohana Chua. Kepadanya, saya wajib memperkenalkan seluruh cinta dan kenangan kami. Tentang Singapura, tentang Singosari, dan tentang dunia yang kian renta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1900715248246357902?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1900715248246357902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1900715248246357902&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1900715248246357902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1900715248246357902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/08/kisah-cinta-dua-singa-10.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (10)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8250340850979783519</id><published>2008-07-31T15:56:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:17.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Nude, Sepotong Potret Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3oAx-6jprI/AAAAAAAAAG4/ynNYY2obigc/s1600-h/ketelanjangan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 250px; height: 392px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3oAx-6jprI/AAAAAAAAAG4/ynNYY2obigc/s320/ketelanjangan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150429982553777842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini, ketelanjangan diri, sebuah keinginan yang lama yang baru terlaksana di awal tahun 2008 ini. Benar-benar awal: ketika udara di tanggal satu Januari 2008, berusaha membuncahkan ion-ion panasnya, aku memilih bertelanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Nikon kesayangan yang kupasang di kecepatan angka 1/50 detik dan bukaan F3.5, aku benar-benar tanpa beban. Lemah, sekaligus menenangkan. Membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari memandang hasil jepretan di LCD 2 inci kameraku, aku bertanya-tanya sendiri, ''Lalu, kenapa kita menghabiskan usia untuk mengejar k(g)aya jika pada akhirnya ketakutan yang kita dapatkan? Bukankah telanjang bulat justru membahagiakan?"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8250340850979783519?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8250340850979783519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8250340850979783519&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8250340850979783519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8250340850979783519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/07/nude-sepotong-potret-diri.html' title='Nude, Sepotong Potret Diri'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3oAx-6jprI/AAAAAAAAAG4/ynNYY2obigc/s72-c/ketelanjangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7631580654409614360</id><published>2008-06-16T16:24:00.003+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:17.358+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (9)</title><content type='html'>: Ken Danish Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu orang lagi yang bapak ingin kisahnya kamu ketahui, Nak! Tentang seorang sahabat, seorang guru madrasah yang ikhlas, seorang pelukis berpribadi menyenangkan, seorang yang sangat-sangat dekat dengan pusaran cinta antara bapak dan ibumu. Seseorang yang sangat layak mendapat sepotong cinta bapak karena besarnya jasa di kehidupan bapak. Rusli, orang itu. Kami kerap memanggilnya Ipong. Lelaki kecil berwajah identik dengan artis cum politikus Rano Karno yang mashur itu. Bahkan tahi lalat mereka, sama besar dan sama tata letaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan bekerja dengan fenomena yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kisah Ipong, jelas berbeda dengan Rano yang beken ketika memerankan tokoh Si Doel itu. Dia hanyalah seorang lelaki kecil yang gemetar ketika berbicara dengan kawan wanita yang ditaksirnya. Dia hanya seorang guru madrasah, yang membuka lebar-lebar pintu rumahnya, untuk bocah-bocah tetangga kanan-kiri yang ingin belajar melukis kepadanya. Dia hanya seorang jelata. Dan tetap jelata hingga saat ini. Lukisannya tidak bagus, Nak! Tapi keikhlasannya luar biasa.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SFY2hL1mg9I/AAAAAAAAAJ4/MyMXxryFKGk/s1600-h/ipon.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SFY2hL1mg9I/AAAAAAAAAJ4/MyMXxryFKGk/s320/ipon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212413562469123026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat bapak itu, beberapa waktu silam mengeluh, kecewa, kenapa di antara sekian seri Kisah Cinta Dua Singa ini, namanya tak disebutkan. Kenapa justru banyak nama asing yang bapak ceritakan. Kepada kawan yang lain, keluh kesah itu diceritakan. Dan kawan itu, menyampaikan keluh kesah kepada bapak. Tentu saja bapak sedih dengan kekecewaan itu. Bapak tak bermaksud melupakan dia. Tak akan pernah. Kisah ini masih sangat panjang. Dan bapak sudah merencanakan untuk meletakkan kisah Ipong di banyak bagian-bagian dari seluruh kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah! Bapak tak sanggup mengecewakan dia. Kali ini, bapak ingin menceritakan khusus tentang Ipong kepadamu, Ken! Agar kau kelak ketika kau bertemu, tidak salah menduga apakah dia Rano Karno atau sahabat bapak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan bapak, Ipong membesar tanpa ada sosok ayah di sampingnya. Bapaknya yang seorang politikus mashur di Kota Malang, menyerah oleh kanker otak ketika Ipong baru kelas enam madrasah. Semenjak itu, hidupnya selalu berada di bawah bayang-bayang sang bapak. Setiap kali kami jalan dan bertemu orang-orang, selalu saja satu yang ditanyakan kepada Ipong tentang bapaknya. Tentang bagaimana kehebatan sang bapak. Tentang kedigjayaan almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu iri, Kenny, ketika tanya-tanya itu menghadir di antara kami. Setragis apa pun kehidupan Ipong, citra sang ayah tetap ada di otaknya. Melekat dengan indah di kehidupannya. Sementara aku, tak ada sama sekali. Kosong. Bapak bahkan tak pernah tahu, seperti apa hangat dan nyamannya berada di pelukan seorang ayah. Ketika, misalnya, datang warta yang mengabarkan bahwa kakekmu sakit, hati bapak sama sekali tidak tergetar. Bukan karena bapak tak sayang dengan kakekmu. Tapi citra itu tak ada. Sepanjang hidup bapak, citra itu tak pernah bapak kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Ipong tumbuh di antara kemashuran almarhum bapaknya. Tapi, kami tumbuh dengan kondisi serba kekurangan. Ibunya tak cukup digjaya untuk membesarkan Ipong dan kelima saudaranya. Tak ada kekayaan berlebih yang ditinggalkan bapak Ipong. Hanya kemashuran itu. Sebagai bekas seorang anggota DPRD, bapak Ipong terlalu jujur untuk meninggalkan apa-apa kepada keluarganya. Sialnya, kemashuran yang ditinggalkannya itu tidak cukup untuk membuat keluarga Ipong hidup dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Ipong dan bapak, bisa tumbuh dengan gembira. Kami berusaha menjadi dewasa dengan cara kami sendiri. Ketika remaja-remaja seusia bapak yang lain masih merengek minta dibelikan baju bergambar Batman, Ipong dan bapak sudah berusaha memeras otak, bagaimana mendapatkan uang untuk membeli sebungkus rokok kegemaran. Duh, yang terakhir ini memang sebuah pembelajaran yang jelek. Tapi harus bapak ceritakan. Di usia SMP, bapak sudah mengenal rokok dengan baik. Juga alkohol. Tapi ada kebaikan di dalamnya. Setiap kali bapak dan Ipong ingin merokok, bapak harus mencari cara bagaimana mendapatkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bekerjalah bapak ala kadarnya. Kadang ikut tetangga yang punya usaha prasmanan, menjadi pelayan ketika ada tanggapan. Tak jarang pula ikut angkut-angkut dagangan pakaian bekas tetangga yang lain yang berjualan di pasar-pasar. Bersama Ipong, tiap pekan bapakberkeliling Malang sambil memanggul segepok dagangan sandal spon di antara pundak-pundak ringkih kami. Menjadi sales dengan datang ke toko-toko sandal. Hasil yang tak seberapa, kami buat makan dan membeli bungkus-bungkus rokok dengan gembira. Jika hasilnya berlebih, kami sisihkan untuk membeli sebotol dua Topi Miring. Sebuah merek minuman alkohol yang paling beken karena murahnya dan rasanya yang seperti perpaduan api, parfum murahan, dan kencing kuda yang sudah basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dia, kami juga berlagak bak lelaki-lelaki dewasa yang ingin mengobrak-abrik kebiasaan lelaki remaja seusia kami. Jika remaja seusia mengingini permainan Nintendo, kami lebih memilih berdebat kusir soal lukisan, puisi, cerpen, atau musik. Jika remaja seusia mengumbar obrolan soal wanita, kami lebih memilih berdeklamasi di pinggir kali, sembari diiringi gitar kapok yang dipetik dengan brutalnya. Di antara jam-jam pelajaran yang menjemukan, kami lebih memilih kabur ke hutan-hutan daerah Singosari, sembari menenggak Topi Miring dan merancau apa pun tentang impian, kenistaan, keadilan, bahkan pengkhianatan. Jika pulang dalam keadaan teler, kami tidak berani langsung masuk rumah. Kami harus membersihkan dulu, sisa-sisa kebrutalan kami. Membasuh tubuh di kali, atau mengisi mulut dengan aneka makanan penebar bau yang bisa menyamarkan sisa-sisa bau alkohol dari kerongkongan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tumbuh dengan kesadaran, bahwa lingkungan kami berbeda dengan remaja kebanyakan. Tanpa kehadiran sosok seorang bapak, kami harus membiasakan diri untuk tidak mengeluh. Mencoba untuk selalu bisa mengatasi setiap persoalan yang kami hadapi. Tak jarang ketika sekolah liburan panjang, kami bergegas mengemas satu dua potong pakaian, menyandang gitar, untuk berikutnya melancong ke kota-kota tetangga barang satu dua malam. Kami juga kerap menghabiskan libur di puncak-puncak gunung dan tempat wisata alam di sekitar Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu peristiwa jenaka, Anakku, ketika satu kali bapak dan Ipong ingin menghabiskan liburan di Yogyakarta. Ketika itu kami masih sama-sama duduk di bangku kelas dua SMA. Berbekal gitar pinjaman dan pengharapan untuk melihat keelokan Yogya, bapak berangkat naik kereta api Matramaja. Rp11 ribu ongkos dari Malang ke Yogyakarta melewati Surabaya. Dan ketika itu bapak ingat, sisa uang bapak setelah beli tiket cuma Rp21 ribu. Satu pecahan Rp5 ribu bapak kantongi di saku. Sisanya lagi, Rp16 ribu, bapak selipkan di antara kaus kaki yang bapak kenakan. Di kantong Ipong, uang sudah tandas sejak berangkat dari Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman ketika itu, masih ramai dengan isu-isu kebrutalan gank-gank anak muda. Jadi, agar sisa uang bisa selamat sampai pulang, bapak selipkan uang itu di kaus kaki sebelah kanan bapak. Turun di Stasiun Lempuyangan, Yogya, berjalanlah kami bak koboi yang datang dari hutan. Duh begitu pedenya. Seolah-olah, kami adalah seniman keren berbekal gitar untuk menaklukkan Yogyakarta. Nah, ketika pecahan Rp5 ribu akhirnya tandas oleh nasi-nasi gudeg yang lezat itu. Bapak terpaksa membuka kaus kaki bapak untuk mengeluarkan uang simpanan. Diancok, uang itu menghilang. Tanpa sepeser pun uang, akhirnya gitar menjadi andalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mencoba ngamen di kaki-kaki lima di antero Yogyakarta. Sialnya lagi, ternyata kemampuan musik kami tak selihai yang kami bayangkan. Ditambah dengan rasa kampungan yang masih menyisa, akhirnya, dari mulut yang keluar hanya gerundelan bernada fals. Tapi perut minta terus diisi. Hingga mau tak mau kami memaksakan diri untuk menjual gerundelan bernada fals kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari kemudian, kami kembali ke Malang. Masih menumpang keretaapi Matramaja, kali ini, kami cukup bayar Rp6 ribu per kepala kepada kondektur di atas kereta. Sudah pasti uang itu masuk kantongnya sendiri. Tapi tak apa, bahkan kami merasa gembira ketika sepanjang dari Yogyakarta ke Surabaya, kami terpaksa berdiri saking penuhnya kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dan Ipong adalah sahabat tak terpisahkan sepanjang kami tumbuh remaja. Dialah orang pertama yang bapak mintai pendapat soal ibumu. Ketika kutanyakan padanya, apakah percintaanku dengan ibumu adalah sebuah lelucon kanak-kanak yang akan lewat begitu saja seiring bertambah tuanya usia kami? Ipong tidak menjawab apa-apa. Kebisuannya sebetulnya adalah jawaban itu sendiri. Kebisuannya, adalah sebuah cara untuk mengajari bapak, bahwa jawaban sesungguhnya ada di kepala bapak. Dan dia, merasa tak berhak ikut campur dalam urusan pribadi bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kuperkenalkan ibumu kepada Ipong, ada kegembiraan yang terjalin antara kita semua. Ini penting, Nak! Jika kelak ada seorang wanita yang hinggap di kehidupanmu, hal pertama yang harus kau perhatikan adalah: apakah kehadirannya memberi kegembiraan kepada orang-orang di sekelilingmu, terutama pada sahabat-sahabatmu?! Jika tidak, jika hanya menciptakan ketidakharmonisan, tinggalkan dia! Cari wanita lain! Karena wanita yang demikian, tidak akan membuat hidupmu berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak selalu berusaha melibatkan ibumu tanpa harus terlibat lebih jauh dalam kehidupan remaja kami. Ipong menerimanya dengan gembira. Ketika lukisan-lukisannya yang telah jadi dipertontonkan kepada kami, akulah orang pertama yang mengomentarinya. Ibumu diam, namun membersitkan ketidakcocokannya. Ipong merespon, dan berusaha memperbaikinya. Dan kami, terus saja bergembira ria. Hingga pada akhirnya, ibumu pulang ke Singapura. Bapak harus meninggalkan Singosari. Sementara Ipong terus berjuang dengan anak-anak kecilnya didikannya, yang semakin hari semakin membengkak dalam jumlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat yang tak pernah dan ingin sekali bapak katakan pada Ipong, Kenny. ''Aku begitu menyayangi sahabatku itu, Nak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto di atas, Rusli/Ipong ketika sibuk mengajar drum band anak-anak taman kanak-kanak di Desa Sumberawan, Singosari . Foto saya ambil 3 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7631580654409614360?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7631580654409614360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7631580654409614360&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7631580654409614360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7631580654409614360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/06/kisah-cinta-dua-singa-9.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (9)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SFY2hL1mg9I/AAAAAAAAAJ4/MyMXxryFKGk/s72-c/ipon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6075687074267221284</id><published>2008-05-26T20:44:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:18.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Kesunyian Nelayan Kecil Batam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_XoYLSbI/AAAAAAAAAI4/aCUr5oe5OsE/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_XoYLSbI/AAAAAAAAAI4/aCUr5oe5OsE/s320/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204682732076747186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YIYLScI/AAAAAAAAAJA/ZfSu-pRhQjw/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YIYLScI/AAAAAAAAAJA/ZfSu-pRhQjw/s320/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204682740666681794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YIYLSdI/AAAAAAAAAJI/jDOPio9aS_k/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YIYLSdI/AAAAAAAAAJI/jDOPio9aS_k/s320/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204682740666681810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YYYLSeI/AAAAAAAAAJQ/TmyrUbrvFN4/s1600-h/4..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YYYLSeI/AAAAAAAAAJQ/TmyrUbrvFN4/s320/4..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204682744961649122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YYYLSfI/AAAAAAAAAJY/4SbNQAWTNUI/s1600-h/5..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_YYYLSfI/AAAAAAAAAJY/4SbNQAWTNUI/s320/5..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204682744961649138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rIYLSgI/AAAAAAAAAJg/x4-DpLqaVqM/s1600-h/6..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rIYLSgI/AAAAAAAAAJg/x4-DpLqaVqM/s320/6..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204683067084196354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rYYLShI/AAAAAAAAAJo/MY5u6Wqfzsw/s1600-h/7..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rYYLShI/AAAAAAAAAJo/MY5u6Wqfzsw/s320/7..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204683071379163666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rYYLSiI/AAAAAAAAAJw/bt5zvdTSobM/s1600-h/8..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_rYYLSiI/AAAAAAAAAJw/bt5zvdTSobM/s320/8..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204683071379163682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeyono, ini nama memang bukan identik milik orang-orang Melayu, orang asli Batam. Lelaki 60 tahun ini, setahun silam memang bukan seorang nelayan. Bahkan, bagaimana mengayuh dayung pun tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setelah pabrik krupuk yang dirintisnya bertahun-tahun silam ambruk oleh mahalnya minyak goreng dan melambungnya tepung terigu, lelaki asal Surabaya ini memaksakan diri menjadi nelayan. Sekedar berburu ikan-ikan kecil dan cumi-cumi, itulah yang bisa dilakukan Soeyono. Dengan sampan sewaan, dia kerap melawan ketakutan atas laut, dan mengitari sekujur Pantai Batu Besar, Batam, untuk bisa menyambung hidup dirinya dan keluarga. Ke laut lepas? Jelas tidak berani. ''Saya bukan nelayan asli,'' katanya dengan mata menerawang, memandangi sampan reyot milik rekan sesama nelayan yang tengah diperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 24 Mei kemarin, Pemerintah SBY kembali melambungkan harga bahan bakar minyak. Soeyono pun hanya bisa mengelus dada. Bahkan sebelum BBM naik, bahan bakar sampan yang biasanya solar, diakal dengan dicampur minyak tanah agar irit. Kini, Soeyono tidak bisa melaut. Tapi, berkah justru datang belakangan. Soeyono yang punya sedikit ketrampilan menukang, memilih bekerja memperbaiki sampan rekan-rekan sesama nelayan Batu Besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Rajillah berbeda lagi. Sampan motornya terpaksa diistirahatkan sejak kenaikan BBM 2006 silam. Diganti dengan sampan berdayung yang hanya sanggup melayari pantai-pantai berombak kecil. ''Biaya sekali melaut bisa seratus ribu. Kalau dapatnya cuma dua kilo sotong, modal nggak balik,'' kata Ahmad saat ditemui Jumat (23/5). Kenaikan BBM, pencemaran laut oleh reklamasi dan limbah kapal-kapal besar, menjadi musuh terbesar nelayan kecil seperti Ahmad Rajillah. Kampung Melayu, Batam pun kini lebih sunyi oleh ketiadaan sampan-sampan bermotor yang sebelumnya menderu-deru setiap harinya. Hal serupa terjadi pada nelayan di Kampung Berlian dan Pulau Korek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keterangan Foto (berurut dari atas ke bawah) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 1            : Sampan-sampan nelayan Kampung Melayu, Batam, kini lebih banyak teronggok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 2            : Mengecat sampan, pekerjaan nelayan ketika tidak melaut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 3                : Menambal sampan dengan damar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 4, 5        : Soeyono, kini menjadi tukang memperbaiki sampan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 6            : Sekeluarga nelayan Pulau Korek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 7            : Hasil tangkapan nelayan Kampung Berlian, berupa kepiting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto 8            : Ahmar Rajillah, dengan sampan berdayung tak bermesin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6075687074267221284?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6075687074267221284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6075687074267221284&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6075687074267221284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6075687074267221284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/05/kesunyian-nelayan-kecil-batam.html' title='Kesunyian Nelayan Kecil Batam'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/SDq_XoYLSbI/AAAAAAAAAI4/aCUr5oe5OsE/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-4714595932082050617</id><published>2008-05-06T13:15:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T12:43:41.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (8)</title><content type='html'>: Ken Danish Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Kenny, dimulailah percintaan dua singa, dua negara berbeda. Bapak yang dari Singosari, dan ibumu yang bertumpah darah Singapura. Kisah cinta dua kepercayaan yang selama hampir 1.400 tahun selalu bertempur dalam ketidakdewasaan. Bapak yang Islam, dan ibumu yang Nasrani. Sebuah cinta yang sanggup menghancurleburkan kekolotan bapak atas semua hal yang sebelumnya bapak yakini, bapak amini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kisah ini berlanjut, bapak ingin jelaskan kenapa bapak lebih memilih mengatakan berasal dari Singosari ketimbang mengaku dari Indonesia? Atau setidaknya mengaku berasal dari Kota Malang? Dari Jawa? Karena di kepala bapak sekarang, tak ada negara bernama Indonesia. Institusi bernama Indonesia, bagi bapak hanyalah sebuah mesin pemerkosa hak-hak rakyat Nusantara - satu di antaranya hak rakyat Singosari - untuk kemudian dibagikan kepada "pemilik" nama Indonesia itu sendiri. Banyak orang kerap mengaku berhak memiliki Indonesia, berhak melakukan apa pun dengan Indonesia, berhak mencuri apa pun dari Indonesia, dan mengotori Indonesia dengan tinja-tinja mereka yang luar biasa busuk.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang dilakukan para pemimpin bangsa ini, anakku? Lihat pulalah dengan apa yang dilakukan wakil rakyatnya? Penegak hukumnya? Pekerja persnya? Pengusaha-pengusaha nakalnya? Jalan-jalan dibiarkan berlubang, sementara mereka asyik melenggang dengan mobil mewah yang dibeli dari pajak rakyat! Bermandikan dingin udara dari AC, berkemeja Polo Ralp Lauren seharga SGD 1.800 sambil menghisap cerutu dari Havana. Dari mobil mewah mereka, "pemilik-pemilik Indonesia" itu berteriak soal kesengsaraan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang berlimpah dimonopoli, untuk kemudian dijual dengan harga yang mencekik rakyat. Minyak subsidi diselundupkan. Beras "dihilangkan" agar ada peluang "bermain" di impor beras. Hutan ditebas dan dibakar, gedung-gedung dibangun dengan membabi-buta, menghadirkan sengsara berupa banjir, longsor, wabah penyakit, kematian, dan rasa sakit yang menggigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penderitaan itu terjadi, apakah bapak berhak malu untuk tidak mengaku sebagai orang Indonesia? Berhak, tentunya! Meskipun dianggap sebagian orang, bapak seorang yang romantisme feodalis, tidak nasionalis, bapak lebih senang mengaku sebagai orang Singosari. Sebuah kota kecil bekas pusat Kerajaan Singosari yang mashur itu. kerajaan yang pernah menaklukkan kota asal ibumu, Singapura! Bahkan juga Malaysia, Siam, Philliphina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah Kenny! Lupakan saja kesengsaraan itu! Bukankah penderitaan adalah kebahagiaan itu sendiri. Kita bahagia, karena memiliki penderitaan, merasakannya. Terlibat di dalamnya. Itu setidaknya yang diyakini Robin Willams di film satir nan konyolnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Moscow on the Hudson.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lanjutkan saja menyimak kisah cinta bapak! Seperti umumnya sejoli yang tengah bercinta, ya, seperti itulah kisah cinta kami, Kenny! Bertemu, jalan-jalan, bercanda, ciuman, berbagi cerita, tertawa, kadang menangis, dls. Tapi hal-hal mekanis seperti itu tidak akan bapak ceritakan. Ada banyak kisah lain yang jauh lebih menyenangkan. Maka itu, dengarkan! Dengarkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kekhawatiran orang-orang yang bapak baca ketika bertanya soal kamu, Kenny! Yakni, akan beragama apa kau kelak! Islam seperti bapakmu? Nasrani mengikut ibumu? Taoisme mencontoh nenek-kakekmu? Atau Atheis seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paklikmu &lt;/span&gt;Clement? Tentunya, bapak akan sangat bahagia jika kau nanti memeluk Islam. Tapi bapak tidak apa-apa jika kau memilih yang lain. Rahmat dan syafaat bukan hak bapak. Itu mutlak preogratif Tuhan. Bapak hanya bisa mendendangkan syahadat, juga puji-pujian di kedua telingamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran mereka adalah hal yang wajar. Ketika Tuhan menciptakan mana yang baik dan mana yang benar, banyak orang lebih memilih yang benar saja. Tanpa peduli, yang benar kadang tidak baik. Yang benar kadang tidak benar. Karena benar adalah sangat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika di Malang, ibumu selalu senang mengajak bapak mengikuti kegiatan sukarelanya. Mengajar anak-anak yatim di madrasah dan masjid-masjid. Menyambangi anak-anak jalanan. Datang ke rumah-rumah orang tak punya. Bercanda dengan pedagang-pedagang kaki lima. Menyisihkan sampah plastik dan kaleng di tempat berbeda untuk kemudian diberikan kepada ibu-ibu pemulung. Dia melakukannya karena itu baik. Tak peduli yang disambangi adalah bocah-bocah atau orang-orang Islam. Tak peduli mereka menyembah apa. Yang jelas, dia melakukan itu, karena itu sebuah aktivitas yang baik. Sebagian orang mungkin menganggap apa yang dilakukannya tidak benar! Tapi sekali lagi, itu adalah sebuah hal yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak kemudian berpikir keras soal baik dan benar. Di kepala bapak, kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana namun banyak orang takut mencari jawabannya: Apakah Tuhan sekejam itu menempatkan orang sebaik seperti Bunda Theresa di neraka, dan memasukkan ke dalam surga yang asri koruptor-koruptor yang menyengsarakan rakyat Indonesia? Hanya karena yang satu dianggap baik dan yang satunya dianggap benar? Berhak ditempatkan di sorga kah orang yang berhaji dari uang korupsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran itu datang dengan sangat alamiah. Ketika bapak sholat, ada banyak pelajaran yang sangat menyenangkan dari kegiatan sholat itu. Berserah diri dengan ikhlas, sembari menelisik diri, apakah ada hal buruk yang dapat membatalkan sholat bapak? Apakah makanan yang bapak makan berasal dari uang halal? Belajar untuk selalu memperhatikan orang, mendoakan tentang kebaikan kepada orang lain? Mencari tahu, apakah kekerasan adalah sebuah cara yang benar? Dan apakah tuhan terlalu idiot dengan hanya menempatkan Islam sebagai satu-satunya cara yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawaban itu, bapak peroleh dengan sama alamiahnya. Menjadi Islam adalah kebenaran mutlak dan orang di dalamnya akan menjadi manusia-manusia terbaik jika taat dan mau belajar. Tapi, ibumu yang Kristen juga sebenarnya seorang islam. Islam dengan cara yang berbeda. Islam dengan jalan yang berbeda. Islam dengan huruf "i" kecil. Mungkin sholat bapak tidak benar, puasa bapak sering terlewatkan. Bapak masih belum bisa lepas dengan yang namanya alkohol. Tapi yakinlah Kenny! Bapak selalu mengusahakan nafkah yang halal untuk kita sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ibumu, selanjutnya belajarlah bapak mengenai keikhlasan. Suatu ketika, sebelum kamu ada, bapak pulang dengan segepok koran di genggaman. Dari sekian artikel yang kebanyakan isinya sampah, terselip sebuah kisah memilukan dari Nusa Tenggara Barat: sekeluarga cacad yang sekarat oleh kemelaratan. Ibumu tertarik dengan artikel itu. Membacanya dengan biasa, dan kemudian meminta bapak mencari tahu wartawan mana yang menulis kisah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, bapak berhasil mendapatkan telepon wartawan itu. Sekaligus nomor rekening banknya. Ibumu, tanpa sepengetahuan bapak secara rutin menyumbangkan penghasilannya kepada sekeluarga cacad itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak lagi-lagi berpikir, sedangkan pemerintah di negeri ini sama sekali tidak peduli dengan kesengsaraan rakyatnya, ibumu justru datang dengan keikhlasan. Bapak malu. Bapak merasa teramat kecil untuk menandingi ibumu. Tapi bapak juga tak bisa mengesampingkan, bapak semakin cinta dengan ibumu. Semakin cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti percintaan kami mulus-mulus saja, Nak! Budaya berbeda, melahirkan percintaan yang berbeda. Melahirkan persoalan berbeda pula. Sebenarnya, ada banyak kekhawatiran ketika bapak memutuskan mencintai ibumu. Satu di antaranya, apakah kelak bapak bisa kembali di antara orang-orang yang bapak cintai di Singosari sana? Ini sebenarnya kekhawatiran yang memuakkan. Kekhawatiran yang kekanak-kanakan. Tapi, justru sangat mengganggu pikiran bapak. Bapak mencintai ibumu. Tapi, sepotong cinta bapak ini, juga harus dibagi kepada orang-orang yang sama mencintai bapak di Singosari sana. Juga kepada dunia yang mengelilingi bapak. Kawan-kawan bapak, musuh-musuh bapak, sastra, dan banyak lagi yang lainnya. Kadang, sepotong cinta ini terlalu sedikit untuk dibagi-bagi. Dan, dengan memutuskan mencintai ibumu, bapak harus sudah siap memberi potongan porsi terbesar kepada ibumu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-4714595932082050617?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/4714595932082050617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=4714595932082050617&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4714595932082050617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4714595932082050617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/05/kisah-cinta-dua-singa-8.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (8)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5582697817890755227</id><published>2008-05-02T13:44:00.000+07:00</published><updated>2008-05-02T13:57:19.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (7)</title><content type='html'>: Ken Danish Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari di mana bapak bertemu ibumu adalah hari yang biasa. Ketika itu September, 2001. Setelah pertemuan yang tak berkesan itu berkesudahan, terhapus juga wajah ibumu di otak bapak. Di kepala bapak ketika menyerahkan sesobekan kertas berisi nomor telepon rumah bapak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mana pula lelaki kurus, kumal, miskin, seperti bapak sanggup menarik perhatian seorang wanita Tionghoa macam ibumu&lt;/span&gt;. Jadi, selanjutnya, bapak lupakan sejumput harapan, kelak ibumu akan menghubungi bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbilang hari setelah pertemuan pertama di &lt;a href="http://batamseksi.blogspot.com/2008/02/kisah-cinta-dua-singa-2.html"&gt;Auditorium IKIP Malang&lt;/a&gt;, bapak kembali menjadi mahasiswa kampungan: Menggimbal rambut untuk menarik simpati siapa pun orang. Bersarung dan berkaus oblong penuh sobekan di kelas untuk membuat jengkel para dosen. Demo sana-sini. Mencorat-coret kaus yang lengannya bapak potong dengan cat kayu. Menenteng-nenteng segepok buku-buku sastra-filsafat tebal yang sebetulnya enggan bapak cerna isinya. Dan segenap kekampungan ala mahasiswa yang menerbitkan tawa ketika bapak mengenangnya, saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbilang hari itu, benar dugaan bapak, tak ada telepon dari ibumu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, mari kita lupakan sesuatu yang menggembirakan itu! Kembalilah ke dunia di mana kau mengada!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bapak mengada dengan kekampungan bapak. Menyenangkan menjadi lelaki kampung, Kenny! Sangat menyenangkan. Udara Malang yang begitu menggigit dan basah, mendukung bapak untuk melanjutkan kekampungan itu. Satu kegemaran bapak yang belum bapak ceritakan: berjalan di rerintik hujan. Romantis, mungkin? Atau justru sangat kampungan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hahaha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan di Malang, datang seperti berondongan peluru pasukan Amerika yang membumihanguskan rakyat Irak di dua perang akbar itu. 1.883 milimeter per tahun, volumenya. Ketika hujan itu turun, otak bapak seolah tak mampu melawan kegairahan sel-sel syaraf bapak yang minta diguyuri hujan. Di dalam kelas sekalipun ketika hujan turun, bapak akan keluar, memasang jaket parasit kedap hujan, merapatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boat &lt;/span&gt;tua warisan kakak ipar. lalu, berjalan kaki lah bapak di antara rimbunan rintik hujan itu. Berondongan hujan yang menjatuh di kepala bapak, bagaikan belaian lembut tangan seorang ayah yang sebelumnya tak pernah bapak nikmati.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situasi yang seperti itu, kedua kaki bapak akan sanggup berjalan mengelilingi kota Malang. Dari kampus bapak di Jalan Surabaya, bapak akan memotong jalan menuju Jalan Ijen yang elok oleh tetumbuhan palem dan rumah-rumah tua peninggalan Belanda. Belok ke kiri melewati Jalan Semeru, pandangan kita pasti tercatut kepada Stadion Gajayana yang mashur itu. Di situlah klub kesayangan bapak, Arema, bertungkus lumus mengharumkan sepakbola Malang di kancah Nasional. Di ujung Jalan Semeru, tepatnya di perempatan Jalan Basuki Rachmat, bapak biasa belok kanan, menuju alun-alun Malang. Menyusur Jalan Kayu Tangan yang kanan-kirinya kini berisi gedung-gedung angkuh tak bernyawa, sepuluh menit kemudian sampailah bapak di alun-alun dengan empat beringin raksasa di setiap pojoknya. Bapak akan memilih satu tempat duduk yang agak teduh untuk berhenti sejenak dan menyulut sebatang rokok kretek. Seorang diri bapak kemudian menikmati hujan dan gigitan udara Malang. Seorang diri bapak menyesapi kekampungan bapak. Seorang diri, bapak berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan bayangan ibumu, wanita singa itu, Joanne Chua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkumpulkah bayangan ibumu? Belum! Hujan ternyata tak sudi membantu bapak mengumpulkannya. Tapi setidaknya, rentetan hujan kerap membuka kebodohan bapak. Di hari-hari yang penuh dengan warna kampungan itu, bapak kerap mengumpulkan kisah-kisah melenakan. Ketika bapak kesulitan menyusun satu bagian dari kisah itu, bapak kemudian memaksakan diri membuka buku-buku yang sering menemani bapak berjalan. Atau sekedar bertanya pada penjual parfum kakilima yang banyak berserakan di alun-alun tentang bagian itu. Menelisik rak-rak buku di Gramedia, mencari bagian itu. Secara tak sadar, bapak dipaksa belajar. Dengan apa pun, dengan siapa pun. Seorang diri. Hingga datanglah petang yang tak terduga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu tidak hujan, sayang! Langit biru, udara sesak, dan bapak bersama dua rekan bapak mencoba mengusir kebosanan dengan jalan kaki dari kampus ke alun-alun kota Malang. Ketika kami tengah duduk di trotoar sembari menikmati kegelisahan, melengganglah sepotong langkah kaki kecil milik seorang wanita, ibumu. Sosok yang sudah terhapus dari ingatan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak kejar langkah itu. Dari belakang, bapak tarik tas tenteng hijau-hitam yang ia tenteng di pundak kanannya. Ibumu menoleh, untuk sesaat gelagapan. Bapak dikira copet. Dikira lelaki kurang ajar. Dan, nyaris saja bapak diteriaki penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak mengenal bapak. Untuk beberapa saat, muncul ketakutan di wajah ibumu ketika melihat bapak. Entah penampilan bapak yang sangar atau dia yang sudah betul-betul lupa dengan wajah bapak. Baru setelah bapak nukilkan sejumput malam di auditorium IKIP Malang, beberapa waktu silam, dia ingat. Dia tertawa, bapak juga, dan selanjutnya kami berempat mendaki malam, menyusuri jalan-jalan kota Malang bersama. Menikmati jagung bakar. Kopi tubruk. Tertawa bersama oleh ulah bencong-bencong di Stasiun Kota Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setelah petang yang cerah itu, telepon dari ibumu tak juga kunjung datang. Bapak tak juga menghubungi nomor HP di kartu nama yang dia berikan. Mungkin karena bapak ketika itu masih terlalu kampungan. Masih terlalu memikirkan diri, bahwa berjalan-jalan di bawah rerintikan hujan, seorang diri, adalah hal ternikmat yang bisa bapak kecapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga, beberapa waktu berikutnya, seorang kawan bapak datang dengan sebuah permohonan. &lt;a href="http://wukir.wordpress.com/"&gt;Kawan itu, Wukir, seorang pemusik,&lt;/a&gt; ingat bahwa satu-satunya kaset rekaman dia yang tersisa ada di tangan bapak. Dia ingin menghadiahkan kaset rekamannya - sebuah album &lt;span style="font-style: italic;"&gt;indie &lt;/span&gt;bersampul biru dengan judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bendera Hitam Setengah Tiang&lt;/span&gt; - pada Joanne. Dan, bapaklah yang diminta untuk mengantarkan kaset itu kepada ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertemuan yang menentukan. Seorang diri, kemudian bapak datang ke tempat tinggal ibumu: sebuah bilik luas yang menyenangkan, di antara sederet bangunan panti asuhan dan sekolah untuk anak-anak cacat. Yayasan Bhakti Luhur. Kuserahkan kaset itu, kemudian, berceritalah kami dengan nikmatnya. Ditemani kopi tubruk dan aneka gorengan yang dibeli di kaki lima depan gedung panti asuhan, bapak baru tersadar, nomor telepon yang bapak berikan kepada ibumu salah angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku berkali-kali menghubungimu, selalu salah sambung. Selalu saja ada suara yang mengatakan salah sambung,'' kata ibumu dengan suara renyahnya. "Aku hanya ingin ada seseorang menemaniku ketika jalan-jalan di kota ini. Waktuku sangat singkat di sini. Dan aku tak ingin melewatkan sedikitpun untuk belajar mengenal kota ini. Kotamu indah. Aku jatuh cinta dengannya. Juga dengan orang-orangnya,'' ia melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mungkin bisa menebak kisah selanjutnya, Ken! Ya, sejak pertemuan itu, dimulailah sebuah kisah baru bernama percintaan. Antara aku dan ibumu. Antara dua singa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5582697817890755227?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5582697817890755227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5582697817890755227&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5582697817890755227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5582697817890755227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/05/kisah-cinta-dua-singa-7.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (7)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1791118365313638771</id><published>2008-04-21T18:08:00.004+07:00</published><updated>2008-05-02T15:04:15.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>SMS Itu Datang Terlalu Pagi</title><content type='html'>SMS itu datang terlalu pagi. Dari seorang kawan wanita, karyawati hotel di daerah Nagoya. Begini bunyi SMS-nya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emangnya di sekolah anak-anak diajarin apa? Kok pagi seperti ini ada anak berseragam check in di hotel. &lt;/span&gt;Kubalas SMS-nya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ini Batam! Batam memang seksi. Hehe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebetulnya tak terperanjat dengan isi SMS itu. Sepasang laki-perempuan yang satu di antaranya masih berstatus siswa, menyewa sekamar hotel? Itu sudah menjadi hal yang biasa. Saya hanya merasa, SMS itu datang terlalu pagi. Di Nokia 2300 milik saya, SMS itu menunjuk di angka pengiriman 09.13 pagi. Prediksi saya, rekan wanita saya mengabari saya lewat SMS, sesaat seusai memberesi pesanan kamar sepasang muda itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Busyet! &lt;/span&gt;Apa sekarang kelas-kelas sekolah sudah pindah ke kamar-kamar hotel, bathin saya. Saya yang mantan guru, hanya bisa mengelus dada. Jangan-jangan satu di antara pemuda yang tengah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;booking&lt;/span&gt; kamar itu adalah salah satu mantan anak didik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu silam, saya juga sempat berkenalan dengan seorang makelar. Bukan makelar motor, tanah, apalagi makelar perkara! Makelar yang satu ini mengaku mengkhususkan diri menjadi perantara antara "kartini-kartini" SMA yang mengais uang jajan dari leleran sperma lelaki yang mau membayarnya. Beberapa foto si siswi, diperlihatkannya lewat layar HP mutakhir yang ia punya. Cantik-cantik memang! Di semua foto itu, siswi-siswi itu berpose semi telanjang, dengan baju abu-abu putih yang dibiarkan menyisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi, jika dalam waktu yang hampir bersamaan ada seorang nenek yang mengaku diperkosa oleh seorang bapak muda, akal sehat saya seolah-olah tak mampu menerimanya. Segila apa orang-orang di Batam ini?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rabu petang, 16 April 2008 silam, Nokia tua saya berdering sesaat sebelum motor saya sampai di halaman rumah. Si penelepon, seorang wanita, mengaku ingin bertemu, berbagi kisah dengan saya. Berbagi kisah dengan pembaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posmetro&lt;/span&gt;. Dia menelepon saya, karena nomor HP saya , tercantum di halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lembaran Kelam.&lt;/span&gt; Salah satu halaman yang paling atraktif yang pernah saya urus. Survei kecil-kecilan pembaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posmetro&lt;/span&gt;, halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lembaran Kelam&lt;/span&gt; terpopuler kedua setelah rubrik guyonan saru si kutu-kupret &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brewok&lt;/span&gt; yang diasuh kawan editor yang sama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brekele&lt;/span&gt;-nya dengan sang tokoh rekaannya, Susanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setengah tahun terakhir ini saya dipercaya mengasuh halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lembaran Kelam&lt;/span&gt;. Satu rubrik di halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posmetro &lt;/span&gt;yang mengkhususkan diri menuliskan kisah-kisah tragis kehidupan seseorang. Setengah tahun mengasuh halaman ini, kepala saya jadi terbuka: bahwa seorang pelacur penyakitan sekalipun, bisa jadi adalah seorang yang masih sangat beruntung. Seribu-satu kisah tragis warga Kepulauan Riau, memenuhi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;inbox &lt;/span&gt;Nokia dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;email &lt;/span&gt;saya. Pernah satu bagian cerita yang dikirim pembaca lewat SMS, membuat HP saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;error&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sarankan pada wanita yang menelepon saya itu untuk menulis kisahnya di sepucuk surat, dan dikirim ke kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posmetro&lt;/span&gt;. Tapi dia ingin menceritakannya secara langsung kepada saya. Alasannya, agar beban yang ia tanggung selama bertahun-tahun bisa terkurangi saat bercerita kepada saya. ''Ini sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;secret&lt;/span&gt;, hanya saya sendiri yang tahu. Tidak keluargaku,'' kata wanita itu, sebut saja Martha. Suaranya lincah mengalir dengan deras. Pelafalan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;secret &lt;/span&gt;yang begitu sempurna, menghadirkan bayangan di otak saya, wanita yang menelepon saya adalah seorang ibu ningrat berusia 45-an tahun, berpendidikan baik, genit, kaya, namun penuh persoalan. Serta sangat mengagumkan. SMS-SMS Ibu Martha yang dihujankan kepada saya berikutnya, juga selalu menyertakan aneka macam istilah Inggris. Saya, hampir-hampir tidak mampu mengartikannya. Sebentuk kebodohan saya jika dibandingkan dengan Ibu Martha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari kemudian, kami bertemu muka di sebuah kedai masakan Padang di daerah Legenda Malaka, Batamcentre. Bayangan semula tentang Ibu Marta buyar ketika mata saya menangkap sosok seorang nenek dengan kulit berkeriputan sana-sini. Memakai setelan celana panjang gelap dengan kemeja sewarna, untungnya, bayangan keningratan dan berpendidikan yang baik, tak sepenuhnya meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apakah saya seratus persen percaya ketika nenek di depan saya itu mengatakan bahwa dia telah diperkosa seorang lelaki muda? Tentu saja tidak. Yang pasti, saya nyaris tidak mampu memandang dua bola mata di balik kacamata minus Ibu Martha ketika mendengarkan kisahnya. Saya tidak mau dia semakin merasa malu, merasa bersalah, atau berdosa, jika sepanjang pembicaraan kami, pandangan mata saya menghujam matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, mengalirlah segenap peristiwa tragis yang dialaminya. Maaf, saya tak bisa menuliskan secara detail, peristiwa Ibu Martha. Saya terikat janji untuk hanya menuliskannya di rubrik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lembaran Kelam&lt;/span&gt;. Itupun semua nama dan lokasi kejadian disamarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu dia sangat sedih ketika menceritakan hal ini. Sepanjang dia berkisah, dia berusaha menahan diri agar tak menumpahkan air mata. Kerut-kerut di seputar matanya mengecil, ketika lingkar matanya mengembung menahan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang obrolan kami, saya hanya memposisikan diri sebagai pendengar. Sedikit ceritanya saya sela, hanya untuk memastikan beberapa detail yang nantinya akan saya kembangkan dalam tulisan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lembaran Kelam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tarikan nafas panjang, dia akhirnya berhasil menyelesaikan ceritanya. Saya tidak ingin berlama-lama dalam sebuah kesedihan yang dihadirkan. Saya pamit pulang. Menggeber motor ke rumah salah satu famili saya di Perumahan Bida Asri yang malam itu tengah hajatan: selamatan tujuh bulan sebuah kandungan. Merayakan sebuah bakal tunas yang akan mewarnai kehidupan Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SMS kawan wanita saya itu datang terlalu pagi. Bahkan mata saya masih layu, menyisakan kantuk dari begadang, ketika membaca SMS soal sepasang siswa yang baru saja memesan sebuah kamar hotel. Tiba-tiba saja saya teringat dengan deretan nama mantan siswi saya: Jangan-jangan siswi yang tengah mem-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;booking&lt;/span&gt; kamar hotel itu si Nindi? Maisyaroh? Atau bisa jadi si Tety yang centil dan pemberani itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1791118365313638771?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1791118365313638771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1791118365313638771&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1791118365313638771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1791118365313638771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/04/sms-itu-datang-terlalu-pagi.html' title='SMS Itu Datang Terlalu Pagi'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1575700139098975608</id><published>2008-04-21T13:09:00.000+07:00</published><updated>2008-04-21T13:27:57.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (6)</title><content type='html'>: Ken &amp;amp; Tukang Sol Sepatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 11 pagi, bapak kesiangan berangkat kerja. Jarum jam di dinding rumah kita menunjuk angka 12.30 waktu Batam. Dengan motor kreditan, bapak berangkat dengan doa yang masih tertahan di tenggorokan. Entah, apakah di keadaan yang seperti sekarang ini, bapak berhak berdoa kepada Tuhan bapak? Terlalu banyak pengkhianatan yang bapak lakukan pada Tuhan bapak. Terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bapak bicara soal pengkhianatan, bapak ingin menjelaskan, kenapa bapak tambahi dengan "waktu Batam" pada kalimat "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jarum jam di dinding rumah menunjuk angka 12.30 waktu Batam?"&lt;/span&gt; Karena hingga saat ini, ketika mata bapak tercatut di jarum-jarum jam, otak bapak selalu harus berbagi citraan. Jarak kita hanya 22 mil membatas laut, namun ketika bapak masih nyenyak tidur, ibumu harus sudah siap-siap dengan pekerjaannya. Mandi, ganti baju, berdandan, berlarian mencegat bus, naik turun lift di stasiun, naik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mass rapid transport&lt;/span&gt;, turun dan ganti kereta, naik-turun lift lagi, hingga akhirnya sampai di sekolah tempatnya mengajar. Begitu tiap hari. Sama seperti bapak yang tiap hari harus menghadapi berita-berita omong kosong yang tiada habisnya. Di Singapura, jarum jam berlari satu jam lebih cepat dari seharusnya. Di Singosari, jarum jam tiada arti selain alat penunjuk, waktu sholat telah tiba. Di tanah kelahiran ibumu, waktu adalah uang, di tanah kelahiran bapak, waktu sebisa mungkin dibunuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu, juga aku, di hari-hari yang membosankan, selalu beromong kosong soal impian kami: mengelilingi dunia. Menumpang kereta api dari Pasir Panjang, Singapura, kami bermimpi bisa mengarungi Malaysia. Menyebrang Thailand, Vietnam, China, hingga Asia Tengah, kemudian mendarat di Eropa Timur. Melewati perjalanan darat, tujuan impian selanjutnya adalah Eropa Barat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak tahu, kapan impian itu bisa kami laksanakan. Di setiap kami berdua, kami selalu tidak bosan membuka peta. Menunjuk tempat-tempat indah yang ingin kami kunjungi. Nepal, Katmandhu, Mekkah, Jerusalem, adalah sedikit tempat yang ingin kami kunjungi. Tentu saja bersama kamu, Kenny! Kita bertiga. Alangkah indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu adalah pejalan kaki tangguh. Wanita tertangguh yang bapak kenal. Di usianya yang sangat belia, ibumu seorang diri sudah mendaki Himalaya. Tidak sampai setengahnya memang. Dia juga sudah menjejakkan kaki di gurun Australia. Menikmati pantai Timor-Timur di antara desingan senjata. Mereguk kebrengsekan Amerika Serikat, serta bertungkus lumus dengan bocah-bocah Indonesia yang dari hidung mereka meleler ingus-ingus hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menikmati setiap perjalannya. Bersama bapak, daerah-daerah paling berbahaya di Jawa, Kalimantan, Bali, dan sebagian Sumatera, telah kami lalui. Tapi bapak selalu merasa bukan siapa-siapa ketika bersama dia. Ibumu terlalu tangguh. Sangat tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, perjalanan harus kami sudahi - atau tepatnya kami kurangi - oleh sebuah pernikahan yang sangat sederhana. Pernikahan berbiaya 48 dolar Singapura. Tapi sehari setelah kami menikah, kami sudah tercatut dalam ingar-bingarnya jalanan Kota Kinabalu, Malaysia. Bulan madu atau entah apa namanya, kami habiskan di jalanan Kota Kinabalu. Sebuah perjalan terakhir sebelum kau mengada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bapak berkhianat dengan impian bapak sendiri, Nak? Mungkin iya. Dan bapak telalu banyak berkhianat. Pagi tadi, ketika bapak berangkat kerja, sesosok Lelaki Paruh Baya mengingatkan bapak untuk tidak meneruskan pengkhianatan ini. Lelaki itu, Tukang Sol Sepatu asal Purwakarta, adalah sebenar-benarnya pejalan kaki tangguh. Berpeci daun pandan yang melindungi wajahnya dari sengatan teriknya matahari Batam, Lelaki itu duduk di kotak sol sepatunya, di bawah beringin di halaman gereja orang-orang Batak, di Kompleks Legenda, Batamcentre. Tidak ada yang ia kerjakan selain berteduh dan melamun seorang diri. Tanpa sedikitpun mempedulikan orang-orang maupun kendaraan yang lewat di jalan depan gereja berdinding papan itu. Dia membuka topi dan mengelap peluh dengan jari-jemarinya yang kokoh, ketika bapak lewat tanpa sapaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak kenal Lelaki itu. Beberapa hari sebelumnya, bapak panggil dia ketika lewat di rumah kontrakan bapak. Sol sepatu bapak sedikit terkelupas, dan bapak memerlukan keahlian Dia untuk membenahi sepatu bapak. Dengan sogokan secangkir kopi dan sebatang rokok, bapak tahan dia untuk menceritakan secuil kisah hidupnya. Secuil perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam secuil kisahnya itu, dia sempat menceritakan soal tiga anak dan seorang istrinya yang tengah menunggu dia di sebuah kamar kos-kosan bertarif Rp400 ribu sebulan di bilangan Baloi. Satu kamar untuk lima orang? Bayangkan Kenny! ''Enam anak saya sebenarnya. Tapi yang tiga saya tinggal di Jawa. Yang tiga lagi, terlalu kecil untuk jauh dari kedua orangtuanya,'' kata Tukang Sol itu, yang sayangnya bapak lupa menanyakan siapa nama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanggul dua kotak kayu tempat menyimpan peralatan sol, dalam satu hari Bapak Paruh Baya itu bisa berkeliling separuh Batam dengan jalan kaki. Sambil berteriak-teriak di sepanjang perjalannya, menawarkan jasa perbaikan sepatu, Lelaki itu sungguhlah seorang pejalan kaki yang tangguh. Kulitnya hitam terbakar. Kedua kaki dan lengannya kokoh oleh urat-urat yang bertonjolan. Matanya yang selalu sayu memandang apa pun, tak bisa membohongi, bagaimana dia menanggung beratnya menjalaini sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, dia sama sekali tidak mengeluh, Nak! Tidak! Bahkan dia tegas mengembalikan uang kembalian, ketika bapak kasih lebih ongkos perbaikan sepatu bapak. Bapak kehilangan akal membayangkan kehidupannya. Sama hilang akalnya ketika mengingat banyak kenalan bapak, rekan kerja bapak, yang justru bangga dan teriak-teriak kegirangan ketika mengemis belas kasih dari orang-orang yang mereka anggap pembesar. Menaiki mobil hasil mengemis. Belanja jins hasil mengemis. Atau nongkrong ngopi di Godiva dengan uang ngemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis tetap pengemis, sekalipun yang memberi sedekah adalah seorang presiden Republik Indonesia yang banci itu! Dan pejalan kaki tangguh seperti Lelaki Paruh Baya itu, telah menyadarkan bapak untuk tidak lagi berkhianat terhadap mimpi-mimpi yang ibu dan bapakmu inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyamanan sanggup melahirkan wanita pejalan kaki tangguh seperti ibumu. Kemelaratan juga terbukti mampu melahirkan sosok-sosok lelaki paruh baya Tukang Sol Sepatu itu. Jadi, tak ada alasan kau untuk tumbuh dan membesar menjadi lelaki lemah! Kau lelaki yang kuat, Ken! Bahkan ketika kau masih di dalam kandungan, kami, kedua orangtuamu tahu, kau bakal menjadi lelaki yang sangat kuat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1575700139098975608?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1575700139098975608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1575700139098975608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1575700139098975608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1575700139098975608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/04/kisah-cinta-dua-singa-6_21.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (6)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-7823643361674182070</id><published>2008-04-04T17:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:19.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Kemalasan yang Menyala-nyala*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_YQmV9eSUI/AAAAAAAAAIY/BH5KrGzKVrY/s1600-h/the-burning-laziness.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_YQmV9eSUI/AAAAAAAAAIY/BH5KrGzKVrY/s320/the-burning-laziness.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185350271879760194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Burning Laziness&lt;/span&gt;, ini kiranya judul yang dipilih &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;HAH &lt;/a&gt;untuk novelnya yang masih dia kerjakan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hehehe&lt;/span&gt;, setidaknya seperti pengakuannya di SMS HAH kepada saya. Tapi jangan percaya! Kemalasan yang menyala-nyala, HAH menterjemahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Burning Laziness&lt;/span&gt; demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya kurang setuju. Kata "kemalasan" digabung HAH dengan frasa "menyala-nyala" bagi saya, sangat tidak melenakan. Malas yang ada di otak saya adalah sejenis makhluk tegap dengan segenap kemampuannya yang mumpuni, namun pada kenyataannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lungkruh &lt;/span&gt;lemah, tak bergairah. Enggan berbuat apa-apa. Sementara "menyala-nyala", saya bayangkan sebagai sebentuk monster perkasa yang mampu meremukredamkan siapa saja. "Menyala-nyala" justru sangat menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemalasan! Ya, ini penyakit yang muncul justru ketika saya berhasil menikmati gaji pertama saya. Pelan namun pasti, "kemalasan" memakan saya hingga, seperti kata Chairil Anwar, "hilang bentuk". Dulu, ketika remaja saya sanggup membaca buku hingga semalaman. Menulis hingga semalaman. Dan paginya, berjalan kaki, mencari ketegangan hingga sesiangan. Sekarang, cukuplah hanya dengan membuka koran dan majalah-majalah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih fotografi adalah bentuk kemalasan saya yang lain. Sebentuk pelarian dari keteguhan aktivitas membaca dan menulis yang terlebih dulu ingin saya geluti yang sekarang hilang. Saya sedih ketika banyak klien saya yang menyukai hasil foto saya. Kenapa bukan karya tulis saya yang mereka sukai. Kenapa justru hasil foto saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya HAH mencambuk saya. Di &lt;a href="http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/betapa-memukaunya-kemalasan.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kolom Kamisan di Batam Pos edisi 3 April kemarin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, HAH memperotes kemalasannya sendiri. Dan tiba-tiba, ketika saya membaca tulisan itu, saya membaca pula kemalasan saya. Sialnya, cambukan itu tidak langsung menyakiti saya, menyadarkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya justru lari ke depan kamera. Sibuk potrat-potret diri dengan alat studio yang baru, yang selama ini saya impikan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diancok! &lt;/span&gt;Kemalasan ini benar-benar menyala-nyala (?). Foto di atas, merupakan salah satu hasil dari kemalasan saya. Saya ambil dengan diafragma F:4 dan kecepatan 1/200, dari belakang saya, tersembur cahaya 110 watt yang terlebih dahulu mantul ke payung reflektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Photoshop, saya ubah dikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curves, level, dan sharpness. &lt;/span&gt;Terakhir, untuk memberi kesan kemalasan yang melena, saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gaussian blur &lt;/span&gt;foto itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-7823643361674182070?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/7823643361674182070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=7823643361674182070&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7823643361674182070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/7823643361674182070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/04/kemalasan-yang-menyala-nyala.html' title='Kemalasan yang Menyala-nyala*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_YQmV9eSUI/AAAAAAAAAIY/BH5KrGzKVrY/s72-c/the-burning-laziness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3512292510921232166</id><published>2008-04-01T11:55:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:19.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (5)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_HF819eSTI/AAAAAAAAAIQ/6dCvyGsYUKQ/s1600-h/mandi-di-kalu-%28ilustrasi-ke.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_HF819eSTI/AAAAAAAAAIQ/6dCvyGsYUKQ/s320/mandi-di-kalu-%28ilustrasi-ke.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184142295147890994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;:Ken Danish Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bang-bangtut&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cendelo lawang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sopo mambu entut&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ditembak raja tuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;tuan-tuan kaji&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rambute kari siji&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;ji-jipang rambute ngepang&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gedang-gedang sepet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;silite buntet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pernah mendengarkan tembang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;basa&lt;/span&gt; Jawa ini, Ken? Tentu saja belum. Di tempatmu, jelas kau dan kawan seumuranmu tak akan menyanyikan lagu di atas. Tidak pernah melantunkan bersama beberapa kawan-kawanmu sambil bertawa-canda? Bahkan, mendengarkannya pun aku rasa baru kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak mengerti. Jaman di mana kau tumbuh saat ini, bocah-bocah lebih rela kebebasannya terenggut oleh mainan-mainan elektronik yang iklannya gencar ada di televisi dan koran-koran. Bocah-bocah sepertimu, Ken, malu berbelang kaki karena luka atau bekas borok menganga akibat permainan alam yang berisiko luka. Bocah-bocah sepertimu, lebih gemar bermandikan udara dari mesin pendingin sambil mengunyah kentang goreng ketimbang harus ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tungkuslumus&lt;/span&gt; mencari barang-barang bekas di tong sampah yang berpotensial untuk dijadikan mainan rakitan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sudahlah tentang nostalgia itu. Jaman berbeda, dan bapak tak menyalahkan kamu! Menyalahkan jaman. Yang masih serupa hanyalah, bahwa kau bocah dan bapak juga pernah menjadi bocah seusiamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke lagu "Bang-bangtut", yang entah siapa yang menciptakannya itu. Kami ramai-ramai menyanyikannya, ketika di satu arena permainan, tiba-tiba tercium bau kentut yang menyegarkan. Menyegarkan? Benar Nak! Kentut bocah-bocah di jaman bapak sungguhlah menyegarkan. Menggembirakan. Mungkin karena makanan yang masuk ke mulut kami, jauh dari instan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Kenny! Sesegar-segarnya kentut, tetap kentut. Tetaplah busuk. Dan, jelas itu menganggu. Lima atau enam bocah yang ketika itu asyik bermain, tentu saja ogah untuk ditunjuk hidungnya sebagai biang pembuat kentut. Saling syak, saling curiga tentu saja ada di masing-masing pikiran kami. Hingga akhirnya, terjadilah sebuah kesepakatan yang sekaligus permainan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua berkumpul dan membentuk lingkaran. Satu orang memimpin, dan mulai menyanyikan lagu "Bang-bang kentut" sambil tangannya berputar, bergantian menunjuki kami semua. Nah, siapa yang kena tunjuk terakhir, dialah yang tersepakati sebagai biang kentut. Si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"silit buntet"&lt;/span&gt; yang harus rela untuk diolok-olok. Meskipun bisa jadi, dia bukan pembuat kentut. Demokratis, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tertawalah kami semua. Termasuk si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"silit buntet"&lt;/span&gt;. Namun, tidak ada amarah. Tidak ada kelicikan. Tidak saling jegal seperti dunia politik Indonesia saat ini. Tidak ada jilat-menjilat selayaknya anakbuah yang ingin pangkatnya dinaikkan. Tidak ada yang sok ngebos dan berkuasa. Tidak ada pula yang pura-pura membabu, menjadi kalah. Semua menang. Semua tertawa. Semua gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, setelah hari mulai menguning, tanpa dikomando kami kemudian berangsur-angsur berlarian menuju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belik&lt;/span&gt;. Sebuah mata air berpenghujung sungai yang kami manfaatkan untuk mandi, cuci, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngising&lt;/span&gt;. Sebuah arena permainan lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Belik &lt;/span&gt;itu, adalah satu di antara sekian surga yang bapak nikmati ketika usia bapak membocah. Di sungai kecil di bawah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belik &lt;/span&gt;yang berair coklat namun menyegarkan itu, bapak dan kawan-kawan bapak kerap beradu cepat renang. Sesekali ketika kami beradu renang, kepala kami tak sengaja menyundul benda lunak berwarna kuning kecoklatan yang "harum" baunya. Taik. Dan ketika hal ini terjadi, kembalilah tawa kami meledak sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebujur kali plus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belik &lt;/span&gt;adalah pusat aktivitas warga selain pasar rakyat dan lapangan bola. Di kali, ketika kau asyik berenang, kau tidak bisa melarang seseorang buang hajat di atasnya. Kau cuma harus pandai-pandai. Maksud bapak, pandai-pandai mengelak jika ada taik yang tiba-tiba lewat saat kau berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah itu menjijikkan? Kotor? Taik orang kena kepala kita?" kau mungkin akan bertanya demikian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ha-ha-ha,&lt;/span&gt; iya. Tapi ketika itu kami tidak peduli. Apalah arti kata "jijik" dibandingkan kegembiraan yang kami dapatkan. Lagi pula, begitu usai mengumbar kesenangan di sungai kecil itu, kami kemudian beranjak ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belik&lt;/span&gt;. Membasuh diri dengan air jernih yang keluar dari celah-celah batu. Atau jika dirasa kulit kita masih kotor, kami akan mencari daun lamtoro. Meremas-remasnya, untuk kemudian kami jadikan sabun pembasuh kulit kita. Untuk shamponya, kami biasa memetik barang satu atau dua jeruk nipis yang tumbuh di banyak tempat di sepanjang pinggir kali. Air jeruk nipis itu, cukup ampuh untuk membuat helai-helai rambut kami halus dan meringankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali kecil yang bermuara ke Kali Brantas itu, Ken, juga menjadi ladang makan sampingan kami semua. Di antara ceruk-ceruk alirannya, di balik bebatuannya, kami kerap berburu udang atau ikan wader yang gurih nan lezat itu. Kalau cuma udang, cukup berbekal jari-jemari kecil kami saja. Dengan satu jari, lubang-lubang udah kami rogoh. Sementara jemari lainnya sudah siap di depan lubang. Jika udangnya keluar, jemari yang sudah siap itu langsung, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jlup..&lt;/span&gt;. menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ikan wader atau lele, kami perlu kail. Dan ini kerap sedikit menyulitkan. Harga seperangkat pancing jauh dari jangkauan kantong keuangan kami. Namun kami tak kehilangan akal. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gedebok &lt;/span&gt;pisang tua yang mengandung serat-serat elastis bisa kami manfaatkan. Kami loloskan seutas senar dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gedebok &lt;/span&gt;pisang itu. Kami gali pinggiran parit sawah untuk berburu cacing-cacing merah kecil. Kami ikatkan cacing itu di ujung senar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gedebok &lt;/span&gt;pisang. Lalu, siaplah pancing sederhana itu. Satu serat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gedebok &lt;/span&gt;pisang sudah cukup ampuh untuk mendapatkan belasan wader sebesar jempol anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pancing ini hanya ampuh untuk wader-wader kecil. Wader besar kerap memutuskan senar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gedebok &lt;/span&gt;pisang kami. Jadi, kami harus memilih memancing di potongan sungai yang airnya dangkal nan deras, untuk memburu wader-wader kecil itu. Jika mancing di air yang agak dalam, bisa jadi umpan kita disambar lele atau ikan gabus. Nama ikan yang terakhir ini, kerap sangat kami hindari. Kami waktu itu percaya, ikan gabus atau kami biasa menyebutnya "kotes", adalah penjelmaan setan sungai. Kelopak matanya bisa berkedip kalau kita tiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau acara berburu ikan sudah membosankan, sasaran lain sudah menanti: hamparan ladang dengan aneka tanaman pengganjal perut dan pemuas dahaga. Ada singkong, ketela daun, jagung, pepohonan kelapa, pohon duku, hamparan tebu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dls&lt;/span&gt;. Bahkan jika kita ingin makan besar, dari rumah kita sudah siapkan ketapel untuk mengetapel ayam-ayam warga yang bermain sampai jauh ke ujung belik. Mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami ingin merasakan menu berbeda, kami kerap berubah menjadi pencuri kecil. Mengendap-endap membongkar singkong atau ketela daun. Sementara satu kawan yang lain, menurunkan kelapa-kelapa muda. Satu rekan yang lain, mengumpulkan kayu untuk membakar hasil curian kami. Dan yang lain lagi, kejar-mengejar ayam sasaran, membidikkan ketapel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terakhir, bapak punya seorang kawan yang jago dengan ketapelnya. Ocop kami memanggilnya. Padahal nama aslinya cukup indah, Fatkhul Mausuli. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arek Meduro&lt;/span&gt;. Dialah yang selalu mendapat tugas mengeksekusi ayam-ayam yang berkeliaran di ujung kali. Penglihatannya tajam. Kemampuan mengendap-endapnya mumpuni. Dan ketangkasan membidik sasaran luar biasa. Mungkin karena dia dianugerahi dua tangan yang sangat kokoh. Ke manapun dia pergi, selalu terselip sepisau tajam di pinggangnya. Kami bisa mengandalkan dia untuk sebuah pesta pora. Belakangan bapak dengar, Paman Ocop menjadi jagal sapi paling mumpuni di Singosari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke rumah, nenekbuyutmu Rafiah bisanya sudah menyambut dengan seteko kopi panas yang menyegarkan. Tidak di cangkir-cangkir. Tapi di satu teko dengan satu celemek saja. Bapak, bibimu Irma, nenekmu Zumronah, juga nenekbuyutmu Rafiah, harus bergantian menyeruput kopi dari satu celemek itu. "Biar rukun. Biar bisa saling berbagi,'' begitu alasan nenekbuyutmu Rafiah, soal seteko kopi dan selembar celemeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak ketika bapak meremaja, setiap rekan-rekan bapak yang bertandang ke rumah selalu disuguhi seteko kopi dan satu celemek oleh nenekbuyutmu. Alasan "rukun dan saling berbagi" masih dipertahankannya. Sialnya Ken, bapak tak mendapatkah hal ini di Batam. Apalagi di tanah kau dilahirkan, Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan: Foto di atas saya ambil di belik Sumbrawan, 13 Februari 2005 silam. Belik Sumbrawan salah satu belik terbesar di Malang yang mata airnya untuk suplai air minum sebagian wilayah Kabupaten Malang. Selain sumber air, belik Sumbrawan menjadi salah satu tempat wisata di Singosari, karena di sana berdiri Candi Sumb(e)rawan, sebuah candi Budha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3512292510921232166?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3512292510921232166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3512292510921232166&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3512292510921232166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3512292510921232166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/04/kisah-cinta-dua-singa-6.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (5)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R_HF819eSTI/AAAAAAAAAIQ/6dCvyGsYUKQ/s72-c/mandi-di-kalu-%28ilustrasi-ke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-3346257540572312490</id><published>2008-03-16T13:47:00.005+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:19.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (4)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9zVlYCFn0I/AAAAAAAAAII/UtjqJD0g9LU/s1600-h/ilustrasi+kisah+cinta+2+Singa+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 420px; height: 280px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9zVlYCFn0I/AAAAAAAAAII/UtjqJD0g9LU/s320/ilustrasi+kisah+cinta+2+Singa+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178248509652311874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;:Ken Danis &amp;amp; (alm) Lilin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama bapak tak menangis, Ken! Sebenar-benarnya menangis. Seingat bapak, sebenar-benarnya tangisan terakhir bapak pecah ketika Khuzaima,  ibunda sahabat bapak, almarhum Sugeng, memeluk bapak ketika bapak datang di malam ke tujuh setelah Sugeng dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pintu belakang, petang itu, ketika bapak menghadiri tahlilan kematian Sugeng, bibi Khuzaima mencegatku di depan pintu. "Dia pergi duluan, Nak! Dia pergi," katanya lirih sembari memelukku. Tangisnya menderas. Sebagian air matanya membasahi kemeja krem yang bapak kenakan. Dia meneruskan gumamannya, "aku selalu ingat kamu setiap memandang fotonya."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, di bulan Agustus 2004, tujuh hari setelah Sugeng menyerah oleh ganasnya kanker tulang yang menggerogotinya selama hampir setahun. Bapak memaksakan diri hadir di acara tahlilannya. Menumpang Mandala Airlines, bapak berangkat dari Batam menuju Surabaya. Menyewa taksi seharga Rp120 ribu dari Juanda ke Singosari dengan sopirnya terlalu banyak omong, bapak hanya bisa  menghadiri hari terakhir tahlilan sahabat bapak itu. Tidak bisa lebih awal dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ke tujuh itu, menjadi salah satu malam yang sangat emosional. Bibi Khuzaima terus saja menangis, ketika mengajakku ngobrol berdua sesaat seusai tahlilan. Ibu mana Kenny, yang tidak sangat berduka kehilangan seorang putra yang baru beberapa bulan lulus kuliah. Seorang putra yang tidak pernah membantah apa yang dikatakan orangtuanya. Seorang putra yang tampan dan mengesankan. Ibu singamu mengenang Sugeng sebagai lelaki yang sangat sopan, sekaligus sangat menggoda setiap mata wanita. Dan bapak merasakan betul kesedihan bibi Khuzaimah ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak menangis seusai itu. Seorang diri. Sampai-sampai bapak harus meloloskan sebotol Black Label yang bapak bawa dari Batam yang sejatinya untuk oleh-oleh beberapa rekan bapak di Singosari. Untuk membantu meredakan kesedihan bapak. Bapak masih ingat betul, ketika cairan-cairan coklat minuman yang bapak tenggak mengairi tenggorokan bapak, membuncah pula kenangan-kenangan atas Lilin, panggilan tersayang untuk Sugeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bapak mengenang hari yang menyedihkan itu, Ken? Karena, sahabat bapak Lilin adalah salah satu kepingan dari serangkaian kisah cinta dua Singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih ingin mendengarkan ceritaku, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Le&lt;/span&gt;? Okelah! Jika kau bersedia, akan bapak teruskan kisah ini, agar kau kelak bisa mengirim doa untuk sahabat bapak itu. Sepotong doa mungkin tidak cukup! Tapi itu lebih baik ketimbang kau sama sekali tidak tahu akar sejarah yang melingkupimu. Mengenal sahabat-sahabat bapak. Mengenal orang-orang yang mencintai bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, bapak dan Sugeng, tumbuh dalam sebuah keserasian antara tawa, kegaduhan, cinta, dan persaingan intelektual yang memuakkan. Di setiap kami ada, Lilin selalu mendapatkan perhatian dari wanita yang terindah. Namun bapak selalu bisa mengobrak-abrik kesombongan keindahan wanita itu. Lilin selalu bisa masuk ke sekolah terbaik, dan bapak dengan mudah berada di sampingnya. SMP dan SMA kami sama sekolah. Terakhir, ketika dia memilih kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, bapak mengolok-oloknya sebagai anak gunung yang memaksakan diri untuk mencintai lautan. Bapak dan Lilin, kami berdua kerap menghabiskan liburan di puncak-puncak gunung di seantero Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Singosari yang dijejali gunung-gunung dengan puncak-puncaknya yang meruncing, kenapa harus kau pilih lautan?" itu kata bapak kepadanya saat berdebat kusir soal pilihannya kuliah. Dia tertawa. Dia menjawab, "aku sudah bosan dengan sebuah pendakian. Aku ingin mengarungi lautan hingga ke negeri seberang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okelah! &lt;/span&gt;Mungkin karena gemericik air di sungai yang mengalir sebelah rumahnya yang membuatnya akrab dengan air, hingga Lilin memilih lautan. Bapak ingat, Lilin adalah salah satu kawan bapak yang paling jago berenang. Ketika bapak memilih menggapai buah jambu di ranting terpucuk, Lilin lebih suka mengail ikan di bawahnya. Untuk kemudian, kami bakar ramai-ramai ikan tangkapannya sebagai lauk makan besar di setiap Minggu malam, ketika kami menghabiskan waktu menunggu siaran Liga Italia. Mungkin keakraban dengan air itu, yang menjadikan dia memilih dunia kelautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak kau akan memilih jalan hidup yang bagaimana, Ken? Ibu singamu selalu berkata padaku, "biarkan Kenny berjalan di dunia yang dia pilih. Kita tak berhak atas apa pun dari hidupnya. Tugas kita hanya menyodorkan berbagai macam pilihan kepadanya. Terserah dia nanti memilih jalan yang mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak setuju dengan kata-kata ibumu. Kau mau jadi dokter, Nak? Seperti keinginan bapak waktu kecil dulu? Terserah kamu. Atau kau mau jadi penulis? Menjadi guru seperti ibumu? Polisi? Olahragawan? Semua terserah kamu! Bapak hanya berpesan, jadilah apa pun yang membuatmu gembira. Tanpa sebuah keterpaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita tentang almarhum Sugeng. Satu hari ketika bapak mengutarakan niat untuk pergi meninggalkan Singosari, mengejar ibumu, Sugeng adalah orang yang paling berkeberatan dengan niat itu. "Kau mengejar kemustahilan!" kata Sugeng pada bapak. "Kami semua di sini menyayangimu. Ada banyak kedukaan yang akan kau dapati ketika kau meninggalkan kami semua. Kumohon, lupakan semua kemustahilan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, bapak tidak tahu kedukaan apa yang Sugeng maksudkan. Yang jelas, tak ada yang mustahil yang bisa bapak rengkuh selama semuanya terpikirkan secara nalar. Bapak tahu, Sugeng adalah salah satu orang yang tidak setuju bapak bercinta dengan ibumu. Namun ketika bapak mengatakan bahwa ibumulah satu-satunya wanita yang bisa membuat bapak menjadi sebenar-benarnya manusia, Lilin tak berkata apa-apa. Dia menyerahkan sepenuhnya keputusan atas hidup bapak. Dia hanya berpesan, "kembalilah! Sekalipun kau menemukan jalan bahagia di negeri seberang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga, kedukaan itu datang tanpa diundang. Sugeng meregang nyawa tanpa bapak ada di sampingnya. Kelak, ini menjadi sebuah penyesalan yang tak berkesudahan. Ketika bibimu Irma menelepon bapak memberitakan kematian Lilin, bapak baru tersadar, keangkuhan yang selama ini melingkupi hati bapak, sewaktu-waktu bisa meleleh cepat oleh takdir. Bagi bapak, hidup yang baik adalah, bagaimana membagi cinta kepada orang-orang yang menyayangi kita. Dengan seadil-adilnya. Sekaligus membuat lawan mengangkat topi untuk keteguhan kita. Dan ketika bapak membabi-buta mencintai ibumu, itu adalah sebuah kesalahan yang tak terbayar. Karena ada banyak cinta untuk bapak yang harus kuperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai ibumu, Ken, juga berarti melukai banyak cinta yang bapak punya. Bukan berarti mereka tidak sayang pada ibumu. Di hari-hari ketika aku dan ibuku masih di Malang, mereka sangat gembira ketika ibumu ada bersama mereka. Hanya saja, mereka memang belum sepenuhnya setuju, bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan. Mereka tidak setuju hanya karena ibumu tidak sama dengan kami. Mereka masih menganggap, surga adalah satu-satunya milik orang Islam. Ibumu yang bukan Islam, menurut mereka tidak berhak mendapatkan surga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya nenekmu Zumronah yang tidak berpikiran seperti itu. "Kau sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanmu. Aku orang bodoh, dan kau jauh lebih tahu tentang resiko yang kau pilih. Kuserahkan semua pilihanmu kepadamu. Meskipun aku lebih suka kau tidak mengambil resiko itu,'' demikian nenekmu berkata pada bapak. Ketika nenekmu berkata demikian, kalimat itu seolah bukan keluar dari mulutnya. Bapak tak yakin, wanita yang hanya lulusan sekolah dasar seperti nenekmu sanggup mengeluarkan kalimat yang demikian. Sebijaksana demikian. Dan inilah yang menyemangati bapak untuk mengepak ransel. Mengejar ibumu. Meninggalkan sejumlah cinta, untuk mendapatkan sebuah cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, jika keadaan sudah sangat memungkinkan. Bapak akan sebisa mungkin membayar cinta-cinta yang bapak tinggalkan. Memenuhi pesan Lilin untuk kembali ke Malang. Memperkenalkanmu pada pucuk-pucuk gunung yang menyejukkan. Menapaki setiap jalan-jalan di kota Malang yang rindang dan selalu basah oleh deraian hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mungkin bapak akan melanjutkan keinginan Lilin "mengarungi lautan hingga ke negeri seberang." Sekarang, bapak berusaha bercinta. Bercinta dengan ibumu, kamu, dan juga lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan: Foto ilustrasi di atas adalah foto plantar di Kecamatan Sembulang yang saya ambil pada 27 Juli 2006 silam. Saya olah sedikit di Photoshop untuk memberikan kesan "muram".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-3346257540572312490?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/3346257540572312490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=3346257540572312490&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3346257540572312490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/3346257540572312490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/03/kisah-cinta-dua-singa-4.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (4)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9zVlYCFn0I/AAAAAAAAAII/UtjqJD0g9LU/s72-c/ilustrasi+kisah+cinta+2+Singa+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5925779175777809476</id><published>2008-03-07T16:40:00.002+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:19.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Tiya Menunggu Tirus*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9EVO4CFnyI/AAAAAAAAAH4/S85YxlDfYkA/s1600-h/ilustrasi+Lelaki+bernama+tirus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9EVO4CFnyI/AAAAAAAAAH4/S85YxlDfYkA/s320/ilustrasi+Lelaki+bernama+tirus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174940792128904994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*) Tiya, perawan Pulau Korek ini menunggu Tirus? Tirus, tokoh rekaan saya dalam &lt;a href="http://www.riaupos.com/v2/content/view/2907/94/"&gt;cerita pendek yang diterbitkan Riau Pos&lt;/a&gt; akhir Februari lalu adalah sebuah angan-angan akan sebuah kehidupan mapan. Angan-angan tanpa kesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiya memimpikan kemapanan itu. Begitu juga dengan puluhan perawan di pulau tersebut. Di pulau itu, setiap wanita yang sudah berhaid dan siap menikah, hari-hari mereka diisi dengan rutinitas kegiatan: memasak, berdandan, dan menunggu calon suami datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiya menunggu Tirus? Dalam foto yang saya ambil 18 Agustus 2007 silam, Tiya mengiyakannya. Dengan lugunya ketika itu dia mengatakan, "Saya menunggu suami. Semoga dia orang kaya, orang yang bisa menghadirkan pesta tiga hari tiga malam, plus menanggap organ tunggal.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Tiya mungkin sudah menikah. Mungkin dia sudah erhasil menemukan tirus dambaannya. Atau mungkin masih terus berharap akan datangnya lelaki bernama Tirus.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5925779175777809476?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5925779175777809476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5925779175777809476&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5925779175777809476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5925779175777809476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/03/tiya-menunggu-tirus.html' title='Tiya Menunggu Tirus*'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R9EVO4CFnyI/AAAAAAAAAH4/S85YxlDfYkA/s72-c/ilustrasi+Lelaki+bernama+tirus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-5496056383034722097</id><published>2008-03-04T12:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:19.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (3)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8zlzH5sovI/AAAAAAAAAHo/Vu_ccDE1eQY/s1600-h/ken3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8zlzH5sovI/AAAAAAAAAHo/Vu_ccDE1eQY/s320/ken3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173762738398995186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;: Ken Danis Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini bapak ingin bercerita sepotong bagian, dari ribuan potong kisah hidup bapak. Dengarkan Nak! Dengarkan! Agar kau tidak lagi mengulang kesalahan yang pernah bapak lakukan. Kesalahan sia-sia yang menjerumuskan bapak menjadi lelaki yang paling menyedihkan. Seorang lelaki yang tidak pernah bisa memanfaatkan secara maksimal apa pun anugerah yang diberikan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus tahu sejarah bapakmu! Juga sejarah ibu singamu. Agar kelak, kau bisa menjadi seekor singa petarung, yang berani mempercayakan taring dan cakarmu untuk merobek keangkuhan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ibumu yang singa, ada tiga lagi wanita yang sangat bapak cintai. Nenekmu Zumronah, ibu bapak, tak terpungkiri itu. Wanita kedua adalah nenek buyutmu, Rafiah! Seorang wanita perkasa yang dari tangannya teracik sambal terasi paling enak yang pernah bapak rasakan. Ketiga, bibimu Irma! Nama yang terakhir ini, dialah wanita yang mempertaruhkan sebagian kebahagiaannya agar bapak bisa melanjutkan sekolah. Saat bapak belajar bagaimana brengseknya menggeluti dunia sastra di Universitas Negeri Malang. Keempat wanita itu, Kenny..., Kau harus mengukir nama mereka di hati dan simpul-simpul syaraf otakmu! Ini pesan bapak, Nak! Jika kau sampai lupa dengan pesan ini, kusumpahi kau jadi manusia yang paling tidak berguna di dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kenalan bapak, Machfud, bercerita bagaimana bapak lahir di Senin siang yang terik pada 31 Juli 1978. "Akulah yang mengantar ibumu ketika kau memaksakan diri nongol ke dunia ini,'' Wak Pot - demikian bapak memanggil Machfud - membuka kisahnya. Di satu malam ketika Wak Pot bertandang ke rumah bapak, cerita ini disampaikan. Ya, Wak Pot, lelaki hitam kurus yang kini sudah almarhum, adalah sekeping &lt;span style="font-style: italic;"&gt;puzzle &lt;/span&gt;yang membangun kehidupan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak ingat, di malam-malam saat Wak Pot mengisahkan bagaimana bapak lahir ke dunia, ritual awal yang selalu dilakukan Wak Pot adalah: menyeruput kopi tubruk merek Sidomulyo 73 hidangan nenek Zumronah, menyulut sebatang rokok Retdjo Pentong, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Seolah hendak mengumpulkan segenap kekuatannya. Lalu, berceritalah dia sepanjang malam. Tanpa rasa bosan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kusarikan begini kisah itu Ken:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, satu siang 30 tahun yang lalu. Nenekmu Zumronah tengah dirundung kesedihan. Kesedihan seorang ibu beranak balita dengan kandungan yang hampir membuncah. Sementara Kakekmu di luar sana tengah asyik menggagahi istri mudanya. Entahlah??? Atau bisa jadi kakekmu saat itu tengah bercanda dengan burung-burung piaraannya yang harganya sama dengan sebuah sedan mewah. Yang budget asupan makan sebulan burung-burung piaraan kakekmu, jauh melebihi harga susu yang bapak perlukan ketika bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, ada kontraksi menghebat di rahim nenekmu. Nenek buyutmu Rafiah, yang ketika itu menemani nenekmu, jelas kebingungan melihat anak wanitanya menggeliat-geliat kesakitan. Hanya ada tiga orang di rumah Singosari ketika itu. Rafiah, Zumronah, dan Irma yang masih berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan daya yang nenek Rafiah bisa, ia kemudian membawa nenek Zumronah ke jalanan. Menyetop kendaraan apa saja yang ada di jalan raya Singosari, untuk membawa nenekmu Zumronah ke puskesmas atau bidan terdekat. Namun, setelah puluhan kendaraan lewat di depan mereka, tak satupun yang mau berhenti di depan mereka untuk mengatarkan nenekmu yang tengah berjuang melawan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenny, jangan kau bayangkan Singosari ketika itu layaknya Singapura yang penduduknya cukup memencet tombol telepon 999 untuk meminta pertolongan dengan segera! Jangan kau bayangkan, proses kelahiran bapak seperti halnya &lt;a href="http://batamseksi.blogspot.com/2007/07/anakku-biar-jadi-wn-singapura-saja-akte.html"&gt;proses kelahiran kamu&lt;/a&gt; di Gleneagles yang ditunggui tiga bidan dan Profesor Tham yang berwajah dingin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu tahun 1978! Singosari di jaman itu, adalah sebuah kota kecamatan yang hanya menyisakan bekas-bekas kedigjayaan Ken Arok dan Raja Kertanegara untuk bahan kajian para arkeolog! Tidak ada telepon di rumah bapak. Tidak juga taksi yang dalam keadaan darurat bisa sewaktu-waktu dipanggil. Hanya ada dokar dan mobil pribadi milik jutawan-jutawan angkuh hasil korupsi uang rakyat. Ojek tidak ada. Apalagi busway yang menelan anggaran rakyat bermilyar-milyar itu. Dan ketika itu, nenekmu tengah berjuang mempertahankan kehidupan! Hingga, berhentilah pick up pengangkut es yang disopiri Wak Pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil es itu berhenti atas belas kasihan sopirnya, Wak Pot itu. Kepada nenek buyutmu dia bertanya, "adakah yang bisa kuperbuat untuk membantu anakmu yang tengah mengandung tua itu?" tanya Wak Pot. Sambil mempertahankan posisi mobil tuanya agar tetap stabil, mata Wak Pot nyalang mengarah kepada seorang wanita yang tengah terduduk di bawah pohon akasia sembari mengelus-elus perutnya yang membuncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada!" Kata nenek Rafiah tegas. "Jika kau sebenar-benarnya lelaki, tolong antarkan anakku ke puskesmas terdekat! Dia hendak melahirkan! Kandungannya bisa pecah dan nyawanya tak tertolong jika kau tak menolongnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Pot, kemudian segera membukakan pintu samping kiri mobil es yang dikemudiakannya. Nenek buyutmu kemudian segera berlari ke tempat nenek Zumronah duduk. Membopongnya dengan segala daya, untuk kemudian menuntunnya masuk ke mobil es yang dikemudikan Wak Pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, setelah mobil es sampai di puskesmas dan nenekmu dipapah dengan sisa kekuatan nenek buyutmu, aku, bapakmu Ken, kemudian lahir! Tanpa kesakitan. Bahkan, sebelum tubuh tanpa daya nenek Zumronah sampai di ruang bersalin, bapakmu sudah nongol ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti proses kelahiran bayi-bayi lainnya yang membutuhkan perjuangan hidup-mati, nenek Zumronah selalu mengatakan pada bapak, bahwa bapak tidak pernah membuat dia kesakitan. Bahkan ketika lahir sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika bapak masih meremaja, sambil mengelus-elus kepala bapak nenek Zumronah kerap mengulang-ulang kalimat ini kepada bapak: ''Anakku, lahir seperti seonggok kotoran yang keluar dari duburku! Tanpa sakit! Tanpa rasa! Aku berharap kelak, kau tidak akan menyaikitiku seperti aku waktu melahirkanmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bapak juga akan berpesan kepadamu, Ken! Dengarkan... dengarkan! Jika tidak ingin mendapat gelegar auman ibu singamu, jangan kau pernah menyakitinya. Karena bapak tahu, auman amarah seorang ibu, akan membuat hidupmu sangat tidak berarti. Sangat sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memang lahir di jaman yang melegakan. Di jaman yang tali pusar seorang bayi laku terjual hingga ratusan juta rupiah. Tapi, tetap saja ibumu harus mempertaruhkan nyawanya ketika mengeluarkan kamu dari rahimnya. Di Senin malam yang cerah itu, ketika ketuban pembungkusmu pecah, bapak tengah di Batam. Ibumu, tanpa bapak dampingi, berjuang mengeluarkanmu. Sepanjang malam dia kesakitan. Sepanjang malam itu, bapak hanya bisa mendengar jerit kesakitannya lewat HP yang dihidupkan ibumu. Bapak menangis. Bukan karena bapak tak sanggup mendengar jerit kesakitan itu. Melainkan karena ketidakbisaan bapak mendampingi ibumu. Sepanjang malam itu, bapak seperti seonggok mayat yang tak mampu melakukan apa pun. Ketidakmampuan mendampingi ibumu ini, yang hingga saat ini menjadi penyesalan terdalam bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, esok harinya, 10 Juli 2007, ketika jarum jam berada di angka 08.15, tangis pertamamu menghadir. Mewarnai kehidupan kami. Mempersatukan darah dua singa. Darah Singapura-Singosari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-5496056383034722097?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/5496056383034722097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=5496056383034722097&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5496056383034722097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/5496056383034722097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/03/kisah-cinta-dua-singa-3.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (3)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8zlzH5sovI/AAAAAAAAAHo/Vu_ccDE1eQY/s72-c/ken3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-4106478597621225940</id><published>2008-02-24T14:59:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:20.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Kisah Cinta Dua Singa (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8EwnwXEwDI/AAAAAAAAAHY/U4eKx8FGS04/s1600-h/joanne3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8EwnwXEwDI/AAAAAAAAAHY/U4eKx8FGS04/s320/joanne3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170467306752753714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;: Ken Danis Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken, tentu kau ingin mendengarkan kisah bagaimana bapak dan ibu singamu berbagi cinta. Ya, bapak ingat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Le&lt;/span&gt;, hari itu 10 September 2002. Sebuah telepon dari seorang rekan mampir di telepon rumah Singosari. Dari kawan kuliah bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bollywood...," begitu kelak ibumu menjuluki kawan bapak yang satu itu. Karena menurut ibumu, tampang dan perawakan kawan bapak itu, habis-habisan kayak artis-artis film India. Tampang boleh seperti Sakhrukh Khan, tapi hatinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pyur &lt;/span&gt;sosialis komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di teleponnya, Bollywood... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eh&lt;/span&gt;, Suroso, minta bapak sore itu datang ke Auditorium IKIP Malang. Tempat bapak kuliah. ''Ini pertunjukan perdanaku. Kau harus nonton! Aku butuh kritikmu,'' kira-kira begitu kalimat Suroso di telepon. Ya, malam itu Suroso dan teater Sastra Inggrisnya akan mementaskan naskah Antonius, pahlawan Romawi yang kekasih gelapnya Cleopatra itu. Dan Bapak datang, karena perkawanan adalah sesuatu yang indah seperti halnya sebuah cinta. Tapi maaf Ken, sejak bapak merantau ke Batam akhir tahun 2.002 silam, hubungan bapak dengan si Bollywood terputus. Jadi, tak bisa menceritakan lebih banyak hal tentang dia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke malam 10 September, Ken. Di keremangan ruang Auditorium, Dua langkah di depan tempat duduk bapak, samar-samar bapak lihat seorang yang tampil berbeda dari kebanyakan penonton. Bermata sipit, berkulit putih, dengan rambut tergerai sepantat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;T-shirt&lt;/span&gt; merahnya - belakangan setelah pertunjukan usai dan seluruh penonton keluar - bertuliskan band asal Inggris: Oasis. Dan bapak, ketika itu, tidak peduli apa-apa selain deraan kebosanan yang melanda ketika melihat pertunjukan berbahasa Inggris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian pertunjukan bubar. Ada kisruh dikit seusai pertunjukan. Seorang aktor ngamuk-ngamuk ke wanita berkaus Oasis itu, sembari menuding-nuding sangka, bahwa wanita itu saat pertunjukan tadi mengganggu konsentrasinya. Bahwa wanita itu adalah orang yang meneriaki ejekan-ejekan ke artis itu. Tapi sekali lagi, bapak tidak peduli. Bapak tidak kenal keduanya. Lagipula bapak merasa, artis itu memang layak mendapat umpatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang lain menyapa bapak ketika bapak hendak keluar ruangan. Wukir namanya. Kepada bapak, dia memperkenalkan seorang wanita. Yang ternyata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diancok&lt;/span&gt;, wanita berkaus merah tadi. ''Joanne, sukarelawan Singapur (a)," kata Wukir memperkenalkan wanita itu. Kami, kemudian saling berjabat tangan, saling senyum. Berikutnya, tidak ada apa-apa selain bertukar nomor telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Suroso yang belakangan muncul dengan make up masih menebal di wajah, buru-buru minta maaf ketika melihat aku dan wanita itu berkawan. ''&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sorry Jhel klakuane koncoku maeng nang koncomu," &lt;/span&gt;kata Suroso dalam bahasa Jawa. Untuk kutipan ini bapak tak mau menulis dalam bahasa Indonesia, Ken. Karena bapak ingin kau bisa berbahasa Jawa. Berbahasa singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak pikir, Suroso tak perlu minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau Ken Danis, wanita berkaus merah itu, singa itu, adalah ibumu. Dan inilah sekelumit kisah awal pertemuan dua singa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-4106478597621225940?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/4106478597621225940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=4106478597621225940&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4106478597621225940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4106478597621225940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/02/kisah-cinta-dua-singa-2.html' title='Kisah Cinta Dua Singa (2)'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R8EwnwXEwDI/AAAAAAAAAHY/U4eKx8FGS04/s72-c/joanne3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8701248688423972212</id><published>2008-02-17T18:34:00.000+07:00</published><updated>2008-02-17T18:37:16.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Ningsih dan Gaji Dolarnya</title><content type='html'>Ada dua pemandangan berbeda ketika saya pergi-pulang Batam-Singapura menggunakan Feri Batam Fast, pekan kedua Februari 2008 lalu. Pemandangan pertama, di sore yang berangin, saya sebelah-menyebelah dengan calon tenaga kerja Indonesia. Pemandangan kedua, sebuah kemesraan yang memuakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, saya buka kisah ini dengan perkenalan saya dengan TKI itu. ''Sampeyan Jawa Timur juga ya? Saya asli Malang juga. Dari Turen. Ini pertama kali saya ke Singapura (maksudnya jadi TKI)," wanita itu memperkenalkan diri. Turen adalah salah satu kecamatan paling selatan Kabupaten Malang. Sebuah daerah yang terkenal dengan perusahaan amunisi PT. Pindad dan sangkar burung yang terkenal indah. Namun untuk produk terakhir itu, saya dengar usaha itu kini berangsur-angsur hancur setelah sangar-sangkar burung besi yang tak kalah indahnya, dijual dengan harga terbanting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, TKI itu, terlihat sangat pemalu. Tapi rasa malunya mungkin sedikit teratasi ketika saya mengatakan berasal dari kota yang sama. Beberapa rekannya memandangi kami, ketika kami terlibat obrolan menggunakan bahasa Jawa. Ningsih, TKI itu, seperti TKI lain yang sering saya temui di Singapura: potongan rambut pendek, tanpa make-up, pandangan selalu menunduk, dan seolah selalu berada dalam suasana ketidakberdayaan. Jawaban yang diberikan selalu pendek, apa adanya, tanpa dibumbui kata-kata bersayap. Saya mencoba untuk membuat suasana jadi lebih cair dengan mengatakan, Singapura adalah kota yang menyenangkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk di deret bangku paling belakang dari feri. Dan 24 rekan Ningsih yang lain, memenuhi hampir separo bagian tempat duduk belakang feri. Saya tanya tentang Malang, tentang proses menjadi TKI; dan dia balas bertanya soal Batam dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ikut agen Pak Koh,'' jawabnya pendek ketika saya tanya agen mana yang memberangkatkannya. Hanya informasi "Pak Koh" yang dibawa Ningsih dan kawan-kawannya. Sebuah nama yang mungkin akan membuat nasibnya berubah. Menjadi lebih baik atau sebaliknya. Tidak dia tahu berapa gaji yang akan diterimanya. Tidak juga dia tahu harus bagaimana ketika dia mendapat masalah sewaktu nanti bekerja di Negeri Singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sarikan cerita Ningsih. Begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiga bulan silam, sebuah agen datang ke kampung Ningsih di Turen sana. Mengiming-iming uang banyak dengan menjadi TKI, Ningsih dan beberapa rekannya kemudian bertekad menjadi TKI. Dua bulan "dipermak" di Jakarta, Jumat (15/2) lalu Ningsih dikirim ke Batam. ''Di sini (Batam) cuma beberapa jam. Cuma dikasih tahu apa-apa yang harus dilakukan,'' kata Ningsih. Dan, berangkatlah Ningsih dan 24 rekannya ke Singapura dengan menumpang Batam Fast. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Gaji? Lumayanlah. Nggak tahu pastinya berapa. Tapi katanya, kami digaji 300-an dolar. Dipotong delapan bulan. Kalau yang sudah pernah jadi TKI lebih besar. Kira-kira 400-an dolar." Tentu saja Ningsih tidak sepanjang kalimat ini ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bagian per bagian. Pendek-pendek. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ketika akan menjadi TKI, Ningsih mengaku tidak sepeserpun uang keluar dari kantongnya. Tapi, potongan yang delapan bulan adalah keterlaluan. Mari kita buat hitung-hitungan kasar. Jika dia dikontrak selama dua tahun, berarti Ningsih akan bawa pulang gajinya sebesar 300 X 24 - 8 bulan = 4.800 dolar. Atau kalau dirupiahkan dengan kurs Rp6.400, akan dapat angka Rp30.720.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah angka yang besar, memang, untuk ukuran penghasilan orang Indonesia. Tapi, tengoklah berapa Pak Koh mendapat bagian hasil dari keringat Ningsih! 300 X 8 = 2.400 dolar Singapura! Sebuah angka (baca nilai) yang jauh lebih besar ketimbang Rp30 juta. Dan ironisnya, Ningsih tak tahu berapa gaji yang akan diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini informasi dari kakak ipar saya di Singapura yang mempekerjakan seorang pembantu Indonesia. Setiap bulan dia harus mengeluarkan uang 750 dolar Singapura. Membayar 5.000 dolar uang jaminan ke pemerintah sebagai bentuk kesepakatan bahwa sang majikan sanggup menjaga dengan baik pembantunya. Jika dalam kontraknya ada persoalan. Entah sang pembantu hamil, cedera, dll, uang 5.000 itu hangus. Dan mereka siap-siap disidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, soal besarnya gaji siapa yang benar? Apakah Pak Koh atau kakak ipar saya? Saya kok, cenderung percaya dengan kakak ipar saya. Nah, yang ingin saya kemukakan, seberapa besar ruginya seorang Ningsih, ketika hak-haknya tidak dimanipulasi. Dia bisa pulang dengan membawa Rp30 juta. Tapi, seharusnya dia bisa jauh lebih banyak menghasilkan uang. Sialnya, Ningsih dan sebagian besar TKI kita, ikhlas hak-haknya dikebiri. Tepatnya tidak berdaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah! Bagaimanapun Singapura adalah sebuah gairah, sebuah harapan. Harapan bagi puluhan ribu TKI. Harapan Ningsih dan ke-24 rekannya untuk mengubah nasib mereka. Karena mereka tahu, Pemerintah Rebublik Indonesia tidak bisa memberi sebuah harapan hidup yang lebih baik. Karena mereka tahu, pemimpin-pemimpin negara ini, jauh lebih suka membawa devisa hasil jerih payah mereka, untuk berasyik masyuk bersama wanita simpanan mereka ke Singapura. Seperti sebuah pemandangan yang saya lihat, ketika pulang dari Singapura, Minggu (17/2) kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bangku yang sama belakangnya dari Feri Batam Fast yang saya tumpangi, seorang lelaki paruh baya, tanpa punya malu, baradu peluk dan cium dengan seorang wanita 25-an tahun. Dari ruap tubuh keduanya, saya mencium sebuah perselingkuhan yang mengasikkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8701248688423972212?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8701248688423972212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8701248688423972212&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8701248688423972212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8701248688423972212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/02/ningsih-dan-gaji-dolarnya.html' title='Ningsih dan Gaji Dolarnya'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-2368540356424004477</id><published>2008-02-10T17:50:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:20.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Ah Meng dan Lubang Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R67aegXEwBI/AAAAAAAAAHI/HBFyhLhgIAg/s1600-h/ah-meng-children.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R67aegXEwBI/AAAAAAAAAHI/HBFyhLhgIAg/s320/ah-meng-children.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165306040258183186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya terkesima ketika melihat halaman pertama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Straits Times&lt;/span&gt; terbitan Sabtu, 9 Februari. Tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; memang berita itu. Tapi kematian Ah Meng sehari sebelumnya, menyita hampir separo halaman pertama koran terbesar Singapura itu. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ah Meng, dies!&lt;/span&gt; Begitu bunyi judulnya. Mati secara tua. Dan ketuaan orangutan asal Sumatera itu jelas terlihat dari foto &lt;span style="font-style: italic;"&gt;close up&lt;/span&gt; yang menyertai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48 tahun, adalah sebuah waktu yang tidak pendek untuk ukuran seekor orangutan. Jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya di Sumatera atau Kalimantan, yang tiap hari meregang nyawa oleh penggundulan hutan. Oleh perburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Meng adalah bintang top. Dan semua tahu, bagaimana hebohnya jika seorang (seekor) bintang top meninggal. Koran-koran akan mengulas habis-habisan kisah hidup dan kematian sang bintang. Televisi juga menayangkan hal sama secara terus menerus. Internet dan radio tak pula mau ketinggalan. Semua orang tiba-tiba merasa dan mengaku-aku sangat berduka cita. Semua orang mengaku dekat dengan almarhum (mah). Semua orang mencucurkan air mata. Tapi, ketika semua kesedihan itu diberikan kepada Ah Meng, seekor monyet betina, otak saya langsung tercatut pada ratusan nyawa yang meregang dihajar lubang jalanan Kota Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjelaskan hubungan antara kematian Ah Meng dengan lobang jalanan di kota Batam, saya akan sodorkan sedikit bukti kesuperstaran si Ah Meng. Lahir dari rahim hutan Sumatera, beruntung Ah Meng dibawa ke Singapura, negara kota yang sangat membosankan namun punya nurani yang menenangkan. Singapore Zoo, kemudian mengamankannya pada tahun 1971 dari seorang penduduk Negeri Singa. Dan sejak saat itu, keberuntungan Ah Meng berubah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapore Zoo, Ah Meng adalah raja. Siapa yang tak merasa raja, jika minum teh saja Ah Meng bisa bersenda gurau dengan Michael Jackson atau Elizabeth Taylor. Dua megastar dunia. Sepanjang usianya yang 48, sudah 30 film dibintangi Ah Meng. Dan hampir 270 tulisan yang mengulas jati diri Ah Meng. Ah Meng juga didaulat sebagai Duta Pariwisata Singapura 1992. Tidak seperti negeri tercinta kita yang selalu memilih cewek seksi nan melenakan sebagai duta pariwisata. Dan, ujung-ujungnya duta-duta itu menjadi pesinetron atau wakil rakyat murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pariwisata Singapura saja memilih seekor kera asal Sumatera sebagai maskotnya - dan sukses mendatangkan jutaan wisatawan - kenapa kita tidak bisa melakukannya? Setidaknya tidak memasang maskot cewek centil berbikini yang otaknya ada di bagian dengkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah! Soal per-maskot-an pariwisata biar jadi urusan Dinas Pariwisata. Sekarang kembali ke "kematian super" Ah Meng. Kematian ibu empat anak dengan enam cucu ini, ditangisi siapa pun orang Singapura yang mengenalnya. Layaknya kematian Soeharto 28 Januari lalu, kematian Ah Meng juga menjadi berita utama koran dan televisi Singapura. Tapi, ingatan saya ketika membaca berita itu, lagi-lagi mengarah ke lubang-lubang jalanan Kota Batam yang nyaris tiap hari menjagal nyawa pengendara roda dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah saya melempar tanya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apakah nyawa seekor Ah Meng jauh lebih berharga dari ratusan manusia di Batam?&lt;/span&gt; Jika pertanyaan ini dilempar ke para pengendara motor yang keluarga mereka menunggu dengan harap-harap cemas di rumah, saya yakin jawabannya: ''Jelas lebih berharga nyawa manusia di Batam, dong!". Namun, jika Anda tanyakan ke pejabat pemerintah atau anggota DPRD, saya yakin mereka akan ragu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka menjawab ragu? Karena saya tak yakin, apakah mereka pernah merasakan bagaimana berisikonya naik motor di kegelapan jalan. Sementara di depan mereka ada lobang menganga yang bisa menjungkalkan siapa pun pengendara. Bukan karena mereka tak punya motor atau tak bisa naik motor. Melainkan, buat apa naik motor jika mobil mewah yang bensinnya dikutip dari uang pengendara motor tersedia. Buat apa naik motor jika para kontraktor pembangun jalan menyetor uang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mark up&lt;/span&gt; pembangunan jalan untuk dibelikan mobil-mobil mewah. Buat apa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngurusin &lt;/span&gt;nyawa pengendara motor jika mereka bisa jalan-jalan ke Singapore Zoo, menonton Ah Meng bergelanyutan di kala hidup. Ketika nyawa pengendara motor Batam tiap hari bergelimpangan dalam kesunyian, kematian Ah Meng dirayakan. Lalu, seberharga apakah nyawa pengendara motor Batam jika dibanding nyawa seekor Ah Meng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alenia terakhir berita Ah Meng di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Straits Times&lt;/span&gt;, Presiden Singapura SR Nathan mengungkapkan kesedihannya: ''Banyak orang, baik warga Singapura maupun orang asing gembira dengan keberadaan Ah Meng. Saya yakin, kita semua akan merindukannya. Tapi, begitulah hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, ketika tiap hari koran-koran kita menuliskan berita tentang pengendara yang meregang nyawa karena lubang jalan, pejabat-pejabat pemerintah dan wakil rakyat kita membaca berita sembari tertawa-tawa. Sembari ber-SMS ria, mencari kontraktor mana yang bisa memberi uang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mark up&lt;/span&gt; lebih besar untuk proyek pembangunan jalan raya Batam. Mencari kontraktor mana yang paling tega, membangun jalanan berlubang yang siap menjagal para pengendara motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan Foto: &lt;/span&gt;Foto di atas bukanlah foto Ah Meng, melainkan satu dari empat anaknya yang mungkin bernama Satria, Sayang, Hsing Hsing, atau Riau. Foto saya ambil pada 31 Mei 2006 silam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-2368540356424004477?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/2368540356424004477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=2368540356424004477&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2368540356424004477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/2368540356424004477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/02/ah-meng-dan-lubang-jalan.html' title='Ah Meng dan Lubang Jalan'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R67aegXEwBI/AAAAAAAAAHI/HBFyhLhgIAg/s72-c/ah-meng-children.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8939900691236353216</id><published>2008-02-03T19:09:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:20.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Duasinga'/><title type='text'>Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R6WzT3RAARI/AAAAAAAAAHA/QYVlNPyiW98/s1600-h/kenny.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R6WzT3RAARI/AAAAAAAAAHA/QYVlNPyiW98/s320/kenny.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162729701684281618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;:Ken Danis Yohana Chua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubisikkan kalimat ini pada Ken: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kelak kau akan seperkasa Ken Arok! Perampok yang kemudian menyatukan Nusantara di bawah Kerajaan Singosari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampok itu tidak jelek, Nak! Itu jika kau merasa tidak ada cara lain untuk membuat keadaan menjadi baik. Tidak ada cara lain untuk merebut keadilan. Kenapa bapakmu memilihkan kau nama Ken? Kenapa di pertama kau lahir hingga bisa menendang, bapak membiarkanmu menangis sendiri? Belajar merangkak seorang diri? Karena kau, Ken, hasil percintaan dua Singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu singa? Mungkin kau lebih tahu itu, Ken. Ketika mulut mungilmu serakah menghisap sari-sari kesingaan ibumu, kau pasti telah merasakan itu. Merasakan sebuah kegairahan petualangan yang begitu menggila. Ketika air susu yang kau hisap itu sedikit demi sedikit merajut tubuhmu, kau akan rasakan, betapa ibumu adalah kegairahan. Ibumu, singa itu, adalah cintaku. Ketika dia memilih menderita dengan mencintaiku, itulah sebenar-benarnya singa, Ken!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakmu mungkin yang justru bukan sebenarnya singa! Tapi di darahmu, mengalir darah Ken Arok! Bapakmu lahir, hanya sepelemparan batu dari tempat di mana Ken Arok tengah menggagahi Kendedes. Wanita cantik hasil rampokan dari Bupati Tumapel, Tunggul Ametung, yang kemudian diperistrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek buyut kita mungkin bukan Ken Arok yang melegenda itu. Kakek buyut kita mungkin hanya abdinya. Mungkin cuma tukang basuh kakinya. Atau justru lawan politiknya! Tapi tahukah kau, Ken! Kakek buyut kita tetap orang Singosari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jejak Singosari di kebesaran Nusantara ini, Nak! Juga raja-raja yang pernah memerintahnya. Dari Raden Wijaya pendiri Majapahit, hingga Sultan Hamengkubowono X yang kini getol umbar pamor untuk mencalonkan diri jadi presiden republik ini. Dan kau, Ken, beruntung berada di pusarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya memang serba tak pasti. Semuanya serba berkemungkinan. Namun juga, di tubuh kita, sama besarnya berkemungkinan itu, bahwa yang mengaliri darah kita adalah darah Ken Arok. Darah Ken Dedes. Darah Ken Umang. Bukankah sejarah hanya sebuah omong kosong! Rekayasa! Jadi, terserah kita mau menulis apa. Mau mengaku apa. Asal ada tanggungjawab sikap di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak masih ingat, Ken. Ketika nenekmu setiap malam sebelum bapak tidur, menceritakan kehebatan kakek buyut kita menghadapi ketidakadilan. Ada hutan belantara di cerita nenek. Ada tangis, derap kaki kuda-kuda, tertawa, pernikahan, kematian, pengkhianatan, kejayaan, darah, dan keindahan. Ada dengung lantun puji-pujian pada Tuhan. Juga, sebuah kepasrahan yang selalu kudengungkan di telingamu sewaktu kau masih merah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaughfirullah robbal baroyah... astaughfirullah minal khodoyah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah Ken Danis. Mungkin ketika kau sudah bisa berinternet dan membaca tulisan bapakmu ini, kau akan berpikir, "betapa naifnya bapakku yang di otaknya masih tercemar romantisme feodal di jaman internet seperti ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Priyayen&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kelak kau berpikir demikian, aku jelas tidak akan tersinggung. Sebaliknya, aku merasa telah membesarkanmu dengan sebenar-benarnya. Bahwa kau tumbuh dan membesar, tidak terjebak dalam sebuah kebanggaan feodal. Kenaifan. Yang saat ini justru membonceng erat di kehidupan dunia kapital. Sebagai bapak, aku ingin menghindarkanmu dari dunia feodal, sekaligus melindungi dari kejamnya kapital. Bapak berharap, satu set jins Levi's yang dibelikan omamu ketika kau masih merah, Baby Gap yang dibelikan ibumu, serta jaket Espirit hitam yang dihadiahkan untukmu, tidak untuk bangga-banggan. Buang semua itu! Dan berpikirlah bahwa kapitalis itu ada untuk kau khianati. Bukan kau boncengi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, Nak! Bapak tidak menulis tulisan ini dalam sebuah fondasi feodal. Jauh hari sebelum bapak jatuh cinta dengan ibumu, bapak sudah melakukan pemberontakan terhadap tatanan budaya di lingkungan bapak yang berbau feodal. Pemberontakan terhadap nilai-nilai yang bapak anggap kampungan, tidak manusiawi, anti-toleran, dan anti-kemapanan. Bapak tumbuh dengan kesadaran penuh, bahwa setiap pasang kaki siapa pun berhak berjalan tegap tanpa ada satupun kedigjayaan yang melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bapak, hanya ingin kau dengan kaki-kakimu, berjalan setegap mungkin. Berjalan sejauh mungkin. Seberani mungkin. Dengan tetap mengingat kampungmu yang indah dikelilingi Gunung Arjuna dan Semeru. Karena kau, Ken! Sebuah kisah percintaan dua singa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8939900691236353216?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8939900691236353216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8939900691236353216&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8939900691236353216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8939900691236353216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/02/arok-danis-atawa-kisah-cinta-dua-singa.html' title='Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R6WzT3RAARI/AAAAAAAAAHA/QYVlNPyiW98/s72-c/kenny.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-8474649312092427843</id><published>2008-01-28T17:42:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T17:48:33.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>Soeharto yang Setan Merah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Soeharto meninggal. Bahkan, prosesi upacara pemakamannya yang konon menghabiskan dua ton kuntum bunga, telah usai. Namun, harus sesedih itukah kita ditinggal Pak Harto?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melongok laga Manchester United &lt;span style="font-style: italic;"&gt;versus &lt;/span&gt;Tottenham Hotspur ketika semua TV nasional menayangkan kesedihan. Duh, sial. Spurs akhirnya kalah 3-1 meski sempat unggul 0-1 lewat gol Robbie Keane. Sebuah gol penuh energi Carlos Tevez, dan dua gol hasil kecerdikan Christiano Ronaldo mengkandaskan impian pelatih Juande Ramos memboyong Piala FA di tahun pertama kepemimpinan di Spurs. Dan semua televisi nasional, terus berlomba-lomba menyiarkan kedukaan yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah suka Manchester United. Meski harus saya akui, Sir Alex Ferguson menghadirkan permainan yang begitu cantik selama 20 tahun memimpin Setan Merah. Bagi saya, menonton Ryan Giggs &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dkk &lt;/span&gt;berlaga bak menonton sebuah film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;action &lt;/span&gt;yang menegangkan. Film kelar, penonton bubar, dan esok harinya, kitapun lupa setelah muncul film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;action &lt;/span&gt;yang lebih tegang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak sedih ketika Spurs akhirnya kalah. Karena toh, klub idola saya adalah Barcelona. Klub yang tak mata duitan. Klub yang bahkan menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk UNICEF. Klub yang selalu dan selalu, lebih memilih seniman bola ketimbang selebritis bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto? Saya melihat sosoknya bak Setan Merah. Digjaya di masa berkuasa. Memanipulasi sejarah dengan kuasa dan harta. Sekaligus sanggup menjadi sosok bersahaja yang mampu menarik hati masyarakat untuk menjadi fans beratnya. Soeharto luar biasa. Tapi, darah dan daging saya yang tak tumbuh dari secuilpun uang pemerintah - karena tak seorangpun keluarga saya yang pegawai negeri - tak rela ketika Soeharto meninggal dan mewariskan utang ke saya sebesar Rp6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pengusaha Amerika, Malcom Glazer, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngutang &lt;/span&gt;Rp13,4 triliun untuk membeli Setan Merah 2005 silam, Soeharto di masa kepemimpinannya juga doyan utang. Tumpuk ditumpuk tumpuk, sebagian utang negara dikorup keluarganya. Sebagian lagi dikorup kroni-kroninya. Dan kita yang tak tahu apa-apa, dipaksa membayar Rp6 juta untuk membayar sebagian utang negara kita yang kini mencapai hampir Rp1.500 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, harus sesedih itukah kita ditinggal Pak Harto? Sesedih seperti artis-artis ibukota yang begitu hebatnya berakting di depan kamera: memperagakan adegan tangis-tangisan. Sesedih televisi yang hampir-hampir menayangkan berita Pak Harto berulang-ulang. Sesedih koran-koran yang menampilkan foto-foto Seoharto. Sesedih pejabat-pejabat yang menggunakan anggaran negara, untuk pasang iklan duka cita. Dan kita, tetap punya utang Rp6 juta yang harus terbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diancok&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus korupsi penyelewengan dana yayasan milik Soeharto harus terus jalan! Tapi sebagai manusia, meluangkan waktu sekejap untuk sekedar membaca Al Fatihah yang pahalanya diperuntukkan kepada Pak Harto, adalah keharusan. Dan saya berdoa kepada Tuhan, "ampuni dosa Soeharto, Tuhan!"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-8474649312092427843?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/8474649312092427843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=8474649312092427843&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8474649312092427843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/8474649312092427843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/01/soeharto-setan-merah-dan-utang-kita.html' title='Soeharto yang Setan Merah'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-1875002394822689695</id><published>2008-01-06T17:00:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T17:08:33.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Batam Seksi, yang Bernisan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelajahi Batam pada malam hari, kini, seakan berjalan di antara nisan-nisan. Manusia-manusianya, lebih memilih merapat di pusat-pusat perapian: mal yang menjamur dan nyaris menenggelamkan Batam di dasar kekakuan. Yang tersisa di jalan-jalan hanyalah mata nyalang preman yang tengah mengincar mangsanya; pemabuk-pemabuk yang tak sadar di trotoar, bencong-bencong lapuk; dan pengojek yang duduk memojok di pangkalannya, sembari merapatkan jaket kumalnya. Menjelajahi Batam pada malam hari, tidak lagi menciptakan cerita-cerita menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di perempatan simpang Bea Cukai, Batuampar, tiga tahun silam, aku pernah jatuh hati pada seorang waria. Monica dia memperkenalkan diri. Kecantikannya luar biasa. Sempurna. Dan dia siap melakukan apa saja untuk menyenangkanku malam itu. Sayang, dia tidak berlubang! Dan ketika itu, aku benar-benar menginginkan sebuah lubang. Aku hanya jatuh hati padanya karena kesempurnaan kewanitaannya. Sayang, dia bukan sebenar-benarnya wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di manakah Monica kini? Kenapa di sepanjang simpang ini, yang tersisa hanyalah waria-waria lapuk berpenyakit yang silikon penyangga hidungnya telah mencair menghadirkan kengerian surealis? Aku ingat ketika bertemu dan berkenalan dengan Monica. Ketika itu, kami - aku dan seorang rekanku lelakiku - tengah merayakan perpisahan, menjelajah Batam di gemerlap malam. Dengan keluwesan bahasa tubuh dan kata-katanya, Monica langsung membuat kami bergairah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman lelakiku maju terlebih dahulu. Kepengecutannya mungkin sudah direngguk bergelas-gelas alkohol yang sebelumnya kami nikmati. Dia menggandeng Monica menuju surga. Aku mengantarkannya dengan pandangan mata menanar. "Kawan, akhirnya kau jadi lelaki sejati juga,'' cekakakku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cerita di tiga tahun silam itu berlanjut semakin menggembirakan. Tubuh rekanku muncul dari semak belukar. Dengan cekikik khas anak muda, kami langsung kabur, memacu motor dengan gila-gilaan. "Berapa rupiah kau selipkan di payudaranya?" tanyaku pada sang rekan. Dia tertawa lagi. "Cukuplah untuk membeli sepotong roti," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sepotong roti? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diancok! &lt;/span&gt;Kau menghargai kecantikan Monica yang sempurna dengan rupiah yang hanya cukup untuk membeli sepotong roti? Keterlaluan! Dan aku tak sempat mengembangkan umpatanku ketika kawanku dengan kekasaran yang mengagetkan memintaku menghentikan laju motor. "Kita kembali ke Monica. HP-ku hilang," kata rekanku resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke surga, Monica sudah tidak ada. Tentu saja. Dan kawanku, mengumpat tiada tandas ketika kuantar pulang. Ketika itu, Batam masih gemerlap. Salahmu sendiri, rekanku! Kau hargai kecantikan Monica dengan sepotong roti! Dan harga HP-mu, mungkin setimpal dengan kecantikan Monica, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, ketika aku kembali menjelajah malam. Di jalan-jalan. Kegembiraan itu seolah menghilang. Yang terjejal, adalah debu-debu memekak mata yang dihasilkan truk-truk bertonase besar, menggilas jalan-jalan berlobang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, Batam tetap seksi. Seseksi Kate Winslet ketika beradu akting dengan Leonardo De Caprio di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Titanic&lt;/span&gt;. Dan Batam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Titanic &lt;/span&gt;itu, kini perlahan-lahan mulai tenggelam. Terbeban oleh mal-mal raksasa, bukit-bukit yang ditebang, pantai-pantai yang diuruk, dan manusia-manusianya yang dipaksa menumpang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-1875002394822689695?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/1875002394822689695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=1875002394822689695&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1875002394822689695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/1875002394822689695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2008/01/batam-yang-seksi-batam-yang-bernisan.html' title='Batam Seksi, yang Bernisan'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-4769094497464809717</id><published>2007-12-25T17:27:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:22.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritafoto'/><title type='text'>Kebrutalan Sebuah Flat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DbSm13k3I/AAAAAAAAAFY/4Ky9Fij4Oy4/s1600-h/benahi-pintu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DbSm13k3I/AAAAAAAAAFY/4Ky9Fij4Oy4/s320/benahi-pintu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147855486795092850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kecuali orang kaya yang langsun&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;bisa&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; b&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;el&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;i rumah&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;, saya kira hampir semua warga Batam pendatang pernah merasakan hidup sebagai anak kos. Atau minim&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;al ngotrak ramai-ramai bersama kawan. Juga numpang tinggal bersama &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;saudara atau kenalan, dan mu&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ngkin juga tinggal di rumah dinas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, flat yang ditinggali kawan saya Iw&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ank, membuat saya ter&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ceng&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ang: k&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ebrut&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;alan saya soal kerapiahan, penampilan, dan&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; kebersihan, tak ada seujung kukunya jika diband&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ing dengan flat yang  terletak di Perumahan Rajawali, Bandara itu.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Iwank, bujang&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; yan&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;g p&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;egawai negeri itu, mengaku tidak pernah masak. Al&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;hasil, untuk urusan perut, sepenuhny&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a diserahkan pada pemasak-pemasak warung makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk lengkapnya, nikmati saja foto-foto yang saya ambil pada 24 Desember ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfCW13lAI/AAAAAAAAAGg/T32fVldzqKA/s1600-h/radio-unik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfCW13lAI/AAAAAAAAAGg/T32fVldzqKA/s320/radio-unik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147859605668729858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3Dez213k_I/AAAAAAAAAGY/YhcVThzt7Z8/s1600-h/membuat-kopi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3Dez213k_I/AAAAAAAAAGY/YhcVThzt7Z8/s320/membuat-kopi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147859356560626674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfVW13lBI/AAAAAAAAAGo/I6ib59H0Tc0/s1600-h/ruang-nonton.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfVW13lBI/AAAAAAAAAGo/I6ib59H0Tc0/s320/ruang-nonton.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147859932086244370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfjG13lCI/AAAAAAAAAGw/4AfhoNTesnk/s1600-h/ruang-tamu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DfjG13lCI/AAAAAAAAAGw/4AfhoNTesnk/s320/ruang-tamu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147860168309445666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DeLm13k8I/AAAAAAAAAGA/ZiPlHoWxbKU/s1600-h/kamar-mandi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DeLm13k8I/AAAAAAAAAGA/ZiPlHoWxbKU/s320/kamar-mandi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147858665070891970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DepG13k-I/AAAAAAAAAGQ/DPwIpWbnZAY/s1600-h/makan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DepG13k-I/AAAAAAAAAGQ/DPwIpWbnZAY/s320/makan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147859171877032930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DebW13k9I/AAAAAAAAAGI/pJjp3zI4cGU/s1600-h/kamar-tidur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DebW13k9I/AAAAAAAAAGI/pJjp3zI4cGU/s320/kamar-tidur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147858935653831634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-4769094497464809717?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/4769094497464809717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=4769094497464809717&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4769094497464809717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/4769094497464809717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2007/12/kebrutalan-sebuah-flat.html' title='Kebrutalan Sebuah Flat'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R3DbSm13k3I/AAAAAAAAAFY/4Ky9Fij4Oy4/s72-c/benahi-pintu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-605765771442061632</id><published>2007-12-21T17:35:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:22.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='enak berbahasa'/><title type='text'>Sapi Bernama HM. Sani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R2uXc213kuI/AAAAAAAAAEQ/-oRTP8omU04/s1600-h/wagub-Sani-Sapi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R2uXc213kuI/AAAAAAAAAEQ/-oRTP8omU04/s320/wagub-Sani-Sapi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146373521214509794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apakah salah ketika saya menuliskan, almarhum sapi itu bernama Haji Muhammad (HM) Sani? Maaf, bukan saya bermaksud me-sapikan wakil gubernur yang terhormat itu. Bukan pula saya menganggap si sapi mirip Pak Sani. Tapi, apakah salah saya memanggil sapi itu Muhammad Sani, kalau di leher sapi putih itu, nyantol selembar kertas bertuliskan "Wakil Gubernur Kepri H. Muhammad Sani"?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang Indonesia tahu maksud selembar kertas di leher sapi yang telah almarhum itu. Itu adalah sapi sumbangan Pak Sani untuk disembeli dalam kurban Idul Adha, 20 Desember kemarin. Agar semua orang tahu bahwa sapi itu dari Pak Sani, maka dikalungilah sapi itu dengan tulisan H. Muhammad Sani. Agar pula Pakde Jagal, ketika hendak menggorok sapi itu, memunajatkan doa untuk Pak Sani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah saya salah jika memanggil almarhum sapi itu dengan Haji Muhammad Sani? Saya menjawab sendiri: tidak! Jika Pak Sani merasa berhak menuliskan namanya di selembar kertas dan kemudian mengalungkan ke leher sapi itu, saya juga berhak menamai sapi itu dengan sekenanya. Umpama di kertas itu tertulis Ismeth Abdullah, saya pasti akan memanggil "Ismeth Abdullah". Jika Nur Syafriadi, saya juga berhak menamai sapi itu "Nur Syafriadi."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah otak kita selalu digiring untuk selalu mempermudah apa saja aktivitas kita. Bukankah bahasa itu sifatnya arbitrer. Manasuka, sesuka suka dalam memberikan nama/istilah awal benda. Tidak ada pemutlakan bahwa sapi itu harus bernama ini..., bernama itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sandal diberi nama sandal? Karena dapat namanya sandal! Jika di leher sapi itu tertulis H. Muhammad Sani, biar tak menyulitkan saya mencari nama sapi itu, saya sebut saja sapi itu HM. Sani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang protes kok saya sebejat mungkin menamai sapi-sapi itu dengan nama pemimpin-pemimpin daerah yang terhormat, saya pasti akan balik protes. "Kenapa si penulis ini tidak sedikit menyibukkan diri dengan menulis secara lengkap dan jelas: Sapi ini sumbangan wakil Gubernur Kepri, H. Muhammad Sani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti, kan... Malas berbahasa baik, menciptakan malapetaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-605765771442061632?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/605765771442061632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=605765771442061632&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/605765771442061632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/605765771442061632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batamseksi.blogspot.com/2007/12/sapi-bernama-haji-muhammad-sani.html' title='Sapi Bernama HM. Sani'/><author><name>Sultan Yohh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-lrcKD_4Np50/TliaTfpONrI/AAAAAAAAAVs/I-B0qYymuj0/s220/avatar2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R2uXc213kuI/AAAAAAAAAEQ/-oRTP8omU04/s72-c/wagub-Sani-Sapi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5758428.post-6648962019815909378</id><published>2007-12-20T19:11:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:25:22.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angong (asal ngomong)'/><title type='text'>Sepasang Buku (Sepasang) Bos</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R2pcwG13kqI/AAAAAAAAADw/uo1UO-c1ZPM/s1600-h/dua-bos.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dTNKKb5bN-M/R2pcwG13kqI/AAAAAAAAADw/uo1UO-c1ZPM/s320/dua-bos.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146027505764242082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa yang ada di benak Kadir Ismail ketika itu? Ekspresinya begitu menyiratkan kekaguman: dengan senyum tipis terkulum dan mata bebinar yang tak pernah lepas dari obyek tatapannya, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlan_Iskan"&gt;Dahlan Iskan&lt;/a&gt;. Apa yang ada di benak Bos Kadir ketika itu? Setulus kekagumankah? Atau ketundukan anakbuah atas bos besarnya? Entahlah. Yang jelas &lt;a href="http://personage.melayuonline.com/?a=c1BYL29QTS9VenVwRnRCb20%3D="&gt;Rida K Liamsi&lt;/a&gt; (nama beken Bos Kadir) dan Bos Dahlan, kedua-duanya "bos awang-awang" saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya dengan "bos awang-awang", bos yang mustahil mengenal saya. Rida adalah pejabat eksekutif tertinggi (baca: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;CEO) &lt;/span&gt;Riau Pos Group. Sementara Dahlan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;CEO &lt;/span&gt;Jawa Pos Group. Saya? Tukang edit di koran kecilnya Rida dan Dahlan: &lt;a href="http://www.posmetrobatam.com/"&gt;Posmetro Kepri.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan terakhir ini, kedua-duanya meluncurkan buku. Bos Rida dengan novel &lt;a href="http://www.posmetrobatam.com/"&gt;Bulang Cahaya&lt;/a&gt;-nya, dan Bos Dahlan dengan &lt;a href="http://klipingbuku.blogspot.com/2007/11/buku-ganti-hati-seminggu-cetak-ulang.html"&gt;Ganti Hati&lt;/a&gt;-nya. Dan saya, selalu kagum dengan siapa pun yang menulis buku. Tidak hanya bisa berkata-kata. Tidak hanya bisa memerintah! Juga, tidak hanya bisa main pecat selaiaknya seorang bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bedah buku Bos Rida di auditorium Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), 21 November silam, saya berkesempatan ada di sana. Menemani &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;HAH &lt;/a&gt;yang juga bos kecil saya untuk menemani Rida membedah novelnya. Begitu juga ketika Bos Dahlan meng&lt;span style="font-style: italic;"&gt;odol-odol&lt;/span&gt; isi bukunya di aula Goodway Hotel, Batam, 18 Desember kemarin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di UI, pantat saya enggan untuk menempel kursi. Sibuk jepret sana-sini mengabadikan Bos Rida beraksi. Sampai-sampai tak setitikpun kata-kata yang membekas di benak saya. Di Goodway sebaliknya. Saya seolah disihir siul "si ciblek" Dahlan. Kata-katanya sesederhana kicauan ciblek. Gerakannya selugas ciblek. Penampilannya juga tak lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyantai &lt;/span&gt;dari ciblek, burung favorit saya. Dua setengah jam pembicaraannya, saya hanya sesekali beranjak dari kursi untuk memfoto ala kadarnya. Karena saya tak ingin ketinggalan menikmati kicauannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Goodway dengan disaksikan ratusan pasang mata, Dahlan tampil memukau. Masih dengan pakaian ala kadarnya seperti ketika kerap nyelonong ke lantai III Gedung Grahapena Surabaya, tempat dulu saya sempat kerja. Celana dan jaket hitam kedodoran, plus sepatu kets murahan tetap melekat di tubuhnya. Dahlan tak pernah terlihat kehabisan kata dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan audien. Selincah dia mengumbar kosokata dalam tulisan-tulisannya. Sederhana namun mengena. Lugas dan pintar berkelit. Sama sekali tak menunjukkan keangkuhannya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan hampir US$ 172 Juta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okelah!&lt;/span&gt; Jika tulisan ini saya teruskan, saya khawatir hanya akan menjadi ajang puji-pujian pada dua bos saya itu. Khawatir nanti rekan-rekan kerja saya menganggap saya menjilat-jilat pantat mereka (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uek&lt;/span&gt;..., emang enak jilatin pantat lelaki). Yang saya maksudkan, saya tidak kagum pada Rida maupun Dahlan karena jabatannya sebagai bos saya. Saya juga ogah bertekuk lutut pada mereka karena membayangkan kekayaan mereka. Saya hanya sangat terkesima pada keduanya (juga pada HAH dengan Orgasmaya-nya), hanya karena mereka menulis buku. Mencipta buku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pah Rida, juga Bos Dahlan, tunggu pembalasan saya! Tunggu pula buku-buku saya! Biar saya tak usah kagum lagi pada Anda-anda sekalian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5758428-6648962019815909378?l=batamseksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batamseksi.blogspot.com/feeds/6648962019815909378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5758428&amp;postID=6648962019815909378&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5758428/posts/default/6648962019815909378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5
